Mau nambah sedikit.... Juga jangan memberikan nomer telpon.... Agak aneh...pengirim minta nomer telpon untuk dihubungi.....bisa bahaya nanti bisa kena hipnotis lewat tlp...bisa bisa wassalam lah...he he he
Budi Sent from my iPhone®3Gs powered by Telkomsel On 27 Des 2010, at 13:36, Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> wrote: > Saya yang termasuk dapat email lewat japri terkait MPPA dari pengirim > [email protected] > > Email tersebut tidak saya gubris/respon karena: > 1. Saya tidak punya saham MPPA > 2. Saya tidak melihat ada identitas jelas pengirim email, baik nama > jelas atau nomor telponnya sehingga besar kemungkinan pengirimnya > hanya ingin mencoba menciptakan keramaian dengan melempar rumors tidak > jelas seolah2 ada yang mau membeli. > 3. Sampai dengan tanggal 29 Desember 2010, transaksi MPPA di pasar > tunai masih cum dividend alias yg membeli MPPA di pasar tunai masih > berhak mendapatkan dividen sebesar Rp180 (potong pajak dividend > sebesar 10%), dan yang menjual MPPA di pasar tunai akan kehilangan hak > atas dividen sebesar Rp180 (potong pajak dividen sebesar 10%). > 4. Dengan dasar nomor 3, maka ada kemungkinan pengirim email berharap > ada yang tidak memahami/menyadari soal cum/ex dividen dan mau menjual > saham MPPA di pasar tunai dengan harga di pasar reguler sehingga orang > tersebut mendapatkan keuntungan dari selisih hak atas dividen. Hal ini > terlihat di sesi 1 tadi, di pasar tunai sudah ada yang pasang jual > MPPA sebanyak lebih dari 1300 lot di harga 1770 (harga pasar 1590 + > 180 angka dividen), tapi saya perhatikan tidak ada yang berani beli > alias tidak ada transaksi. Jadi, kuat dugaan saya pengirim email > kemungkinan hanya berharap ada pemegang saham MPPA yg tidak paham > sehubungan dengan cum/ex dividen di pasar tunai. > 5. Saran saya, abaikan saja email2 dari pengirim yg tidak jelas dengan > maksud yg tidak jelas. Kalau ingin bertransaksi beli atau jual baik di > pasar reguler ataupun tunai, lakukan saja via bursa pada jam bursa yg > sudah ditentukan. Pengirim email bisa saja mendapatkan email kita dari > postingan di milis, kemudian dia mengirim email secara sporadis dengan > harapan ada yang tidak paham dan kemudian terjebak. > > Semoga cukup membantu menjelaskan terkait hal ini. > > jabat erat, > Irwan Ariston Napitupulu >
