Rekan Jehan dan milisters ysh,
Trims bhw tgp balik anda benar2 telah menghidupkan diskusi kita ....... hanya 
krn anda (terpaksa) harus menanggapi kembali masalah housings  yg sambil lalu 
dikemukakan yg pdhal adalah bukan pokok diskusi  ...maka terpaksa pula anda 
menyertakan tgp balik menyangkut  housings pula  yg terpaksa pula nyampur dgn 
masalah ‘pembangunan  wilayah’ yg sebenarnya lbh merupakan pokok  diskusi kita 
(dan diakhir posting malah semakin anda tambah lagi dgn gambaran ‘prinsip 
pembangunan  kota baru di Jepang’ ya?) .........sehingga maaf bhw nampaknya 
campur(aduk)an  ini lalu sedikit banyak jadi menyebabkan kerancuan juga antara  
masalah pembangunan wilayah (tertinggal) dan contoh pembangunan suburban dari 
sebuah megapolitan Tokyo yg anda kemukakan ........yg bagi  Indonesia kita yg 
penduduk perkotaannya (saja)  kini telah melampaui angka 100 juta jiwa  
......masalah suburban development ini (walau dgn kadar mutunya yg jauh lbh 
sederhana dibanding
 kecanggihan Jepang)  sebenarnya malah secara kwantitatip kita ini  lbh 
‘spektakular’ dibanding Jepang........

++++: ....Begini, maksud saya adalah bahwa pembangunan wilayah sebagai suatu 
pendekatan pembangunan (bukan praktek-praktek pembangunan di wilayah-wilayah) 
pada dasarnya merupakan kepentingan bangsa, ada di domain publik, dan 
menyangkut public interest. 
Jadi tidak mungkin menjadi interest sebuah bank, misalnya. Tidak ada banking 
business itu berupa pembangunan wilayah. World Bank saja nggak, kok, apalagi 
Bank Mandiri. However, bank is a bank...  Jadi kesamaan antara perusahaan2 
tersebut adalah adanya specific interest masing2 yang dilatarbelakangi 
"business positioning" masing2........... 
>>>>: 
 
Boleh jadi anda benar bhw pembangunan wilayah (PW) sbg ‘pendekatan pembangunan’ 
itu perlu dipisahkan dari ‘praktek pembangunan wilayah’  ....apalagi kalau anda 
angkat  studi kasus Tama Center tokyo barat sbg contoh penjelasannya.......
Namun bagi Indonesia dan konteks diskusi kita  adlh ‘pembangunan wilayah KTI” 
......dimana kita tahu luas wilayah KTI (62% RI) darat serta laut2nya (krn 
gerak jelajah disini terpaksa hrs mengarungi/ menerbangi atas laut pula) bahkan 
adalah nyaris 2x lipat luas seluruh negeri Jepang dari pulau Kyushu sampai. 
Hokaido......... bagi kita pengertian ‘pendekatan pembangunan’ atau ‘praktek 
pembangunan’  di KTI kiranya malah hampir2 tak lagi perlu dibedakan/ dipisahkan 
.......krn yg  kita butuhkan adlh  sebanyak2 konkretisasinya, bukan hanya di 
sektor suburban perkotaan plus integrated infrastructurenya saja (spt kasus 
Tama Center anda) ........namun bahkan kita membutuhkan pembangunan KTI itu 
pada segala multisektornya  yg amat sangat luas (maklum namanya  saja kawasan 
tertinggal) .......... 
Berbeda dgn Tama yg samasekali tak  memerlukan pengembangan  aglomerasinya 
---justru krn konteks dari Tama Center adlh pengembangan suburban to world 
megapolitan city dan daya aglomerasinya yg kelewat hebat sdh  nebeng pada 
Tokyo--- atau  lbh fokusnya lagi tadinya malah tujuannya hanya ingin 
mengembangkan  proyek low cost housings saja (demi menghindari urban sprawl) 
tak bedanya kita dulu membangun Depok atau Klender (Depok malah kini jadi 
metropolitan sementara Tama penduduknya smp Maret 2010 ini sptnya bukan 500an 
ribu tapi 200-n ribu)  ..........KTI kita justru memerlukan pembentukan 
aglomerasi (perkotaan) itu sbg salah satu kata kuncinya yg terpenting  
.......bahkan lbh daripada itu ...kalau mengingat bhw dari total penduduk 
nasional kita  yg 235 juta itu lbh dari 100jutanya tinggal berdesak2an di Jawa 
yg hanya 6.7% RI dan sementara  itu KTI adlh 62% wilayah RI  dan penduduknya 
hanya sekitar 35 juta jiwa ......wajar bhw  timbul pikiran bhw
 jumlah penduduk dari KBI  dan Jawa perlu diredistribusi ke KTI ........dimana 
kalau saja misalnya jumlah penduduk KTI skrg ‘hanya’ 35 juta ... lalu timbul 
pemikiran pula pembangunan  KTI perlu berdimensi  ‘transmigrasi kolosal’ 
katakanlah  agar penduduknya menjadi 50 juta atau 60 juta jiwa misalnya 
.......dan itu tentu samasekali bukanlah perbandingan yg proporsional 
dijejerkan dgn contoh kasus Tama Center itu (20km dari Tokyo) yg sasarannya 
semula hanya ingin mengembangkan perumahan  murah (dan tak sekaligus harus 
memikirkan kesempatan kerja)   bagi kurang dari 500 ribu penduduk 
........dimana kalau proyek Tama pun  tak usah repot dgn masalah menciptakan 
kesempatan kerja bagi penduduknya .......sementara itu dgn KTI kita harus 
pusing tujuh keliling memikirkan seabreg  kesulitan spt  masalah langkanya dana 
investasi .....masalah sulitnya skenario menginjeksikan/ memigrasikan  SDM 
lingkup industri manufaktur unggulan kesana sbg
 ujungtombak pembangunan perkotaan, masalah mengembangkan industri manufaktur 
perkotaan itu sendiri sbg penegak kehidupan budaya urban yg lbh visioner  dan 
sekaligus masalah  bgmn harus mengembangkan kota primatnya  (Makassar) agar 
benar2 menjadi metropolitan dlm kapasitasnya sbg pusat layan KTI yg 2x lipat 
luas negeri Jepang...........
 
++++: ......Nah, sekarang bisakah komunitas seperti kita ini mulai merumuskan 
visi dan inisiatif sebuah pengembangan kawasan? Nggak usah KTI lah yang terlalu 
besar, coba saja dengan kota baru di sekitar jabodetabek misalnya. 
Dimulai dari kumpulan individual vision lalu menjadi collective 
vision?.......... 
>>>>: Nha ini adlh pola pandang nasehat yg bisa jadi bias dan perlu dihindari 
>>>>:-) .........maksud hati sih mau ‘mengembangkan regional dvlpment’ (yg 
>>>>pdhal kalau sekedar utk wilayah Jawa/ Lampung sebenarnya utk kita tingkat 
>>>>kesulitannya mah  trmasuk  kelas ringan saja krn tak usah mikirin 
>>>>pembentukan aglomerasi dan infrastruktur baru yg superberat) ......namun 
>>>>apadaya nasehat itu prakteknya malah bisa memperhebat jawasentrisme 
>>>>......bisa semakin mempersempit areal lahan pertanian dan ruanghijau di 
>>>>Jawa selain ia akan semakin memperhebat in-migrasi menuju Jawa/ braindrain 
>>>>dari KTI .........regional development yg kita butuhkan dasar merayap 
>>>>mengembangkan kota2 baru didekat2 jabodetabek atau selat Sunda ........tapi 
>>>>kelas kebutuhan kita yg urgen adlh tingkat meredakan ketimpangan regional 
>>>>serta ketertinggalan yg kronis yg diidap oleh KTI yg luasnya tak kurang 
>>>>1.2juta km2 itu .......salam, 
aby

--- On Thu, 4/8/10, Jehan Siregar <[email protected]> wrote:


From: Jehan Siregar <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: Pembangunan Wilayah
To: [email protected]
Date: Thursday, April 8, 2010, 7:20 AM


  







Makasih Pak Risfan (juga Mas Aby),

Begini, maksud saya adalah bahwa pembangunan wilayah sebagai suatu pendekatan 
pembangunan (bukan praktek-praktek pembangunan di wilayah-wilayah) pada 
dasarnya merupakan kepentingan bangsa, ada di domain publik, dan menyangkut 
public interest. Jadi tidak mungkin menjadi interest sebuah bank, misalnya. 
Tidak ada banking business itu berupa pembangunan wilayah. World Bank saja 
nggak, kok, apalagi Bank Mandiri. However, bank is a bank...  Jadi kesamaan 
antara perusahaan2 tersebut adalah adanya specific interest masing2 yang 
dilatarbelakangi "business positioning" masing2. 

Di antara para pihak itu, yang paling mendekati public interest hanya koran 
Kompas, tapi itu pun masih jauh. Kompas masih sebatas information and knowledge 
accumulation sambil mengasah kapasitasnya sendiri untuk belajar sambil meliput 
(ogah rugi juga). Kapasitas yang diperlukan jelas jauh lebih besar dari itu, 
yaitu cognitive, institutional, dan basic resource capacities. Kapasitas 
penggerak ini hanya ada di domain publik. Ini kapasitas yang mendasari sebuah 
kapasitas leadership/coordina tion.

Kumulasi kapasitas seperti ini hanya ada misalnya, jika seorang Menteri PU 
(misalnya nih) punya inisiatif besar merealisasikan pembangunan KTI, lalu 
presentasi di depan rapat kabinet. Lalu setelah mendapat green light dari 
Presiden/Wapres lalu didukung Menhub, dan tidak dibantah Menhut dan Mentan dan 
Mendagri misalnya. Ini yang saya sebut portofolio terkoordinir. Lalu barulah 
disiapkan lembaga-lembaga pelaksana, kontraktor, pengembang kawasan, dsb, 
sejalan dengan mobilisasi sumberdaya, dan lalu RTRWN diterjemahkan untuk 
dilaksanakan. Suatu inisiatif aksi bagaimanapun membutuhkan rencana (bukan 
hanya tata ruang). Tapi jika rencana dibuat tanpa ada inisiatif aksi, konsensus 
dan kapasitas pelaksanaan, ya bukan rencana juga namanya. Jadi rencana 
pembangunan KTI di dalam produk-produk seperti RTRWN dan RPJMN itu harus 
dikonkritisasi dan dibangun konsensus bersamanya. Tidak bisa begitu saja 
otomatis tertuang dalam program-program apalagi daftar proyek yang
 fragmented (ritual business as usual).

Tentang perumahan, pembangunan perumahan yang Pak Risfan maksud mungkin 
pembangunan rumah-rumah. Sedangkan pembangunan perumahan yang berada di sektor 
publik adalah pembangunan sektor perumahan: housing sector = housing without 
houses. Tanggung jawab negara adalah merumahkan warganya (housing the people).

Tentang pembangunan permukiman (skala besar, kota baru), ya begitulah akibatnya 
jika tidak dipimpin sektor publik, beserak kesana kemari (sprawling, 
scattered). Peran leading and framing bagaimanapun harus perusahaan pemerintah. 
Mengapa? karena menyangkut pengelolaan sumberdaya pasal 33 UUD45, yaitu tanah, 
dan sd publik lainnya, yaitu infrastruktur dan fasilitas umum. Juga menyangkut 
pengembangan (apresiasi nilai) kawasan secara harmonis, berkeadilan dan 
berkelanjutan. Coba contohnya, Alam Sutera mau klaim kawasan paling 
hijau/berkelanjutan , ya jelaslah karena diijinkan dengan KDB rendah. mengapa? 
karena sebenarnya ngga boleh, karena berada di green belt yang menjustifikasi 
ijin BSD dulunya. Jadi ini sustainable settlement bo'ong-bo'ongan.

Jadi, tidak ada perusahaan swasta yang bisa mengambil peran leading ini, karena 
memang bukan interest mereka. Mereka ambil peran filling, mengisi. Mereka 
harusnya jadi gerbong-gerbong yang ikut lokomotif perusahaan publik. Jadi, 
kembali ke KTI, berapa banyakpun perusahaan seperti Bank Mandiri, Kompas dll, 
mereka seperti gerbong-gerbong yang tak ada lokomotifnya. Seperti anak-anak 
ayam tak ada induk.

Ada kasus di Tokyo yang bisa diangkat, yaitu pembangunan kawasan Tokyo Barat 
yang pusat pertumbuhannya ada di Tama Center. Tokyo Timur sudah jauh lebih maju 
dan terbangun (Tokyo Kota). Pembangunan kota baru Tama ini kebijakannya dari 
MLIT (Ministry of land, infrastructure and transport, sekarang tambah lagi, and 
tourism). Sebuah kementrian yang gemuk jika dibanding di Indonesia, tapi 
menjamin koordinasi. Kemudian pelaksanaan kebijakannya dipimpin oleh UR (Urban 
Renaissance) . Ini Perumnasnya Jepang, dulu bernama UDC (urban deve corp), 
sebelumnya bernama HUDC (hou and urb dev corp). UR bekerjasama dengan Japan 
Railway, Tokyo Metro Railway, dan Tokyo urban dev. corporation (semacam 
Perumda/sarana jaya DKI) dan Tokyo Metro Authority. Mereka membentuk semcam 
badan kerjasama. Milyaran yen/ triliunan rupiah digelontorkan di tahap awal 
sekitar thn 80-an. Untuk menghidupkan kota, kantor2 pusat beberapa BUMN 
dipindahkan ke sana. Barulah kemudian gerbong-gerbong
 perusahaan dan developer swasta mengikut bak semut beriring... Apartemen2 dan 
fasilitas kota kelas atas dibangun di ring kedua, setelah.... Nah ini dia, 
setelah ring pertama diisi public housing milik UR, stasiun railway besar milik 
JR, universitas, sekolah2, kantor2 BUMN, kebun binatang, dan taman hutan kota. 
Kini Tama-Center sudah tumbuh jadi pusat pertumbuhan baru di Tokyo Barat dengan 
sekitar 500 ribu penduduk yang dilayani sebuah network monorail yang canggih. 

Apa yang menggerakkan pembangunan kota baru di Jepang bukanlah business as 
usual. Bukan pula visi spekulan tanah, atau spekulan infratruktur, baik visi 
spekulan developer maupun pejabat MLIT atau UR yang sudah ruksak seperti 
markus-markus dan gayus-gayus. Tampaknya jauh sekali keadaannya.. . Pembangunan 
kota baru di Jepang digerakkan oleh collective vision yaitu sebagai wadah 
generasi baru, aplikasi teknologi baru, manajemen baru dan berbagai aplikasi 
inovasi2 baru. Baik inovasi di sektor publik maupun privat. RTRW dijadikan 
sebatas instrumen (penting sih) untuk mewujudkan semua visi dan gagasan 
tersebut, bukan plan as an end product.

Nah, sekarang bisakah komunitas seperti kita ini mulai merumuskan visi dan 
inisiatif sebuah pengembangan kawasan? Nggak usah KTI lah yang terlalu besar, 
coba saja dengan kota baru di sekitar jabodetabek misalnya. Dimulai dari 
kumpulan individual vision lalu menjadi collective vision? Mestinya bisa. 
Karena kita tidak harus menunggu hadirnya satria piningit... karena saya ngga 
percaya juga sih.. :)

Salam,
Jehan






--- On Thu, 4/8/10, risfano <risf...@yahoo. com> wrote:


From: risfano <risf...@yahoo. com>
Subject: [referensi] Re: Pembangunan Wilayah
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Thursday, April 8, 2010, 3:52 PM


  

Bung Jehan dan rekans ysh,

Tanggapan Anda menarik. Kalau "bukan instansi pemerintah berarti bukan 
pembangunan (KTI)" namanya. Kalau dikaitkan dengan sektor yang Anda geluti. 
Berapa jumlah rumah yang dibangun Pemerintah, berapa dibangun Masyarakat 
(swadaya), berapa dibangun oleh Swasta (yang tentu untuk dibeli masyarakat)? 
Jadi apakah tidak bisa disebut pembangunan perumahan?

Juga Kota Baru (new town). Kota baru yang dari awal dibangun Pemrintah 
kemungkinan baru Kota Depok ya Pak? yang lain kan meneruskan peninggalan nenek 
moyang. Atau kebanyakan kota baru dibangun oleh Swasta (menjawab demand 
masyarakat/pasar) . Apakah itu semua tidak bisa disebut Pembangunan Permukiman 
karena tidak dibangun oleh instansi tertentu.

Kesimpulannya, sejak awal peran utama Pemerintah adalah "pengarah, penyedia 
rencana, fasilitator, pengendali". Apalagi untuk realisasi Rencana pembangunan 
wilayah KTI yang begitu luas aspeknya. Bukankah inisiatif Bank Mandiri, dst 
juga mengikuti "dorongan dan ajakan" pemerintah. Saya pikir pemerintah 
mendorong dan memfasilitasi, sehingga bagus kalau swasta dan masyarakat spontan 
merespons-nya. Apa bukan begitu?

Kalau dari segi Rencana, selain RTRW nasional, sudah ada juga Buku III RPJM 
Nasional yang jadi arahannya. Kalau tidak salah Menko Perekonomian secara 
konsisten punya perhatian khusus dengan Pembangunan KTI. Saya kira dalam hal 
polici kita tak perlu kecil hati, tapi operasionalisasinya mesti didukung 
diseminasi dst untuk mengajak berbagai pihak (swasta, masyarakat).

NB: Ngomong-ngomong Bang Jehan, acara "kick-off" nya jadinya kapan?

Salam,
Risfan Munir

--- In refere...@yahoogrou ps.com, Jehan Siregar <jehansiregar@ ...> wrote:
>
> Halo semua, pengen nimbrung juga nih. 
> Ketika saya membaca threadnya menarik juga, terlintas apa memang ada gebrakan 
> baru pembangunan wilayah? Siapa nih? Lalu, setelah saya ikuti hingga ke 
> sumber berita awalnya, eee... ternyata Bank Mandiri... Hehe.. pertanyaannya, 
> apa memang pendekatan pembangunan wilayah bisa dijalankan oleh sebuah bank??? 
> Tentu tidak bisa. Jadi, siapa sih sebenarnya yang peduli dengan pembangunan 
> wilayah sebagai pendekatan pembangunan di tanah air ini? Pemerintah? DPR? 
> Kalau lembaga pemerintah, lembaga mana? Apa portofolio lembaga itu? (bukan 
> ditujukan untuk Ditjen PR tentunya...) Kalau pejabat, siapa? Presiden? 
> Wapres? Menko? Kepala Bappenas? Kalau tidak ada, ya tidak ada namanya 
> pembangunan wilayah. Kalau yang ada itu PT Freeport, PT Conoco, PT Perkebunan 
> XYZ, dll, ya sama saja seperti Bank Mandiri itu. Kebetulan saja SDA yang 
> sedang mereka keduk ada di timur. Jangan-jangan pembangunan wilayah 
> (Indonesia Timur) justru dijadikan jargon saja.
> 
> Tabik,
> Jehan 
> 
> 
> 
> --- On Wed, 4/7/10, Sugiono Ronodihardjo <sugion...@. ..> wrote:
> 
> From: Sugiono Ronodihardjo <sugion...@. ..>
> Subject: RE: [referensi] Pembangunan Wilayah
> To: "refere...@yahoogrou ps.com" <refere...@yahoogrou ps.com>
> Date: Wednesday, April 7, 2010, 2:54 PM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>  
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Hallo Pak BTS, wah kepancing juga nich yee... 
> 
> Pertama pemakainan istilah KIB/KIT atau KBI/KTI okay saja, yang penting 
> maksudnya sepaham. Kedua mengenai manusia 'semut' sepertinya memang punya 
> sifat bergerombol dalam mencari makanan/kehidupan. Semakin mereka 'pinter', 
> seperti orang Jepun, mereka tetap saja bergerombol di kota-kota besarnya, 
> mereka bahkan mencari bahan makanan dan bahan baku lainnya dari mana saja 
> (termasuk dari Indonesia). Manusia 'semut' di KIB sepertinya juga lebih 
> senang hidup bergerombol (terutama dikota-kota besarnya), mereka 
> mendatangkan bahan baku dari KIT atau kawasan yang ada/kaya SDA lainnya. 
> Mungkin pepatahnya diubah  'ada semut ada gula', jadi kalau mau mendorong 
> pembangunan wilayah di KIT, mungkin perlu terobosan agar kota-kota besarnya 
> (misalnya: Ambon-Ternate- Sorong-Manokwari -Jayapura- Merauke) dapat tumbuh 
> pesat/besar sehingga menarik 'semut-semut' berdatangan makan 'gula' yang 
> banyak disekitarnya. Maaf kalau salah mohon
 dikoreksi ya.
> 
> Wassalam,
> 
> Onnos. 
>  
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> New Windows 7: Find the right PC for you. Learn more. 
> 
> 
> Nikmati chatting lebih sering di blog dan situs web 
> Gunakan Wizard Pembuat Pingbox Online
> 
> 
> 
> 
> Chat online and in real-time with friends and family! Windows Live Messenger
>










      

Kirim email ke