Bukannya gak papa Pak... ato supaya AALI harganya bisa turun nih... :-) yg sekarang terjadi kan, sources minyak nabati mereka (the caucassian itu) yang kepake buat fuel.. Nah kita punya sawit yang replace minyak nabati tsb buat makanan..
Dan kita punya eksport CPO kan terbesar bukannya ke China dan India ya? Jauh lebih mantebb.. orangnya buanyak banget... diet minyaknya suangat berminyak.. dan 2-2-nya ekonominya lagi booming.. coba perhatikan chinese food dan indian food.. kayaknya kebutuhan 2 asian freinds ini jauh lebih gede dari kebutuhan fuel si bule-bule itu.. bukan begitu..? regards On Feb 1, 2008 3:54 PM, Webmaster <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Regulasi Komisi Eropa Rugikan Biodiesel CPO > > Jumat, 1 Februari 2008 | 07:45 WIB > Jakarta, Kompas - Pemerintah Indonesia diminta segera melobi Komisi > Eropa, agar tidak mengesahkan regulasi tentang bahan baku biodiesel. > Sebab regulasi itu sangat diskriminatif, dan merugikan industri minyak > sawit mentah. Ketentuan yang ditetapkan dalam regulasi itu sulit > dipenuhi produsen minyak sawit mentah (CPO). > > "Dari parameter itu mereka menerapkan kriteria yang sulit, sehingga > biodiesel berbahan baku CPO Indonesia tidak bisa memenuhi syarat > mendapatkan insentif di pasar Eropa," kata Sekretaris Jenderal Asosiasi > Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan di Bogor, Kamis > (31/1). > > Aprobi tidak bisa menerima ketentuan yang diskriminatif itu, sebab > melanggar ketentuan Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade > Organization/WTO). > > Hal itu telah disampaikan ke pemerintah RI. Bahkan, pemerintah melalui > Duta Besar RI di Brusel Belgia telah menerima salinan draf ilmiah yang > akan dipakai untuk menentukan kriteria tentang biodiesel. Pemerintah dan > pemangku kepentingan juag telah membahasnya di Jakarta, Jumat (25/1). > > Hasilnya, draf tersebut mengandung poin-poin yang mendiskriminasi > biodiesel berbahan baku CPO. Paulus mencontohkan, kewajiban menghitung > emisi karbon sejak pembukaan kebun kelapa sawit hingga CPO diproduksi > menjadi biodiesel. > > Untuk itu, kata Paulus, Indonesia meminta dibuat kajian ilmiah sebelum > memutuskan biodiesel CPO tidak layak mendapatkan insentif di pasar > Eropa. Tanpa insentif, biodiesel CPO akan kalah bersaing dengan > biodiesel yang dibuat dari minyak lobak dan bunga matahari, karena > harganya lebih mahal. > > Tahun 2007 Indonesia mengekspor 500.000 ton biodiesel. Pasar ekspor > terbesar adalah Eropa, disusul AS. Dalam seminar tahunan Masyarakat > Perkelapa-sawitan Indonesia (MAKSI) dan Southeast Asian Food Science and > Technology (SEAFAST) Center Institut Pertanian Bogor, yang dihadiri > pemerintah dan pemangku kepentingan kelapa sawit, Paulus menyatakan," > Kita butuh kajian ilmiah yang bisa menjawab, biodiesel CPO dan minyak > lobak sama kualitasnya. Namun, produksi dari CPO lebih murah, sehingga > berdaya saing tinggi." > > Senada dengan Paulus, Ketua Bidang Penelitian, Pengembangan, dan > Lingkungan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Daud > Dharsono meminta pemerintah meningkatkan penelitian lingkungan tentang > minyak sawit. > > "Sebab, dengan bukti ilmiah, Indonesia bisa menjawab semua kampanye > negatif terhadap CPO," kata Daud. > > Konsorsium penelitian > > Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian Ahmad > Suryana mengatakan, pemerintah telah membentuk konsorsium penelitian > yang diharapkan efektif mulai 1 Maret. Pemerintah, kata Ahmad, > mengalokasikan Rp 3 miliar untuk membiayai penelitian dan uji mutu > lapangan. Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan merupakan > koordinator konsorsium untuk komoditas kelapa sawit. > > "Konsorsium ini menyatukan seluruh kegiatan penelitian tentang kelapa > sawit. Hasilnya akan digunakan untuk kemajuan industri minyak sawit > nasional," kata Ahmad Suryana. (ham) > > >
