Tentu saja Mas Fajar yang konsisten, Tapi betul Buku 3 RPJMN dari Bappenas itu menunjukkan optimisme kita tentang penyebaran kewilayahan nasional. Seharusnya kita ikut mengkampanyekan dalam berbagai kesempatan. Seperti perencanaan atau konsepsi pembangunan umumnya, tak ada yang menjamin pasti, tapi kan layak menjadi visi dan kerangka/arah yang kita tuju. Salam, Risfan Munir
--- On Wed, 7/28/10, [email protected] <[email protected]> wrote: From: [email protected] <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Re: Triple Decker To: [email protected] Date: Wednesday, July 28, 2010, 8:53 PM Lho Pak Risfan... Kok cuma Pak Aby aja yang dihitung.. Saya protes karna ngak ikut dihitung... Padahal saya sudah keluarin jargon "Luar Jawa terlalu luas untuk hanya tiga meropoltan, bahkan juga untuk sepuluh...." Dan saya sudah kampanye-in, "Bangun sepuluh metropolitan baru di luar Jawa" Buat jadi metropolitan penyeimbang di Indonesia Jadi saya lebih hebat dari Pak Aby, atuh Pak.... Pak Aby cuma kampanyein satu terus.. sedangkan saya sepuluh hue he he he he..... Piss ya Pak... sekali-sekali bercanda sedikit.. Mumpung saya lagi lieur, huehe he he.... Salam dari jauh, Pak... --- En date de : Jeu 29.7.10, Risfan M <risf...@yahoo. com> a écrit : De: Risfan M <risf...@yahoo. com> Objet: Re: [referensi] Re: Triple Decker À: "referensi" <refere...@yahoogrou ps.com> Date: Jeudi 29 juillet 2010, 8h26 Rekans ysh, Katakanlah saya pengguna mobil pribadi, dari Bekasi. Saya mau naik bus/angkot via Xmalang. Berapa ongkos yang harus saya bayar, keluar kompleks ojeg 5rb, angkot ke Halim/Cawang 5rb, Cawang ke kantor saya kebetulan 1x @ 5rb (kalau capek jalan + ojeg). Kasar saja pp 13-15rb. Kalau anggota keluarga saya 2-3 kerja/kuliah di Jakarta berarti 40-45rb sekali jalan. Bayar tol Bekasi 3,5rb dalam kota tolnya macet, jadi gak lewat, kecuali kalo pulang. Jadi Anda mau naikin tol berapa supaya saya gak ngantor? Kalau Anda naikin 10rb saja, maka orang seperti saya masih untung bawa mobil dinaiki berdua bertiga. Mau naikin 20rb? Maka Anda berurusan dengan Senayan yang biaya perkaranya bisa untuk bangun jalan yang lain. Kelas menengah bukanlah penggede, bukan cukong, tapi orang pas-pasan saja. Masa mau tidak kehujanan kepasan saja Anda anggap enemy of the state, semua warga ini korban pelayanan publik yang gagal. Jangan enak saja, ambil solusinya selalu menyalahkan warga. Kalau ada transjakarta via Xmalang tentu lebih enak itu daripada nyetir capek, waktu terbuang. Emisi karbon naik. Tapi gak ada kan. Perbaiki transportasi publik, didunia ini publik transpor selalu tanggung jawab pemerintah. Tapi disini diserahkan ke swasta, tapi tarif ditekan, ya jelas mepet sehingga kualitas buruk. Swasta lagi disalahkan. Kok angkotnya gak mutu, kebanyakan dst. Saya kira planner juga perlu belajar matematika keuangan sedikitlah. Supaya tahu mana dulu "ayam atau telur". Atau kembali ke solusi PWK lah, masak ini forum PWK tapi yang mengawal solusi PWK cuma Pak Aby sendiri. Salam, Risfan Munir Powered by Telkomsel BlackBerry® From: Irwan Prasetyo <p...@centrin. net.id> Sender: refere...@yahoogrou ps.com Date: Thu, 29 Jul 2010 07:35:27 +0700 (WIT) To: <refere...@yahoogrou ps.com> ReplyTo: refere...@yahoogrou ps.com Subject: Re: [referensi] Re: Triple Decker Ya Pak, benar, mobil pribadi itu porsinya sekitar 80%an dari lalu-lintas yang lewat jalan tol, bisa lebih. Dan sekarang kontributor terbesar bagi pengelola jalan tol adalah JORR (Lingkar Luar Simatupang itu) yang tarifnya Rp7000an Flat. Traffic tidak seberapa tapi tarif tinggi, and they keep coming in! memang orang Jakarta ini ga bisa disamain sama orang Medan dan Semarang. Di sana pendapatan tolnya cuman pas-pasan buat memelihara dan operasi. Padahal tarif relatif sudah sangat murah. Saya pribadi setuju kendaraan umum/BUS diberi tarif yang lebih rendah, asal kendaraannya jadi nyaman,aman. Orang-orang pada parkir saja di terminal Bekasi atau di lapangan Bogor mana gitu. Jadi jalan tol berkurang macetnya. Tarif dijadikan "alat" untuk mengatur pergerakan bisa saja, walaupun kita tidak dapat mengenyampingkan kekuatan politik yang ada. Yang punya mobil pribadi itu banyak penggede-penggede yang vokal dan yang pakai jalan tol itu sebagian besar bukan rakyat jelata yang sebenarnya. Saya ikut mempromosikan perkembangan angkutan umum yang nyaman. Demikian dulu Pak. Salam Irwan Pras Lho, kan tidak harus tarif mobil pribadi jadi lebih mahal dari tarifnya sekarang.. Biar aja tariffnya seperti tarif yg sekarang. Itu bagus untuk tujuan penembalian investasi jalan tol (benar ngak bahwa mobil pribadi merupakan pangsa terbesar dari pengguna tol, dala kota maupun luar kota...? Apakah ada sahabat referensi yg memiliki informasinnya. .?). Tetapi, kemudian, tarif untuk bus angkutan umum dan truk angkutan barang dibuat lebih murah daripada tarif mobil pribadi.... Syukur-syukur malah cuma 50% dari tarif mobil pribadi....  Jadi mobil pribadi tetap pada mau masuk ke jalan tol sehingga apa yg dikuatirkan ngak terjadi.....  Salam,  Fadjar --- En date de : Mer 28.7.10, Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> a écrit : De: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> Objet: Re: [referensi] Re: Triple Decker À: refere...@yahoogrou ps.com Date: Mercredi 28 juillet 2010, 20h12  Kalau tarifnya dibalik, truk dan bus lebih murah, dan mobil pribadi lebih mahal, maka : 1. Terjadi kemacetan karena mobil tidak masuk tol. 2. Investasi jalan tol tak kembali karena yang menguntungkan (flow-nya besar) adalah kendaraan pribadi.  Thanks. CU. BTS. --- Pada Rab, 28/7/10, Benedictus Dwiagus S. <bdwia...@gmail. com> menulis: Dari: Benedictus Dwiagus S. <bdwia...@gmail. com> Judul: Re: [referensi] Re: Triple Decker Kepada: refere...@yahoogrou ps.com Tanggal: Rabu, 28 Juli, 2010, 11:16 AM  Wah keren nih kali ya kalau ada pengaturan tarif tol dengan semangat seperti Koko utarakan ini. Kalau sekarang khan kendaraan angkutan barang tarif masuk tolnya lebih tinggi drpada kendaraan pribadi, kalow dibalik, lebih seru kali ya. Trus kalow tarif tol utk bis angkutan umum massal, mestinya tarifnya setengahnya. Gemanah, koko? Hehehehe Salam Dwiagus »»» digowes dari Rempoa dengan BikeBerry® ~ Genjot Teruuusss... !!! -----Original Message----- From: Reny ansih <renyan...@yahoo. com> Sender: refere...@yahoogrou ps.com Date: Wed, 28 Jul 2010 18:51:17 To: <refere...@yahoogrou ps.com> Reply-To: refere...@yahoogrou ps.com Subject: Re: [referensi] Re: Triple Decker Nah lhoooo.... --- On Tue, 7/27/10, Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> wrote: From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> Subject: Re: [referensi] Re: Triple Decker To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Tuesday, July 27, 2010, 11:57 AM  Again.. terlepas dari siapa penggagasnya (objective): kalau sudah Triple Decker gitu.. artinya kapasitas nya sangat tinggi, maka sebaiknya pembangunan juga intensif sepanjang koridor tsb.. Memang yang menjadi concern juga adalah masalah 'pangsa pasar'... gak usah jauh-2 triple Decker.. yang sudah kejadian saja: Parahyangan akhirnya keok juga sama Cipularang.. Kalau untuk mobilitas manusia (human mobility), ya memang transportasi massal lebih efisien dari segi energy, waktu, biaya dan ruang per satuan penumpang-km. . naah..kalau mobilitas barang.. karena sebaran spasial dan intensitas bangkitan perjalanannya berbeda dengan mobilitas manusia.. mungkin jalan raya (tol maupun non-tol) lebih efisien.. sebaiknya keduanya jangan dicampur aduk.. jadi gak keruan seperti sekarang ini .. yang mau ber-mobilitas dari Bekasi ke Jakarta pp kan manusia.. ya lebih efisien pake busway.. kalau mau ngirim barang dari Merak ke Tanjung Priok dlsb.. ya pake Jalan Tol aja.. lalu atur sehingga jalan tol itu memang di-design khusus untuk angkutan barang.. supaya ekonomi lancar.. kan gitu semangat UU nya.. Kalau kendaraan pribadi tidak dibendung.. malah 'diundang' masuk jalan tol.. dengan diskriminasi tarif murah .. dan alternatif tidak diberikan akhirnya yang terjadi adalah cross-congestion. . kendaraan pribadi bikin macet mobilitas barang .. akhirnya bikin ekonomi mampet.. so.. solusinya bukan malah nambah jalan tol mulu.. perlu lebih kreatif mikirnya.. solusi jadul gak bisa dipaksakan untuk menyelesaikan masalah aktual terkini.. sering kali pejabat-2 senior yang dari sejak lulus kuliah tahunya bikin jalan raya.. ya meskipun zaman sudah berubah, mikir nya tetap bikin jalan raya.. akhirnya yang ada over-fitting teori usang.. coba reorientasi secara produktif.. sediakan transportasi massal sehingga masyarakat bisa berperan aktif menanggulangi kemacetan dengan beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi massal tersebut.. kalau sekarang kan bisanya berperan pasif.. yaitu stay at home yang marginal effect nya sangat rendah.. selain itu.. ya berperan secara kurang-produktif. . yaitu ngritik .. Salam, -K-  2010/7/27 abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com>  Setuju pak, .......kalau ..........konsep dasarnya masih teori pasar jangka pendek (kalau posisi penguasaan "stabil", jangka menengah...bahkan bisa hingga beberapa dekade).... Tetapi .......kalau untuk jangka panjang (pembangunan bangsa) mungkin sebaliknya. Dalam (sustainable) life cycle costing dan (socio-environmenta l) value engineering, bukan initial cost lebih rendah (bagi "pelaku" pasar dan "penentu pasar" yang sedang ber"kuasa") yang penting tetapi pengurangan konsekuensi biaya eksternal dan peluang peningkatan kualitas lingkungan jangka panjang yang menjadi dasar utama.... Termasuk bagaimana kita mengantisipasi the real "Climate Change"....bukan sekadar main angka-angka prosentasi "C trading" ATA 2010/7/27 Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com>  Yth. Pak Suwardjoko  Seingat saya, Triple Decker (TD) itu digagas oleh Mbak Tutut yaitu suatu Elevated Toll Road dan di bawahnya merupakan jalur KA. Tidak hanya TD, sejak Mbak Tutut dapat konsesi Tol Tanjung Priok - Cawang, beliau antusias sekali ingin ikut andil di bidang transportasi, termasuk ingin mengembangkan Manggarai City.  TD itu dulu  digagas dng jalur Serpong-Kota (lewat Bintaro). Tapi waktu itu jalan tol Bintaro-Serpong belum ada. Mungkin ada semacan Trafiic Assigment Analysis antara TD dan Tol Bintaro-Serpong. Dan Tol Bintaro - Serpong lebih menguntungkan daripada TD sehingga TD tidak jadi.  Kelemahan TD menurut saya  karena 2 hal yang saling bersaing dengan pasar yang sama. Maksud saya, apabila ada jalur KA sejajar dengan jalan tol, maka jalur KA akan mengurangi pasar jalan tol. Padahal yang dapat mengembalikan investasi itu justru arus kendaraan di jalan tol, bukan jalur KA-nya. Jalur KA-nya disubsidi sama yang di atas (jalan tol), tetapi yang di atas (jalan tol) diambil sama yang disubsidi ( jalur  KA).  Apa begitu ya?  Thanks. CU. BTS. --- Pada Sel, 27/7/10, Irwan Prasetyo <p...@centrin. net.id> menulis: Dari: Irwan Prasetyo <p...@centrin. net.id> Judul: Re: To Cak Andri [referensi] RE: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja Kepada: refere...@yahoogrou ps.com Tanggal: Selasa, 27 Juli, 2010, 1:30 AM  Reply to sender | Reply to group | Reply via web post | Start a New Topic Messages in this topic (71) Recent Activity: Visit Your Group Komunitas Referensi http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ Switch to: Text-Only, Daily Digest • Unsubscribe • Terms of Use .

