Dear referensiers,
Ikut ngobrol sedikit ya....

Kenapa macet, karena jumlah (luas) jalan tidak sesuai dengan jumlah kendaraan 
(segala jenis). Kenapa tidak sesuai, karena luas jalan tidak bertambah, tapi 
jumlah kendaraan bertambah banyak sekali (ini termasuk sepeda lho, yg kini juga 
jadi pengguna jalan). Kenapa jumlah kendaraan tambah banyak sekali, karena 
banyak orang lebih suka/pilih naik mobil/motor pribadi drpd naik angkutan umum, 
dgn berbagai alasan. So, alasan2 orang tdk mau pakai angk umum ini yg mestinya 
'dikorek-korek' lbh dalam. 

Coba tanya, ga usah jauh2, kalau Anda ke Singapura atau Hong Kong, lebih 
memilih mana, naik mobil (bukan taxi ya) atau naik trem/mrt/bis? Tanyakan lagi, 
knp pilih itu? Nah ketemu kan, kenapa org Jakarta lebih doyan naik 
mobil/motor......

Salam,
Nita

   


Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Tue, 20 Jul 2010 14:18:51 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Re: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja

Dear referensiers
 
Membaca ulasan Pak Aby sepertinya kemacetan itu dikarenakan aglomerasi atau 
adanya magnet yang kuat sehingga terjadi urbanisasi besar-besaran di 
Jabodetabek. Logika yang tepat bila dikembangkan countermagnet, maka kemacetan 
di Jabodetabek itu bisa dikurangi dan diurai. Dengan logika yang sama pula 
bahwa munculnya countermagnet akan melahirkan kemacetan baru. Dengan demikian 
konsep pengembangan countermagnet sama saja dengan "memindahkan" kemacetan. 
Memperluas pengembangan countermagnet, bukankah sama saja "memeratakan" 
kemacetan?
 
Kemacetan lalu lintas di kota-kota metro sering tak bisa dihindari. Tapi memang 
tidak separah Jakarta. Bangkok dulu macetnya...ya ampuunn, tetapi sekarang 
tidak lagi dan Bangkok tetap kota prima, tanpa ada konsep countermagnet. Juga 
kota-kota metro di negara-negara lain  tidak harus macet seperti Jakarta ini 
tanpa harus ada pengembangan countermagnet.
 
Menurut buku yang saya pahami, kemacetan itu bukan tataran makro, tapi tataran 
mikro saja, atau itu masalah manajemen saja. Walaupun begitu, mengurai 
kemacetan tidaklah gampang, ... banyak faktor. Untuk itu perlu diurai satu 
persatu dan diselesaikan secara bertahap. Ini bukan soal gebleg,..bukan soal 
suka ngeles, ..juga bukan soal omong doang.... Perlu kerja sama banyak 
pihak,...juga partsipasi/kesadaran masyarakat tentunya. 
 
Apakah Anda-anda semua sudah mulai "bike to work", "walk to work", naik 
angkutan umum....... Itu semua sangat membantu mengurangi kemacetan ini. Ayolah!
 
Thanks. CU. BTS.
 
 
 


--- Pada Sel, 20/7/10, SUWARDJOKO WARPANI <[email protected]> menulis:


Dari: SUWARDJOKO WARPANI <[email protected]>
Judul: Re: [referensi] Re: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja
Kepada: [email protected]
Tanggal: Selasa, 20 Juli, 2010, 1:14 AM


  




Setuju bung Aby. Itulah enaknya menjadi anggota DPR. Meskipun tak paham apa itu 
angkutan apa itu lalu-lintas, asal kritiknya meriah. Bukankah fasilitas sudah 
mewah dan gaji wah ? Maka, jawabannya pun sekelas martabak. Pada hemat saya, 
selama koordinasi perencanaan dan penanganan masalah hanya sebatas pertemuan 
bibir atas dan bawah, selama itu pula kemacetan akan tetap tak teratasi. 
Apalagi rencana jangka panjang tak pernah teripikirkan karena terbelenggu masa 
jabatan. Ma'af tak pernah ikut omong, ini hanya ledakan kesebalan.

 WASSALAM


"SW" 






From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com>
To: referensi <refere...@yahoogrou ps.com>
Sent: Mon, July 19, 2010 10:14:12 PM
Subject: [referensi] Re: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja

  






Milisters ysh, 

Saat ini DPR dan Gub DKI saling melakukan kritik …yg dimulai dengan ‘serangan’ 
DPR yg katakan Gub DKI tak kunjung mampu atasi kemacetan Jkt – sesuatu yg 
menurut DPR kenapa dulu dijanjikan oleh Foke sewaktu kampanye pilgub waktu itu 
……yg lalu Gub DKI menyerang balik dgn katakan DPR hanya bisa ngomong doang dan 
“…mengatasi kemacetan Jkt itu tak semudah bikin martabak bung…” ….begitu 
serangan balik dari Gub DKI kpd DPR…… 



Kalau menurut saya ....saya pikir kedua pihak sama2 saja brengseknya atau kalau 
mau lbh kasar ya kedua pihak sama2 geblegnya  ……DPR mengira kemacetan itu dpt 
diselesaikan sendiri oleh Jkt dan krn itu dgn sederhana lalu ia  dipandang 
mrpkn tgjwb Gub DKI ……sementara itu para Gub DKI (termasuk juga para cagub) 
umumnya jg bersikap arogan dgn selalu memandang kemacetan Jkt memang dpt 
diselesaikan hanya oleh Jkt sendiri saja ……dan tak diperlukan peran kota2 lain 
spt ttg perlunya dikembangkan countermagnet city atau pengembangan kota besar 
lain serta penyemaian industri memimpin disana utk membagi arus urbanisasi dan 
migrasi yg saat ini terbanyak menyerbu kota Jkt/ Jabodetabek…… 



Bhw DPR ‘memikirkan’ kemacetan Jkt …itu samasekali tdklah salah ….krn apa2 yg 
menjadi masalah serius bagi masyarakat,  bangsa dan negara tentu itu termasuk 
dlm lingkup pemikiran pd umumnya negarawan…..baik eksekutif maupun legislatif 
……       Yg  lalu menjadi tidak pas adlh kalau DPR lalu berpikir 
menyederhanakan masalah dgn mengira masalah kemacetan Jkt dpt diselesaikan di 
Jkt dan sendirian oleh Jkt (dan tentu lalu dlm pandangan DPR kambingnya 
hitamnya ya tdk lain adlh Gub DKI atau dlm hal ini Foke itu) …….. 



Baik pihak DPR maupn Gub DKI maupun banyak pihak yg lain (termasuk DJPR) masih 
sangat kurang berpikir bhw kemacetan adlh bagian sebab dari urbanisasi dan 
migrasi yg terbesar menyerbu Jabodetabek dan berpusatnya industrialisasi maupun 
juga lokasi2 industri nasional memimpin di Jabodetabek maupun banyak jenis foot 
loose industries yg berlokasi ‘memusat’ di Jawa ……dan mrk belum pada mau 
berpikir ttg perlunya mengembangkan countermagnet city to Jkt dgn inisiasi 
berupa penyemaian industri memimpin spd industri spd motor kita yg sampai 6,5 
juta unit per tahun  dan ke-3 terbesar dunia …….yg kenapa ia hrs seluruhnya 
diproses hanya disepanjang koridor Cikampek-Krawang- Bekasi  …..dan bukannya 
1/8 bagiannya saja misalnya disuruh memproses di calon countermagnet city di 
KTI misalnya .....yg dgn itu akan menumbuhkan dampak2 ganda yg luas diberbagai 
sektor ..dan pd saatnya akan dpt mempengaruhi arus migrasi dan urbanisasi yg 
menyerbu Jabodetabek
 .......salam, 



aby 

  

  
 










Kirim email ke