Pak H. Aby ysh, mohon maaf pak saya dulu kelamaan di Banjarmasin, jadi
menangkapnya seperti itu. Selebihnya, "... inggih ... inggih pak ... nuwun
inggih ..."
Kita tinggal menunggu aba-aba saja ya pak. Salam.

-ekadj


2010/5/29 hengky abiyoso <[email protected]>

>
>
>   Rekan H. Ekadj ysh,
>
> Maaf hanya lanjut sedikit saja dan hanya ttg masalah bahasa saja,    …….
> Kalau yg anda maksud dgn ‘ngge’ adalah ‘iya’  …….kalau boleh saya
> sampaikan sedikit tips ……brkali yg lebih tepat dari  kata ‘ngge’ adlh
> ‘enggih’  atau ‘nggih’ (tapi bisa juga ‘ngge’  itu adlh kosa kata dari
> salahsatu dialek anak suku bahasa jawa daerah tertentu yg saya belum tahu)
> ……dan sementara  itu krn berkait dgn selera keindahan (dan bukan
> perusakan) bahasa  ……..sptnya ada ‘urutan  kehalusan’  bahasa  dari kata
> tsb ialah pertama yg cukup halus adlh ‘inggih’ ….. atau kalau mau lbh sgt
> halus lagi dari itu adalah  brkali ‘nuwun inggih’ …..lalu dibawahnya
> ‘inggih’  dan  yg cukup egaliter ya  ‘enggih’ atau ‘nggih’  itu tadi …….
>
> Kalau ada umur panjang mudah2an saya bisa turut acara jumpa Solo itu  …...dan
> kalau utk acara kuliner malam hari ……krn masa kecil  agak spt vegetarian
> …..rasanya utk rencana acara anda nyari susu boyolali dan bubur ceker saya
> hanya nganterin saja  …….tapi utk duren lampung sih oke
> ya?..........salam,
>
> aby
>
> * *
>
>
>
>
> --- On *Thu, 5/27/10, - ekadj <[email protected]>* wrote:
>
>
> From: - ekadj <[email protected]>
> Subject: Re: [referensi] Re: (2) Dari Omongan Org Singapura ke La Pensée
> Bourgeoise ke Jumpa Solo
> To: [email protected]
> Date: Thursday, May 27, 2010, 6:58 AM
>
>
>
>  Pak H. Aby ysh, untuk setiap kalimat yang bapak sampaikan, saya hanya
> menyambung dengan "... ngge ... ngge ...". Baik sekali bapak telah
> mengkaitkan pembicaraan kita, sehingga sebenarnya kita bisa masuk ke dalam
> skim yang lebih dalam. Marvin Harris (2001) telah menstrukturkan 'sejarah
> manusia' ini ke dalam terminologi modern, yang coba saya kembangkan sedikit.
> Bila orang Singapura itu berbicara tentang kekayaan alam Indonesia, maka
> 'lingkungan' sebenarnya adalah basis sosiokultural kita. Sabda 
> alam<http://www.youtube.com/watch?v=DY_wv2clu58>-nya
> mewartakan pembatasan usaha-usaha manusia yang dapat dilakukan. Walaupun ada
> sudut pandang lain yang menyebutkan lingkungan adalah sumber dari segala
> sumber energi dan raw materials. Energi dibutuhkan untuk mendukung kebutuhan
> biologis manusia. Namun lingkungan memiliki pembatasan dan keterbatasan,
> yang acap diatasi melalui teknologi. Sekali kita bisa mengatasi 'kendala
> lingkungan' itu, maka kita tidak akan bisa kembali ke alam.
> Infrastruktur bagi manusia adalah tindakan praktis dalam mengolah sumber
> daya, terdiri dari teknologi (mode of production, Marx) dan populasi (mode
> of reproduction, Malthus). Suprastrukturnya adalah tingkah laku dan mental.
> Pengembangan umkm sebenarnya membina struktur masyarakat dalam
> kelompok-kelompok kecil dan banyak untuk berkarya infrastruktur secara
> efektif dan efisien, sesuai dengan batas-batas yang mampu disediakan oleh
> lingkungan. Sehingga pandangan Prof. Eko bisa relevan: "kita harus
> mengglobal, dengan semangat regional, berbasis sumber daya lokal".
> Penancapan 'the world's view' adalah kerja suprastruktur untuk mengembangkan
> prilaku dan mental masyarakat. Sehingga sesuai dengan pendapat Pak Aby,
> pengembangan umkm merupakan kerja multisektor. Dimana lagi akan dijelaskan
> hal ini kalau bukan di buku-buku rencana.
> Sedikit mengenai la pensée bourgeoise, sebenarnya memerlukan 'role of
> elites'. Harris menyebutkan, "... But it is not the simple calculation of
> the greatest good for the greatest number of people that accounts for
> sociocultural change ... Many changes are more satisfying to some members of
> society than to others ...". Karena Marx telah menegaskan, "... The ideas of
> the ruling class in each epoch are the ruling ideas ...". Kaum elite mampu
> mendorong secara langsung perubahan ekonomi dan politik, apalagi yang
> mendukung posisinya. Kedudukan kaum elite ini sangat strategis dalam ruang,
> karena dapat melakukan perubahan-perubahan . Saya kira segitu saja tafsirnya
> pak.
> Ajakan Pak Risfan untuk turun ke bumi sangat menarik, terlebih Pak Rofiq
> sepertinya ingin menunjukkan 'sesuatu' kepada kita. Bila ada Pak Nuzul dkk,
> pasti lebih menarik. Saya berharap nanti Pak Aby bisa ikutan juga, kita naik
> kereta api saja pak, jadi dari sekarang sudah ngapalin stasiun 
> balapan<http://www.youtube.com/watch?v=bcxTEFj_ecQ&feature=related>.
> Malam-malamnya kita cari duren lampung, susu boyolali, dan bubur ceker.
> Salam.
>
> -ekadj
>
>
> 2010/5/27 hengky abiyoso <watashi...@yahoo. 
> com<http://us.mc585.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>
> >
>
>>
>>
>> Rekan H. Ekadj dan Milisters ysh,
>>
>> Acara periodik kopidarat ya tentu saja selalu bagus …kita bisa saling
>> jumpa  ….bisa diskusi lsg….bisa makan2 bareng malah nonton bareng dsb …..
>> kemudian pula mendiskusikan masalah kelas borjuis/ kelas menengah atas
>> ..…bisnis …keruangan  …...nilai lokal, tradisional dan pasar …. ya tentu
>> saja bagus juga …..aplg mendiskusikannya bersama Walkot Djokowi ….aplg
>> makan2 bareng Djokowi ……ya tentu  itu jg bukan perkara kesempatan mudah  spt
>> bagi saya yg org kecil……..
>>
>> Mas Dodo yg piyantun Solo boleh jadi kebetulan dinas kesana atau jangan2
>> malah beliau sdg ambil libur panjang  plg kampung…….utk mas Djarot
>> tinggal masalah ¾  jam dari Jogya ….pak Aunur mungkin jg kebetulan ada
>> jadwal rencana kesana …..ato mungkin memang senang bener dgn kota Solo dan
>> ini itunya ….  ditambah rekan H.Ekadj aplg kalau pak Risfan hadir juga
>> ….setdknya sdh ada 5 milisters senior  yg ngumpul ……jadi maka ya silahkan
>> saja ……tentu kita bisa dpt oleh2 cerita serunya……..
>>
>> Namun lain drpd itu …….apa  yg sgt menarik bagi saya dari semua itu ...yg
>> lalu menjadi 'cikalbakal' diskusi panjang ini .....adlh justru kalimat dari
>> Prof.  Eko Budiarjo yg terus diingat2  oleh rekan Sarif (menurut istilah
>> beliau   'menancap' di otak  beliau)  yg l/k bunyinya  "*Kita harus
>> mengglobal dengan semangat regional**  berbasis sumberdaya lokal”….. *yg
>> oleh rekan Sarif  rupanya lalu yg lebih diingat adalah  masalah memulai
>> dari  ‘lokal’nya ……dan  ttg masalah   ‘mengglobalnya ‘  entah memperoleh
>> perhatiannya yg sama atau tidak ..saya kurang tahu ……
>>
>> Namun  yg lbh jelas lagi ……bagi PWK/ planologi/ teknik penataan ruang
>> ……mencerna kalimat prof Eko Budiarjo itu  …….menurut hemat saya  memulai
>> menaruh  perhatiannya justru perlu  lbh pada ‘mengglobal’nya itu dulu………
>>
>> Kenapa begitu ………alasan saya sebenarnya sederhana saja …..ialah  bhw bila
>> kita mulai dgn ‘berpikir global’nya ……. Setidaknya kita perlu  (terpaksa)
>> berpikir ttg multisektor 2 yg amat sangat luas ….…dan sementara itu ….. yg
>> sdh jelas terjadi  kini ……ketika rekan Sarif memulainya dgn ‘menggali
>> sumberdaya lokal’ ….. maka tak usah jauh2 …..yg terbukti telah terjadi  
>> didiskusi
>> milis kita ini  adlh …bhw sampai hari ini yg ‘berhasil’  kita diskusikan
>> adlh lbh tentang  semacam satu monosektoralitas …..ialah ttg sektor UKM  
>> ……..yg
>> tentu samasekali bukan maksud saya meremehkan sektor itu …….yg lalu diskusi
>> sedikit bergeser ke masalah budaya ekonomi kelas borjuis kita yg lagi2 juga
>> masih diseputar masalah UKM……..dan utk lbh sregnya lagi lalu rekan Aunur
>> mengusulkan kopi darat itu  yg agr lbh mantap lalu ngajaknya ke Solo
>> ketempatnya Walkot Jokowi……..
>>
>> Mungkin juga  pendapat/ pemikiran saya ini  salah besar ……..namun
>> kalaupun kita sdg membahas ‘masalah UKM’  dan  samasekali tak memulai
>> dari yg ‘mengglobalnya’  juga (yg biasanya yg saya maksud ya
>> mengembangkan kota metropolis  selain Jkt  ……..metropolis lain yg dinamis
>>  …..serta atributnya yg paling meyakinkan ialah  pencakar langit  serta  
>> semai
>> manufaktur perkotaan  dan pengembangan/ migrasi  kelas menengah)  ……saya
>> pikir  tentu masyarakat perencanaan/ PWK  tetap saja perlu memikirkan
>> sisi ke-PWK-annya  ….ato kalau nggak  mau  ya setidaknya  ini perlu
>> menjadi concern  utama dari “Kementerian PWK” …..ialah ttg bgmn agar  UKM
>> bisa berkait  dgn pengembangan aglomerasi  ……berkait dgn dampak
>> menggeliatnya peran sektor2 lainnya yg luas ……berkait dgn peran2 kelas
>> menengah disemua sektor …yg kesemuanya itu saya pikir dimaksudkan agar pd
>> lokasi2 ekonomi itu berkembang sektor perkotaannya  maupun kelas menengah
>> perkotaannya  (fisik dan sosbud kota) ……sbrppun kecil skalanya …..lalu
>> dgn itu dpt berkembang pula aspek  arsitektur kotanya ….juga aspek mikro
>> dari arsitektur ialah  interior desain ……berkembangnya budaya gaya hidup
>>  kelas menengahnya …. Berkembangnya pariwisata kota  (kuliner, museum,
>> budaya lokal  dsb) ………dsb…….
>>
>> Sekali lagi mungkin saya salah …..namun saya pikir setidaknya UKM  toh
>> sdh menjadi concern dari Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan,
>> Kementerian Koperasi dan UKM dan perbankan serta Menko Perekonomian…… sedang
>> sebaliknya mereka yg tiga ini jelas tak  bakal peduli  sedikitpun dgn
>> masalah  pengembangan kota krn concern mrk bukanlah keruangan …….yg maka
>> itu  tak lain tak bukan  ini  hanya akan lbh menjadi  porsi concern dari
>> “Kementerian PWK” …….sehingga menurut hemat saya …..bagi masyarakat PWK
>> ……mengenali masalah UKM adalah perlu dan baik sekali …...namun drpd
>> memikirkannya amat lebih jauh  dan samasekali tak memikirkan ttg sektor
>> modern dn manufaktur sbg kelengkapannya …. ato  aplg bila sampai
>> mengalahkan aspek ‘keruangan’nya  sendiri…... saya pikir bisa jadi naif
>> juga ya  rame2 pemikiran PWK yg demikian…….
>>
>> Semangat mengglobal  berbasis lokal itu hebat  dan benar……tapi maaf,  tak
>> mungkin  dimulai hanya dgn  satu dua tiga sektor saja, tapi harus dgn
>> multisektoralitas yg luas …….dan ia tak mungkin  pula dimulai  hanya dari
>> satu sisi saja (lokal)  …….tapi juga perlu dari sisi nasionalnya maupun
>> sentuhan2  internasionalnya (fisik maupun nonfisik)  …….krn transfer
>> teknologi, transaksi global,  pengakuan internasional dsb tak mungkin
>> terjadi kalau kita terlampau sibuk  ‘didlm dan kedlm negeri’  terus serta
>> hanya main UKM terus……
>>
>> Kita masih ingat ….Habibie dan Srie Mulyani adlh aset internasional dan
>> memperoleh pengakuan internasional krn karya mereka memang berkelas
>> internasional ……kalau rakyat Jerman tak boleh membawa jenazah kerumah
>> pribadi namun hrs ke ‘rumah duka’ ……tapi Habibie boleh ……karya Srie Mulyani
>> bukanlah sekedar karya2 CEO kelas perusahaan swasta besar atau aplg menjadi
>> direktur dari belasan perusahaan kecil atau direktur institut ekonomi spt
>> Kwik dan lainnya …..tapi di IMF, Ketua Bappenas, Menkeu dan MenkoEkon ….dan
>> jadilah mereka ‘mengglobal’……...
>>
>> Dan kembali lagi ke rencana kopi darat …hayo hayo silahkan yg sempat dan
>>  yg bisa datang ke Solo utk sekalian bisa jumpa Walikota Jokowi …….dan
>> saya mohon maaf lho bila ada yg kurang berkenan …….krn inipun hanya terpaksa
>> saja  …..gara2 memenuhi  permintaan pendapat   oleh rekan H.Ekadj
>> ……salam,
>>
>> aby
>>
>>
>>
>

Kirim email ke