Pak Aby dan rekan ysh,

Persis seperti yang disampaikan pak Risfan, didunia sipil/struktur pun selalu 
bergerak dan tidak statis. Selalu ada upaya-upaya penghematan dengan melakukan 
perhitungan dengan memasukan asumsi-asumsi yang mungkin sebelumnya tidak 
terpikirkan.  Terkadang kejeblos juga dengan membengkaknya biaya akibat 
perbaikan-perbaikan yang harus dilakukan :-(

Kesiapan semua pihak diperlukan disini, baik itu insinyur struktur sebagai 
perencana, sebagai kontraktor, sebagai pengawas, sebagai owner ataupun sebagai 
P2B (Dinas Penataan dan Pengawasan Bangunan) . Tak jarang terjadi bersitegang 
untuk mempertahankan suatu konsep.

Saya pikir di Perencanaan Wilayahpun seharusnya juga demikian. Interaksi akan 
terus terjadi untuk mencapai hasil yang optmal.


Salam

RM

--- In [email protected], Risfan M <risf...@...> wrote:
>
> Pak Aby dan rekans ysh,
>  
> Saya pikir kok tidak begitu. Planning, seperti juga arsitek adalah profesi 
> terbuka. Artinya mereka bisa bekerja dimana saja, di instansi A, B, C, atau 
> pada developer, pada lembaga investasi dst. Jadi kalau di lapangan beda 
> konsep ya biasa saja.
>  
> Seperti profesi hukum, ada yang kerja di kehakiman, kejaksaan, sebagai 
> pembela. Mereka dalam sidang bisa berseberangan. Ilmu sama, KUHP sama, tapi 
> posisi dan perspektifnya bisa berseberangan. Syah-syah saja. Semua masih 
> sarjana hukum, sarjana ekonomi, atau sarjana PWK, atau Arsitek. Suka tak 
> suka, apakah skala manusia, skala monumen, itu kan aliran. Dalam percaturan 
> ya semua saling berinteraksi. Tidak ada hukum atau fatwa yang menyuruh 
> planner mesti pro aliran apa, juga bekerja untuk siapa.
>  
> Salam,
> Risfan Munir
>  
>  
>  
>  
> 
> 
> --- On Wed, 7/28/10, hengky abiyoso <watashi...@...> wrote:
> 
> 
> From: hengky abiyoso <watashi...@...>
> Subject: Re: Lemah? [referensi] Re: Triple Decker
> To: [email protected]
> Date: Wednesday, July 28, 2010, 11:51 PM
> 
> 
>   
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Pak Rachmad ysh,
> Kalau anda mengira ini mrpkn gambaran "lemahnya teman-teman perencana wilayah 
> dalam mendesign" .....saya kira sih enggak gitu ya pak .....mereka itu rata2 
> kuat lho ..aplg skrg obat kuat sajapun dijajakan online malah nyepam juga 
> .....saya kira ini masalahnya adlh yg punya gawe dan punya ide itu 
> pengusaha properti yg selain uangnya banyak, aksesnya kpd uang dan bank serta 
> pejabat kenceng sekali .....hingga yg ideal2 dari arsitek maupun planner 
> nggak kepakai  :-).....mrk 'mengarsitekin' dan 'memplaningin' sendiri 
> ......salam,
> 
> 
> --- On Wed, 7/28/10, Rachmad M <rachm...@yahoo. com> wrote:
> 
> 
> From: Rachmad M <rachm...@yahoo. com>
> Subject: [referensi] Re: Triple Decker
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Wednesday, July 28, 2010, 8:51 PM
> 
> 
>   
> 
> 
> Rekan2 Yang saya hormati,
> 
> Menarik memang berbicara skala. Sebelum krisis global saya sempat menangani 
> pembangunan 'Mix Use' di Jakarta saja dalam satu tahun secara bersamaan 
> seluas 2 juta meter persegi bangunan :-) Setelah krisis bangunan rata-rata 
> hanya seluas 25.000 m2 :-)
> 
> Dan yang juga menarik bangunan-bangunan yang laku seperti Citos, IX Plaza 
> Indonesia atau Paris van Java di Bandung itu sebenarnya merupakan bangunan 
> penghubung antara dua kegiatan yang raksasa. Bisa merupakan pengubung antara 
> dua stasiun bawah tanah yang berbeda jurusan atau antara dua moda 
> transportasi yang berbeda atau antara dua bangunan yang berbeda.
> 
> Namun di Indonesia entah bagaimana ceritanya itu jadi bangunan terpisah yang 
> orang lalu lalang didalamnya tanpa tujuan yang pasti. Banguan seperi Senayan 
> City-Plaza Senayan-Ratu Plaza yang sebanarnya justru membutuhkan bangunan 
> penghubung bawah tanah malah gak dibuat :-)
> 
> Mudah-mudahan kalau pak Ekha punya niat bangun 10 Metropolitan semuanya sudah 
> dipikirkan secara terintegrasi sejak awal :-)
> 
> Salam
> 
> RM
> 
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, "Risfan M" <risfano@> wrote:
> >
> > Pak Rachmad dan rekans ysh,
> > 
> > Masalahnya skalanya Pak, dengan kota besar yang terlalu besar dan padat. 
> > Skala manusia sulit dipertahankan. Juga pedagangnya skala dan lokasinya 
> > berubah.
> > Kalau dagangannya spt jaman Kayutangan, Braga, tunjungan dulu ya kalah 
> > dengan Mal. Kalau toh masih bisa dipertahankan mesti ganti toko wisata, 
> > cafe, amusement lainnya. Tapi ini juga soal generasi juga ya Pak. Kalau 
> > saya tanya anak saya bgm Braga, yang sudah direvitalisasi, ada yang 
> > menarik, tapi suasananya agak remang-remang katanya.
> > Kreasi orang Bandung, mungkin juga Jagja, Malang ya blok-blok cafe dan 
> > distro, yang coba jadi alternatif dari Mal raksasa.
> > Distro-distro itu juga menarik lo kalau dilihat dari semangat anak muda 
> > mencoba membangun brand lokal. Biasanya Sandiga Uno jadi endorsernya. 
> > Tentang desain lingkungan mungkin ada kontribusi forum Bandung Creative 
> > City yang dimotori Ridwan Kamil itu. Kayaknya adalah Pak Rachmad ide-ide 
> > alternatif itu.
> > 
> > Salam,
> > Risfan Munir
> > 
> > 
> > Powered by Telkomsel BlackBerry®
> > 
> > -----Original Message-----
> > From: "Rachmad M" <rachmadm@>
> > Sender: refere...@yahoogrou ps.com
> > Date: Thu, 29 Jul 2010 01:45:25 
> > To: <refere...@yahoogrou ps.com>
> > Reply-To: refere...@yahoogrou ps.com
> > Subject: [referensi] Re: Triple Decker
> > 
> > 
> > Pak Munir yth,
> > 
> > Hal ini menggambarkan lemahnya teman-teman perencana wilayah dalam 
> > mendesign :-)
> > 
> > Orang-orang Belanda sudah memberikan contoh bahwa pusat-pusat perdagangan 
> > itu jaraknya dari ujung ke ujung sekitar 1 km dan ini bisa dinikmati sambil 
> > berjalan kaki :-) 
> > 
> > Dulu kita kenal Tunjungan di Surabaya, Kayu Tangan di Malang, Malioboro di 
> > Jogja, Braga di Bandung, Sabang di Jakarta semua masih skala manusia untuk 
> > jalan-jalan bersama anak istrinya.
> > 
> > Dibanyak negara diluar negeri hal inipun masih demikian misal Damrak di 
> > Amsterdam, Orchard Road di Singapore dan banyak lagi semua masih skala 
> > manusia.
> > 
> > Entah kenapa Jakarta ini di design dengan ukuran yang luar biasa besarnya 
> > sehingga kita sendiri mengalami kesulitan untuk menikmatinya. Mangga dua 
> > dari Gunung Sahari ke Stasiun Kota sudah berkilo meter segingga sebagus 
> > apapun trotoarnya akan sia-sia berharap orang jalan kaki. Demikian juga 
> > Sudirman, Fatmawati paling yang masih enak buat belanja Panglima Polim 
> > khusus jual bahan bangunan :-)
> > 
> > 
> > Salam
> > 
> > RM
> > 
> > --- In refere...@yahoogrou ps.com, "Risfan M" <risfano@> wrote:
> > >
> > > Rekans ysh,
> > > 
> > > Katakanlah saya pengguna mobil pribadi, dari Bekasi. Saya mau naik 
> > > bus/angkot via Xmalang.
> > > Berapa ongkos yang harus saya bayar, keluar kompleks ojeg 5rb, angkot ke 
> > > Halim/Cawang 5rb, Cawang ke kantor saya kebetulan 1x @ 5rb (kalau capek 
> > > jalan + ojeg). Kasar saja pp 13-15rb.
> > > Kalau anggota keluarga saya 2-3 kerja/kuliah di Jakarta berarti 40-45rb 
> > > sekali jalan.
> > > 
> > > Bayar tol Bekasi 3,5rb dalam kota tolnya macet, jadi gak lewat, kecuali 
> > > kalo pulang. Jadi Anda mau naikin tol berapa supaya saya gak ngantor? 
> > > Kalau Anda naikin 10rb saja, maka orang seperti saya masih untung bawa 
> > > mobil dinaiki berdua bertiga. Mau naikin 20rb? Maka Anda berurusan dengan 
> > > Senayan yang biaya perkaranya bisa untuk bangun jalan yang lain.
> > > 
> > > Kelas menengah bukanlah penggede, bukan cukong, tapi orang pas-pasan 
> > > saja. Masa mau tidak kehujanan kepasan saja Anda anggap enemy of the 
> > > state, semua warga ini korban pelayanan publik yang gagal.
> > > Jangan enak saja, ambil solusinya selalu menyalahkan warga.
> > > 
> > > Kalau ada transjakarta via Xmalang tentu lebih enak itu daripada nyetir 
> > > capek, waktu terbuang. Emisi karbon naik. Tapi gak ada kan.
> > > 
> > > Perbaiki transportasi publik, didunia ini publik transpor selalu tanggung 
> > > jawab pemerintah. Tapi disini diserahkan ke swasta, tapi tarif ditekan, 
> > > ya jelas mepet sehingga kualitas buruk. Swasta lagi disalahkan. Kok 
> > > angkotnya gak mutu, kebanyakan dst.
> > > 
> > > Saya kira planner juga perlu belajar matematika keuangan sedikitlah. 
> > > Supaya tahu mana dulu "ayam atau telur". 
> > > 
> > > Atau kembali ke solusi PWK lah, masak ini forum PWK tapi yang mengawal 
> > > solusi PWK cuma Pak Aby sendiri.
> > > 
> > > Salam,
> > > Risfan Munir
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > Powered by Telkomsel BlackBerry®
> > > 
> > > -----Original Message-----
> > > From: Irwan Prasetyo <pras@>
> > > Sender: refere...@yahoogrou ps.com
> > > Date: Thu, 29 Jul 2010 07:35:27 
> > > To: <refere...@yahoogrou ps.com>
> > > Reply-To: refere...@yahoogrou ps.com
> > > Subject: Re: [referensi] Re: Triple Decker
> > > 
> > > Ya Pak, benar, mobil pribadi itu porsinya sekitar 80%an dari lalu-lintas
> > > yang lewat jalan tol, bisa lebih. Dan sekarang kontributor terbesar bagi
> > > pengelola jalan tol adalah JORR (Lingkar Luar Simatupang itu) yang
> > > tarifnya Rp7000an Flat. Traffic tidak seberapa tapi tarif tinggi, and
> > > they keep coming in! memang orang Jakarta ini ga bisa disamain sama orang
> > > Medan dan Semarang. Di sana pendapatan tolnya cuman pas-pasan buat
> > > memelihara dan operasi. Padahal tarif relatif sudah sangat murah.
> > > 
> > > Saya pribadi setuju kendaraan umum/BUS diberi tarif yang lebih rendah,
> > > asal kendaraannya jadi nyaman,aman. Orang-orang pada parkir saja di
> > > terminal Bekasi atau di lapangan Bogor mana gitu. Jadi jalan tol berkurang
> > > macetnya.
> > > 
> > > Tarif dijadikan "alat" untuk mengatur pergerakan bisa saja, walaupun kita
> > > tidak dapat mengenyampingkan kekuatan politik yang ada. Yang punya mobil
> > > pribadi itu banyak penggede-penggede yang vokal dan yang pakai jalan tol
> > > itu sebagian besar bukan rakyat jelata yang sebenarnya.
> > > 
> > > Saya ikut mempromosikan perkembangan angkutan umum yang nyaman.
> > > 
> > > Demikian dulu Pak. Salam
> > > 
> > > Irwan Pras
> > > 
> > > 
> > > Lho, kan tidak harus tarif mobil pribadi jadi lebih mahal dari tarifnya
> > > sekarang..
> > > Biar aja tariffnya seperti tarif yg sekarang. Itu bagus untuk tujuan
> > > penembalian investasi jalan tol (benar ngak bahwa mobil pribadi 
> > > merupakan
> > > pangsa terbesar dari pengguna tol, dala kota maupun luar kota...? 
> > > Apakah
> > > ada sahabat referensi yg memiliki informasinnya. .?). Tetapi, kemudian,
> > > tarif untuk bus angkutan umum dan truk angkutan barang dibuat lebih murah
> > > daripada tarif mobil pribadi.... Syukur-syukur malah cuma 50% dari tarif
> > > mobil pribadi....
> > >  
> > > Jadi mobil pribadi tetap pada mau masuk ke jalan tol sehingga apa yg
> > > dikuatirkan ngak terjadi.....
> > >  
> > > Salam,
> > >  
> > > Fadjar
> > > 
> > > 
> > > --- En date de : Mer 28.7.10, Bambang Tata Samiadji
> > > <btsamiadji@> a écrit :
> > > 
> > > 
> > > De: Bambang Tata Samiadji <btsamiadji@>
> > > Objet: Re: [referensi] Re: Triple Decker
> > > À: refere...@yahoogrou ps.com
> > > Date: Mercredi 28 juillet 2010, 20h12
> > > 
> > > 
> > >  
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > Kalau tarifnya dibalik, truk dan bus lebih murah, dan mobil pribadi lebih
> > > mahal, maka :
> > > 1. Terjadi kemacetan karena mobil tidak masuk tol.
> > > 2. Investasi jalan tol tak kembali  karena yang menguntungkan (flow-nya
> > > besar) adalah kendaraan pribadi.
> > >  
> > > Thanks. CU. BTS.
> > > 
> > > --- Pada Rab, 28/7/10, Benedictus Dwiagus S. <bdwia...@gmail. com>
> > > menulis:
> > > 
> > > 
> > > Dari: Benedictus Dwiagus S. <bdwia...@gmail. com>
> > > Judul: Re: [referensi] Re: Triple Decker
> > > Kepada: refere...@yahoogrou ps.com
> > > Tanggal: Rabu, 28 Juli, 2010, 11:16 AM
> > > 
> > > 
> > >  
> > > 
> > > Wah keren nih kali ya kalau ada pengaturan tarif tol dengan semangat
> > > seperti Koko utarakan ini.
> > > Kalau sekarang khan kendaraan angkutan barang tarif masuk tolnya lebih
> > > tinggi drpada kendaraan pribadi, kalow dibalik, lebih seru kali ya. Trus
> > > kalow tarif tol utk bis angkutan umum massal, mestinya tarifnya
> > > setengahnya.
> > > 
> > > Gemanah, koko?
> > > Hehehehe
> > > 
> > > Salam
> > > Dwiagus
> > > »»» digowes dari Rempoa dengan BikeBerry® ~ Genjot 
> > > Teruuusss... !!!
> > > 
> > > -----Original Message-----
> > > From: Reny ansih <renyan...@yahoo. com>
> > > Sender: refere...@yahoogrou ps.com
> > > Date: Wed, 28 Jul 2010 18:51:17
> > > To: <refere...@yahoogrou ps.com>
> > > Reply-To: refere...@yahoogrou ps.com
> > > Subject: Re: [referensi] Re: Triple Decker
> > > 
> > > Nah lhoooo....
> > > 
> > > --- On Tue, 7/27/10, Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> wrote:
> > > 
> > > From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com>
> > > Subject: Re: [referensi] Re: Triple Decker
> > > To: refere...@yahoogrou ps.com
> > > Date: Tuesday, July 27, 2010, 11:57 AM
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > >  
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > Again.. terlepas dari siapa penggagasnya (objective): kalau sudah Triple
> > > Decker gitu.. artinya kapasitas nya sangat tinggi, maka sebaiknya
> > > pembangunan juga intensif sepanjang koridor tsb..
> > > 
> > > 
> > > Memang yang menjadi concern juga adalah masalah 'pangsa pasar'...
> > > gak usah jauh-2 triple Decker.. yang sudah kejadian saja: Parahyangan
> > > akhirnya keok juga sama Cipularang..
> > > 
> > > Kalau untuk mobilitas manusia (human mobility), ya memang transportasi
> > > massal lebih efisien dari segi energy, waktu, biaya dan ruang per satuan
> > > penumpang-km. .
> > > 
> > > 
> > > naah..kalau mobilitas barang.. karena sebaran spasial dan intensitas
> > > bangkitan perjalanannya berbeda dengan mobilitas manusia.. mungkin jalan
> > > raya (tol maupun non-tol) lebih efisien..
> > > sebaiknya keduanya jangan dicampur aduk.. jadi gak keruan seperti sekarang
> > > ini ..
> > > 
> > > 
> > > yang mau ber-mobilitas dari Bekasi ke Jakarta pp kan manusia.. ya lebih
> > > efisien pake busway..
> > > kalau mau ngirim barang dari Merak ke Tanjung Priok dlsb.. ya pake Jalan
> > > Tol aja.. lalu atur sehingga jalan tol itu memang di-design khusus untuk
> > > angkutan barang.. supaya ekonomi lancar.. kan gitu semangat UU nya..
> > > 
> > > 
> > > Kalau kendaraan pribadi tidak dibendung.. malah 'diundang' masuk jalan
> > > tol.. dengan diskriminasi tarif murah .. dan alternatif tidak diberikan
> > > akhirnya yang terjadi adalah cross-congestion. . kendaraan pribadi bikin
> > > macet mobilitas barang .. akhirnya bikin ekonomi mampet..
> > > 
> > > so.. solusinya bukan malah nambah jalan tol mulu..
> > > perlu lebih kreatif mikirnya.. solusi jadul gak bisa dipaksakan untuk
> > > menyelesaikan masalah aktual terkini..
> > > sering kali pejabat-2 senior yang dari sejak lulus kuliah tahunya bikin
> > > jalan raya.. ya meskipun zaman sudah berubah, mikir nya tetap bikin jalan
> > > raya.. akhirnya yang ada over-fitting teori usang..
> > > 
> > > 
> > > coba reorientasi secara produktif.. sediakan transportasi massal sehingga
> > > masyarakat bisa berperan aktif menanggulangi kemacetan dengan beralih dari
> > > kendaraan pribadi ke transportasi massal tersebut..
> > > kalau sekarang kan bisanya berperan pasif.. yaitu stay at home yang
> > > marginal effect nya sangat rendah..
> > > 
> > > selain itu.. ya berperan secara kurang-produktif. . yaitu ngritik ..
> > > 
> > > Salam,
> > > -K-
> > > 
> > >  
> > > 
> > > 2010/7/27 abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com>
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > >  
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > Setuju pak, .......kalau ..........konsep dasarnya masih teori pasar
> > > jangka pendek (kalau posisi penguasaan "stabil", jangka menengah...bahkan
> > > bisa hingga beberapa dekade).... Tetapi .......kalau untuk jangka 
> > > panjang
> > > (pembangunan bangsa) mungkin sebaliknya. 
> > > 
> > > Dalam (sustainable) life cycle costing dan (socio-environmenta l) value
> > > engineering, bukan initial cost lebih rendah (bagi "pelaku" pasar dan
> > > "penentu pasar" yang sedang ber"kuasa") yang penting tetapi pengurangan
> > > konsekuensi biaya eksternal dan peluang peningkatan kualitas lingkungan
> > > jangka panjang yang menjadi dasar utama.... 
> > > 
> > > Termasuk bagaimana kita mengantisipasi the real "Climate Change"....bukan
> > > sekadar main angka-angka prosentasi "C trading" 
> > > 
> > > 
> > > ATA
> > > 
> > > 2010/7/27 Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com>
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > >  
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > Yth. Pak Suwardjoko
> > >  
> > > Seingat saya, Triple Decker (TD) itu digagas oleh Mbak Tutut yaitu suatu
> > > Elevated Toll Road dan di bawahnya merupakan jalur KA. Tidak hanya 
> > > TD,
> > > sejak Mbak Tutut dapat konsesi Tol Tanjung Priok - Cawang, beliau antusias
> > > sekali ingin ikut andil di bidang transportasi, termasuk ingin
> > > mengembangkan Manggarai City.
> > > 
> > > 
> > >  
> > > TD itu dulu  digagas dng jalur Serpong-Kota (lewat Bintaro). Tapi waktu
> > > itu jalan tol Bintaro-Serpong belum ada. Mungkin ada semacan Trafiic
> > > Assigment Analysis antara TD dan Tol Bintaro-Serpong. Dan Tol Bintaro -
> > > Serpong lebih menguntungkan daripada TD sehingga TD tidak jadi.
> > > 
> > > 
> > >  
> > > Kelemahan TD menurut saya  karena 2 hal yang saling bersaing dengan
> > > pasar yang sama. Maksud saya, apabila ada jalur KA sejajar dengan jalan
> > > tol, maka jalur KA akan mengurangi pasar jalan tol. Padahal yang dapat
> > > mengembalikan investasi itu justru arus kendaraan di jalan tol, bukan
> > > jalur KA-nya. Jalur KA-nya disubsidi sama yang di atas (jalan tol), tetapi
> > > yang di atas (jalan tol) diambil sama yang disubsidi 
> > > ( jalur  KA). 
> > > 
> > > 
> > >  
> > > Apa begitu ya?
> > >  
> > > Thanks. CU. BTS.
> > > --- Pada Sel, 27/7/10, Irwan Prasetyo <p...@centrin. net.id> menulis:
> > > 
> > > 
> > > Dari: Irwan Prasetyo <p...@centrin. net.id>
> > > Judul: Re: To Cak Andri [referensi] RE: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama
> > > Saja
> > > 
> > > 
> > > Kepada: refere...@yahoogrou ps.com
> > > Tanggal: Selasa, 27 Juli, 2010, 1:30 AM
> > > 
> > > 
> > >  
> > > 
> > > 
> > > 
> > > Reply to sender |
> > > 
> > > Reply to group |
> > > Reply via web post |
> > > Start a New Topic
> > > 
> > > 
> > > Messages in this topic
> > > (71)
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > Recent Activity:
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > Visit Your Group
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > Komunitas Referensi
> > > 
> > > http://groups. yahoo.com/ group/referensi/
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > Switch to: Text-Only, Daily Digest • Unsubscribe • Terms of 
> > > Use
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > .
> > >
> >
>


Kirim email ke