Mas Fajar,

Trims atas sarannya. Hanya saja menurut pengamatan saya, pengembangan ekonomi 
lokal dan stakeholdersnya (termasuk pendidikan lokal), supply-chain plan/mgt, 
infrastruktur dan kawasan ekonomi khusus ini yang riil sekarang menjadi domain 
swasta. Sementara kalau bicara "peran swasta" atau "teriakan kaum marginal" 
biasanya teman-teman Referensi kurang suka. 
Jadi catatan atau opini saya, saya tulis di blog saja, Misal: 
www.urbaneconomic.blogspot.com, atau www.ecoplano.blogspot.com, dan linknya. 
Dari catatan saya dinamika pembangunan (ekonomi) kota diwarnai "agresivitas 
pemodal" dan "teriakan kaum marginal". Di samping yang normatif di tengahnya. 
Sekali lagi terima kasih.

NB: saya juga kerjasama, networking dgn teman2 Mas Fajar, Syarif di PWK-Undip 
seperti Mas Holi, Arti, Mukti Ali, Prihadi dan jejaring Busdev Services dalam 
pengembangan SME clusters di Jateng, ada forum-forum ekonomi daerah-nya juga di 
level kab/kota dan provinsi.

Salam,
Risfan Munir




-----Original Message-----
From: [email protected]
Sent: Thursday, May 13, 2010 7:25 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Penilaian orang Singapura terhadap Indonesia

 
Pak Risfan ysh,   Daripada mengkampanyekan "A Year Without Made in China" yang 
saya yakin susah banget untuk mencapai tingkatan nasional, lebih baik kita 
kampanyekan penguatan supply-chain production planning yang Pak Risfan pernah 
sampaikan sebelumnya, serta pengembangan pendidikan berbasis lokal dan 
pengembangan infrastruktur dasar plus energi, informasi, transportasi dan 
telekomunikasi dalam perencanaan pembangunan di setiap wilayah kita. 
Harapannya, pengembangan hal-hal itu bisa lebih meningkatkan indeks pengolahan 
dari keragaman sumber daya alam yang ada sehingga bisa lebih meningkatkan 
aktivitas ekonomi...   Sementara itu, pentingnya pengembangan pendidikan 
berbasis lokal akan lebih meningkatkan peluang pengolahan secara lokal, serta 
tingkat partisipasi masyarakat lokal dalam industri pengolahan tsb.. Dalam 
pandangan saya, upaya-upaya seperti ini merupakan penguatan keterkaitan 
pertumbuhan dan pemerataan.   Salam,   Fadjar     --- En date de : Jeu 13.5.10, 
Risfan M a écrit : De: Risfan M Objet: Re: [referensi] Penilaian orang 
Singapura terhadap Indonesia À: [email protected] Date: Jeudi 13 mai 
2010, 18h34   Mr. Ukon n rekans ysh,   Setuju banget. Kalau kita proyeksikan ke 
soal belanja produksi nasional, pemberdayaan UKM. Mulai dari yang kecil saja, 
belanjaan sehari-hari, perlengkapan yang melekat. Kalau mikir dari yang besar 
jadinya "menuntut orang lain, pemerintah, dst". Saya baru-baru ini baca buku "A 
Year Without Made in China", yang ditulis Sara Bongiorni. Dia dan keluarga 
kecilnya (di USA) mencoba hidup tanpa mengonsumsi produk impor tsb. Susahnya 
setengah mati, karena sampai produk perlengkapan keagamaan pun yang memenuhi 
pasar produk dari sana. Yang sulit, terutama soal "harga murah" nya.    
Langkah-langkah kecil mungkin ada artinya. Kalau sandal untuk di rumah saja kan 
tak harus impor. Kalau "berdikari" kelihatannya terlalu ambisius, paling tidak 
mengurangilah, yang perlu-perlu saja. Sekarang ini masak apem, donat, cenil, 
kripik, kerak, cireng harus merk franchise dari luar. Saya tidak tahu 
resto-resto melayu yang mulai banyak itu dari negeri jiran atau lokal. Padahal 
kita semua tahu, bangkitnya Jepang karena fanatik "konsumsi produk sendiri".   
Negara sulit menolak globalisasi, karena resiprositas kita butuh ekspor, tapi 
pribadi dan keluarga kan bisa, paling tidak dalam batas "kalau terpaksa saja". 
Small steps ....   Salam, Risfan Munir     --- On Thu, 5/13/10, ukonisme wrote: 
From: ukonisme Subject: [referensi] Penilaian orang Singapura terhadap 
Indonesia To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Thursday, May 13, 2010, 5:36 AM 
Dari cerita seorang teman: Suatu pagi, kami menjemput seseorg klien di bandara. 
Org itu sdh tua, kisaran 60 thn. Si Bpk adl pengusaha asal Singapura, dgn logat 
bicara gaya melayu   english, beliau menceritakan pengalaman2 hidupnya kpd kami 
yg msh muda. Beliau berkata, "Ur country is so rich!" Ah biasa banget denger 
kata2 itu! Tapi tunggu dulu... "Indonesia doesn't need the world, but the world 
needs Indonesia," lanjutnya. "Everything can be found here in Indonesia, U 
don't need the world." "Mudah saja, Indonesia paru2 dunia Tebang saja hutan di 
kalimantan, dunia pasti kiamat. Dunia yg butuh Indonesia! Singapura is nothing, 
we can't be rich without Indonesia.. 500.000 org Indonesia berlibur ke 
Singapura tiap bulan.. Bisa terbayang uang yg masuk ke kami, apartemen2 terbaru 
kami yg beli org2 Indonesia, ga peduli harga selangit, laku keras. Lihatlah RS 
kami, org Indonesia semua yg berobat. Trus, kalian tau bgmna kalapnya 
pemerintah kami ketika asap hutan Indonesia masuk? Ya, bener2 panik. Sangat 
terasa, we are nothing. Kalian tau kan kalo Agustus kmrn dunia krisis beras. 
Termasuk di Singapura dan Malaysia? Kalian di Indonesia dgn mudah dpt beras.. 
Liatlah negara kalian, air bersih di mana2, liatlah negara kami, air bersih pun 
kami beli dari Malaysia. Saya ke Kalimantan pun dlm rangka bisnis, krn pasirnya 
mengandung permata. Terliat glitter kalo ada matahari bersinar. Penambang jual 
cuma Rp 3.000/kg ke pabrik china, si pabrik jual kembali seharga Rp 30.000/kg. 
Saya liat ini sbg peluang.. Kalian sadar tidak kalo negara2 lain selalu takut 
meng-embargo Indonesia?! Ya, karena negara kalian memiliki segalanya. Mereka 
takut kalau kalian menjadi mandiri, makanya tidak di embargo. Harusnya 
KALIANLAH YG MENG-EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI. Belilah pangan dari petani2 kita 
sendiri, belilah tekstil garmen dari pabrik2 sendiri.. Tak perlu impor klo bisa 
produk sendiri. Jika kalian bisa mandiri, bisa MENG-EMBARGO DIRI SENDIRI, 
INDONESIA WILL RULES THE WORLD!!!" Powered by Telkomsel BlackBerry® 
------------ --------- --------- ------ Komunitas Referensi http://groups. 
yahoo.com/ group/referensi/ Yahoo! Groups Links 

Kirim email ke