Rekan-rekan milis, ini dia manusia bertampang necis tapi mental bobrok yang 
makan duit para nasabah sarijaya.


Kamis, 08/01/2009 09:56 WIB

        Bapepam: Herman Ramli Nekat Banget 

        
                Wahyu Daniel - detikNews
          
                
                

                
                        Herman Ramli (Foto: Sarijaya)           

        
                        

        Jakarta
- Penggelapan dana nasabah PT Sarijaya Permana Sekuritas yang dilakukan
pemilik sekaligus komisaris utamanya, Herman Ramli mengejutkan kalangan
pasar modal. Selama ini Herman Ramli dikenal sangat menjaga citranya
dan tidak ada rekam jejak kriminal.

Nasib
Herman Ramli kini mirip dengan saudaranya Rudy Ramli, mantan direktur
utama Bank Bali yang pernah ditahan tahun 2000 karena kasus penggelapan
dan pelanggaran perbankan dalam transaksi cessie senilai Rp 589 miliar.


Kelakuan kriminal Herman Ramli ini, ikut membuat Ketua Badan
Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK) Fuad Rahmany
geleng-gelang kepala. 

"HR ini kan orang yang sudah cukup lama
di pasar modal, kita sesalkan kenapa mereka melakukan hal ini. Semua
teman-temannya kan kenal dia semua, itu kaget semua. Kok dia bisa
melakukan hal seperti itu. Kita nggak tahu apa yang terjadi pada
dirinya. Kenapa dia nekat banget, baru sekali sepertinya. Tapi kan Anda
tahu saudaranya," katanya di kantor Menteri Keuangan, Jalan Wahidin
Raya, Jakarta, Rabu malam (7/1/2009). 

Penggelapan dana yang dilakukan Herman Ramli  dilakukan terhadap 8.700 rekening 
nasabah Sarijaya, dimana sebanyak 6.500 rekening adalah dari nasabah ritel.

Modus
yang dilakukan oleh tersangka Herman Ramli berdasarkan keterangan dari
para direksi Sarijaya adalah meminjam dana nasabah. 

"Ya
diambil dia pakai uangnya, dia bilang pinjam, dia beli untuk
macam-macam, dia tidak bisa mengembalikan. Jadi perusahaan disebut
sebagai piutang, jadi seolah-olah orang itu berutang dengan perusahaan
Rp 240 miliar. Nah ternyata yang 17 rekening ini ternyata HR. HR yang
buka. Nah disini penyimpangannya, ketahuan kan dia yang pegang itu
duit, berarti dia yang harus mengembalikan duit. Di perusahaan dicatat
sebagai piutang. Waktu diaudit piutang ini lama banget, nggak jelas,
ini dicek tidak ada piutang itu, memang hilang," paparnya panjang.

Dikatakan
Fuad, karena kasus ini bisa memunculkan krisis kepercayaan dari para
investor lokal terhadap perusahaan efek di Indonesia. "Ya susahlah yang
begini, karena titik senoda rusak susu sebelanga," tukasnya. 

Fuad
mengakui dirinya sangat menyesalkan terjadinya kasus Sarijaya ini di
tengah usaha Bapepam dan otoritas bursa lainnya untuk mendorong
perkembangan investor ritel lokal.

Fuad mengatakan kecurigaan
Bapepam terhadap penggelapan dana nasabah Sarijaya sudah terjadi sejak
2 atau 3 pekan yang lalu sehingga Bapepam langsung dengan cepat
mengambil tindakan bersama dengan BEI (Bursa Efek Indonesia).

"Kita
panggil si HR, bagaimana bisa nggak balikin duit, karena berbelit-belit
kami jadi nggak percaya. Terus langsung kontak Kabareskrim, Pak tolong
tangkap orang ini, ini semua bukti ada, ya kita sudah usahakan secara
baik-baik, kalau kita main tangkap kan kita bisa kehilangan. Jadi
dipanggil, suruh jelasin kemana uangnya, tapi dia berkelit terus, jadi
kita nggak percaya. Pertama dia mengaku pinjam uang, tapi nggak pernah
tahu dimana uangnya, karena itu baru kita tangkap. Sekarang duitnya
memang sudah nggak ada, nggak tahu kemana," pungkasnya. 

(dnl/ir)


      

Kirim email ke