Sudah begitu banyak atribut negatif diberikan kepada Ibu Kota Negara yang 
namanya Jakarta  Raya ini. Jakarta jorok, Jakarta macet parah, kota stroke, 
kota yang sakit, ....pokoknya tak ada habisnya citra negatif untuk Jakarta Raya.
 
Anehnya... yang olok-olok itu nggak mau pindah dari kota Jakarta Raya ini. 
Hidupnya juga bergantung pada kota yang brengsek ini.
 
Ada yang usul ibu kota negara ini pindah saja, kalaiu bisa ke Luar Jawa. 
Seandainya jadi pindah, apakah pengusul...atau yang setuju ibu kota negara ini 
pindah  juga mau pindah?
 
Thanks. CU. BTS.

--- Pada Sel, 3/8/10, Harya Setyaka <[email protected]> menulis:


Dari: Harya Setyaka <[email protected]>
Judul: [referensi] Pindahkan Saja Ibu Kota Negara
Kepada: [email protected]
Tanggal: Selasa, 3 Agustus, 2010, 4:23 AM


  






FYI,
-K-








http://www.mediaind onesia.com/ read/2010/ 08/02/159380/ 70/13/Pindahkan- 
Saja-Ibu- Kota-Negara





Pindahkan Saja Ibu Kota Negara
Senin, 02 Agustus 2010 00:00 WIB      28 Komentar     2    3 

CETAK
KIRIM
 FACEBOOK
Buzz up!
ADA beberapa gelar yang tidak enak untuk Jakarta. Ada yang menyebutnya sebagai 
kota stroke, yang pembuluh darahnya menyempit ke otak, bahkan pecah. Ada yang 
membahasakannya sebagai usus buntu yang terkena infeksi sehingga harus 
disembelih. 

Semua sebutan itu menunjukkan betapa sakitnya sudah Jakarta sebagai ibu kota 
negara. Penyakitnya tidak tunggal, tetapi komplikasi banyak penyakit. 

Jakarta jelas pusat kemacetan. Gelar itu dahulu diberikan kepada Bangkok, ibu 
kota Thailand, namun sekarang berpindah dengan mulusnya menjadi gelar ibu kota 
negara Republik Indonesia. 

Celakanya semua itu terjadi tanpa malu, tanpa rasa bersalah, bahkan dengan 
pembiaran. 

Tentu saja elite negara tidak merasakannya. Sebab, kalangan ini dapat melintas 
dengan lancarnya karena menggusur rakyat dari jalan raya. Oleh karena itu, 
mereka tiada terdesak akan perlunya membangun sarana dan transportasi publik 
yang murah dan aman buat rakyat. 

Jakarta juga krisis air bersih. Umumnya rakyat mengambil air tanah, sebab 
negara tak mampu menyediakan air bersih melalui perusahaan air minum. 

Jakarta pun diliputi udara yang kotor. Hal ini sangat terasa sebagian akibat 
buangan pembakaran kendaraan bermotor yang disemburkan melalui knalpot. 

Daftar penyakit itu dapat diperpanjang sehingga sampai pada kesimpulan bahwa 
Jakarta tidak layak lagi menjadi ibu kota negara. Ia tidak punya daya dukung 
untuk memikul beban ganda yang mana pun. Apakah itu sebagai ibu kota provinsi 
dan ibu kota negara, maupun sebagai pusat bisnis dan pusat pemerintahan negara 
sekaligus. 

Jadi, pindahkanlah ibu kota negara, pusat pemerintahan negara, ke kota lain. 
Mengapa ia harus berada di Pulau Jawa? Palangkaraya di Kalimantan atau Palu di 
Sulawesi dapat dipertimbangkan. 

Bahkan, perlu diambil langkah yang lebih radikal lagi, yaitu mendistribusikan 
pusat-pusat kekuasaan negara ke berbagai kota. Jangan biarkan menumpuk di satu 
kota saja, yang disebut ibu kota negara. 

Mahkamah Agung misalnya ditaruh saja di sebuah kota yang relatif kecil, 
sehingga mudah terlihat dan terpantau siapa saja tamu-tamu yang datang 
mondar-mandir ke situ. Demikian pula halnya Mahkamah Konstitusi, pindahkan ke 
kota kecil lainnya yang sejuk, sehingga hakim konstitusi dapat mengawal 
konstitusi dengan jernih. Kiranya dapat dipikirkan Bukittinggi untuk Mahkamah 
Agung, dan Batu, Malang, untuk Mahkamah Konstitusi. 

Semua itu hanyalah pemancing kreativitas. Menyebut satu atau dua kota sebagai 
contoh, hanya hendak menunjukkan betapa luas Tanah Air ini. Nusantara ini 
sangat kaya solusi untuk dapat keluar dari siksaan ibu kota negara yang sakit 
parah. 

Yang jelas, relokasi pusat-pusat kekuasaan itu membawa dampak ikutan yaitu 
redistribusi pusat-pusat pertumbuhan. Jakarta cukup menjadi ibu kota Provinsi 
DKI dan pusat bisnis, sehingga ia terbebas dari penyakit stroke dan infeksi 
usus buntu yang berkepanjangan.






http://www.jurnalna sional.com/ show/newspaper? rubrik=Halaman% 
20Muka&berita=139133&pagecomment= 1


Pindahkan Ibu Kota

Jakarta | Mon 02 Aug 2010
by : Iman Syukri

PEMERINTAH Pusat dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) diminta berani mengambil 
sikap untuk memindahkan pusat pemerintahan dari Jakarta ke kota lain. Hal itu 
lantaran Jakarta sudah kelebihan beban dan tidak mampu lagi menampung jumlah 
penduduk yang saat ini mencapai 9,5 juta jiwa.
"Realitasnya, dari sisi tata kota, Jakarta tidak bisa ditata kembali. Penduduk 
9,5 juta jiwa sudah terlalu padat, melampaui daya tampungnya. Karena itu, 
eksekutif dan DPR harus berani mengambil langkah untuk merealisasikan wacana 
tersebut,” ujar Pengamat Tata Kota Yayat Supriatna dalam perbincangan 
dengan Jurnal Nasional, Minggu (1/8).
Menurut dia, pemindahan ibu kota pemerintahan telah dilakukan Malaysia, dan 
sejumlah negara lain. Malaysia, kata Yayat, menghabiskan Rp57 triliun untuk 
memindahkan ibu kota pemerintahan dari Kuala Lumpur ke Putrajaya. Sedangkan 
Indonesia bisa menghabiskan sekitar Rp25 triliun-Rp30 triliun. Namun, biaya itu 
lebih kecil dibanding kerugian yang akan ditimbulkan oleh kelumpuhan akibat 
kemacetan serta pencemaran.
Menurut Yayat, yang terjadi di Jakarta saat ini adalah kegagalan sistem 
manajemen dalam pembangunan kota. Karena itu, yang dilakukan warga Jakarta saat 
ini bukan mengatasi masalah, tetapi "menyesuaikan diri dengan masalah yang 
ada". Kegagalan menata kota terjadi karena adanya tumpang tindih antara 
berbagai fungsi Kota Jakarta, baik sebagai kota pemerintahan maupun sebagai 
pusat bisnis dan perdagangan.
Selain itu, adanya tumpang tindih antara Jakarta sebagai Ibu Kota Negara dengan 
Ibu Kota Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta. Namun, penyebab paling 
utama dari kegagalan tersebut, katanya, karena pemerintah dan elite politik 
tidak memiliki visi.
"Kita tidak memiliki visi bagaimana membangun Jakarta, Ibu Kota Negara ini, 20 
atau 30 tahun ke depan," ujarnya.
Seperti diketahui, berbagai media dan pengamat ramai mewacanakan pemindahan ibu 
kota pemerintahan dari Jakarta ke kota lain. Antara lain ke Palangkaraya, 
Kalimantan Tengah dan Jonggol, Jawa Barat. Yayat mengatakan, ibu kota 
pemerintahan baru sebaiknya tidak jauh dari Jakarta dan berada di Pulau Jawa.
"Dari segi geostrategis dan geopolitis, Jawa itu menampung 70 persen penduduk 
Indonesia. Karena itu, sebaiknya ibu kota pemerintahan di Pulau Jawa," ujarnya.
Untuk merealisasikan hal itu, kata Yayat, pemerintah bisa melakukan langkah 
sistematis tiap lima tahunan. Menurutnya, penataan sebuah kota pemerintahan 
baru akan memakan waktu selama 20 sampai 30 tahun. "Karena itu, kita membaginya 
dalam lima tahapan, yang masing-masingnya lima tahun," ujarnya.
Tiga Skenario
Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan dan Otonomi Daerah, Velix Wanggai 
setuju mengenai wacana pemindahan ibu kota negara. Dia mengatakan, pemindahan 
ibu kota harus jadi pertimbangan pemerintah ke depan.
"Saya pikir kami sebagai pemerintah harus berpikir ke depan, (berpikir) jangka 
panjang 20 hingga 30 tahun (mendatang). Kami melihat internal pemerintah, 
khususnya Bappenas, PU terutama Ditjen Tata Ruang sudah berpikir itu," kata 
Velix Minggu (1/8) di halaman Monumen Nasional.
Menurut dia, ada beberapa skenario jika dilakukan perpindahan ibu kota negara. 
"Skenario pertama adalah (ibu kota negara) itu tetap di Jakarta, dalam waktu 
yang bersamaan dilakukan pembenahan," kata Velix.
Pembenahan tersebut, kata Velix, antara lain pembenahan sistem transportasi, 
perbaikan dampak ekologi, strategi desentralisasi fiskal dan perubahan wilayah 
yang merata ke seluruh Indonesia. "Itu strategi skenario pertama yang 
realistis," kata Velix.
Skenario kedua, kata Velix, lebih bersifat moderat, kala perpindahan ibu kota 
Indonesia yang masih berada di sekitar wilayah Jakarta. "Misalnya kita bisa 
pilihlah beberapa opsi-opsi, ke Jonggol, Banten atau ke Jawa Barat. Ada wacana 
ke Purwokerto, Magelang, Yogyakarta. Itu opsi-opsi kota-kota skenario kedua, 
tetap di pulau Jawa," ujar Velix.
Menurut dia, skenario terakhir adalah skenario yang ideal sekaligus radikal. 
"Langsung memindahkan (ibu kota) ke luar pulau Jawa dengan opsi-opsi bisa di 
Palangkaraya, Palembang, Makassar, ataukah Papua," kata Velix.
Hingga saat ini, semua skenario tersebut masih sebagai wacana. Namun, tetap 
harus dipikirkan kemungkinan direalisasikannya wacana tersebut. "Saya pikir 
kami sebagai pemerintah harus berpikir ke depan, (berpikir) jangka panjang 
20-30 tahun (mendatang)," kata Velix.
Menurut dia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganggap wacana tersebut tidak 
tabu untuk dibicarakan. "Presiden memahami ada gagasan-gagasan terhadap 
perpindahan ibu kota (negara). Presiden melihat (wacana) ini (sebagai) sesuatu 
yang wajar dalam proses menata pengelolaan pemerintah Indonesia," kata Velix di 
halaman Monumen Nasional, Jakarta, Minggu (1/8).
Mengutip pernyataan Presiden, Velix menjelaskan, gagasan tersebut muncul dari 
berbagai sisi. Pertama, dari sisi historis, gagasan perpindahan ibu kota negara 
ini pernah dimunculkan sebelumnya. "(Dulu) Presiden Soekarno juga telah 
mengungkapkan (gagasan perpindahan ibu kota negara) itu. Ada semacam gagasan, 
Palangkaraya menjadi ibukota, itu menurut Presiden Soekarno," ujar Velix.
Kedua, pengalaman Indonesia sebelumnya saat pernah terjadi perpindahan pusat 
pemerintahan sementara ke Yogyakarta dan Padang. "Jadi, wacana perpindahan ibu 
kota bukan sebuah hal yang tabu untuk dibicarakan," ujar Velix.
Namun, kata dia, masyarakat harus membedakan antara ibu kota dan pusat 
pemerintah. "Ibu kota bisa saja di Jakarta. Namun pusat pemerintahan bisa saja 
beralih dari waktu ke waktu," kata Velix.
Menurut dia, dari sisi daya dukung Kota Jakarta, banyak yang harus dijadikan 
pertimbangan. "Dengan persoalan-persoalan Jakarta, apakah persoalan kemacetan, 
persoalan dampak ekologi, persoalan transportasi, persoalan beban kota, tingkat 
urbanisasi yang tinggi, dan konteks potensi bencana kota Jakarta," kata Velix.
Model China
Pengamat perkotaan Wicaksono Sarosa mengatakan, pemindahan ibu kota tidak 
efektif. Selain memakan dana yang luar biasa besar, juga membutuhkan waktu yang 
lama. "Bangun ibu kota rata-rata membutuhkan waktu 20 tahun, kecuali Malaysia," 
ujarnya kepada Jurnal Nasional, Minggu (1/8).
Karena itu, dia mengusulkan Indonesia mengadopsi model China. Negara itu tidak 
memindahkan ibu kota negara, tetapi membangun pusat industri baru. China tidak 
memindahkan industri dari Beijing, tetapi memberi insentif bagi munculnya 
industri baru di tempat lain.
"Harus all out seperti yang dilakukan China. Mereka tidak memindahkan ibu 
kotanya tetapi membangun pusat-pusat perkotaan baru secara all out. Kombinasi 
infrastruktur dan insentif perpajakan. Tapi jangan setengah-setengah seperti 
yang selama ini kita lakukan," ujarnya.
Alhasil, sebelum kebijakan itu diambil, Beijing dan Shanghai mendominasi 
pertumbuhan ekonomi di China sementara kota lainnya tertinggal. Tapi setelah 
kebijakan itu diambil, kota-kota seperti Shenzhen dan Guangshou muncul sebagai 
pusat kota yang baik.
Menurut Wicaksono, Indonesia dapat meniru kesuksesan China. Syaratnya, 
pemerintah Indonesia konsisten membangun kota besar baru yang memiliki daya 
saing internasional. Kota tersebut di antaranya adalah Medan, Makassar, Manado, 
dan Surabaya.
Ketua DPR Marzuki Alie dan pemimpin Komisi II Chairuman Harahap dan Ganjar 
Pranowo mendukung gagasan pemindahan ibu kota negara ke Palangkaraya, 
Kalimantan Tengah. Ide pemindahan ibu kota ke Palangkaraya pun bukan barang 
baru, karena gagasan ini pertama kali dilontarkan oleh Presiden Soekarno.

"Kalimantan Tengah itu (secara geografis) berada di tengah Nusantara. Dengan 
demikian, pembangunan bisa menyebar dari tengah ke timur, dan dari barat ke 
tengah," kata Marzuki akhir pekan lalu.

Dia mengaku sudah lama mendukung ide pemindahan ibu kota dari Jakarta. "Biarkan 
saja Jakarta menjadi kota bisnis," kata Marzuki.
Menurut dia, inefisiensi Jakarta sangat luar biasa karena kemacetan dan 
keruwetan tata kotanya. "Waktu pun terbuang di jalan," kata dia.
Fraksi Partai Amanat Nasional (FPAN) bahkan akan berinisiatif menyusun naskah 
akademik Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemindahan Ibu Kota. Rencananya, RUU itu 
akan diajukan sebagai hak inisiatif DPR. n Fransiskus Saverius Herdiman/Roswita 
Oktavianti








Kirim email ke