Rekan H. Ekadj dan Milisters ysh, Acara periodik kopidarat ya tentu saja selalu bagus …kita bisa saling jumpa ….bisa diskusi lsg….bisa makan2 bareng malah nonton bareng dsb ….. kemudian pula mendiskusikan masalah kelas borjuis/ kelas menengah atas ..…bisnis …keruangan …...nilai lokal, tradisional dan pasar …. ya tentu saja bagus juga …..aplg mendiskusikannya bersama Walkot Djokowi ….aplg makan2 bareng Djokowi ……ya tentu itu jg bukan perkara kesempatan mudah spt bagi saya yg org kecil…….. Mas Dodo yg piyantun Solo boleh jadi kebetulan dinas kesana atau jangan2 malah beliau sdg ambil libur panjang plg kampung…….utk mas Djarot tinggal masalah ¾ jam dari Jogya ….pak Aunur mungkin jg kebetulan ada jadwal rencana kesana …..ato mungkin memang senang bener dgn kota Solo dan ini itunya …. ditambah rekan H.Ekadj aplg kalau pak Risfan hadir juga ….setdknya sdh ada 5 milisters senior yg ngumpul ……jadi maka ya silahkan saja ……tentu kita bisa dpt oleh2 cerita serunya…….. Namun lain drpd itu …….apa yg sgt menarik bagi saya dari semua itu ...yg lalu menjadi 'cikalbakal' diskusi panjang ini .....adlh justru kalimat dari Prof. Eko Budiarjo yg terus diingat2 oleh rekan Sarif (menurut istilah beliau 'menancap' di otak beliau) yg l/k bunyinya "Kita harus mengglobal dengan semangat regional berbasis sumberdaya lokal”….. yg oleh rekan Sarif rupanya lalu yg lebih diingat adalah masalah memulai dari ‘lokal’nya ……dan ttg masalah ‘mengglobalnya ‘ entah memperoleh perhatiannya yg sama atau tidak ..saya kurang tahu …… Namun yg lbh jelas lagi ……bagi PWK/ planologi/ teknik penataan ruang ……mencerna kalimat prof Eko Budiarjo itu …….menurut hemat saya memulai menaruh perhatiannya justru perlu lbh pada ‘mengglobal’nya itu dulu……… Kenapa begitu ………alasan saya sebenarnya sederhana saja …..ialah bhw bila kita mulai dgn ‘berpikir global’nya ……. Setidaknya kita perlu (terpaksa) berpikir ttg multisektor 2 yg amat sangat luas ….…dan sementara itu ….. yg sdh jelas terjadi kini ……ketika rekan Sarif memulainya dgn ‘menggali sumberdaya lokal’ ….. maka tak usah jauh2 …..yg terbukti telah terjadi didiskusi milis kita ini adlh …bhw sampai hari ini yg ‘berhasil’ kita diskusikan adlh lbh tentang semacam satu monosektoralitas …..ialah ttg sektor UKM ……..yg tentu samasekali bukan maksud saya meremehkan sektor itu …….yg lalu diskusi sedikit bergeser ke masalah budaya ekonomi kelas borjuis kita yg lagi2 juga masih diseputar masalah UKM……..dan utk lbh sregnya lagi lalu rekan Aunur mengusulkan kopi darat itu yg agr lbh mantap lalu ngajaknya ke Solo ketempatnya Walkot Jokowi…….. Mungkin juga pendapat/ pemikiran saya ini salah besar ……..namun kalaupun kita sdg membahas ‘masalah UKM’ dan samasekali tak memulai dari yg ‘mengglobalnya’ juga (yg biasanya yg saya maksud ya mengembangkan kota metropolis selain Jkt ……..metropolis lain yg dinamis …..serta atributnya yg paling meyakinkan ialah pencakar langit serta semai manufaktur perkotaan dan pengembangan/ migrasi kelas menengah) ……saya pikir tentu masyarakat perencanaan/ PWK tetap saja perlu memikirkan sisi ke-PWK-annya ….ato kalau nggak mau ya setidaknya ini perlu menjadi concern utama dari “Kementerian PWK” …..ialah ttg bgmn agar UKM bisa berkait dgn pengembangan aglomerasi ……berkait dgn dampak menggeliatnya peran sektor2 lainnya yg luas ……berkait dgn peran2 kelas menengah disemua sektor …yg kesemuanya itu saya pikir dimaksudkan agar pd lokasi2 ekonomi itu berkembang sektor perkotaannya maupun kelas menengah perkotaannya (fisik dan sosbud kota) ……sbrppun kecil skalanya …..lalu dgn itu dpt berkembang pula aspek arsitektur kotanya ….juga aspek mikro dari arsitektur ialah interior desain ……berkembangnya budaya gaya hidup kelas menengahnya …. Berkembangnya pariwisata kota (kuliner, museum, budaya lokal dsb) ………dsb……. Sekali lagi mungkin saya salah …..namun saya pikir setidaknya UKM toh sdh menjadi concern dari Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Koperasi dan UKM dan perbankan serta Menko Perekonomian…… sedang sebaliknya mereka yg tiga ini jelas tak bakal peduli sedikitpun dgn masalah pengembangan kota krn concern mrk bukanlah keruangan …….yg maka itu tak lain tak bukan ini hanya akan lbh menjadi porsi concern dari “Kementerian PWK” …….sehingga menurut hemat saya …..bagi masyarakat PWK ……mengenali masalah UKM adalah perlu dan baik sekali …...namun drpd memikirkannya amat lebih jauh dan samasekali tak memikirkan ttg sektor modern dn manufaktur sbg kelengkapannya …. ato aplg bila sampai mengalahkan aspek ‘keruangan’nya sendiri…... saya pikir bisa jadi naif juga ya rame2 pemikiran PWK yg demikian……. Semangat mengglobal berbasis lokal itu hebat dan benar……tapi maaf, tak mungkin dimulai hanya dgn satu dua tiga sektor saja, tapi harus dgn multisektoralitas yg luas …….dan ia tak mungkin pula dimulai hanya dari satu sisi saja (lokal) …….tapi juga perlu dari sisi nasionalnya maupun sentuhan2 internasionalnya (fisik maupun nonfisik) …….krn transfer teknologi, transaksi global, pengakuan internasional dsb tak mungkin terjadi kalau kita terlampau sibuk ‘didlm dan kedlm negeri’ terus serta hanya main UKM terus…… Kita masih ingat ….Habibie dan Srie Mulyani adlh aset internasional dan memperoleh pengakuan internasional krn karya mereka memang berkelas internasional ……kalau rakyat Jerman tak boleh membawa jenazah kerumah pribadi namun hrs ke ‘rumah duka’ ……tapi Habibie boleh ……karya Srie Mulyani bukanlah sekedar karya2 CEO kelas perusahaan swasta besar atau aplg menjadi direktur dari belasan perusahaan kecil atau direktur institut ekonomi spt Kwik dan lainnya …..tapi di IMF, Ketua Bappenas, Menkeu dan MenkoEkon ….dan jadilah mereka ‘mengglobal’……... Dan kembali lagi ke rencana kopi darat …hayo hayo silahkan yg sempat dan yg bisa datang ke Solo utk sekalian bisa jumpa Walikota Jokowi …….dan saya mohon maaf lho bila ada yg kurang berkenan …….krn inipun hanya terpaksa saja …..gara2 memenuhi permintaan pendapat oleh rekan H.Ekadj ……salam, aby

