CA, saya kira santet bukan masalah 'belief', tapi mungkin 'science' yang
belum dijelaskan. Mudah-mudahan ada yang berkenan menjelaskan sedikit
fenomena nativisme
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/9049>   ini. Salam.

--- In [email protected], mand...@... wrote:
>
> Voodoo ala Medan? Hare gene? Well, it happs, anyway.
>
> Pun demikian, bila memang voodoo itu begitu ampuh, pasti orang-orang
Afrika di Darfur sudah menyantet George W. Bush duluan. ;-)
>
> Mengutip pakar psikologi Dr. Denis Waitley, "Even voodoo is belief."
Yang percaya dan takut, bisa kena. Yang tidak percaya dan tidak takut,
tidak kena. CMIIW.
>
> Wallahu a'lam.
>
> Salam,
> CA
>
> Source:
http://m.okezone.com/read/2010/06/18/340/344153/astaga-ada-pisau-silet-d\
an-sekrup-di-perut-tuti
>
> --begins--
> Astaga! Ada Pisau, Silet, dan Sekrup di Perut Tuti
>
> Jum'at, 18 Juni 2010 - 08:09 wib
>
> 
> Tuti, korban penyakit aneh (Koran SI)
> enlarge this image
>
> MEDAN â€" Kejadian aneh berbau mistis dialami Tuti Lisnawati.
Perut perempuan berumur 31 tahun itu penuh dengan benda- benda aneh,
seperti pisau, silet, jarum, permen karet, paku juga kawat. Â
> Â
> Dia pun menjadi buah bibir di tempat tinggalnya di Desa Tanjung Tiram,
Padang Bolak, Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta). Benda-benda itu
dikeluarkan dari perutnya melalui operasi yang dilakukan di rumah sakit
di Paluta beberapa waktu lalu.
> Â
> Kemarin dia dibawa ke Rumah Sakit Umum (RSU) Dr Pirngadi, Medan,
Sumatera Utara, untuk menjalani operasi di Poly Obgyn. Operasi ini guna
mengeluarkan corps alenum alias benda asing dari perutnya. Dari hasil
operasi, terdapat dua buah sekrup berukuran dua centimeter dari rahim
(peranakan) istri Marasamin Harahap (38) itu.
> Â
> “Kita temukan dua buah sekrup di rahimnya. Kita sudah
keluarkan, dan untuk saat ini tidak ada benda lain di rahimnya,”
ujar Sanusi Pilliang, yang menangani operasi Tuti kepada wartawan, Kamis
(17/6/2010).
> Â
> Setelah menjalani operasi kecil untuk mengeluarkan sekrup dari
rahimnya, dokter memberinya obat antibiotik, antisakit, antitetanus, dan
antipendarahan. Kasubag Hukum dan Humas RSU dr Pirngadi Edison
Paranginangin, menambahkan, sebelum operasi, Tuti terlebih dahulu
menjalani Ultra Sonografi (USG) untuk melihat benda asing di dalam
tubuhnya.
> Â
> Selesai operasi, Tuti dibawa ke ruang konsultasi psikologi.
“Setelah ini dia akan dibawa lagi ke instalasi gawat darurat
(IGD) untuk melihat kondisinya,” ujarnya. Setelah menjalani
operasi kecil di Poly Obgyn, Tuti menjalani konseling Psyco Therapi di
Biro Psikologi RSU dr Pirngadi Medan. Andy Chandra, konsultan klinis
Biro Psikologi rumah sakit ini mengatakan, Tuti didiagnosa menderita
cemas dan stres.
> Â
> Untuk menghilangkan kecemasan dan stres yang dialaminya, psikolog
memberinya tiga terapi, yakni terapi Emosional Freedom Teknik (EFT),
terapi bunga, dan terapi religi (terapi agama).
> Â
> “Terapi yang kita berikan untuk mengurangi stres dan takut
berlebihan yang berkaitan dengan emosi agar dia merasa lebih nyaman.
Kalau terapi bunga untuk sugesti agar dia bersih dan tidak berpikir
macam-macam, karena berkaitan dengan mistik,” ujarnya. Terapi
yang diberikan harus dijalani Tuti selama seminggu.
> Â
> Setelah itu disuruh datang lagi untuk melihat hasilnya. Untuk
memulihkan kondisinya, Tuti tidak diperbolehkan kembali ke rumahnya agar
tidak depresi. Sejak menderita sakit ini tiga bulan lalu, Tuti tidak
semangat, malas makan, dan sulit tidur. Andy mengatakan, kasus seperti
ini sangat jarang dijumpai.
> Â
> Saat ini Tuti mengalami stres tinggi atau depresi ringan. Hal ini
dapat berpotensi menjadi depresi tinggi, bahkan lebih ekstrem lagi
menjadi kegilaan, bila pasien tidak segera ditangani.
> (Nina Rialita/Koran SI) (teb)
> --ends--
> BebasOrba® TaatPajak® AntiLumpur®
>


Kirim email ke