Voodoo ala Medan? Hare gene? Well, it happs, anyway.

Pun demikian, bila memang voodoo itu begitu ampuh, pasti orang-orang Afrika di 
Darfur sudah menyantet  George W. Bush duluan. ;-)

Mengutip pakar psikologi Dr. Denis Waitley, "Even voodoo is belief." Yang 
percaya dan takut, bisa kena. Yang tidak percaya dan tidak takut, tidak kena. 
CMIIW.

Wallahu a'lam.

Salam,
CA

Source: 
http://m.okezone.com/read/2010/06/18/340/344153/astaga-ada-pisau-silet-dan-sekrup-di-perut-tuti

--begins--
Astaga! Ada Pisau, Silet, dan Sekrup di Perut Tuti

Jum'at, 18 Juni 2010 - 08:09 wib


Tuti, korban penyakit aneh (Koran SI) 
enlarge this image

MEDAN – Kejadian aneh berbau mistis dialami Tuti Lisnawati. Perut perempuan 
berumur 31 tahun itu penuh dengan benda- benda aneh, seperti pisau, silet, 
jarum, permen karet, paku juga kawat.  
 
Dia pun menjadi buah bibir di tempat tinggalnya di Desa Tanjung Tiram, Padang 
Bolak, Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta). Benda-benda itu dikeluarkan dari 
perutnya melalui operasi yang dilakukan di rumah sakit di Paluta beberapa waktu 
lalu.
 
Kemarin dia dibawa ke Rumah Sakit Umum (RSU) Dr Pirngadi, Medan, Sumatera 
Utara, untuk menjalani operasi di Poly Obgyn. Operasi ini guna mengeluarkan 
corps alenum alias benda asing dari perutnya. Dari hasil operasi, terdapat dua 
buah sekrup berukuran dua centimeter dari rahim (peranakan) istri Marasamin 
Harahap (38) itu.
 
“Kita temukan dua buah sekrup di rahimnya. Kita sudah keluarkan, dan untuk saat 
ini tidak ada benda lain di rahimnya,” ujar Sanusi Pilliang, yang menangani 
operasi Tuti kepada wartawan, Kamis (17/6/2010).
 
Setelah menjalani operasi kecil untuk mengeluarkan sekrup dari rahimnya, dokter 
memberinya obat antibiotik, antisakit, antitetanus, dan antipendarahan. Kasubag 
Hukum dan Humas RSU dr Pirngadi Edison Paranginangin, menambahkan, sebelum 
operasi, Tuti terlebih dahulu menjalani Ultra Sonografi (USG) untuk melihat 
benda asing di dalam tubuhnya.
 
Selesai operasi, Tuti dibawa ke ruang konsultasi psikologi. “Setelah ini dia 
akan dibawa lagi ke instalasi gawat darurat (IGD) untuk melihat kondisinya,” 
ujarnya. Setelah menjalani operasi kecil di Poly Obgyn, Tuti menjalani 
konseling Psyco Therapi di Biro Psikologi RSU dr Pirngadi Medan. Andy Chandra, 
konsultan klinis Biro Psikologi rumah sakit ini mengatakan, Tuti didiagnosa 
menderita cemas dan stres.
 
Untuk menghilangkan kecemasan dan stres yang dialaminya, psikolog memberinya 
tiga terapi, yakni terapi Emosional Freedom Teknik (EFT), terapi bunga, dan 
terapi religi (terapi agama).
 
“Terapi yang kita berikan untuk mengurangi stres dan takut berlebihan yang 
berkaitan dengan emosi agar dia merasa lebih nyaman. Kalau terapi bunga untuk 
sugesti agar dia bersih dan tidak berpikir macam-macam, karena berkaitan dengan 
mistik,” ujarnya. Terapi yang diberikan harus dijalani Tuti selama seminggu.
 
Setelah itu disuruh datang lagi untuk melihat hasilnya. Untuk memulihkan 
kondisinya, Tuti tidak diperbolehkan kembali ke rumahnya agar tidak depresi. 
Sejak menderita sakit ini tiga bulan lalu, Tuti tidak semangat, malas makan, 
dan sulit tidur. Andy mengatakan, kasus seperti ini sangat jarang dijumpai.
 
Saat ini Tuti mengalami stres tinggi atau depresi ringan. Hal ini dapat 
berpotensi menjadi depresi tinggi, bahkan lebih ekstrem lagi menjadi kegilaan, 
bila pasien tidak segera ditangani.
(Nina Rialita/Koran SI) (teb)
--ends--
BebasOrba® TaatPajak® AntiLumpur®

Kirim email ke