Permainan politik yang sungguh keji, tapi tidak apa-apa, Gusti ora sare, kok.
You, politicians, will ultimately reap what you have sown -- never forget that.

Salam,
CA


Source: 
http://nasional.kompas.com/read/2010/05/10/08543636/Permainan.Macam.Apa.Ini-8

--begins--
Permainan Macam Apa Ini?
Senin, 10 Mei 2010 | 08:54 WIB

Oleh Effendi Gazali*

KOMPAS.com — Bahkan mereka yang selalu mendesak penuntasan kasus Bank
Century kaget seribu bahasa mendengar Sri Mulyani Indrawati akan
pergi!

Lazimnya, sejalan dengan waktu, sepotong demi sepotong puzzle itu akan
terbuka. Tentu interpretasi setiap orang bisa berbeda. Namun, beberapa
pejabat top di Kementerian Keuangan mengatakan kepada The Jakarta Post
(6/5/2010) bahwa Sri Mulyani Indrawati (SMI) dipaksa untuk mundur dan
ditawari Bank Dunia tugas sebagai jalan keluar terhormat.

SMI tak pernah punya rencana mundur dan belum pernah mengajukan
lamaran ke Bank Dunia, tetapi ia diberi tahu Presiden hari Senin lalu
untuk mengambil pekerjaan sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia.

Luar biasa aneh! Seseorang yang tak pernah mengajukan aplikasi
tiba-tiba dimintakan izin oleh Presiden Bank Dunia Robert Zoellick,
langsung kepada Presiden, untuk menempati sebuah posisi di Bank Dunia.
Bank Dunia pula yang membuka cerita tersebut melalui peluncuran berita
lewat situs mereka, Yudhoyono tinggal mengonfirmasi.

Secara resmi, Presiden mengumumkan SMI direstui untuk mengambil
pekerjaan di Bank Dunia pada hari Rabu, 5 Mei.

Golkar bekukan

Belum habis kebingungan menguak permainan apa yang sesungguhnya sedang
terjadi, anggota Fraksi Partai Golkar, Priyo Budi Santoso, mengusulkan
proses politik penyelesaian kasus Bank Century dibekukan! Dia menambah
dengan embel-embel (Kompas, 7/5/2010): "Silakan bergerak di proses
hukum, tetapi secara politik bisa saja itu ditunda."

Sebaliknya, Sekretaris Fraksi Partai Gerindra Ahmad Muzani menegaskan,
proses politik kasus Bank Century belum akan berhenti. Walau dia
mengakui, keinginan sebagian anggota DPR agar Sri Mulyani mundur sudah
terpenuhi.

Jika berbagai elemen di atas dianalisis (aktor, agensi, taktik, dan
kepatuhan pada obyek atau skenario tertentu, antara lain analisis
Smith dan Fink pada Human Communication Research, April, 2010),
terdapat tiga kategori sikap pengusung isu Century.
Ah, perempuan perkasa dalam badai, hanya Anda yang bisa menceritakan
kepada kita: jika ada, permainan macam apa ini yang sesungguhnya
sedang terjadi?

Pertama, mereka yang ingin sekadar melihat Sri Mulyani pergi, bahwa
tiba-tiba ada tawaran di Bank Dunia, bisalah dianggap sebagai sesuatu
yang membuat everybody happy (walau belum tentu sesungguhnya demikian
dengan SMI). Bagi kelompok ini, kasus Century sejatinya adalah
permainan tarik ulur dan negosiasi belaka! Pernyataan tokoh sepenting
Priyo di Golkar dengan cepat memperlihatkan kecenderungan ini.

Dengan mudah pula, publik akan tersambung pada isu kebencian Aburizal
Bakrie terhadap Sri Mulyani gara-gara urusan persahaman. Mau dibantah
berpuluh kali pun, kecepatan Golkar ingin membekukan proses politik
penyelesaian kasus Century telah menyatakan sesuatu! Orang senang
biasanya suka tak sengaja melontarkan kata-kata!

Pihak kedua, mereka yang ingin melihat terkuaknya berbagai rekayasa
besar, yang tampaknya mencuatkan kasus Century hanya sebagai puncak
gunung es. Masih ada di bawah "permukaan laut", kasus Antasari Azhar
yang juga penuh hal-hal yang sulit dijelaskan, dipertalikan dengan
rencana pengusutan kasus Teknologi Informasi KPU. Begitu pula kasus
Bibit-Chandra yang sampai saat ini tak pernah menguak siapa yang
menjadi dalang penjeblosan mereka ke tahanan.

Padahal, kemungkinan rekayasa tersebut disinggung dalam naskah
keputusan Mahkamah Konstitusi terhadap permohonan yang mereka ajukan.
Masih dalam gunung es yang sama, disebut-sebut dendam pribadi terhadap
pimpinan KPK.

Bagi kelompok kedua, tentu SMI tidak boleh dikorbankan! Kasusnya harus
terbongkar dulu semuanya, baik itu berhasil maupun terhenti di KPK
atau di Mahkamah Konstitusi. Namun, kenyataan media memang agak
menyedihkan. Kalaupun kasus Century benar ujung gunung es yang lebih
dahsyat dari "Watergate", pada faktanya kita memang sedang belum punya
jurnalis seberani dan sejeli Bob Woodward dan Carl Bernstein yang juga
didukung oleh perusahaan persnya.

Fakta kepemilikan media di Tanah Air malah bisa memperkuat kelompok
pertama, bukan kelompok kedua dan SMI.

Korbankan anak buah

Kelompok ketiga adalah mereka yang dengan mudah mengorbankan anak buah
asal kenyamanan tercapai. Kelak, sejarah akan mencatat cerita
sejatinya karena apa yang ditutup sekarang dengan pencitraan akan
terbongkar pada masanya dengan penistaan! Pojok Kompas (7/5/2010)
sudah memulainya dengan mengutip SMI: "Pemimpin jangan korbankan anak
buah." Mang Usil berkomentar: "Kok, ibarat kata bersayap, Bu?"

Sebetulnya masih bisa ditambahkan kelompok keempat, yaitu mereka yang
ingar-bingar menganalisis betapa hebatnya posisi yang diperoleh Ibu
Sri Mulyani di Bank Dunia dan mencari siapa pengganti Sri Mulyani yang
paling tepat. Bagi mereka, Sri Mulyani memang sedang dengan bahagia
mundur dari jabatannya dan gembira menuju Washington DC.

Ah, perempuan perkasa dalam badai, hanya Anda yang bisa menceritakan
kepada kita: jika ada, permainan macam apa ini yang sesungguhnya
sedang terjadi?

* Effendi Gazali, Koordinator Program Master Komunikasi Politik UI
--ends--


------------------------------------

Komunitas Referensi
http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/referensi/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/referensi/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke