Pak Eka dan Sahabats,

Sudah lama saya dengar bahwa evolusi ala Darwin sebagai cara berpikir dikritik 
oleh Mangunwijaya karena Darwinisme mengandung pemikiran "siapa kuat dia hidup 
terus". Saya jadi terkaget-kaget ketika cara berpikir ini justru menjadi cara 
pikir yang "penting atau pokok" di kalangan planning di Indonesia. Benarkah 
begitu ?

Dalam seminar APRF Januari 2010 ada tawaran "humanisme baru" menjadi paradigma 
dalam planning dan arsitektur masa kini dan masa depan yang menjanjikan 
kemajuan bagi kehidupan kita. Situasi pluralism yang kita hadapi akan terus 
berkembang dan memerlukan "open moral community" yang berbasis pada"deep moral 
community" atau "trancendentalism community". Intinya, planning dan arsitektur 
semestinya terus berusaha mengarah kepada "space of and for the common"....unik 
tetapi tidak ekslusif. Demikian konsep yang ditawarkan Guruku Dr. Sudaryono 
dalam seminar itu. 

Dari paparan itulah, aku jadi mengerti, mengapa "ruang lokal" menjadi penting 
dan bermakna karena boleh unik namun tidak eksklisif !!! Deep moral community 
pada dasarnya melampaui "contractual community" yang secara tidak kita sadari 
masih kuat mewarnai situasi kehidupan kita. Jika kita tidak menyadari paradigma 
mana yang diperlukan dalam planning dan arsitektur.....apakah kita masih punya 
keyakinan bahwa planning dan arsitektur adalah berkah bagi kehidupan dan alam 
semesta ???? 

Salam,


Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Mon, 5/10/10, - ekadj <[email protected]> wrote:

From: - ekadj <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] ortogenesis dalam perencanaan kita
To: [email protected]
Date: Monday, May 10, 2010, 10:52 PM







 



  


    
      
      
      Ya sudah nasib pak.
Sejak kecil terbuai-buai ayunan, sudah besar terbuai-buai angan-angan.
 
Lebih enak bicara biologi: tidak semua evolusi bermula dari kecil ke besar, 
atau dari sederhana ke kompleks. Beberapa spesies malah berubah menjadi lebih 
sederhana, seperti kambing pleistosen Afrika tiga kali lebih besar dari kambing 
modern. Salam.



2010/5/11 <arys_munandar@ yahoo.com>


  



So, seharusnya bagaimana, pak ? 
Powered by Telkomsel BlackBerry®


From: - ekadj <4ek...@gmail. com> 
Date: Mon, 10 May 2010 17:55:47 +0700
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
Subject: [referensi] ortogenesis dalam perencanaan kita




  


Referensiers ysh.
Hampir dipastikan seluruh perencana adalah penganut evolusionisme. Berarti 
penganut Charles Darwin. Evolusi merupakan suatu bentuk transformasi yang tetap 
dari kecil kepada yang lebih besar. Secara biologi hal ini coba dimaklumi dari 
generasi ke generasi, kemudian analogi biologi ini 'ditransplantasikan' ke 
dalam sistem sosial, sistem ekonomi, sistem politik, sistem kota, dst. Dengan 
dasar kaidah biologi ini, maka perencana banyak yang 'ngecap' menjelaskan 
gagasannya. Saya sudah sampaikan keluhan omongkosong ini dan tanggapannya.

 
Namun dalam praktek teori evolusi ada permasalahan ortogenesis: kesalahpahaman 
asumsi mendasar tentang adanya 'kekuatan' yang akan mengarahkan, menjadikan 
lebih cerdas, lebih baik, dan lebih terencana. Padahal dalam teori evolusi 
sendiri tidak ada pembuktian tentang adanya 'kekuatan supra'; malah evolusi 
sendiri merupakan proses random, tidak ada kemajuan atau gerakan umum ke arah 
'superior'. Darwin sendiri tidak pernah menyebutkan kata-kata 'lebih tinggi' 
atau 'lebih rendah' dalam menguraikan tahap evolusi yang berbeda-beda.

 
Salam.
 
-ekadj






    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke