Pak Risfan ysh, masalah trend-setting dll tergantung sepenuhnya pada
'orang', inisiatif, dorongan, hasrat keseimbangan, dll. Undang-undang dkk
tidak bisa lagi terlalu diharapkan, karena sangat kentara 'olah power'-nya.
Memang masing-masing orang perlu introspeksi dan kembali ke meja diskusi,
seperti misalnya 'kopi darat Referensi'.
Jam 9 ini ada siaran layar kaca 'Merantau' pak di RCTI. Siapa tahu mau
nostalgia. Salam.

-ekadj


2010/5/2 Risfan Munir <[email protected]>

>
>
> Bu Reny, Pak Eka ysh,
>
> Pertanyaannya di era sekarang ini, pesan-pesan yang bagus, mengingatkan
> agar "koordinatif, integratif, sinkron" itu mesti disampaikan atau untuk
> siapa ya. Sepertinya sekarang tak ada lagi lembaga yang cukup kewenangannya
> untuk mengoordinirnya, yang bisa juga mengawal dari perencanaan hingga
> penganggaran.
> Mungkin kah sekarang memang sedang terjadi transisi dengan perundangan,
> budaya organisasi pembangunan yang sedang mencari bentuk atau keseimbangan
> (power) yang baru?
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
>
> www.service2delivery.blogspot.com
>
>
>
>
>
>
> ------------------------------
> From: ffekadj <[email protected]>
> Sent: Sunday, May 02, 2010 7:54 PM
>
> To: [email protected]
> Subject: [referensi] Re: Spatial justice..
>
>
>
>
> Terima kasih Ibu Reny, mudah-mudahan catatan ibu ini bisa menjadi contoh
> bagi rekan-rekan yang kebetulan ikutan seminar, diskusi, dst.
>
> Saya kurang tahu siapa yang ikutan perhelatan itu, namun saya sempat
> mengikuti seminar yang di Bappenas bulan lalu mengenai global climate
> change. Dalam acara itu Pak Emil juga menyampaikan pidato singkat,
> kurang lebih seperti yang ibu sampaikan, juga ada integrated sectoral
> programs yang disarankan ditindaklanjuti menjadi inter-sectoral program,
> dst. Serta suatu kritik terhadap masa tugas/jabatan yang tidak
> mengiringi format RPJM, dst. Pandangannya aksiomatik, sistemik, dan
> struktural-fungsional.
>
> Hemat saya, pandangan struktural-fungsional dan sistem yang terpolakan
> di kalangan birokrat sejak Orde Baru, sama saja dengan membuat matriks
> besar (comprehensive approach), dan tinggal mengisi mana-mana bagian
> yang kosong. Padahal mungkin ada kolom-kolom yang mungkin tidak perlu
> dipikirkan. Saya kira ini yang dipersepsikan sebagai 'justice' dalam
> penyelenggaraan negara selama ini. Namun untuk 'teori kritik', pandangan
> ini sangat umum digunakan dan argumentasinya meyakinkan.
>
> Walaupun paradigmanya masih terkesan lama, namun pandangan Pak Emil
> masih enak didengar, khususnya pada diskusi lintas-institusi. Terima
> kasih bu. Salam.
>
> -ekadj
>
> --- In [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>, Reny ansih
> <renyan...@...> wrote:
> >
> > Halo p. Eka dan referensier semua, ikut nimbrung ya...
> > mau nanya, ada ga yang ikutan hari jumat kemaren acara PERHELATAN
> PERWAKU (baru tahu kalau ada organisasi ini, singkatan dari PERHIMPUNAN
> CENDEKIAWAN LINGKUNGAN HIDUP), khususnya untuk Seminar Nasional
> "Pertimbangan Lingkungan untuk Penataan Ruang" ?
> > Pada acara penutupan seminar itu Bp. Emil Salim yang harusnya
> menyampaikan BAHAN nya diawal sebelum pembicara lain, tetapi karena
> beliau dipanggil Presiden, akhirnya beliau jadi penutup.
> > Saya kebetulan mendengarkan Paparan beliau (dan saya tunggu beliau),
> kalau ada yang punya kayaknya saya mau minta ...ketua panitia
> penyelenggara bu Yennel.
> > Sepertinya apa yang ditetapkan dalam Inpres no 3 / 2010 tentang
> Pembangunan Berkeadilan itu adalah hal-hal yang disampaikan pak Emil itu
> sebagai Naskah Akademis nya Beliau menyampaikan dalam bentuk
> Pertanyaan2 dan Analisa Jawabannya.
> >
> > Beberapa yang sempat saya catat sbb:
> > I. Hubungan GROWTH dengan KEMISKINAN misalnya:
> > * Mengapa PDRB tinggi - kemiskinan tinggi pula ? Dimana ini terjadi ?
> > Analisanya ternyata bisa dilihat hal ini terjadi di daerah
> PERTAMBANGAN yang dibangun sebagai kawasan tertutup. Apa ini salah ?
> Tidak juga karena mereka yang bekerja di pertambangan itu memang
> membutuhkan sesuatu sebagai hal yang membuat mereka bekerja dengan baik,
> karena itu sampai sayur mayur, telur dsbnya kalau perlu diimport dari
> luar negeri dan sesuai standar internasional.
> > Hal ini yang perlu disikapi Pemda. Mengapa masyarakat di Daerah tidak
> mampu memenuhinya, ini karena buruknya pendidikan.
> > * Mengapa PDRB rendah - kemiskinan rendah ? Dimana ini terjadi ?
> > Analisa nya misalnya di Maluku sebagai Provinsi Seribu Pulau, mengapa
> kita tidak berpikir praktis, bahwa Maluku tidak sama dengan Jawa,
> Sumatera atau Kalimantan yang umumnya banyak aktivitas darat, di Maluku
> itu HARUS digunakan pendekatan MARITIM. Bagaimana akan menghasilkan
> produk kalau TIDAK TAHU APA ANGKUTAN yang akan digunakan ? Kita bicara
> NEGARA KESATUAN, tetapi mengapa kita lebih banyak bicara JALAN TOL di
> JAWA, mengapa kita tidak bicara DERMAGA seperti apa yang kita perlukan
> di KTI ?
> >
> > II. Hubungan GROWTH dengan PENGANGGURAN (JOB)
> > Mengapa terjadi PDRB tinggi tetapi Pengangguran juga tinggi ?
> > Dimana saja terjadi secara provinsi?
> > Ternyata masih banyak provinsi di Sumatera yang mengalaminya dan malah
> di DKI itu angka pengangguran paling tinggi, dan hal ini malah
> dimanfaatkan sebagai tenaga2 untuk berbagai demo di ibukota. Di DKI itu
> sektor formal berkembang pesat tetapi sektor informal tidak berkembang
> dan bisa dibayar untuk demonstrasi.
> > Ada 4 kombinasi antara GROWTH dan PENGANGGURAN ini dan yang terbaik
> adalah GROWTH tinggi - PENGANGGURAN rendah....ini terjadi di Bali. Di
> Bali itu society baik, masyarakat homogen, dan konektifitas ekonomi
> sosial juga baik.
> >
> > III. Hubungan LEADERSHIP dengan BALITA KURANG GIZI
> > Secara nasional jumlah Balita kurang Gizi itu sekitar 18,4% dan
> tingkat kematian Bayi itu 34 per 1000 kelahiran.
> > Apa yang terjadi dengan "kepemimpinan" dinegeri ini?
> > 1. Leadership lokal cenderung memilih mencari "proyek gunting pita",
> dan tentu saja untuk proyek mengatasi masalah bayi kurang gizi atau
> penurunan tingkat kematian bayi ini TIDAK PRIORITAS !!
> > 2. Pembangunan SOSIAL BELUM BERJALAN SEIRING dengan PENTINGNYA
> pembangunan EKONOMI.
> > 3. Anggaran bersifat "PROJECT ORIENTED" dan KURANG UTAMAKAN DIMENSI
> BAYI dan IBU.
> > 4 Hal ini sangat dipengaruhi oleh KEPEMIMPINAN LOKAL yang ada
> sekarang.
> >
> > KESAN DAN KESIMPULAN
> > PENATAAN RUANG itu UNTUK APA ?
> > Perlu diingat bahwa:
> > 1. Kebijakan PRO-GROWTH tidak otomatis melahirkan hasil PRO-POOR dan
> PRO-JOB.
> > 2. Sasaran PRO-POOR dan PRO-JOB harus DICIPTAKAN SEJALAN dengan
> PRO-GROWTH.
> > 3 Hambatannya:
> > a. infrastruktur untuk aksesibilitas, konektifitas
> > b. pengembangan SDM
> > c. peniadaan kerusakan Sumber Daya Alam untuk menaikkan nilai
> tambahnya.
> > d. PENATAAN RUANG untuk SINKRONISASI ANTAR SEKTOR.
> >
> > Pengalaman ke Daerah selalu minta bagaimana cara sinkronisasi berbagai
> RENCANA SEKTOR yang MEMANFAATKAN RUANG. --> "DON'T PUSH THE BUG !!"
> > Kembangkan intensitas TANGGUNG JAWAB MORAL secara PROFESIONAL.
> >
> > Demikian sedikit catatan saya dari apa yang disampaikan oleh pak Emil
> Salim.
> > Ini tantangan luar biasa buat para planners dimanapun anda berada.
> > Saya jadi teringat apa yang pernah kami kerjakan lebih dari 30 tahun
> yang lalu pada waktu Dep. PU (baca DTKD-Ditjen CK) mendapat "grant" dari
> UNICEF untuk sesuatu tugas merumuskan program projek Sosial Pengembangan
> Area dan Kota (bu Ida Gumelar tahu persis hal ini). Yang pada waktu itu
> dianggap sangat bermanfaat oleh daerah2 dan sektor2 yang terlibat (a. l
> Deptan, DepSos, Dep.Kes, Dep. P&K, juga non sektor seperti DDN,
> Bappenas), dan akhirnya bantuan ini harus dihilangkan dari Dep. PU
> karena suatu pendapat " DEP.PU KOK NGURUSIN PROYEK SOSIAL ya ?!"
> >
> > Wallahu alam bisawab....mudah2an apa yang disampaikan pak Emil ini
> bisa bermanfaat bagi kita semua, dan saya masih akan mencari bahan
> lengkapnya ke panitia. Insya Allah.
> > Wass - 2ny
>
>  
>

Kirim email ke