Pak Efha dan rekans ysh, Soal lokasi mestinya ya pakai teori lokasi. Tangkap berbagai usulan lokasi, lalu bandingkan dengan kriteria teori lokasi.
Yang menarik bagi saya, anggaran tentu terbatas. Para pembangun tentu senang, tapi otoritas keuangan akan mengerutkan dahi. Manalagi program pembangunan prasanana di berbagai daerah kian mendesak, dan pelayanan dasar serta pengentasan kemiskinan masih menuntut. Pendek kata, akan ada pertanyaan: untuk efisiensi, siapa saja yang akan dibawa pindah ke ibukota baru? Seluruh kementerian dan lembaga tinggi negara sampai karyawan terendah? Atau selektif? Disini akan timbul fenomena menarik untuk mendefinisikan Pusat Pemerintahan, dalam era desentralisasi/ otoda. Dimana Pusat lebih pada fungsi Turbinwas, dan bukan eksekutor utama. Mudahnya, tentu ada fungsi dan level yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kerja pada menteri. Tapi ada juga fungsi dan level yang tak harus selalu dekat secara fisik dengan menterinya. Seperti sekarang Puslitbang yang bisa berlokasi di Bandung. Mungkin fungsi-fungsi lain dari berbagai kementerian dan lembaga bisa disebar ke kota-kota lain, dan sebagian bisa tetap di Jakarta. Atau didesentralisasi lagi sebagian fungsinya ke provinsi. Dengan demikian maka Ibukota baru nanti, tidak berarti penampung seluruh unit dan personil pemerintahan yang saat ini ada di Jakarta. Jadi pemindahan Ibukota secara tak langsung bisa mempertajam lagi apa artinya Pusat Pemerintahan. Apakah begitu? Salam, Risfan Munir Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Tue, 3 Aug 2010 22:10:47 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re : [referensi] Ibukota Kalau diputuskan sekarang untuk pindah ibukota di sekitar 5 hingga 10 tahun lagi baru pindah (misal akan efektif pindah sejak 1 Januari 2020), mungkin akan mengurangi resistensi dari para pengambil keputusan (selain memberi waktu yg cukup untuk membangun sang lokasi baru, menyiapkan infrastruktur lokal dan regionalnya, serta menyiapkan masyarakat setempat untuk menerima para "pendatang" baru... Tentang alternatif lokasi, saya yakin diperlukan studi yang lebih dalam... Namun, lokasi di bagian tengah dari koridor timur sumatera juga perlu dipikirkan selain alernatif Palangkaraya atau bagian selatan Kalimantan Tengah (Kuala Pembuang...?) yang juga pernah muncul di salah satu berita... Salam, Fadjar --- En date de : Mar 3.8.10, Veronica Kumurur <[email protected]> a écrit : De: Veronica Kumurur <[email protected]> Objet: [referensi] Ibukota À: [email protected] Date: Mardi 3 août 2010, 18h19 Setuju, ibukota dipindahkan ke luar P. Jawa. Dibutuhkan keberanian & kerelaan saja bagi para petinggi Indonesia utk memindahkan ibukota. Dan hrs dilakukan saat ini, paling tidak kajiannya. Memindahkan ibukota = mengurangi kegiatan di kota Jakarta.

