Kalo produksi tambang ilegal = produksi tambang timah dan untuk menjaga harga pasaran timah di luar negeri stabil, apa mungkin PT. timah menghentikan produksi tambang timah di laut yg biaya produksinya besar. Atau kalo itu tambang timah ilegal, kok bisa tetap ada ? stop aja.
_____ From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of redyherinantoalb Sent: 13 Desember 2006 23:56 To: [email protected] Subject: [saham] Re: TINS suprise level Rp. 7.950 Pak Andrew, Ada sedikit pertanyaan.... data produksi tambang illegal sebesar 10.000 ton/Q itu dari mana?... berarti annualized nya total produksi TINS seimbang dengan produksi tambang illegal dong (40.000ton).... terus harga beli dari tambang liar adalah dalam bentuk pasir Timah... tentu sesudah di smelter hasil timahnya tidak 100% dong... pasti ada residu.... bagaimana dengan peranan PT Koba Tin disini, dia juga pasti berusaha beli dari tambang illegal.... Berita terakhir dari e-bursa.... Senin, 11 Desember 2006, 10:28:00 Pemutusan kontrak karya PT Koba Tin di Bangka-Belitung (Babel) ada di tangan presiden karena dibuat atas nama kepala negara, karena itu Departemen ESDM tidak akan merekomendasi. PT. Koba Tin 75% dimiliki oleh Malaysia Smelting Corp. Bhd. Dan 25% dimiliki oleh PT. Timah. Kasus ini bermula dari surat Kapolri B/2587/XI/2006 tertanggal 15 November 2006 tentang Penambangan timah dan perdagangan timah ilegal di Bangka-Belitung kepada lima menteri, yaitu Menneg BUMN, Menneg Lingkungan Hidup, Menperin, Mendag, dan Menteri ESDM. Dalam surat tersebut, Kapolri meminta agar kontrak karya antara pemerintah dan Koba Tin diputus. Dalam surat itu, Kapolri meminta pembatalan kontrak karya Koba Tin karena kontrak itu sudah habis dan Koba Tin diduga dalang kemelut pertimahan di Babel. Kapolri juga menyebutkan perlunya pencabutan persetujuan pemerintah yang memperbolehkan Koba Tin menerima biji timah hasil pertambangan timah inkonvensional (TI) ilegal. pemerintah tidak membenarkan perusahaan tambang-PT Timah maupun PT Koba Tin-menampung timah dari penambang ilegal dan penambang ilegal bukan TI. Tambang terbaru yang ditemukan TINS hanya 9rb an ton (dr e-bursa juga).... menurut saya kecil banget.... CMIIW, kayaknya ada yang mau dump besar2an neh.... Warm Regards, Redy --- In [EMAIL PROTECTED] <mailto:saham%40yahoogroups.com> com, "frezzz_05" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Saya setuju sekali dengan pandapat pak sationandrew kalau laba tins > akan meningkat pesat. Kampung halaman saya di Bangka, saya tau betul > saat ini PT. timah melakukan monopoli. Semua pedagang pengumpul saat > ini menjual timahnya pada PT timah dengan harga murah.Jadi mungkin > saja tins bisa mencapai 7950. Kita tunggu saja ! Waktu yang akan > membuktikan. MENYESAL adalah kata terlambat.Beranikah mencoba? > > > > > > --- In [EMAIL PROTECTED] <mailto:saham%40yahoogroups.com> com, "stationandrew" <stationandrew@> wrote: > > > > Dibawah ini saya membuat riset sederhana PT. Timah Tbk. berdasarkan > > survey dan penelitian bersama para praktisi tambang timah di Prov. > > Bangka Belitung (harus membaca menyeluruh, jangan sepotong- potong). > > > > Total produksi timah selama tahun 2005 = 42.000 ton > > Total produksi s/d Sept'2006 (Lap. Keu 3Q'06) = 30.000 ton > > Estimasi produksi selama th'2006 (Direksi) = 40.000 ton > > Estimasi produksi tahun 2007 (Direksi) = 45.000 ton. > > > > kontribusi pendapatan perseroan +/- 98% dari tambang timah, sehingga > > bisnis lain diperseroan tidak signifikan terhadap kinerja perseroan. > > > > Perlu saudara ketahui beberapa bulan yang lalu saat ilegal mining > > masih belum ditertibkan dan harga on the spot (LME) berada di USD > > 8500 per ton, PT. Timah menerima hasil tambang dari para kontraktor > > kontrak karya sebesar Rp 67.000,- per kg. (pasir timah) harga yang > > sama seperti perusahaan pedagang timah yang lain (semacam tengkulak > > yang mendapat izin dari pemerintah daerah ataupun penyelundup yang > > tidak mengantungi izin), pihak non PT. Timah berani membeli dgn harga > > Rp 67ribu sudah tentu menghitung keuntungan mereka sendiri sehingga > > harga 67ribu ketika harga LME di USD 8500 per ton dapat dikatakan > > harga wajar. > > > > Saat ini PT. Timah membeli dari masyarakat dan kontraktor kontrak > > karya sebesar Rp57.000/kg ketika harga di LME sdh mencapai USD 10.600- > > an per ton, yang seharusnya harga beli PT. Timah harus diatas > > Rp67.000 namun perseroan hanya membayar Rp57.000/kg. Selisih Rp > > 10.000/kg tersebut bila kita menghitung jumlah produksi perseroan, > > PT. Timah akan mendapat keuntungan tambahan (khusus 4Q'06/1 kwartal) > > sebesar Rp.10.000 x 10.000 ton x 1.000 (1ton=1000 kg) = Rp 100 milyar > > atau sebesar Rp 199 per kwartal per saham (total saham 503 juta > > lembar). Bila operasional 4Q'06 akan berlanjut tahun 2007 ke depan > > maka pendapatan bersih perusahaan (dg. menggunakan data 2006) > > perseroan akan mendapat tambahan keuntungan dari selisih harga > > sebesar 40ribu ton x Rp 10ribu x 1000 = Rp 400 milyar atau Rp 795 per > > saham per tahun. Bila harga TINS di BEJ sebesar Rp 2.525 maka P/E > > akan sebesar 3,18X padahal kita tau rata-2 P/E saham pertambangan di > > BEJ sdh diatas 10x. maka jangan kaget bila harga wajar TINS dapat > > mencapat Rp 7.950 per saham. > > > > Hingga saat ini kegiatan ilegal mining di Prov. Bangka Belitung terus > > ditertibkan dan sepertinya akan terus berlanjut, sdg harga timah di > > pasar dunia rasanya sulit turun bahkan ada kecendrungan terus > > meningkat. > > > > Harga timah saat ini di LME USD 10.600-an per ton sdg saya > > menggunakan patokan harga USD 8500, sengaja saya menyediakan cadangan > > sebesar USD 2100 per ton atau sebesar Rp 18.900.000 per ton (Kurs > > 1USD=Rp9000). Cadangan tsb saya sediakan untuk kemungkinan PT. Timah > > menaikan harga beli dari kontraktor kontrak karya hingga Rp 5 juta > > per ton ataupun naik-turunnya harga dan perbedaan harga on the spot > > LME dgn harga riil. > > > > Cadangan timah saat ini di Pulau Bangka memang tidak sebanyak 10 thn > > lalu namun cadangan di Pulau Belitung masih tidak akan habis 20 thn > > ke depan. Saat ini kegiatan penambangan di Pulau Bangka memasuki fase > > tahap 2 (dibawah muka tanah datar), rata-2 kedalaman tambang di > > P.bangka mencapai 50-100 m, namun kedalaman ini dapat diteruskan > > hingga 300 meter seperti kegiatan penambangan di IPOH, malaysia yang > > kedalaman tambang sdh diatas 300-an meter (saat ini tambang di IPO > > sdh tidak operasi lagi, kebanyakan tambang di Malaysia sdh pindah ke > > laut yg biaya operasinya cukup tinggi). > > > > Memang ada yang mengatakan hitungan gila, tetapi saya berkeyakinan > > sekali kinerja akan sebaik spt yg saya analisis diatas, hanya waktu > > yang akan menunjukan kepada saudara, MENYESAL adalah kata terlambat. > > Beranikah mencoba? > > >
