Pak Nuzul, Pak Aby, Pak Bambang, Pak Denny, Pak Risfan, Bu Ida, Bu Cut dan rekan referensiers lain ysh, Mohon maaf kalau saya agak mundur ke belakang ke persoalan awal dalam diskusi kita tentang KEK ini. Saya sependapat dengan Pak Aby yang menyangsikan peran penggunaan sektor migas (dan mungkin juga peran sektor pertambangan mineral lain) dalam pengembangan KEK. Pada dasarnya, memang, bisa saja sektor migas seperti yang ada di Donggi-Senoro di Sulawesi Tengah dijadikan sebagai suatu basis dalam pengembangan KEK di sana. Tetapi hal itu perlu mempertanyakan apa tujuan dari pembangunan KEK-nya. Apabila tujuan pembangunannya adalah untuk meningkatkan pendapatan pemerintah, maka pemanfaatan sektor migas seperti itu ya bisa jadi tepat juga. Tetapi apabila tujuan pembangunannya adalah untuk membangun suatu pusat pertumbuhan ekonomi baru yang diharapkan dapat berkembang menjadi suatu perkembangan aglomerasi perkotaan yang berdampak positif bagi pengembangan aktivitas perekonomian wilayahnya, saya agak meragukan kemampuan dari pemilihan sektor migas ini. Apalagi kalau tujuannya termasuk untuk meliputi pengentasan kemiskinan yang ada di wilayah setempat. Rasanya kok akan sulit sekali pencapaian tujuan itu. Keraguan saya ini didasarkan pada rendahnya kemampuan industri migas dalam menyediakan kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar di wilayah itu. Sifat dari kebanyakan industri migas yang padat-modal, high-tech, dan sangat spesifik, membuat industri tersebut menjadi memiliki barrier-to-entry yang besar bagi sebagian besar orang untuk ikut terlibat di dalamnya. Oleh karena itu saya lebih setuju (kalau saya boleh ikut berpendapat) dengan pemilihan aktivitas pertanian terpadu seperti yang akan dikembangkan di Merauke. Walaupun bisa jadi kegiatan pertanian yang akan dikembangkan juga masih jauh dari kemampuan dan kapasitas teknologi masyarakat setempat (mohon maaf saya belum pernah ke Merauke sehingga saya tidak terlalu tahu bagaimana karakteristik dan kemampuan teknologi dari masyarakat lokalnya), namun kebutuhan dari aktivitas pertanian baik dari sudut pandang modal, keterampilan dan kemampuan teknologi masyarakat untuk ikut berperan serta di dalamnya tidak terlampau tinggi dan masih memungkinkan untuk dikejar dengan pengembangan suatu layanan pendidikan dan pelatihan tertentu sebagai salah satu bentuk affirmatif actions-nya. Dengan begitu, pengembangan pusat pertumbuhan ekonomi baru tersebut akan bisa diarahkan kepada suatu "pertumbuhan ekonomi baru yang berkeadilan". Mungkin secara hitung-hitungan ekonomi, laju pertumbuhannya tidak secepat apa yang akan diperoleh dari industri migas, namun dampak pemerataan manfaat pembangunannya lebih menjanjikan daripada pilihan kepada sektor migas. Mungkin kita perlu belajar dari kesalahan pilihan strategis yang pernah kita lakukan di tahun 1990an dulu, ketika saat itu akhirnya Indonesia memilih pengembangan teknologi dirgantara sebagai pilihan strategis yang diambil untuk mengantar Indonesia kepada tahap "lepas landas". Saya ingat bagaimana waktu itu almarhum Sritua Arief tak kenal lelahberulang kali mencoba mengingatkan besarnya peluang kehilangan / opportunity cost dari pilihan strategis tersebut, namun tetap pilihan pengembangan teknologi dirgantara lah yang menjadi pilihan. Saya ingat bahwa di dalam suatu diskusi kecil, Pak Djusman yang waktu itu kalau tidak salah masih belum menjadi salah satu direktur di IPTN mengakui bahwa semua komponen yang "ikut terbang" dalam pesawat CN-235 dan mungkin juga dalam pesawat N-250 merupakan material import yang bukan merupakan hasil produksi Indonesia. Kasarnya, bahkan hingga karpet dan tirainya pun merupakan material import karena Indonesia belum mampu menghasilkan karpet dan tirai yang memenuhi kriteria yang diberikan oleh FAA sebagai persyaratan laik terbangnya, begitu kalau saya ngak salah ingat dengan apa yang dikatakan oleh Pak Djusman. Walaupun pada waktu itu Alm. Sritua Arief mencoba menawarkan alternatif pilihan pengembangan teknologi (bio-teknologi) di bidang pertanian, namun teknologi dirgantara lah yang menjadi pilihan. Bisa jadi hal itu terjadi karena salah satu key-person dalam proses pemilihan strategis tersebut adalah orang yang banyak berkecimpung di dalam pengembangan teknologi dirgantara, dan bukan orang yang berkecimpung di dalam pengembangan teknologi /bio-teknologi pertanian. Mungkin hanya Allah dan segelintir orang yang bisa mengkonfirmasinya sekarang ini. Terus-terang, saya bukan orang yang tidak menyukai teknologi dirgantara. Sama juga saya bukan orang yang tidak menyukai pengembangan migas. Pengembangan industri migas sangat penting mengingat energi merupakan suatu komoditas strategis yang harus dikuasai untuk memenuhi kebutuhan hidup dan aktivitas kita secara berbangsa. Namun apabila kita akan menjadikan industri migas sebagai industri basis yang akan dikembangkan untuk pengembangan suatu pusat pertumbuhan ekonomi bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, saya kok agak meragukannya (mudah-mudahan keraguan saya ini terjadi hanya karena ketidak-tahuan saya saja). Saya rasa pengembangan industri migas tersebut hanya akan mampu menjadi faktor penting dalam pembangunan pusat pertumbuhan ekonomi baru apabila pengembangan industri migas tersebut dilakukan bersamaan dengan pengembangan industri energi (listrik) di wilayah yang sama dan pengembangan jenis-jenis aktivitas industri lain yang "lapar energi" di wilayah sekitarnya. Jadi, menurut saya, hanya dengan pengkombinasian pengembangan industri migas dengan industri energi dan industri "lapar energi" lain di sekitarnya, maka ketersediaan sumber daya migas di suuatu tempaat dapat dapat dihindari dari sumber "dutch disease" dan berubah menjadi suatu faktor berkah Tuhan / alam bagi wilayah tersebut. Selain itu, terkait dengan perbandingan pengalaman Batam dan Shenzen dalam pengembangan pusat pertumbuhan ekonomi baru, bisa jadi penguatan otoritas wilayah yang mengelola pembangunan KEK tersebut perlu juga dilakukan. Dan juga seperti salah satu pengalaman yang dilakukan oleh Shenzen (namun tidak dilakukan di Batam, sehingga mungkin ini bisa menjadi salah satu kelemahan Batam dari perbandingannya terhadap Shenzen) adalah pengembangan universitas dan pendidikan vokasional lainnya yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan setempat. Shenzen yang baru mulai dibangun di awal tahun 1980an telah memiliki sebuah universitas publik sejak tahun 1983, dimana universitas tersebut dibangun secara cepat sesuai dengan kebutuhan pembangunan wilayahnya. Sekarang, konon kabarnya, universitas ini telah memiliki 22 colleges dengan 54 program studi sarjana dan 66 program master dan 3 program doctorat yang didukung oleh keberadaan 1.100 dosen dan peneliti dengan 443 diantaranya berkualifikasi doktor. Sementara itu di Batam kita (rasanya) tidak memiliki universitas negeri, walaupun Batam telah kita kembangkan sejak awal tahun 1970. Mudah-mudahan dalam kapasitasnya sebagai kemennterian koordinator, Kantor Menko Ekonomi juga bisa bersinergi dengan Kantor Menko Kesra untuk turut berpartisipasi dalam pembangunan universitas dan layanan pendidikan vokasional lain yang sesuai di wilayah KEK yang akan dibangun. Suatu kali saya juga pernah ngobrol dengan Prof. Muclas Samani, Direktur Ketenagaan di Direktorat Pendidikan Tinggi, tentang peluang pemanfaatan beasiswa Dikti yang dikelola oleh direktorat beliau untuk melakukan pengembangan universitas sesuai dengan karakter pembangunan ekonomi daerahnya. Dalam obrolan tersebut, Beliau sangat sepakat dengan ide seperti itu dan berharap suatu saat akan ada suatu kerjasama sinergis antara Dijend Dikti, Pemda dan Universitas Lokal di daerah tersebut untuk pengembangan universitas untuk menjadi lebih sesuai dengan karakter pembangunan ekonomi daerahnya. Sayang sekarang Pak Muchlas baru saja dilantik menjadi rektor di Unnesa. Jadi apakah ide pembangunan seperti ini juga akan dilanjutkan oleh penggantinya, kita belum bisa tahu. Mohon maaf apabila kepanjangan. Salam, Fadjar Undip
--- En date de : Dim 27.6.10, hengky abiyoso <[email protected]> a écrit : De: hengky abiyoso <[email protected]> Objet: Re: Bls [referensi] Fw: KEK dan Green Dream À: [email protected] Date: Dimanche 27 juin 2010, 5h31 Pak Nuzul dan milisters ysh, Ttg keinginan pak Nuzul menyangkut green energy ….kalau tak salah kedepan kebijakan enegy kita arahnya memang benar mau akan lebih nge-green beneran spt dgn akan semakin banyak dipakainya gas alam dan geothermal dan semakin akan dikuranginya pemakaian batubara utk pembangkit listrik……. Sedangkan ttg hipotesa pusat pertumbuhan baru yg diharapkan dpt muncul berbasis pd sumber daya alam atau khususnya berbasis sumber energy gas, minyak atau berbasis bahan tambang lainnya……. Bontang sendiri telah menunjukkan bhw ‘pertumbuhan’ yg ditunjukkan ternyata paling banyak hanya akan menarik berdirinya sedikit industri dasar lainnya …..itupun jg yg hanya mampu dilakukan oleh pemerintah/ BUMN ………dan papers sebelumnyapun menunjukkan pula bhw hipotesa ttg pusat pertumbuhan baru berbasis industri pertambangan (Freeport, Inco, dan nampaknya juga Caltex, Arun dsb) ternyata hanya menumbuhkan berdirinya sedikit enklaf internasional pada lingkungan yg jatuhnya tetap saja ‘tertinggal’, miskin dan lbh banyak hanya jadi penonton saja…… Sebaliknya ……pusat pertumbuhan yg disandarkan/ menyusu pada pusat2 berbasis kegiatan manusia perkotaan (manufaktur, trade, turisme) spt Batam yg ‘menyusu’ pada Singapura …..atau Shenzhen (meniru Batam!) menyusu pada Hongkong …..terbukti dgn amat meyakinkan ……keduanya dapat berkembang pesat (Batam semula hanya berpenduduk 5.000an jiwa kini menjadi diatas 500.000 jiwa …Shenzhen yg semula hanya sebuah desa dalam 20 tahun kemudian berpenduduk 10 juta jiw, bodetabek dari semula hanya kota2 berpenduduk dibawah 500.000 jiwa kini masing2 telah menjadi kota2 metropolitan berpenduduk diatas 1,5 juta jiwa .……Cikarangpun juga begitu…... Los Angeles dgn Holywoodnya yg semula dulu bukan apa-apa kini berpenduduk sekitar 10jutaan jiwa …..mengimbangi New York ……atau dalam konteks regional …pantai barat dgn pusat Los Angeles dgn kegiatan utama (selain minyak) berbasis pengembangan amenity resources (industri film, pemukiman bintang2 mahal, pemukiman kaum tua kaya raya, turisme berbasis sea-sand-sun dan tanpa salju sepanjang tahun) mampu mengimbangi dahsyatnya pemusatan kegiatan dan migrasi penduduk dideretan megalopolis pantai timur AS …….kegagalan pengembangan pusat2 baru di Bari-Taranto- Brindisi (Operation Casa per il Mezzogiorno) di Italia Selatan nampaknya juga dikarenakan pertumbuhan diharapkan dari basis2 industri SDA/ pertambangan dan bukannya berbasis ‘kegiatan industrious manusia’ spt diutara…. Sepertinya supaya tidak bias berkepanjangan, tidak buang waktu menelan kegagalan dn spy lbh efektif …..kita perlu lbh memperdalam/ memperkokoh lagi tafsir atas cita2 ttg ‘pusat pertumbuhan baru’ itu ……sama sbgmn kita sampai saat ini masih memiliki tafsir ganda dan paradoksal ttg ‘kawasan tertinggal’ atau malahan juga sekedar ttg ‘countermagnet city’. kutub pertumbuhan, hirarkhi kota dsb……. Pengertian dan ‘harapan’ dari berkembangnya ‘pusat pertumbuhan baru’ kiranya perlu kita cermati ……bhw selain ia harus memiliki ‘leading activities’ atau ‘propulsive activities’ yg mandiri dan sustainable …….namun juga pd saat yg sama agar dipastikan ia mampu pula membangkitkan datangnya arus migrasi dari berbagai lapisan masyarakat (termasuk dalam artian yg sering dianggap enteng : istri dan anak2 …..dan bukan hanya bujangan saja) …..maupun agar ia juga mampu menarik berdirinya berbagai macam aktivitas usaha baru dari multi sektor yg sangat luas…….. Dgn demikian brkali dari sini saja kita sdh akan mampu mengidentifikasi ttg pilihan strategi menumbuhkan pusat2 baru’ ….…ialah pertama ……apakah kita kapan saja akan selalu lbh utamakan berdirinya ‘leading activities dgn teknologi yg benar dan ideal’ (yg ‘kalaupun berhasil’ masih tak jelas efek migrasinya apakah akan menarik bujangan saja ataukah mampu menarik juga istri dan anak2) …….ataukah mengutamakan ‘leading activities yg secara meyakinkan mampu membangkitkan munculnya arus migrasi yg kuat’ ……dan yg mampu membangkitkan multipler effect yg kuat pula berupa berdirinya berbagai macam ragam aktivitas usaha pd multisektor yg luas ……baik formal dan informal …..sektor modern dan tradisional …maupun juga maaf ….sekali lagi ….mampu meyakinkan para bujangan utk membawa serta istri dan anak2nya berpindah dan menetap…… Bhw faktor istri dan anak2 akan membawa kita pada pemikiran ttg ‘lingkungan pemukiman’ serta sarananya ……. Akhirnya kita tahu …..bhw kalau demikian maka kita seharusnya sadar bhw ternyata yg namanya konsep ttg ‘pusat pertuimbuhan baru’ itu seharusnya sekaligus juga secara terpadu dan tak boleh terpisah perlu mencantumkan pula skenario ttg desain kota dan sekaligus urban planning ……. Bahkan bukan hanya itu …….kalau kesadaran kita semua telah meningkat sampai pada parameter ‘keberhasilan migrasi’ yg diukur dari ‘dibawanya serta istri dan anak2’ (yg mengindikasikan keperluan perumahan, sekolah, pasar, rumah sakit dan sarana rekreasi terjawab pula) ……kitapun dari situ akan sampai pula pd kesadaran bhw kalau absoluditas ‘keberhasilan migrasi’ itu hrs menyangkut multisektor yg luas (atau sama dengan menyangkut strata masyarakat yg luas) ……lalu maka sejak sekarang kita seharusnya mampu berpikir pula bhw “kalo gitu”…….maka sejak sekarang seharusnya kita hanya akan lbh banyak merancang strategi ‘pusat pertumbuhan baru’ dgn berkait dgn level dan atmosfir ‘kota metropolitan’ ……dan bukannya pusat2 berbasis ladang2 gas, minyak atau bahkan emas ditempat terpencil seperti Donggi-Senoro……… krn brkali akan tetap lbh ekonomis bila gas itu cukup dialirkan saja atau dikapalkan saja kepusat2 pertumbuhan berbasis kota dan manusia ……..sama spt aktivitas pertambangan minyak oleh Exxon Mobil di Cepu juga tidak serta merta menarik datangnya rencana berbagai investasi pabrik datang mendekat kesana dan cukuplah Surabaya tetap menjadi basis industri dan pemukiman manusianya …….apakah begitu ....salam, aby --- On Thu, 6/24/10, Nuzul Achjar <ach...@gmail. com> wrote: From: Nuzul Achjar <ach...@gmail. com> Subject: Re: Bls [referensi] Fw: KEK To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Thursday, June 24, 2010, 8:45 PM Pak Aby, Ibu Cut Savana dan Sahabat Referensiers, Menyambung apa yang disampaikan pak Aby, kebetulan saya berada dalam rapat koordinasi hari Senin pagi di Kantor Menko Perekonomian. Sebatas yang mungkin boleh disampaikan (apalagi referensier adalah komunitas yang patut dihormati), Menko perekonomian antara lain mengusulkan agar muncul semacam pusat pertumbuhan baru, dan itu searah dengan apa yang diinginkan oleh Bappenas. Muncul pemikiran mungkinkah kita kembangkan pusat pertumbuhan baru di Sulawesi Tengah (dengan basis gas alam Donggi-Senoro) , ditambah lagi dengan sumber gas baru oleh Chevron di Selat Makasar.. nah kenapa nggak kita munculkan sebuah ide agar muncul ada LNG, ada pabrik pupuk dan petrokimia lainnya di sekitar ladang gas tersebut. Seperti kayak Bontang lah begitu, ada kilang LNG, ada Pupuk Kaltim, dst. Bedanya, kalau dulu LNG Bontang untuk ekspor, sekarang paradigmanya sudah berubah, gas terlebih dahulu diberikan prioritas untuk domestik. Pemikiran ini sama sekali tidak ada dalam 48 KEK yang diusulkan daerah... ini pandangan ke depan. Dalam waktu dekat akan muncul perspektif pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (Green Energy) dalam konteks Pengembangan Daerah. Pengen saya pribadi sih komunitas Referensiers adalah pendukung green energy dalam pembangunan daerah he he... Salam hangat selalu Nuzul Achjar

