Pak Risfan yb., Terima kasih atas apresiasinya. Maaf belum bisa respons balik. Lagi kejar tayang nih... Hehehe...
Sebagai gantinya, saya teruskan beberapa respons teman di milis tetangga. Mudah-mudahan berkenan. *** ----- Original Message ----- From: Ade Cahyat (private) To: [email protected] Sent: Friday, June 18, 2010 7:44 AM Subject: Re: [SHKList] 'Resep de Soto' gugur di Kampung Rawa? Trims Bang Yando, Ini sangat menarik utk saya, terutama pada insight bahwa 'label miskin' yg ikut menyertai pada banyak program penanggulangan kemiskinan justru malah bisa memiskinkan. Berita beberapa minggu lalu sejalan dg ini, ketika Menteri Perumahan Rakyat berinisiatif mengubah istilah2 yg digunakan dalam perumahan rakyat seperti RSS dll yg mengidentikan penghuninya sbg orang miskin. Ini dilakukan karena beberapa rumah susun yg dibangun dg dukungan pemerintah sepi peminat sebab calon pembeli keberatan dg sebutan yg digunakan. Sebutan itu bisa menyulitkan mereka berhubungan dg bank dan juga bisa menghambat kenaikan nilai aset tsb. tapi saya punya pertanyaan, seperti jg disinggung dalam tulisan ini, apakah de Soto benar2 hanya bilang bahwa aset yg extra legal adalah satu2nya masalah kemiskinan? apakah dia tidak menyebutkan prakondisi atau syarat lainnya utk membuat legalisasi aset efektif menanggulangi kemiskinan? apakah tesis de Soto sesederhana itu? apakah desain proyek bank dunia jg sesederhana itu dan tidak mengantisipasi kompleksitas yg ada? ac - original message - Subject: RE: [SHKList] 'Resep de Soto' gugur di Kampung Rawa? From: "Sirait, Martua Thomas \(ICRAF\)" <[email protected]> Date: 18/06/2010 11:39 AM Nah itulah kelemahan resep de Soto dan formula formula WB yang tidak jujur menceritakan agendanya, mengapa mereka mendorong tanah orang kecil masuk ke dalam pasar tanah, padahal dia tahu betul sikap pasar yang tidak melindung orang kecil. Bagaimana? Kegagalan resep De Soto di perkotaan (daerah Kampung Rawa) sudah terbukti gagal, mengikuti kegagalan resep itu di Latin America dalam study Sin 2006. Kegagalannya perlu juga di dokumentasikan di daerah pedesaan... Salam, m ----- Original Message ----- From: [email protected] To: [email protected] Sent: Friday, June 18, 2010 4:03 PM Subject: RE: [SHKList] 'Resep de Soto' gugur di Kampung Rawa? Bang Martua, Bang Yando, dan Ade, Kalau 'resep soto' itu dipakai dalam beberapa program semacam P2KP atau PNPM, tentunya akan banyak contoh resep itu gugur juga di pedesaan. Tinggal ada yang mengeceknya di pedesaan. Siapa yang memperhatikan ini di pedesaan? Atau para pegiat sibuk dengan hal yang pragmatis REDD, yang sebagian orang mencurigai sebagai jalan landgrabbing yang lain? ----- Original Message ----- From: Ade Cahyat (private) To: [email protected] Sent: Friday, June 18, 2010 5:00 PM Subject: Re: [SHKList] 'Resep de Soto' gugur di Kampung Rawa? Kalau menurut saya tentu satu buku dan atau satu pemikiran tidak akan bisa menyelesaikan masalah yang kompleks di dunia nyata. Jaminan legal atas aset hanyalah satu aspek dari dimensi yang kompleks dalam wellbeing atau poverty. Human capability (personal) dari Amartya Sen juga cuma satu aspek lain, jadi mesti ada pemikiran dan pendekatan yang lebih komprehensif. --end-- ----- Original Message ----- From: Risfan M To: [email protected] Sent: Friday, June 18, 2010 2:29 PM Subject: Re: [referensi] 'Resep de Soto' gugur di Kampung Rawa? Bang Yando, Thanks atas sharing paper-nya. Kalau pendapat saya sih yang menyangkut "public policy" itu yang mesti dihindari memang "pukul rata" (gebyah uyah). Program pendaftaran/sertifikasi (murah, masal) seperti PAP atau Larasita untuk komunitas2 yang memang membutuhkan memang perlu. Untuk memperjelas batasan hak milik, mengurangi risiko konflik. Bisa diagunkan untuk dapat cash/modal kerja yang dibutuhkan. Kalau ada pihak lain yang mengakuisisi memudahkan pemilik menerima ganti rugi secara wajar. Kelemahannya, kontrol komunitas jadi berkurang, tiap individu bisa dibujuk pihak lain untuk melepaskan kepemilikan tanahnya. Tapi komunitas sendiri juga bisa punya kelemahan kalau feodalistik, nasib kelompok ditentukan satu-dua godfather saja, yang tidak adil lagi. Tentang de Soto, saya melihatnya bahwa pada masanya (dulu) memang dia yang memperkenalkan "fenomena informal" (kaum miskin) kepada kelompok "kanan" atau pihak yang konvensional (pemerintah, perbankan) yang dalam policy nya cenderung tak peduli "yang informal" atau menganggap kaum miskin sebagai persoalan saja. Bahwa kaum miskin itu bukan tak punya apa-apa, mereka juga punya kapital/aset tapi informal. Sehingga program untuk meng-include kan mereka ya lewat formalisasi aset mereka. Omongan dia didengar karena dia juga dari sisi "kanan". Tapi sekarang pemerintah dan perbankan sudah mulai banyak aware dengan potensi kaum "informal". Perbankan sudah punya linkage dengan BPR, Lembaga Keuangan Mikro (LKM), Koperasi Simpan Pinjam dst. Di sektor riil kemitraan-kemitraan UB - UMKM juga banyak berkembang. Sehingga pilihan banyak. Oleh karena itu saran de Soto soal sertifikasi sudah saatnya jadi salah satu pilihan saja dari banyak pilihan. Bukan satu-satunya 'resep'. Kalau menempatkannya begitu mungkin jadi resep yang wajar. Kenyataannya masalah colateral untuk kredit, atau syarat "berbadan hukum" itu masih jadi syarat prinsip menurut peraturan BI ataupun Pemerintah (Keppres 80 ttg procurement) Kadang lembaga swadaya kampung tak bisa mengerjakan program perbaikan fisik di lingkungannya, karena harus tender dan berberbadan hukum. Ini kan bukan saran de Soto, tapi pemerintah sendiri (yang pukul rata). klik: wilayahkota Salam, Risfan Munir -gmail.com Reply to sender | Reply to group | Reply via web post | Start a New Topic Messages in this topic (2) Recent Activity: a.. New Members 2 Visit Your Group Komunitas Referensi http://groups.yahoo.com/group/referensi/ MARKETPLACE Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now. ------------------------------------------------------------------------------ Get great advice about dogs and cats. Visit the Dog & Cat Answers Center. ------------------------------------------------------------------------------ Get real-time World Cup coverage on the Yahoo! Toolbar. Download now to win a signed team jersey! Switch to: Text-Only, Daily Digest • Unsubscribe • Terms of Use

