Regulasi Komisi Eropa Rugikan Biodiesel CPO

Jumat, 1 Februari 2008 | 07:45 WIB 
Jakarta, Kompas - Pemerintah Indonesia diminta segera melobi Komisi
Eropa, agar tidak mengesahkan regulasi tentang bahan baku biodiesel.
Sebab regulasi itu sangat diskriminatif, dan merugikan industri minyak
sawit mentah. Ketentuan yang ditetapkan dalam regulasi itu sulit
dipenuhi produsen minyak sawit mentah (CPO).

”Dari parameter itu mereka menerapkan kriteria yang sulit, sehingga
biodiesel berbahan baku CPO Indonesia tidak bisa memenuhi syarat
mendapatkan insentif di pasar Eropa,” kata Sekretaris Jenderal Asosiasi
Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan di Bogor, Kamis
(31/1).

Aprobi tidak bisa menerima ketentuan yang diskriminatif itu, sebab
melanggar ketentuan Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade
Organization/WTO).

Hal itu telah disampaikan ke pemerintah RI. Bahkan, pemerintah melalui
Duta Besar RI di Brusel Belgia telah menerima salinan draf ilmiah yang
akan dipakai untuk menentukan kriteria tentang biodiesel. Pemerintah dan
pemangku kepentingan juag telah membahasnya di Jakarta, Jumat (25/1).

Hasilnya, draf tersebut mengandung poin-poin yang mendiskriminasi
biodiesel berbahan baku CPO. Paulus mencontohkan, kewajiban menghitung
emisi karbon sejak pembukaan kebun kelapa sawit hingga CPO diproduksi
menjadi biodiesel.

Untuk itu, kata Paulus, Indonesia meminta dibuat kajian ilmiah sebelum
memutuskan biodiesel CPO tidak layak mendapatkan insentif di pasar
Eropa. Tanpa insentif, biodiesel CPO akan kalah bersaing dengan
biodiesel yang dibuat dari minyak lobak dan bunga matahari, karena
harganya lebih mahal.

Tahun 2007 Indonesia mengekspor 500.000 ton biodiesel. Pasar ekspor
terbesar adalah Eropa, disusul AS. Dalam seminar tahunan Masyarakat
Perkelapa-sawitan Indonesia (MAKSI) dan Southeast Asian Food Science and
Technology (SEAFAST) Center Institut Pertanian Bogor, yang dihadiri
pemerintah dan pemangku kepentingan kelapa sawit, Paulus menyatakan,”
Kita butuh kajian ilmiah yang bisa menjawab, biodiesel CPO dan minyak
lobak sama kualitasnya. Namun, produksi dari CPO lebih murah, sehingga
berdaya saing tinggi.”

Senada dengan Paulus, Ketua Bidang Penelitian, Pengembangan, dan
Lingkungan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Daud
Dharsono meminta pemerintah meningkatkan penelitian lingkungan tentang
minyak sawit.

”Sebab, dengan bukti ilmiah, Indonesia bisa menjawab semua kampanye
negatif terhadap CPO,” kata Daud.

Konsorsium penelitian

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian Ahmad
Suryana mengatakan, pemerintah telah membentuk konsorsium penelitian
yang diharapkan efektif mulai 1 Maret. Pemerintah, kata Ahmad,
mengalokasikan Rp 3 miliar untuk membiayai penelitian dan uji mutu
lapangan. Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan merupakan
koordinator konsorsium untuk komoditas kelapa sawit.

”Konsorsium ini menyatukan seluruh kegiatan penelitian tentang kelapa
sawit. Hasilnya akan digunakan untuk kemajuan industri minyak sawit
nasional,” kata Ahmad Suryana. (ham)



Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham.

DILARANG KERAS MEMOSTING OPINI PRIBADI TENTANG POLITIK DI MILIS INI.
Silahkan lakukan itu di milis [EMAIL PROTECTED]

[EMAIL PROTECTED] untuk berhenti dari milis saham
[EMAIL PROTECTED] untuk bergabung ke milis saham
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke