Pak Aby dan rekan ysh,
Persis seperti yang disampaikan pak Risfan, didunia sipil/struktur pun selalu bergerak dan tidak statis. Selalu ada upaya-upaya penghematan dengan melakukan perhitungan dengan memasukan asumsi-asumsi yang mungkin sebelumnya tidak terpikirkan. Terkadang kejeblos juga dengan membengkaknya biaya akibat perbaikan-perbaikan yang harus dilakukan :-( Kesiapan semua pihak diperlukan disini, baik itu insinyur struktur sebagai perencana, sebagai kontraktor, sebagai pengawas, sebagai owner ataupun sebagai P2B (Dinas Penataan dan Pengawasan Bangunan) . Tak jarang terjadi bersitegang untuk mempertahankan suatu konsep. Saya pikir di Perencanaan Wilayahpun seharusnya juga demikian. Interaksi akan terus terjadi untuk mencapai hasil yang optmal. Salam RM --- In [email protected], Risfan M <risf...@...> wrote: > > Pak Aby dan rekans ysh, >  > Saya pikir kok tidak begitu. Planning, seperti juga arsitek adalah profesi > terbuka. Artinya mereka bisa bekerja dimana saja, di instansi A, B, C, atau > pada developer, pada lembaga investasi dst. Jadi kalau di lapangan beda > konsep ya biasa saja. >  > Seperti profesi hukum, ada yang kerja di kehakiman, kejaksaan, sebagai > pembela. Mereka dalam sidang bisa berseberangan. Ilmu sama, KUHP sama, tapi > posisi dan perspektifnya bisa berseberangan. Syah-syah saja. Semua masih > sarjana hukum, sarjana ekonomi, atau sarjana PWK, atau Arsitek. Suka tak > suka, apakah skala manusia, skala monumen, itu kan aliran. Dalam percaturan > ya semua saling berinteraksi. Tidak ada hukum atau fatwa yang menyuruh > planner mesti pro aliran apa, juga bekerja untuk siapa. >  > Salam, > Risfan Munir >  >  >  >  > > > --- On Wed, 7/28/10, hengky abiyoso <watashi...@...> wrote: > > > From: hengky abiyoso <watashi...@...> > Subject: Re: Lemah? [referensi] Re: Triple Decker > To: [email protected] > Date: Wednesday, July 28, 2010, 11:51 PM > > >  > > > > > > > > > Pak Rachmad ysh, > Kalau anda mengira ini mrpkn gambaran "lemahnya teman-teman perencana wilayah > dalam mendesign" .....saya kira sih enggak gitu ya pak .....mereka itu rata2 > kuat lho ..aplg skrg obat kuat sajapun dijajakan online malah nyepam juga > .....saya kira ini masalahnya adlh yg punya gawe dan punya ide itu > pengusaha properti yg selain uangnya banyak, aksesnya kpd uang dan bank serta > pejabat kenceng sekali .....hingga yg ideal2 dari arsitek maupun planner > nggak kepakai :-).....mrk 'mengarsitekin' dan 'memplaningin' sendiri > ......salam, > > > --- On Wed, 7/28/10, Rachmad M <rachm...@yahoo. com> wrote: > > > From: Rachmad M <rachm...@yahoo. com> > Subject: [referensi] Re: Triple Decker > To: refere...@yahoogrou ps.com > Date: Wednesday, July 28, 2010, 8:51 PM > > >  > > > Rekan2 Yang saya hormati, > > Menarik memang berbicara skala. Sebelum krisis global saya sempat menangani > pembangunan 'Mix Use' di Jakarta saja dalam satu tahun secara bersamaan > seluas 2 juta meter persegi bangunan :-) Setelah krisis bangunan rata-rata > hanya seluas 25.000 m2 :-) > > Dan yang juga menarik bangunan-bangunan yang laku seperti Citos, IX Plaza > Indonesia atau Paris van Java di Bandung itu sebenarnya merupakan bangunan > penghubung antara dua kegiatan yang raksasa. Bisa merupakan pengubung antara > dua stasiun bawah tanah yang berbeda jurusan atau antara dua moda > transportasi yang berbeda atau antara dua bangunan yang berbeda. > > Namun di Indonesia entah bagaimana ceritanya itu jadi bangunan terpisah yang > orang lalu lalang didalamnya tanpa tujuan yang pasti. Banguan seperi Senayan > City-Plaza Senayan-Ratu Plaza yang sebanarnya justru membutuhkan bangunan > penghubung bawah tanah malah gak dibuat :-) > > Mudah-mudahan kalau pak Ekha punya niat bangun 10 Metropolitan semuanya sudah > dipikirkan secara terintegrasi sejak awal :-) > > Salam > > RM > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, "Risfan M" <risfano@> wrote: > > > > Pak Rachmad dan rekans ysh, > > > > Masalahnya skalanya Pak, dengan kota besar yang terlalu besar dan padat. > > Skala manusia sulit dipertahankan. Juga pedagangnya skala dan lokasinya > > berubah. > > Kalau dagangannya spt jaman Kayutangan, Braga, tunjungan dulu ya kalah > > dengan Mal. Kalau toh masih bisa dipertahankan mesti ganti toko wisata, > > cafe, amusement lainnya. Tapi ini juga soal generasi juga ya Pak. Kalau > > saya tanya anak saya bgm Braga, yang sudah direvitalisasi, ada yang > > menarik, tapi suasananya agak remang-remang katanya. > > Kreasi orang Bandung, mungkin juga Jagja, Malang ya blok-blok cafe dan > > distro, yang coba jadi alternatif dari Mal raksasa. > > Distro-distro itu juga menarik lo kalau dilihat dari semangat anak muda > > mencoba membangun brand lokal. Biasanya Sandiga Uno jadi endorsernya. > > Tentang desain lingkungan mungkin ada kontribusi forum Bandung Creative > > City yang dimotori Ridwan Kamil itu. Kayaknya adalah Pak Rachmad ide-ide > > alternatif itu. > > > > Salam, > > Risfan Munir > > > > > > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > > > -----Original Message----- > > From: "Rachmad M" <rachmadm@> > > Sender: refere...@yahoogrou ps.com > > Date: Thu, 29 Jul 2010 01:45:25 > > To: <refere...@yahoogrou ps.com> > > Reply-To: refere...@yahoogrou ps.com > > Subject: [referensi] Re: Triple Decker > > > > > > Pak Munir yth, > > > > Hal ini menggambarkan lemahnya teman-teman perencana wilayah dalam > > mendesign :-) > > > > Orang-orang Belanda sudah memberikan contoh bahwa pusat-pusat perdagangan > > itu jaraknya dari ujung ke ujung sekitar 1 km dan ini bisa dinikmati sambil > > berjalan kaki :-) > > > > Dulu kita kenal Tunjungan di Surabaya, Kayu Tangan di Malang, Malioboro di > > Jogja, Braga di Bandung, Sabang di Jakarta semua masih skala manusia untuk > > jalan-jalan bersama anak istrinya. > > > > Dibanyak negara diluar negeri hal inipun masih demikian misal Damrak di > > Amsterdam, Orchard Road di Singapore dan banyak lagi semua masih skala > > manusia. > > > > Entah kenapa Jakarta ini di design dengan ukuran yang luar biasa besarnya > > sehingga kita sendiri mengalami kesulitan untuk menikmatinya. Mangga dua > > dari Gunung Sahari ke Stasiun Kota sudah berkilo meter segingga sebagus > > apapun trotoarnya akan sia-sia berharap orang jalan kaki. Demikian juga > > Sudirman, Fatmawati paling yang masih enak buat belanja Panglima Polim > > khusus jual bahan bangunan :-) > > > > > > Salam > > > > RM > > > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, "Risfan M" <risfano@> wrote: > > > > > > Rekans ysh, > > > > > > Katakanlah saya pengguna mobil pribadi, dari Bekasi. Saya mau naik > > > bus/angkot via Xmalang. > > > Berapa ongkos yang harus saya bayar, keluar kompleks ojeg 5rb, angkot ke > > > Halim/Cawang 5rb, Cawang ke kantor saya kebetulan 1x @ 5rb (kalau capek > > > jalan + ojeg). Kasar saja pp 13-15rb. > > > Kalau anggota keluarga saya 2-3 kerja/kuliah di Jakarta berarti 40-45rb > > > sekali jalan. > > > > > > Bayar tol Bekasi 3,5rb dalam kota tolnya macet, jadi gak lewat, kecuali > > > kalo pulang. Jadi Anda mau naikin tol berapa supaya saya gak ngantor? > > > Kalau Anda naikin 10rb saja, maka orang seperti saya masih untung bawa > > > mobil dinaiki berdua bertiga. Mau naikin 20rb? Maka Anda berurusan dengan > > > Senayan yang biaya perkaranya bisa untuk bangun jalan yang lain. > > > > > > Kelas menengah bukanlah penggede, bukan cukong, tapi orang pas-pasan > > > saja. Masa mau tidak kehujanan kepasan saja Anda anggap enemy of the > > > state, semua warga ini korban pelayanan publik yang gagal. > > > Jangan enak saja, ambil solusinya selalu menyalahkan warga. > > > > > > Kalau ada transjakarta via Xmalang tentu lebih enak itu daripada nyetir > > > capek, waktu terbuang. Emisi karbon naik. Tapi gak ada kan. > > > > > > Perbaiki transportasi publik, didunia ini publik transpor selalu tanggung > > > jawab pemerintah. Tapi disini diserahkan ke swasta, tapi tarif ditekan, > > > ya jelas mepet sehingga kualitas buruk. Swasta lagi disalahkan. Kok > > > angkotnya gak mutu, kebanyakan dst. > > > > > > Saya kira planner juga perlu belajar matematika keuangan sedikitlah. > > > Supaya tahu mana dulu "ayam atau telur". > > > > > > Atau kembali ke solusi PWK lah, masak ini forum PWK tapi yang mengawal > > > solusi PWK cuma Pak Aby sendiri. > > > > > > Salam, > > > Risfan Munir > > > > > > > > > > > > > > > > > > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > > > > > -----Original Message----- > > > From: Irwan Prasetyo <pras@> > > > Sender: refere...@yahoogrou ps.com > > > Date: Thu, 29 Jul 2010 07:35:27 > > > To: <refere...@yahoogrou ps.com> > > > Reply-To: refere...@yahoogrou ps.com > > > Subject: Re: [referensi] Re: Triple Decker > > > > > > Ya Pak, benar, mobil pribadi itu porsinya sekitar 80%an dari lalu-lintas > > > yang lewat jalan tol, bisa lebih. Dan sekarang kontributor terbesar bagi > > > pengelola jalan tol adalah JORR (Lingkar Luar Simatupang itu) yang > > > tarifnya Rp7000an Flat. Traffic tidak seberapa tapi tarif tinggi, and > > > they keep coming in! memang orang Jakarta ini ga bisa disamain sama orang > > > Medan dan Semarang. Di sana pendapatan tolnya cuman pas-pasan buat > > > memelihara dan operasi. Padahal tarif relatif sudah sangat murah. > > > > > > Saya pribadi setuju kendaraan umum/BUS diberi tarif yang lebih rendah, > > > asal kendaraannya jadi nyaman,aman. Orang-orang pada parkir saja di > > > terminal Bekasi atau di lapangan Bogor mana gitu. Jadi jalan tol berkurang > > > macetnya. > > > > > > Tarif dijadikan "alat" untuk mengatur pergerakan bisa saja, walaupun kita > > > tidak dapat mengenyampingkan kekuatan politik yang ada. Yang punya mobil > > > pribadi itu banyak penggede-penggede yang vokal dan yang pakai jalan tol > > > itu sebagian besar bukan rakyat jelata yang sebenarnya. > > > > > > Saya ikut mempromosikan perkembangan angkutan umum yang nyaman. > > > > > > Demikian dulu Pak. Salam > > > > > > Irwan Pras > > > > > > > > > Lho, kan tidak harus tarif mobil pribadi jadi lebih mahal dari tarifnya > > > sekarang.. > > > Biar aja tariffnya seperti tarif yg sekarang. Itu bagus untuk tujuan > > > penembalian investasi jalan tol (benar ngakàbahwa mobil pribadi > > > merupakan > > > pangsaàterbesar dari pengguna tol, dala kota maupun luar kota...? > > > Apakah > > > ada sahabat referensi yg memiliki informasinnya. .?). Tetapi, kemudian, > > > tarif untuk bus angkutan umum dan truk angkutan barang dibuat lebih murah > > > daripada tarif mobil pribadi.... Syukur-syukur malah cuma 50% dari tarif > > > mobil pribadi.... > > > à> > > Jadi mobil pribadi tetap pada mau masuk ke jalan tol sehingga apa yg > > > dikuatirkan ngak terjadi..... > > > à> > > Salam, > > > à> > > Fadjar > > > > > > > > > --- En date deà: Mer 28.7.10, Bambang Tata Samiadji > > > <btsamiadji@> a écrità: > > > > > > > > > De: Bambang Tata Samiadji <btsamiadji@> > > > Objet: Re: [referensi] Re: Triple Decker > > > Ãâ¬: refere...@yahoogrou ps.com > > > Date: Mercredi 28 juillet 2010, 20h12 > > > > > > > > > à> > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Kalau tarifnya dibalik, truk dan bus lebih murah, dan mobil pribadi lebih > > > mahal, maka : > > > 1. Terjadi kemacetan karena mobil tidak masuk tol. > > > 2. Investasi jalan tol tak kembaliàkarena yang menguntungkan (flow-nya > > > besar) adalah kendaraan pribadi. > > > à> > > Thanks. CU. BTS. > > > > > > --- Pada Rab, 28/7/10, Benedictus Dwiagus S. <bdwia...@gmail. com> > > > menulis: > > > > > > > > > Dari: Benedictus Dwiagus S. <bdwia...@gmail. com> > > > Judul: Re: [referensi] Re: Triple Decker > > > Kepada: refere...@yahoogrou ps.com > > > Tanggal: Rabu, 28 Juli, 2010, 11:16 AM > > > > > > > > > à> > > > > > Wah keren nih kali ya kalau ada pengaturan tarif tol dengan semangat > > > seperti Koko utarakan ini. > > > Kalau sekarang khan kendaraan angkutan barang tarif masuk tolnya lebih > > > tinggi drpada kendaraan pribadi, kalow dibalik, lebih seru kali ya. Trus > > > kalow tarif tol utk bis angkutan umum massal, mestinya tarifnya > > > setengahnya. > > > > > > Gemanah, koko? > > > Hehehehe > > > > > > Salam > > > Dwiagus > > > ûûû digowes dari Rempoa dengan BikeBerryî ~ Genjot > > > Teruuusss... !!! > > > > > > -----Original Message----- > > > From: Reny ansih <renyan...@yahoo. com> > > > Sender: refere...@yahoogrou ps.com > > > Date: Wed, 28 Jul 2010 18:51:17 > > > To: <refere...@yahoogrou ps.com> > > > Reply-To: refere...@yahoogrou ps.com > > > Subject: Re: [referensi] Re: Triple Decker > > > > > > Nah lhoooo.... > > > > > > --- On Tue, 7/27/10, Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> wrote: > > > > > > From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> > > > Subject: Re: [referensi] Re: Triple Decker > > > To: refere...@yahoogrou ps.com > > > Date: Tuesday, July 27, 2010, 11:57 AM > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > à> > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Again.. terlepas dari siapa penggagasnya (objective): kalau sudah Triple > > > Decker gitu.. artinya kapasitas nya sangat tinggi, maka sebaiknya > > > pembangunan juga intensif sepanjang koridor tsb.. > > > > > > > > > Memang yang menjadi concern juga adalah masalah 'pangsa pasar'... > > > gak usah jauh-2 triple Decker.. yang sudah kejadian saja: Parahyangan > > > akhirnya keok juga sama Cipularang.. > > > > > > Kalau untuk mobilitas manusia (human mobility), ya memang transportasi > > > massal lebih efisien dari segi energy, waktu, biaya dan ruang per satuan > > > penumpang-km. . > > > > > > > > > naah..kalau mobilitas barang.. karena sebaran spasial dan intensitas > > > bangkitan perjalanannya berbeda dengan mobilitas manusia.. mungkin jalan > > > raya (tol maupun non-tol) lebih efisien.. > > > sebaiknya keduanya jangan dicampur aduk.. jadi gak keruan seperti sekarang > > > ini .. > > > > > > > > > yang mau ber-mobilitas dari Bekasi ke Jakarta pp kan manusia.. ya lebih > > > efisien pake busway.. > > > kalau mau ngirim barang dari Merak ke Tanjung Priok dlsb.. ya pake Jalan > > > Tol aja.. lalu atur sehingga jalan tol itu memang di-design khusus untuk > > > angkutan barang.. supaya ekonomi lancar.. kan gitu semangat UU nya.. > > > > > > > > > Kalau kendaraan pribadi tidak dibendung.. malah 'diundang' masuk jalan > > > tol.. dengan diskriminasi tarif murah .. dan alternatif tidak diberikan > > > akhirnya yang terjadi adalah cross-congestion. . kendaraan pribadi bikin > > > macet mobilitas barang .. akhirnya bikin ekonomi mampet.. > > > > > > so.. solusinya bukan malah nambah jalan tol mulu.. > > > perlu lebih kreatif mikirnya.. solusi jadul gak bisa dipaksakan untuk > > > menyelesaikan masalah aktual terkini.. > > > sering kali pejabat-2 senior yang dari sejak lulus kuliah tahunya bikin > > > jalan raya.. ya meskipun zaman sudah berubah, mikir nya tetap bikin jalan > > > raya.. akhirnya yang ada over-fitting teori usang.. > > > > > > > > > coba reorientasi secara produktif.. sediakan transportasi massal sehingga > > > masyarakat bisa berperan aktif menanggulangi kemacetan dengan beralih dari > > > kendaraan pribadi ke transportasi massal tersebut.. > > > kalau sekarang kan bisanya berperan pasif.. yaitu stay at home yang > > > marginal effect nya sangat rendah.. > > > > > > selain itu.. ya berperan secara kurang-produktif. . yaitu ngritik .. > > > > > > Salam, > > > -K- > > > > > > à> > > > > > 2010/7/27 abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com> > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > à> > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Setuju pak, .......kalau ..........konsep dasarnya masih teori pasar > > > jangka pendek (kalau posisi penguasaan "stabil", jangka menengah...bahkan > > > bisa hingga beberapa dekade)....àTetapi .......kalau untuk jangka > > > panjang > > > (pembangunan bangsa) mungkin sebaliknya.à> > > > > > Dalam (sustainable) life cycle costing dan (socio-environmenta l) value > > > engineering, bukan initial cost lebih rendah (bagi "pelaku" pasar dan > > > "penentu pasar" yang sedang ber"kuasa") yang penting tetapi pengurangan > > > konsekuensi biaya eksternal dan peluang peningkatan kualitas lingkungan > > > jangka panjang yang menjadi dasar utama....à> > > > > > Termasuk bagaimana kita mengantisipasi the real "Climate Change"....bukan > > > sekadar main angka-angka prosentasià"C trading"à> > > > > > > > > ATA > > > > > > 2010/7/27 Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > à> > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Yth. Pak Suwardjoko > > > à> > > Seingat saya, Triple Decker (TD) itu digagas oleh Mbak Tutut yaitu suatu > > > ElevatedàToll Road dan di bawahnya merupakan jalur KA.àTidak hanya > > > TD, > > > sejak Mbak Tutut dapat konsesi Tol Tanjung Priok - Cawang, beliau antusias > > > sekali ingin ikut andil di bidang transportasi, termasuk ingin > > > mengembangkan Manggarai City. > > > > > > > > > à> > > TD itu dulu àdigagas dng jalur Serpong-Kota (lewat Bintaro). Tapi waktu > > > itu jalan tol Bintaro-Serpong belum ada. Mungkin ada semacan Trafiic > > > Assigment Analysis antara TD dan Tol Bintaro-Serpong. Dan Tol Bintaro - > > > Serpong lebih menguntungkan daripada TD sehingga TD tidak jadi. > > > > > > > > > à> > > Kelemahan TD menurut sayaààkarena 2 hal yang saling bersaing dengan > > > pasar yang sama. Maksud saya, apabila ada jalur KA sejajar dengan jalan > > > tol, maka jalur KA akan mengurangi pasar jalan tol. Padahal yang dapat > > > mengembalikan investasi itu justru arus kendaraan di jalan tol, bukan > > > jalur KA-nya. Jalur KA-nya disubsidi sama yang di atas (jalan tol), tetapi > > > yang di atas (jalan tol) diambil sama yang disubsidi > > > (àjalurààKA).à> > > > > > > > > à> > > Apa begitu ya? > > > à> > > Thanks. CU. BTS. > > > --- Pada Sel, 27/7/10, Irwan Prasetyo <p...@centrin. net.id> menulis: > > > > > > > > > Dari: Irwan Prasetyo <p...@centrin. net.id> > > > Judul: Re: To Cak Andri [referensi] RE: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama > > > Saja > > > > > > > > > Kepada: refere...@yahoogrou ps.com > > > Tanggal: Selasa, 27 Juli, 2010, 1:30 AM > > > > > > > > > à> > > > > > > > > > > > Reply to sender | > > > > > > Reply to group | > > > Reply via web post | > > > Start a New Topic > > > > > > > > > Messages in this topic > > > (71) > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Recent Activity: > > > > > > > > > > > > > > > > > > Visit Your Group > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Komunitas Referensi > > > > > > http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Switch to: Text-Only, Daily Digest ââ¬Â¢ Unsubscribe ââ¬Â¢ Terms of > > > Use > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > . > > > > > >

