Ysh pa bambang sp, pa bts, pa risfan, dan pa nuzul tk sebelumnya atas komentar yang telah diberikan... saya sangat setuju dengan pendapat pa bsp bahwa perencanaan pada dasarnya menekankan pada kajian tentang perubahan realitas menjadi mengelola realitas dengan kriteria tertentu. oleh karena itu, teori perencanaan per se mempunyai kesejajaran dengan filsafat sains lainnya... hal ini berimplikasi pada bahwa kedudukan teori perencanaan yang merupakan bangunan pengetahuan yang bisa mandiri bukan hanya gabungan dari teori sosiologi, ekonomi, politik, lingkungan dsb (theory in planning). mestinya kita sebagai perencana berani menggali berbagai dasar filosofis perencanaan. jangan kita hanya puas dengan menggunakan teori orang lain....kita sebagai perencanaan Indonesia harus mampu mengeksplorasi berbagai khasanah pengetahuan kita. tentunya tuntutannya menjadi lebih dalam karena harus ada diantara kita yang mau atau berani menggali pengetahuan perencaan dari perspektif epistimologis dan ontologis perencanaan. perspektif aksiologis dalam perencanaan substansial sudah banyak didiskusikan oleh temen2 referenser. mungkin kita perlu melihat perspektif lain agar diskusi kita lebih seruuu kali yaaaa....
oh ya pa bsp... bila perencanaan itu sebuah realitas, tampaknya kita perlu samakan dulu definisi Realitas? dan tampaknya pa bambang punya konsepsi bahwa realitas bergantung pada pikiran dan tata nilai sang perencana (apakah ini seperti mahzab asholatul mahiyyah dalam filsafat Islam???) karena proposisi ini akan berimplikasi kepada apa fungsinya komunikasi rasional seperti yang digagas oleh Habermas?? mohon maaf klo saya salah..mohon bpk bisa luruskan...mudah-mudahan diskusi ontologis akan semakin gayeng... salam Imam Indratno ________________________________ Dari: "[email protected]" <[email protected]> Kepada: [email protected] Terkirim: Sen, 26 Juli, 2010 17:09:51 Judul: Re: Bls: [referensi] PERENCANAAN TRANS RASIONAL Selamat siang Mas Indratno juga rekan referensier ysh, Wah ini ada pendekar dari ahli filsafat masuk juga ternyata dalam kancah pesilat2 perencanaan ... seru ini ... saya sangat bergembira karena ini akan memberi kekayaan bagi kita semua. Sebagai seorang yang masih gagap melihat apa yang terjadi selama ini saya mencoba memberanikan diri juga untuk melihat dan merenungkan apa yang coba hendak digali oleh Mas Indratno dalam kesempitan dan kekerdilan saya. Pertanyaan pertama ijinkan saya mencoba jawab dengan sebuah ungkapan, bahwa perencanaan adalah sebuah realitas dari sebuah konsep berpikir. Namun ini beukanlah sebuah hubungan garis lurus dengan realiutas yang maujud. Realitas ini tumbuh berdasarkan dari siapa yang merangkai piiiran itu menjadi sebuah keprecayaan akan kebenaran. Dan ini sangat tergantung sekali pada sistem tata nilai dan kelengkapan pemahaman atas kondisi yang disebut nyata dan NYATA tersebut. Saya belum berani mensejajarkan konsep berpikir tersebut sama dengan apa yang dimaksudkan oleh Habermas. Tetapi karena saya juga seorang yang pernah mengenyam pendidikan perencanaan, saya bisa mengatakan kegiatan perencanaan itu sendiri merupakan sebuah realitas akan seuatu kegiatan. Dan kegiatan itu adalah NYATA. Dengan menjawab pertama tersebut, maka dapat dijawab pertanyaan kedua seperti yang sudah saya jawab diatas. Maafkan kepada pak Wawo dan Bapak-bapak lain yang telah berhasil membuat sebuah garis nyata dari konsep realitas menjadi sebuah proses materialisasi dalam sebuah kesatuan yang desbut NYATA tersebut. Saya juga tidak mau berpretensi terlalu jauh ... tapi mungkin mas Indratno bisa mengambil dari Lewis Mumford tentang Utopia ... ini sebenarnya basis berpikir filsafati tentang perencanaan tersebut. Dan saya juga ingin mas Indratno bisa men-share lebih lanjut pendalaman ini. Salam dan mohon maaf atas kekerdilan saya ini hormat bambang sp

