Pak Rofiq,

Betul pak, kapan ya kita bisa spt mereka yg menjadikan kelemahan itu sebagai 
modal.

Lee Kuan Yew bilang bhw karena Malaya dan Indonesia saat itu nggak suka pd 
Singapore maka dia nekat membangun negaranya dgn caranya sendiri agar makmur. 
Kluster industri tumbuh dan si Deng Xiao Ping datang belajar kemudian 
menerapkan dinegaranya cara2 Lew Kuan Yew itu.
Pak Rofiq, apa khabarnya skrg dan masih di BPPT ?

Regards
rvk
-----Original Message-----
From: Aunur rofiq
Sent:  15-05-2010, 07.09 
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Penilaian orang Singapura terhadap Indonesia



Pak Rientje,
Stereotype yang sinikal seperti itu biasa pak, Lee Kuan Yew pernah menangis 
melihat kelakuan orang Singapore yang jorok dan susah diatur waktu singapore di 
depak dari Malaysia. Waktu itu banyak orang Singapore yang sinis pada kelakuan 
warganya......tidak punya character dan bahasa Inggrisnya jelek tetapi the next 
generation ternyata mereka bisa berubah....
 Salam
Aunur Rofiq




________________________________
From: "[email protected]" <[email protected]>
To: "[email protected]" <[email protected]>
Sent: Sat, May 15, 2010 8:36:47 AM
Subject: RE: [referensi] Penilaian orang Singapura terhadap Indonesia

  
Referensier ysh

Saya pernah miris dgn komentar org Singapore ttg kelakuan org Indonesia dan 
juga ttg korupsi.

Ada sekelompok remaja Indonesia makan permen karet dan memuntahkan sisanya ke 
rel sky train di airport Changi. Saat itu saya berada didalam sky train yg 
kemudian macet gara-gara ada tumpukan sisa permen tsb. Kelompok remaja tsb 
tenang2 saja dan tdk merasa bersalah sampai ditegor petugas. Komentar org2 lain 
dlm sky train tsb :" dasar org Indonesia yg underdeveloped ".

Berikutnya, saya lihat-lihat walkman dan kemudian dirayu oleh penjual agar 
membeli brg jualannya. Dia kemudian mendekati saya dan ngomong : Tuan, beli 
saja dan tak usah kuatir dgn taxnya karena di Indonesia segala sesuatu bisa 
dibayar. Officialnya hungery semua. Wah . . .

RVK
-----Original Message-----
From: [email protected]
Sent:  13-05-2010, 16.55 
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Penilaian orang Singapura terhadap Indonesia

    Pak Risfan ysh, Daripada mengkampanyekan "A Year Without Made in China" 
yang saya yakin susah banget untuk mencapai tingkatan nasional, lebih baik kita 
kampanyekan penguatan supply-chain production planning yang Pak Risfan pernah 
sampaikan sebelumnya, serta pengembangan pendidikan berbasis lokal dan 
pengembangan infrastruktur dasar plus energi, informasi, transportasi dan 
telekomunikasi dalam perencanaan pembangunan di setiap wilayah kita. 
Harapannya, pengembangan hal-hal itu bisa lebih meningkatkan indeks pengolahan 
dari keragaman sumber daya alam yang ada sehingga bisa lebih meningkatkan 
aktivitas ekonomi... Sementara itu, pentingnya pengembangan pendidikan berbasis 
lokal akan lebih meningkatkan peluang pengolahan secara lokal, serta tingkat 
partisipasi masyarakat lokal dalam industri pengolahan tsb.. Dalam pandangan 
saya, upaya-upaya seperti ini merupakan penguatan keterkaitan pertumbuhan dan 
pemerataan. Salam, Fadjar  --- En date de : Jeu
 13.5.10, Risfan M  a écrit :De: Risfan M Objet: Re: [referensi] Penilaian 
orang Singapura terhadap IndonesiaÀ: [email protected]: Jeudi 13 
mai 2010, 18h34  Mr. Ukon n rekans ysh,   Setuju banget. Kalau kita proyeksikan 
ke soal belanja produksi nasional, pemberdayaan UKM. Mulai dari yang kecil 
saja, belanjaan sehari-hari, perlengkapan yang melekat. Kalau mikir dari yang 
besar jadinya "menuntut orang lain, pemerintah, dst". Saya baru-baru ini baca 
buku "A Year Without Made in China", yang ditulis Sara Bongiorni. Dia dan 
keluarga kecilnya (di USA) mencoba hidup tanpa mengonsumsi produk impor tsb. 
Susahnya setengah mati, karena sampai produk perlengkapan keagamaan pun yang 
memenuhi pasar produk dari sana. Yang sulit, terutama soal "harga murah" nya.   
 Langkah-langkah kecil mungkin ada artinya. Kalau sandal untuk di rumah saja 
kan tak harus impor. Kalau "berdikari" kelihatannya terlalu ambisius, paling 
tidak mengurangilah, yang perlu-perlu
 saja. Sekarang ini masak apem, donat, cenil, kripik, kerak, cireng harus merk 
franchise dari luar. Saya tidak tahu resto-resto melayu yang mulai banyak itu 
dari negeri jiran atau lokal. Padahal kita semua tahu, bangkitnya Jepang karena 
fanatik "konsumsi produk sendiri".   Negara sulit menolak globalisasi, karena 
resiprositas kita butuh ekspor, tapi pribadi dan keluarga kan bisa, paling 
tidak dalam batas "kalau terpaksa saja". Small steps ....   Salam, Risfan Munir 
    --- On Thu, 5/13/10, ukonisme wrote: From: ukonisme Subject: [referensi] 
Penilaian orang Singapura terhadap Indonesia To: refere...@yahoogrou ps.com 
Date: Thursday, May 13, 2010, 5:36 AM Dari cerita seorang teman: Suatu pagi, 
kami menjemput seseorg klien di bandara. Org itu sdh tua, kisaran 60 thn. Si 
Bpk adl pengusaha asal Singapura, dgn logat bicara gaya melayu   english, 
beliau menceritakan pengalaman2 hidupnya kpd kami yg msh muda. Beliau berkata, 
"Ur country is so rich!" Ah biasa
 banget denger kata2 itu! Tapi tunggu dulu... "Indonesia doesn't need the 
world, but the world needs Indonesia," lanjutnya. "Everything can be found here 
in Indonesia, U don't need the world." "Mudah saja, Indonesia paru2 dunia. 
Tebang saja hutan di kalimantan, dunia pasti kiamat. Dunia yg butuh Indonesia! 
Singapura is nothing, we can't be rich without Indonesia.. 500.000 org 
Indonesia berlibur ke Singapura tiap bulan.. Bisa terbayang uang yg masuk ke 
kami, apartemen2 terbaru kami yg beli org2 Indonesia, ga peduli harga selangit, 
laku keras. Lihatlah RS kami, org Indonesia semua yg berobat. Trus, kalian tau 
bgmna kalapnya pemerintah kami ketika asap hutan Indonesia masuk? Ya, bener2 
panik. Sangat terasa, we are nothing. Kalian tau kan kalo Agustus kmrn dunia 
krisis beras. Termasuk di Singapura dan Malaysia? Kalian di Indonesia dgn mudah 
dpt beras.. Liatlah negara kalian, air bersih di mana2, liatlah negara kami, 
air bersih pun kami beli dari Malaysia.
 Saya ke Kalimantan pun dlm rangka bisnis, krn pasirnya mengandung permata. 
Terliat glitter kalo ada matahari bersinar. Penambang jual cuma Rp 3.000/kg ke 
pabrik china, si pabrik jual kembali seharga Rp 30.000/kg. Saya liat ini sbg 
peluang.. Kalian sadar tidak kalo negara2 lain selalu takut meng-embargo 
Indonesia?! Ya, karena negara kalian memiliki segalanya. Mereka takut kalau 
kalian menjadi mandiri, makanya tidak di embargo. Harusnya KALIANLAH YG 
MENG-EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI. Belilah pangan dari petani2 kita sendiri, 
belilah tekstil garmen dari pabrik2 sendiri.. Tak perlu impor klo bisa produk 
sendiri. Jika kalian bisa mandiri, bisa MENG-EMBARGO DIRI SENDIRI, INDONESIA 
WILL RULES THE WORLD!!!" Powered by Telkomsel BlackBerry® ------------ 
--------- --------- ------ Komunitas Referensi http://groups. yahoo.com/ 
group/referensi/ Yahoo! Groups Links 

    Pak Risfan ysh,

 

Daripada mengkampanyekan "A Year Without Made in China" yang saya yakin susah 
banget untuk mencapai tingkatan nasional, lebih baik kita kampanyekan penguatan 
supply-chain production planning yang Pak Risfan pernah sampaikan sebelumnya, 
serta pengembangan pendidikan berbasis lokal dan pengembangan infrastruktur 
dasar plus energi, informasi, transportasi dan telekomunikasi dalam perencanaan 
pembangunan di setiap wilayah kita. Harapannya, pengembangan hal-hal itu bisa 
lebih meningkatkan indeks pengolahan dari keragaman sumber daya alam yang ada 
sehingga bisa lebih meningkatkan aktivitas ekonomi...

 

Sementara itu, pentingnya pengembangan pendidikan berbasis lokal akan lebih 
meningkatkan peluang pengolahan secara lokal, serta tingkat partisipasi 
masyarakat lokal dalam industri pengolahan tsb.. Dalam pandangan saya, 
upaya-upaya seperti ini merupakan penguatan keterkaitan pertumbuhan dan 
pemerataan.

 

Salam,

 

Fadjar

 

 

--- En date de : Jeu 13.5.10, Risfan M <[email protected]> a écrit :

De: Risfan M <[email protected]>
Objet: Re: [referensi] Penilaian orang Singapura terhadap Indonesia
À: [email protected]
Date: Jeudi 13 mai 2010, 18h34

  Mr. Ukon n rekans ysh,   Setuju banget. Kalau kita proyeksikan ke soal 
belanja produksi nasional, pemberdayaan UKM. Mulai dari yang kecil saja, 
belanjaan sehari-hari, perlengkapan yang melekat. Kalau mikir dari yang besar 
jadinya "menuntut orang lain, pemerintah, dst". Saya baru-baru ini baca buku "A 
Year Without Made in China", yang ditulis Sara Bongiorni. Dia dan keluarga 
kecilnya (di USA) mencoba hidup tanpa mengonsumsi produk impor tsb. Susahnya 
setengah mati, karena sampai produk perlengkapan keagamaan pun yang memenuhi 
pasar produk dari sana. Yang sulit, terutama soal "harga murah" nya.    
Langkah-langkah kecil mungkin ada artinya. Kalau sandal untuk di rumah saja kan 
tak harus impor. Kalau "berdikari" kelihatannya terlalu ambisius, paling tidak 
mengurangilah, yang perlu-perlu saja. Sekarang ini masak apem, donat, cenil, 
kripik, kerak, cireng harus merk franchise dari luar. Saya tidak tahu 
resto-resto melayu yang mulai banyak itu dari negeri
 jiran atau lokal. Padahal kita semua tahu, bangkitnya Jepang karena fanatik 
"konsumsi produk sendiri".   Negara sulit menolak globalisasi, karena 
resiprositas kita butuh ekspor, tapi pribadi dan keluarga kan bisa, paling 
tidak dalam batas "kalau terpaksa saja". Small steps ....   Salam, Risfan Munir 
    --- On Thu, 5/13/10, ukonisme wrote: From: ukonisme Subject: [referensi] 
Penilaian orang Singapura terhadap Indonesia To: refere...@yahoogrou ps.com 
Date: Thursday, May 13, 2010, 5:36 AM Dari cerita seorang teman: Suatu pagi, 
kami menjemput seseorg klien di bandara. Org itu sdh tua, kisaran 60 thn. Si 
Bpk adl pengusaha asal Singapura, dgn logat bicara gaya melayu   english, 
beliau menceritakan pengalaman2 hidupnya kpd kami yg msh muda. Beliau berkata, 
"Ur country is so rich!" Ah biasa banget denger kata2 itu! Tapi tunggu dulu... 
"Indonesia doesn't need the world, but the world needs Indonesia," lanjutnya. 
"Everything can be found here in Indonesia, U
 don't need the world." "Mudah saja, Indonesia paru2 dunia. Tebang saja hutan 
di kalimantan, dunia pasti kiamat. Dunia yg butuh Indonesia! Singapura is 
nothing, we can't be rich without Indonesia.. 500.000 org Indonesia berlibur ke 
Singapura tiap bulan.. Bisa terbayang uang yg masuk ke kami, apartemen2 terbaru 
kami yg beli org2 Indonesia, ga peduli harga selangit, laku keras. Lihatlah RS 
kami, org Indonesia semua yg berobat. Trus, kalian tau bgmna kalapnya 
pemerintah kami ketika asap hutan Indonesia masuk? Ya, bener2 panik. Sangat 
terasa, we are nothing. Kalian tau kan kalo Agustus kmrn dunia krisis beras. 
Termasuk di Singapura dan Malaysia? Kalian di Indonesia dgn mudah dpt beras.. 
Liatlah negara kalian, air bersih di mana2, liatlah negara kami, air bersih pun 
kami beli dari Malaysia. Saya ke Kalimantan pun dlm rangka bisnis, krn pasirnya 
mengandung permata. Terliat glitter kalo ada matahari bersinar. Penambang jual 
cuma Rp 3.000/kg ke pabrik china, si
 pabrik jual kembali seharga Rp 30.000/kg. Saya liat ini sbg peluang.. Kalian 
sadar tidak kalo negara2 lain selalu takut meng-embargo Indonesia?! Ya, karena 
negara kalian memiliki segalanya. Mereka takut kalau kalian menjadi mandiri, 
makanya tidak di embargo. Harusnya KALIANLAH YG MENG-EMBARGO DIRI KALIAN 
SENDIRI. Belilah pangan dari petani2 kita sendiri, belilah tekstil garmen dari 
pabrik2 sendiri.. Tak perlu impor klo bisa produk sendiri. Jika kalian bisa 
mandiri, bisa MENG-EMBARGO DIRI SENDIRI, INDONESIA WILL RULES THE WORLD!!!" 
Powered by Telkomsel BlackBerry® ------------ --------- --------- ------ 
Komunitas Referensi http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ Yahoo! Groups 
Links 




 


      

Kirim email ke