Milisters ysh,
Pak Risfan menulis :
“….Sebaiknya KEK, Kapet dan nama baru apapun untuknya nanti, dikelola seperti 
Shenzhen dan kawasan ekonomi khusus lainnya di dunia. Jadikan itu kawasan 
"Mesin Ekonomi", yang pengelolaannya betul-betul khusus……”.
KEK dan Kapet adalah 2 hal yg amat sgt berbeda dan rasanya tak dapat 
dijejerkan……. Kapet pd masanya adalah kepanjangan dari Kawasan Pengembangan 
Ekonomi Terpadu ….maaf, terkesan agak2 bombastis dan adlh buatan dimasa orde 
baru……sedangkan KEK atau Kawasan Ekonomi Khusus adalah istilah Indonesia utk 
Special Economic Zone (SEZ)   …...dimana didalam itu terdapat berbagai bentuk2 
spt  a.l. Free Trade Zones (FTZ), Export Processing Zones (EPZ), Free Zones 
(FZ), Industrial Estates (IE), Free Ports, Urban Enterprise Zones dsb……. 
Pada prinsipnya ….yg namanya KEK (SEZ) adalah mrpkn suatu kwsn geografik 
tertentu yg dibuatkan ‘hukum/ aturan ekonomi khusus’…..yg umumnya bunyinya 
lebih liberal dibanding dgn pd umumya aturan2 ekonomi yg dikeluarkan oleh 
negara……..
Walau kawasan itu hanya seluas 1 Ha atau bahkan kurang sekalipun …sekalinya ia 
ditetapkan sebagai SEZ …..maka kawasan itu diperlakukan sbg ‘steril’….aturan 
keluar masuk barang (masuk sbg bahan baku dan keluar sbg barang jadi) itu mirip 
spt dipelabuhan …...ada unit bea cukainya segala……dan tentu saja pd umumnya 
infrastruktur dasarnya secara minimal sdh tersedia……umumnya tujuan dari stategi 
SEZ adlh utk meningkatkan foreign direct investment oleh investor asing yg 
umumnya pelakunya adalah MNCs…….
SEZ di Batam (Barelang)  dianggap berhasil lalu maka diperluas sampai ke Bintan 
dan Karimun…….Shenzhen konon dulu jg studi banding dulu ke Batam........
KAPET samasekali tak memakai bentuk dan aturan spt itu…….lokasinya (yg kontan 
ditetapkan 13 buah) banyak yg tak layak (contohnya Kapet Bima yg jauh dari sana 
sini dan tak ada apa2nya) …….dari 13 Kapet konon hanya 3 atau 2 yg layak 
dilanjutkan …yg lainnya dinyatakan tewas…..  salam, 
aby

--- On Sun, 6/27/10, Risfan M <[email protected]> wrote:


From: Risfan M <[email protected]>
Subject: Re: Bls [referensi] Fw: KEK, soal BSD
To: [email protected]
Date: Sunday, June 27, 2010, 10:14 PM


  







Ralat:


  








Menurut saya persoalan KEK, Kapet dan lainnya persoalannya bukan perencanaan 
fisik nya (RTRW) tetapi "kewenangan pengelolaan" nya. Kawasan Khusus, maksudnya 
apa bukan "dikelola secara khusus". 
 
Seperti yang disampaikan Bu Ida G., soal koordinasi antar sektor/kementerian 
yang di Jakarta gak pernah selesai itu, kalau dibawa ke kawasan khusus. Ya 
membuka "kawasan tempur baru" namanya. Malah konflik-konflik sektor yang 
terpendam muncul disitu. Mau bikin "kawasan ekonomi" atau "kawasan konflik" 
sektor?
 
Saya setuju dengan Bu Ida. Sebaiknya KEK, Kapet dan nama baru apapun untuknya 
nanti, dikelola seperti Shenzhen dan kawasan ekonomi khusus lainnya di dunia. 
Jadikan itu kawasan "Mesin Ekonomi", yang pengelolaannya betul-betul khusus.
Lelang pengelolaannya secara terbuka, kepada pengelola kawasan khusus berskala 
dunia, apakah dari China, Singapura, Korea, Taiwan, Eropa, US, atau yang 
pengalaman dari mengelola skala kawasan di Tanah Air. Terapkan aturan standar 
internasional soal lingkungan, buruh, outsourcing, energi, pertanahan.
 
Otoritanya harus lapor langsung ke presiden. Kalau perlu buat aturan yang 
desepakati presiden dan legislatif, yang mensyaratkan jangan ada satu 
ke-menteri-an pun yang boleh mencampuri, tanpa perintah presiden. Sehingga 
bebaslah kawasan itu sebagai "mesin ekonomi" nasional.
 
Beri otoritas target setor income berapa triliun dalam sekian tahun. Sepakati 
milestone nya, kapan dia memasarkan ke seluruh kelompok industri (kelompok 
Hyundai, Samsung, Sumitomo, dari China dst) perusahaan jasa, dst ke seluruh 
dunia. Minta pengelola untuk mendaftarkannya (menjadi satu dari mata rantai 
"ecomomic pole" dalam sistem ekonomi dunia. 
 
Begitukah?
 
Salam,
Risfan Munir
 
 


--- On Sun, 6/27/10, cut safana <cutsaff...@yahoo. com> wrote:


From: cut safana <cutsaff...@yahoo. com>
Subject: Re: Bls [referensi] Fw: KEK, soal BSD
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Sunday, June 27, 2010, 11:13 PM


  




Yth. Bp. BSP, Bp. BTS, Pak Deni dan milisters.
Terima kasih informasinya Bapak-Bapak, walaupun hanya bagian dari tim yang 
menyelesaikan perencanaan wilayah regional nya, tetapi  toh yang jelas yang PNS 
termasuk Pak SBA merupakan wakil dari Pemerintah, (kok saya yang bangga ya ?) 
dan rencana wilayah regional yang disusun tetap merupakan dasar pengembangan 
selanjutnya, yang berhasil dan berkembang pesat saat ini. Ini yang kita 
harapkan dari pemerintah kabupaten/kota saat ini, yaitu jangan menyusun RTRW 
kabupaten/kota karena diamanatkan/ dipaksa oleh UU No 26/2007, tetapi ya memang 
kebutuhan. Demikian pula, jika Perda RTRW tidak dapat diimplementasikan, tolong 
dibuat rencana detailnya, wake up !. Kalau dari awal kita sadar akan hal ini, 
mungkin Jakarta sebagai Ibu Kota negara, tidak seperti ini, tentunya dengan 
sedikit mengenyampingkan masalah-masalah ekonomi sekelompok golongan, misal : 
moda transportasi. Pilihan roda 4  dan roda 2 merupakan alternatif  terakhir 
masyarakat Jabodetabek. Bgmn
 kondisi 5 tahun kedepan ?. menyusul 10 tahun lagi Kota Bandung, Surabaya, 
Makassar ? Wallahu 'alam bissawab.
Salam hangat.





From: "bs.priyohadi@ gmail.com" <bs.priyohadi@ gmail.com>
To: refere...@yahoogrou ps.com
Sent: Fri, June 25, 2010 9:21:32 PM
Subject: Re: Bls [referensi] Fw: KEK, soal BSD

  

Bu Cut, mmg benar yg merencanakan BSD adalah swasta dan itu termasuk mas BTS 
lho, lalu ada Pingky Pangestu dan Jo Santoso ... Mrk anggota milist ini tdk? 
Kaitannya dg pemerintah adalah dlm perenc. regionalnya. Waktu itu ada tim yg 
diminta menyusun renc regional namanya JMDP alias Jabotabek sbg pelaksanaan 
Inpres 13/76. Tapi renc itu tdk pernah ditetapkan dg peraturan. Baru sebagian 
dr Jabotabek terdiri dr 14 kec yg ditetapkan th. 92 melalui Renc Bopunjur. 
Mungkin ini bisa sedikit me refresh teman2 
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT


From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> 
Sender: refere...@yahoogrou ps.com 
Date: Fri, 25 Jun 2010 22:46:29 +0800 (SGT)
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
ReplyTo: refere...@yahoogrou ps.com 
Subject: Re: Bls [referensi] Fw: KEK, soal BSD

  







Mbak Cut, setahu saya BSD itu tidak direncanakan oleh Pemerintah. Yang 
merencanakan dan yang membangun semua swasta. Pemerintah daerah hanya 
meng-iya-kan dan dapat pajaknya saja.
 
Berkembangnya BSD akibat spill-over Jakarta. Kalau nggak ada Jakarta, BSD ya 
nggak jadi apa-apa.
 
Thanks. CU. BTS.
 

--- Pada Jum, 25/6/10, cut safana <cutsaff...@yahoo. com> menulis:


Dari: cut safana <cutsaff...@yahoo. com>
Judul: Re: Bls [referensi] Fw: KEK
Kepada: refere...@yahoogrou ps.com
Tanggal: Jumat, 25 Juni, 2010, 11:06 AM


  



Pak Aby, Pak Nuzul Ysh,
Terima kasih pencerahannya, mudah-mudahan penjabaran Pak Aby dan Pak Nuzul akan 
terwujud. Namun walau bagaimanapun  faktor efektifitas dan efisiensi tetap 
menjadi salah satu dasar  pertimbangan pilihan pengembangannya.  Contohnya, 
maaf,  mungkin bukan suatu perbandingan yang tepat dan pengamatan hanya secara 
general, tanpa dasar teori apapun. Perbedaan Batam dan BSD -Tangerang, walau 
infrastruktur sudah dibantu dibangun di Batam, namun harga lahan masih rendah 
(tidak ada 25 %nya Singapura), investasi masih tersendat, belum menggembirakan. 
Sebaliknya  BSD (yang direncanakan oleh Pemerintah juga), tanpa dibantu 
infrastrukturnya, dapat sedemikian berkembang, 2-3 tahun terakhir dibangun 
jalan bebas hambatan). Kita berdo'a semoga pengembangan KEK ini dapat 
mengangkat perekonomian di Indonesia baik skala nasional maupun regional/lokal, 
praktis dapat mengurangi jumlah pengangguran  sekaligus menurunkan persentase 
angka kemiskinan. 
Salam hangat.




From: Nuzul Achjar <ach...@gmail. com>
To: refere...@yahoogrou ps.com
Sent: Fri, June 25, 2010 8:15:57 AM
Subject: Re: Bls [referensi] Fw: KEK

  


 
Pak Aby, Ibu Cut Savana dan Sahabat Referensiers,
 
Menyambung apa yang disampaikan pak Aby, kebetulan  saya berada dalam rapat 
koordinasi hari Senin pagi di Kantor Menko Perekonomian. Sebatas yang mungkin 
boleh disampaikan (apalagi referensier adalah komunitas yang patut 
dihormati), Menko perekonomian antara lain mengusulkan agar muncul semacam 
pusat pertumbuhan baru, dan itu searah dengan apa yang diinginkan 
oleh Bappenas. 
 
Muncul pemikiran mungkinkah kita kembangkan pusat pertumbuhan baru di Sulawesi 
Tengah (dengan basis gas alam Donggi-Senoro) , ditambah lagi dengan sumber gas 
baru oleh Chevron di Selat Makasar.. nah kenapa nggak kita munculkan sebuah ide 
agar muncul ada LNG, ada pabrik pupuk dan petrokimia lainnya di sekitar ladang 
gas tersebut. Seperti kayak Bontang lah begitu, ada kilang LNG, ada Pupuk 
Kaltim, dst. Bedanya, kalau dulu LNG Bontang untuk ekspor, sekarang 
paradigmanya sudah berubah, gas terlebih dahulu diberikan prioritas untuk 
domestik.
 
Pemikiran ini sama sekali tidak ada dalam 48 KEK yang diusulkan daerah... ini 
pandangan ke depan. Dalam waktu dekat akan muncul perspektif  pengembangan  
Energi Baru dan Terbarukan (Green Energy) dalam konteks Pengembangan  Daerah. 
Pengen saya pribadi sih komunitas Referensiers adalah pendukung green energy 
dalam pembangunan daerah he he...
 
Salam hangat selalu
 
Nuzul Achjar  
 
 
 
 
 
 


 










      

Kirim email ke