Pak Djarot dan Rekans ysh, Saya tidak tahu banyak ttg teori evolusi, Darwinism. Tapi karena tugas saya belajar Knowledge Management/KM. Dalam KM dikenal juga learning/ living organization dikenal sbg kemampuan suatu organisasi dalam belajar, men-generate, accumulate, share, practice of knowledge, relearn, recollect. Membangun community of practice di kalangan service providers dan users. Pertanyaannya apakah dalam bidang perencanaan proses itu berjalan, sehingga komunitas planning bisa disebut living organization.
Sebagai praktisi saya melihat ada beberapa aspek dari planning yang banyak berkembang, ada yang men-generate knowledge tapi sayang krn lalu menyia-nyiakannya sebagai arsip beku/fosil proyek yang lewat, sementara ada juga yang memutar tembang kenangan terus. Beberapa waktu yl dlm meeting ada teman yg pejabat mengeluhkan konsep dan pengalaman semasa meriahnya proyek urban/regional development dulu rupanya yang mengerti prosesnya tinggal sedikit saja. Sementara momentum belajar seperti itu sekarang kurang sekali menurutnya. Kan sayang rekaman konsep dan proses yang mahal itu hilang bersama tersebar atau pensiunnya pada ahlinya dulu. Untuk itu sebaiknya digalakkan knowledge sharing di antara warga community of practice ini. Cara IAP sekarang mengajak, memposisikan partisipasi pengurus daerah menurut saya adalah contoh yang baik dalam membangun infrastruktur untuk knowledge sharing (konsep dan pengalaman)ke depan. Salam, Risfan Munir Pada Kam, 13 Mei 2010 00:07 CDT Djarot Purbadi menulis: > > > > > > > > > > > Sahabats, pertanyaan saya belum terjawab: apakah benar selama ini > kalangan planning menggunakan cara berpikir evolusionisme dalam arti adaptasi > atau yang lain ? > >Tampaknya saya juga setuju jika darwinisme diartikan mengandung strategi >adaptasi, meskipun biologisme semacam itu lebih terbatas (adaptasi fisik) >dibandingkan adaptasi dalam pengertian untuk masyarakat manusia, yang menurut >banyak pakar mengandung substansi lebih luas. Change DNA pada hewan tidak sama >dengan "DNA" pada manusia ya, konon karena adanya aspek >"budaya" pada manusia. > >Salam, > > > >Djarot Purbadi > > > > > >--- On Thu, 5/13/10, arys_munandar@ yahoo.com wrote: > >From: arys_munandar@ yahoo.com >Subject: Re: [referensi] ortogenesis dalam perencanaan kita >To: refere...@yahoogrou ps.com >Date: Thursday, May 13, 2010, 6:22 PM > > > > > > > > > > > > > > > > > > Sepakat Pak Harya, dalam konteks lebih luas, seperti juga yang dibahas > oleh Rhenal Kasali tentang dinamika di perusahaan IBM dan Motorola. Bahasan > lengkap beliau tuangkan dalam buku 'Change' dan buku 'Recode Your > DNA'. >Powered by Telkomsel BlackBerry® > >-----Original Message----- >From: Harya Setyaka >Date: Wed, 12 May 2010 19:55:19 >To: >Subject: Re: [referensi] ortogenesis dalam perencanaan kita > > > > > >Oh yaa... Darwin bilang Survival of the fittest.. bukan 'of the >strongest'.. bukan yang paling kuat yang akan survive.. jadi bukan yang >kuat akan hidup terus. tapi yang paling 'cocok' .. maksudnya yang >punya kapabilitas adaptasi lah yg survive.. buat planning, not bad lah kalau >kita selalu berpikir mengenai strategi adaptasi. Salam, -K- 2010/5/11 - ekadj >4ek...@gmail. com> > > > Pak Djarot dan rekans ysh. > >Sebenarnya bila bapak mencermati, sejak tahun lalu kita sudah membicarakan >> banyak paradigma besar dunia. Seperti misalnya Ms. EkoBK dkk bicara > >fieldwork, analytical induction dll, kita sedang bicara tentang > >'fungsionalisme' . Juga Pak Koes dkk bicara keramat, hidayah, prihatin >dll, > kita sedang bersentuhan dengan jalan tarikat. Tentunya juga dengan >'posmo', > 'strukturalisme' , 'komprehensivisme/ >sistemik' , 'positivisme' , 'marxisme', > 'borjuisme', 'mbejo', 'nggowes', 'evolusionisme' , dst. Masing-masing dari > kita telah memberikan > kontribusi pemahaman yang luas tentang hal itu sebagai > referensi > mengenai paradigma yang patut diketahui. Disadari atau tidak, > berbagai > paradigma itu telah bersemayam dalam pemikiran 'masyarakat' selama > > ini, dan telah mendinamikakan dan mengkontestasikan resistensi hingga > > dominasi dalam berbagai varian dan variasinya. > > Saya tanggapi > beberapa komentar. Pertama, saya hanya membaca analisis dan > beberapa > cuplikan catatan etnografi Darwin, "The Origin of Species by Means > > of Natural Selection" (1859), salah satu di antaranya: "... I am > fully > convinced that species are not immutable; but that those belonging > to what > are called the same genera are lineal descendants of some other > and > generally extinct species, in the same manner as the acknowledged > varieties > of any one species. ..." Pandangannya memang bertentangan > dengan bab > penciptaan dalam Bible (namun tidak Al Qur-an), dan menimbulkan kontroversi > hingga saat ini. Perlu dicatat > bila Darwin menempatkan 'link' dan 'fase' > dalam > penelitiannya; satu hal yang kita pahami bahwa 'perkembangan' > > disekat-sekat menjadi 'fase-fase', dan setiap fase adalah bermakna > karena > mengandung kejadian penting. Dengan kata lain teori evolusi > adalah bicara > tentang proses dan sejarah. Jadi sebenarnya mudah > 'mencap' kaum > evolusionist, kalau terdengar ngomong tentang > history, proses, kemajuan dst, > ... ya seperti saya ini ... hehehe ... > Malah Plato dan Aristoteles lebih > dulu mengembangkan teori > evolusi-negatif, yang mengatakan binatang dan > tumbuhan bermula dari satu > bentuk, kemudian secara bertahap dan menerus > berubah dari bentuk > sempurna menjadi kurang sempurna, namun untuk manusia > melalui proses > yang berbeda. > > Mengenai 'survival of the fittest' saya kira > sudah dijawab oleh Harya. Saya > tertarik dengan 'open/deep moral > community', saya kira kita sudah masuk > dalam kajian baru, yaitu 'positivisme' , atau mungkin juga > 'konstruktivisme' . > Silahkan dibabarkan pak, kan ada Pak > Sudaryono juga disini. > > Mengenai 'kehidupan dan alam', lebih > relevan dengan tulisannya Pak Risfanyang similar dan setajam analisisnya Marx > (namun bukan Marxian). Kapan waktu > saya coba ulas. Salam. > > > -ekadj > > > 2010/5/11 Harya Setyaka > > >> Darwin > mengajukan teori mengenai geo-biologi ... sebenarnya Wallace juga >> > sedang meneliti hal yang sama.. yaitu distribusi spatial flora dan fauna.. > >> lalu memetakan similaritas dan dissimilaritas diantaranya. . > >> Proposisi-proposisi Darwin semuanya bisa dibuktikan benar-salah nya > >> secara ilmiah, diuji secara empirik. >> >> yang > problematik adalah memproyeksikan proposisi Darwin mengenai alam >> > kepada kehidupan sosial.. atau disebut Social Darwinism.. >> Jadi kalau > udah pake imbuhan -ism .. udah gak netral lagi.. dan udah >> berangkat (departure from) kaidah-2 ilmiah, dimana segala sesuatunya harus >> bisa diuji secara empirik. >> Ya sama aja > kayak Pancasila laah.. itu kan gak ilmiah. >> >> Ya tentunya > masing-2 kita ini memiliki (atau minimal merasa memiliki) >> dawuh ... > >> Menjadi arsitek/planner kan pilihan profesi yang dibuat ketika > >> cara-pandang dunia belum seperti sekarang ini.. >> Sedangkan > diluar profesi arsitek/planner mungkin juga punya dawuh untuk >> > melindungi yang lemah.. berupaya untuk mewujudkan "survival of the > >> weakest".. >> >> salam, >> -K- >> > >> >> >> 2010/5/10 Djarot Purbadi >> >> > >>> >>> Pak Eka dan Sahabats, >>> >>> > Sudah lama saya dengar bahwa evolusi ala Darwin sebagai cara berpikir > >>> dikritik oleh Mangunwijaya karena Darwinisme mengandung > pemikiran "siapa >>> kuat dia hidup terus". Saya jadi > terkaget-kaget ketika cara berpikir ini >>> justru menjadi cara > pikir yang "penting atau pokok" di kalangan planning di >>> Indonesia. Benarkah begitu ? >>> >>> Dalam seminar APRF Januari 2010 ada tawaran "humanisme baru" menjadi >>> paradigma dalam planning dan arsitektur > masa kini dan masa depan yang >>> menjanjikan kemajuan bagi > kehidupan kita. Situasi pluralism yang kita hadapi >>> akan terus > berkembang dan memerlukan "open moral community" yang berbasis > >>> pada"deep moral community" atau "trancendentalism > community". Intinya, >>> planning dan arsitektur semestinya > terus berusaha mengarah kepada "space of >>> and for the > common"....unik tetapi tidak ekslusif. Demikian konsep yang >>> > ditawarkan Guruku Dr. Sudaryono dalam seminar itu. >>> >>> > Dari paparan itulah, aku jadi mengerti, mengapa "ruang lokal" > menjadi >>> penting dan bermakna karena boleh unik namun tidak > eksklisif !!! Deep moral >>> community pada dasarnya melampaui > "contractual community" yang secara tidak >>> kita sadari > masih kuat mewarnai situasi kehidupan kita. Jika kita tidak >>> menyadari paradigma mana yang diperlukan dalam planning dan >>> arsitektur.. ...apakah kita masih punya keyakinan bahwa planning dan >>> arsitektur adalah berkah bagi > kehidupan dan alam semesta ???? >>> >>> Salam, >>> > >>> Djarot Purbadi >>> >>> http://realmwk. > wordpress. com [Blog Resmi MWK] >>> http://forumriset. wordpress. > com [Blog Resmi APRF] >>> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. > com >>> >>> >>> --- On *Mon, 5/10/10, - ekadj > 4ek...@gmail. com>* wrote: >>> >>> >>> From: - > ekadj 4ek...@gmail. com> >>> Subject: Re: [referensi] ortogenesis > dalam perencanaan kita >>> To: refere...@yahoogrou ps.com > >>> Date: Monday, May 10, 2010, 10:52 PM >>> >>> > >>> >>> Ya sudah nasib pak. >>> Sejak kecil > terbuai-buai ayunan, sudah besar terbuai-buai angan-angan. >>> > >>> Lebih enak bicara biologi: tidak semua evolusi bermula dari > kecil ke >>> besar, atau dari sederhana ke kompleks. Beberapa spesies malah berubah >>> menjadi lebih sederhana, seperti kambing pleistosen Afrika tiga kali lebih >>> besar dari kambing modern. Salam. >>> >>> 2010/5/11 >>> > >>> >>>> >>>> >>>> So, seharusnya bagaimana, pak ? >>>> >>>> Powered by > Telkomsel BlackBerry® >>>> ------------ --------- --------- > >>>> *From: *- ekadj 4ek...@gmail. com> >>>> > >>>> *Date: *Mon, 10 May 2010 17:55:47 +0700 >>>> > *To: * >>>> > >>>> *Subject: *[referensi] > ortogenesis dalam perencanaan kita >>>> >>>> > >>>> >>>> Referensiers ysh. >>>> Hampir > dipastikan seluruh perencana adalah penganut evolusionisme. >>>> > Berarti penganut Charles Darwin. Evolusi merupakan suatu bentuk transformasi > >>>> yang tetap dari kecil kepada yang lebih besar. Secara > biologi hal ini coba >>>> dimaklumi dari generasi ke generasi, > kemudian analogi biologi ini >>>> 'ditransplantasikan ' > ke dalam sistem sosial, sistem ekonomi, sistem politik, >>>> > sistem kota, dst. Dengan dasar kaidah biologi ini, maka perencana banyak >>>> yang 'ngecap' menjelaskan gagasannya. Saya sudah sampaikan keluhan >>>> omongkosong ini >>>> dan tanggapannya >>>> . >>>> >>>> Namun dalam praktek teori evolusi ada permasalahan ortogenesis: >>>> kesalahpahaman asumsi > mendasar tentang adanya 'kekuatan' yang akan >>>> > mengarahkan, menjadikan lebih cerdas, lebih baik, dan lebih terencana. > >>>> Padahal dalam teori evolusi sendiri tidak ada pembuktian > tentang adanya >>>> 'kekuatan supra'; malah evolusi > sendiri merupakan proses random, tidak ada >>>> kemajuan atau > gerakan umum ke arah 'superior'. Darwin sendiri tidak pernah > >>>> menyebutkan kata-kata 'lebih tinggi' atau 'lebih > rendah' dalam menguraikan >>>> tahap evolusi yang > berbeda-beda. >>>> >>>> Salam. >>>> > >>>> -ekadj >>>> >>>> >>>> > >>> >>> >> > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > >

