FYI,
-K-



http://www.mediaindonesia.com/read/2010/08/02/159380/70/13/Pindahkan-Saja-Ibu-Kota-Negara


Pindahkan Saja Ibu Kota Negara
Senin, 02 Agustus 2010 00:00 WIB      28 Komentar
<http://www.mediaindonesia.com/read/2010/08/02/159380/70/13/Pindahkan-Saja-Ibu-Kota-Negara#komentar>
    2 
<http://www.mediaindonesia.com/read/2010/08/02/159380/70/13/Pindahkan-Saja-Ibu-Kota-Negara#docu>
   3 
<http://www.mediaindonesia.com/read/2010/08/02/159380/70/13/Pindahkan-Saja-Ibu-Kota-Negara#docu>

CETAK<http://www.mediaindonesia.com/cetak/2010/08/02/159380/70/13/Pindahkan-Saja-Ibu-Kota-Negara.html>

KIRIM<http://www.mediaindonesia.com/kirim/2010/08/02/159380/70/13/Pindahkan-Saja-Ibu-Kota-Negara.html>

 
FACEBOOK<http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.mediaindonesia.com/read/2010/08/02/159380/70/13/Pindahkan-Saja-Ibu-Kota-Negara>

Buzz 
up!<http://buzz.yahoo.com/buzz?targetUrl=http%3A%2F%2Fwww.mediaindonesia.com%2Fread%2F2010%2F08%2F02%2F159380%2F70%2F13%2FPindahkan-Saja-Ibu-Kota-Negara>
*ADA* beberapa gelar yang tidak enak untuk Jakarta. Ada yang menyebutnya
sebagai kota stroke, yang pembuluh darahnya menyempit ke otak, bahkan pecah.
Ada yang membahasakannya sebagai usus buntu yang terkena infeksi sehingga
harus disembelih.

Semua sebutan itu menunjukkan betapa sakitnya sudah Jakarta sebagai ibu kota
negara. Penyakitnya tidak tunggal, tetapi komplikasi banyak penyakit.

Jakarta jelas pusat kemacetan. Gelar itu dahulu diberikan kepada Bangkok,
ibu kota Thailand, namun sekarang berpindah dengan mulusnya menjadi gelar
ibu kota negara Republik Indonesia.

Celakanya semua itu terjadi tanpa malu, tanpa rasa bersalah, bahkan dengan
pembiaran.

Tentu saja elite negara tidak merasakannya. Sebab, kalangan ini dapat
melintas dengan lancarnya karena menggusur rakyat dari jalan raya. Oleh
karena itu, mereka tiada terdesak akan perlunya membangun sarana dan
transportasi publik yang murah dan aman buat rakyat.

Jakarta juga krisis air bersih. Umumnya rakyat mengambil air tanah, sebab
negara tak mampu menyediakan air bersih melalui perusahaan air minum.

Jakarta pun diliputi udara yang kotor. Hal ini sangat terasa sebagian akibat
buangan pembakaran kendaraan bermotor yang disemburkan melalui knalpot.

Daftar penyakit itu dapat diperpanjang sehingga sampai pada kesimpulan bahwa
Jakarta tidak layak lagi menjadi ibu kota negara. Ia tidak punya daya dukung
untuk memikul beban ganda yang mana pun. Apakah itu sebagai ibu kota
provinsi dan ibu kota negara, maupun sebagai pusat bisnis dan pusat
pemerintahan negara sekaligus.

Jadi, pindahkanlah ibu kota negara, pusat pemerintahan negara, ke kota lain.
Mengapa ia harus berada di Pulau Jawa? Palangkaraya di Kalimantan atau Palu
di Sulawesi dapat dipertimbangkan.

Bahkan, perlu diambil langkah yang lebih radikal lagi, yaitu
mendistribusikan pusat-pusat kekuasaan negara ke berbagai kota. Jangan
biarkan menumpuk di satu kota saja, yang disebut ibu kota negara.

Mahkamah Agung misalnya ditaruh saja di sebuah kota yang relatif kecil,
sehingga mudah terlihat dan terpantau siapa saja tamu-tamu yang datang
mondar-mandir ke situ. Demikian pula halnya Mahkamah Konstitusi, pindahkan
ke kota kecil lainnya yang sejuk, sehingga hakim konstitusi dapat mengawal
konstitusi dengan jernih. Kiranya dapat dipikirkan Bukittinggi untuk
Mahkamah Agung, dan Batu, Malang, untuk Mahkamah Konstitusi.

Semua itu hanyalah pemancing kreativitas. Menyebut satu atau dua kota
sebagai contoh, hanya hendak menunjukkan betapa luas Tanah Air ini.
Nusantara ini sangat kaya solusi untuk dapat keluar dari siksaan ibu kota
negara yang sakit parah.

Yang jelas, relokasi pusat-pusat kekuasaan itu membawa dampak ikutan yaitu
redistribusi pusat-pusat pertumbuhan. Jakarta cukup menjadi ibu kota
Provinsi DKI dan pusat bisnis, sehingga ia terbebas dari penyakit stroke dan
infeksi usus buntu yang berkepanjangan.



http://www.jurnalnasional.com/show/newspaper?rubrik=Halaman%20Muka&berita=139133&pagecomment=1

Pindahkan Ibu Kota

Jakarta | Mon 02 Aug 2010
by : Iman Syukri

PEMERINTAH Pusat dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) diminta berani mengambil
sikap untuk memindahkan pusat pemerintahan dari Jakarta ke kota lain. Hal
itu lantaran Jakarta sudah kelebihan beban dan tidak mampu lagi menampung
jumlah penduduk yang saat ini mencapai 9,5 juta jiwa.

"Realitasnya, dari sisi tata kota, Jakarta tidak bisa ditata kembali.
Penduduk 9,5 juta jiwa sudah terlalu padat, melampaui daya tampungnya.
Karena itu, eksekutif dan DPR harus berani mengambil langkah untuk
merealisasikan wacana tersebut,” ujar Pengamat Tata Kota Yayat Supriatna
dalam perbincangan dengan *Jurnal Nasional*, Minggu (1/8).

Menurut dia, pemindahan ibu kota pemerintahan telah dilakukan Malaysia, dan
sejumlah negara lain. Malaysia, kata Yayat, menghabiskan Rp57 triliun untuk
memindahkan ibu kota pemerintahan dari Kuala Lumpur ke Putrajaya. Sedangkan
Indonesia bisa menghabiskan sekitar Rp25 triliun-Rp30 triliun. Namun, biaya
itu lebih kecil dibanding kerugian yang akan ditimbulkan oleh kelumpuhan
akibat kemacetan serta pencemaran.

Menurut Yayat, yang terjadi di Jakarta saat ini adalah kegagalan sistem
manajemen dalam pembangunan kota. Karena itu, yang dilakukan warga Jakarta
saat ini bukan mengatasi masalah, tetapi "menyesuaikan diri dengan masalah
yang ada". Kegagalan menata kota terjadi karena adanya tumpang tindih antara
berbagai fungsi Kota Jakarta, baik sebagai kota pemerintahan maupun sebagai
pusat bisnis dan perdagangan.

Selain itu, adanya tumpang tindih antara Jakarta sebagai Ibu Kota Negara
dengan Ibu Kota Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta. Namun,
penyebab paling utama dari kegagalan tersebut, katanya, karena pemerintah
dan elite politik tidak memiliki visi.

"Kita tidak memiliki visi bagaimana membangun Jakarta, Ibu Kota Negara ini,
20 atau 30 tahun ke depan," ujarnya.

Seperti diketahui, berbagai media dan pengamat ramai mewacanakan pemindahan
ibu kota pemerintahan dari Jakarta ke kota lain. Antara lain ke
Palangkaraya, Kalimantan Tengah dan Jonggol, Jawa Barat. Yayat mengatakan,
ibu kota pemerintahan baru sebaiknya tidak jauh dari Jakarta dan berada di
Pulau Jawa.

"Dari segi geostrategis dan geopolitis, Jawa itu menampung 70 persen
penduduk Indonesia. Karena itu, sebaiknya ibu kota pemerintahan di Pulau
Jawa," ujarnya.

Untuk merealisasikan hal itu, kata Yayat, pemerintah bisa melakukan langkah
sistematis tiap lima tahunan. Menurutnya, penataan sebuah kota pemerintahan
baru akan memakan waktu selama 20 sampai 30 tahun. "Karena itu, kita
membaginya dalam lima tahapan, yang masing-masingnya lima tahun," ujarnya.

*Tiga Skenario*

Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan dan Otonomi Daerah, Velix Wanggai
setuju mengenai wacana pemindahan ibu kota negara. Dia mengatakan,
pemindahan ibu kota harus jadi pertimbangan pemerintah ke depan.

"Saya pikir kami sebagai pemerintah harus berpikir ke depan, (berpikir)
jangka panjang 20 hingga 30 tahun (mendatang). Kami melihat internal
pemerintah, khususnya Bappenas, PU terutama Ditjen Tata Ruang sudah berpikir
itu," kata Velix Minggu (1/8) di halaman Monumen Nasional.

Menurut dia, ada beberapa skenario jika dilakukan perpindahan ibu kota
negara. "Skenario pertama adalah (ibu kota negara) itu tetap di Jakarta,
dalam waktu yang bersamaan dilakukan pembenahan," kata Velix.

Pembenahan tersebut, kata Velix, antara lain pembenahan sistem transportasi,
perbaikan dampak ekologi, strategi desentralisasi fiskal dan perubahan
wilayah yang merata ke seluruh Indonesia. "Itu strategi skenario pertama
yang realistis," kata Velix.

Skenario kedua, kata Velix, lebih bersifat moderat, kala perpindahan ibu
kota Indonesia yang masih berada di sekitar wilayah Jakarta. "Misalnya kita
bisa pilihlah beberapa opsi-opsi, ke Jonggol, Banten atau ke Jawa Barat. Ada
wacana ke Purwokerto, Magelang, Yogyakarta. Itu opsi-opsi kota-kota skenario
kedua, tetap di pulau Jawa," ujar Velix.

Menurut dia, skenario terakhir adalah skenario yang ideal sekaligus radikal.
"Langsung memindahkan (ibu kota) ke luar pulau Jawa dengan opsi-opsi bisa di
Palangkaraya, Palembang, Makassar, ataukah Papua," kata Velix.

Hingga saat ini, semua skenario tersebut masih sebagai wacana. Namun, tetap
harus dipikirkan kemungkinan direalisasikannya wacana tersebut. "Saya pikir
kami sebagai pemerintah harus berpikir ke depan, (berpikir) jangka panjang
20-30 tahun (mendatang)," kata Velix.

Menurut dia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganggap wacana tersebut
tidak tabu untuk dibicarakan. "Presiden memahami ada gagasan-gagasan
terhadap perpindahan ibu kota (negara). Presiden melihat (wacana) ini
(sebagai) sesuatu yang wajar dalam proses menata pengelolaan pemerintah
Indonesia," kata Velix di halaman Monumen Nasional, Jakarta, Minggu (1/8).

Mengutip pernyataan Presiden, Velix menjelaskan, gagasan tersebut muncul
dari berbagai sisi. Pertama, dari sisi historis, gagasan perpindahan ibu
kota negara ini pernah dimunculkan sebelumnya. "(Dulu) Presiden Soekarno
juga telah mengungkapkan (gagasan perpindahan ibu kota negara) itu. Ada
semacam gagasan, Palangkaraya menjadi ibukota, itu menurut Presiden
Soekarno," ujar Velix.

Kedua, pengalaman Indonesia sebelumnya saat pernah terjadi perpindahan pusat
pemerintahan sementara ke Yogyakarta dan Padang. "Jadi, wacana perpindahan
ibu kota bukan sebuah hal yang tabu untuk dibicarakan," ujar Velix.

Namun, kata dia, masyarakat harus membedakan antara ibu kota dan pusat
pemerintah. "Ibu kota bisa saja di Jakarta. Namun pusat pemerintahan bisa
saja beralih dari waktu ke waktu," kata Velix.

Menurut dia, dari sisi daya dukung Kota Jakarta, banyak yang harus dijadikan
pertimbangan. "Dengan persoalan-persoalan Jakarta, apakah persoalan
kemacetan, persoalan dampak ekologi, persoalan transportasi, persoalan beban
kota, tingkat urbanisasi yang tinggi, dan konteks potensi bencana kota
Jakarta," kata Velix.

*Model China*

Pengamat perkotaan Wicaksono Sarosa mengatakan, pemindahan ibu kota tidak
efektif. Selain memakan dana yang luar biasa besar, juga membutuhkan waktu
yang lama. "Bangun ibu kota rata-rata membutuhkan waktu 20 tahun, kecuali
Malaysia," ujarnya kepada *Jurnal Nasional*, Minggu (1/8).

Karena itu, dia mengusulkan Indonesia mengadopsi model China. Negara itu
tidak memindahkan ibu kota negara, tetapi membangun pusat industri baru.
China tidak memindahkan industri dari Beijing, tetapi memberi insentif bagi
munculnya industri baru di tempat lain.

"Harus *all out* seperti yang dilakukan China. Mereka tidak memindahkan ibu
kotanya tetapi membangun pusat-pusat perkotaan baru secara *all out*.
Kombinasi infrastruktur dan insentif perpajakan. Tapi jangan
setengah-setengah seperti yang selama ini kita lakukan," ujarnya.

Alhasil, sebelum kebijakan itu diambil, Beijing dan Shanghai mendominasi
pertumbuhan ekonomi di China sementara kota lainnya tertinggal. Tapi setelah
kebijakan itu diambil, kota-kota seperti Shenzhen dan Guangshou muncul
sebagai pusat kota yang baik.

Menurut Wicaksono, Indonesia dapat meniru kesuksesan China. Syaratnya,
pemerintah Indonesia konsisten membangun kota besar baru yang memiliki daya
saing internasional. Kota tersebut di antaranya adalah Medan, Makassar,
Manado, dan Surabaya.

Ketua DPR Marzuki Alie dan pemimpin Komisi II Chairuman Harahap dan Ganjar
Pranowo mendukung gagasan pemindahan ibu kota negara ke Palangkaraya,
Kalimantan Tengah. Ide pemindahan ibu kota ke Palangkaraya pun bukan barang
baru, karena gagasan ini pertama kali dilontarkan oleh Presiden Soekarno.

"Kalimantan Tengah itu (secara geografis) berada di tengah Nusantara. Dengan
demikian, pembangunan bisa menyebar dari tengah ke timur, dan dari barat ke
tengah," kata Marzuki akhir pekan lalu.

Dia mengaku sudah lama mendukung ide pemindahan ibu kota dari Jakarta.
"Biarkan saja Jakarta menjadi kota bisnis," kata Marzuki.

Menurut dia, inefisiensi Jakarta sangat luar biasa karena kemacetan dan
keruwetan tata kotanya. "Waktu pun terbuang di jalan," kata dia.

Fraksi Partai Amanat Nasional (FPAN) bahkan akan berinisiatif menyusun
naskah akademik Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemindahan Ibu Kota.
Rencananya, RUU itu akan diajukan sebagai hak inisiatif DPR. n *Fransiskus
Saverius Herdiman/Roswita Oktavianti*

Kirim email ke