Pak Pyriel, Dari yg saya dengar, katanya suku bunga pinjaman ada rencana mau
dibatasi tingkat rate nya oleh BI.
Tapi yg saya tahu dan sudah jadi pengumuman adalah tingkat LDR, Loan to
Deposit Ratio sudah ada batasan minimumnya.

Tujuannya agar sektor riil bisa terus terpacu dan tingkat pengangguran bisa
berkurang.
Bagi saya, sudah saatnya kini perbankan nasional lebih rela keuntungannya
berkurang karena toh selama ini sudah terlalu enak menikmati keuntungan yg
gila2an. Saatnya kini sektor riil lebih mendapat perhatian lebih dari
pemerintah.

Dengan sektor riil lebih maju, maka inflasi bisa ditekan pada akhirnya.
Harga cabai, beras, pupuk, garam, gula, dll, kelak akan menjadi lebih murah
atau tidak naik setinggi sekarang bila supply nya tersedia dengan cukup.
Bahkan kalau supplynya berlebih, bisa jadi komoditas ekspor.

Kalau BI rate dinaikan, SBI ikut naik, asing beli SBI maupun SUN, yg bayar
bunga untuk SBI dan SUN adalah duit rakyat, yg nikmatin pihak asing, setelah
dapat bunganya kelak, anytime mereka bisa pergi lagi dan rupiahnya
ditinggalin di Indonesia karena ditukar ke mata uang mereka, maka pada
akhirnya jumlah rupiah yg beredar jadi bertambah, dan ini menjadi salah satu
penyebab inflasi. Itu sebabnya kenapa saya katakan kebijakan suku bunga
tinggi itu justru malah pada akhirnya akan membuat tingkat inflasi makin
tinggi dan sulit dibendung.

Kebijakan menaikkan RR itu lebih tepat efektif dalam meredam dan menekan
jumlah uang beredar sehingga inflasi diharapkan dapat diredam untuk jangka
waktu yg lebih panjang, bukan sesaai seperti dengan kebijakan menaikkan suku
bunga.

Bahkan kalau perlu BI mengeluarkan kebijakan baru lagi bahwa untuk kartu
kredit, batas minimum pembayaran adalah 20% dari tagihan (saat ini 10%,
setelah dinaikan dari 5% bbrp tahun yg lalu). Dengan demikian, masyarakat
pengguna kartu kredit makin berkurang berhutang di kartu kredit dan tentunya
akan lebih berhati2 dalam membelanjakan dengan kartu kreditnya. Dan ini juga
bisa sebagai alternatif membantu meredam tingkat inflasi.

Terhadap komoditi yg belakangan mengalami kenaikan tajam karena faktor
cuaca, pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan yg sifatnya temporer dengan
cara membebaskan dan membuka keran impor atas komoditas2 yg mengalami
kenaikan harga cukup tinggi tersebut.

Intinya adalah ada banyak cara untuk meredam tingkat inflasi tanpa harus
menaikkan tingkat suku bunga yg sebenarnya bisa menjadi bibit awal penyebab
inflasi itu sendiri di kemudian hari.

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

On Fri, Jan 14, 2011 at 9:57 AM, PyRiEL PyRiEL <[email protected]>wrote:

>
>
> Diskusi bang ian..
> Naiknya BI rate ataupun RR selalu dijadikan alasan banking untuk naikin
> suku bunga pinjaman..
> Sejak RR dinaekin dari 5 ke 8%, naik tuh suku bunga kredit..
>
> Sebenernya, transmisi yang lebih stabil untuk sedot likuiditas ya RR ini..
>
> Tapi apapun itu, untuk selesaikan masalah inflasi saat ini seharusnya bukan
> dari sisi moneter yang digenjot..
> Kutip dari Positive:
> 1.  the core inflation rateheld steady in December at 4.3 per cent
> 2.  consumer price inflation – driven by food – continued to accelerate to
> 7 per cent
> 3. rate rises need not attract inordinate amounts of hot money.
>
> Jangan sampe salah obat, yang ada makin parah sakitnya
>
>
>
>
> On Fri, Jan 14, 2011 at 9:35 AM, Irwan Ariston Napitupulu <
> [email protected]> wrote:
>
>>
>>
>> Suku bunga ngga perlu naik karena malah jadi penyebab inflasi itu sendiri
>> dalam kasus Indonesia.
>>
>> Naikan saja GWM nya, Giro Wajib Minimum (kalau istilah di buku pelajaran
>> adalah Reserve Requirement) yang saat ini masih terlalu rendah, baru 8%,
>> untuk negara dengan growth seperti Indonesia. China tingkat GWM nya 18,5%.
>> Sementara tingka suku bunga deposito 1 tahun di China hanya 2,75% dan
>> tingkat suku bunga pinjaman di China 5,81%.
>>
>> Peningkatan GWM sangat efektif dalam menekan jumlah uang beredar.
>> Bagi yg ingin belajar apa itu GWM dan bagaimana pengaruhnya ke ekonomi,
>> silakan baca2 di:
>>
>> http://en.wikipedia.org/wiki/Reserve_requirement
>>
>> jabat erat,
>> Irwan Ariston Napitupulu
>>
>>
>>
>>
>> On Fri, Jan 14, 2011 at 9:24 AM, positif01 <[email protected]> wrote:
>>
>>>
>>>
>>> Ferry Wong, head of Indonesia research at Macquarie Securities in
>>> Jakarta, said the central bank was behind the curve on inflation.
>>>
>>> "I think some foreign investors were not too comfortable with the central
>>> bank's not raising interest rates despite high inflation," he said.
>>> (Reuters)
>>>
>>> BI’s decision to keep its policy interest rate at 6.5 per cent for the 17th
>>> month <http://www.bi.go.id/web/en/Moneter/BI+Rate/Data+BI+Rate/> in a
>>> row rests on two assumptions: that food price inflation won’t spill into
>>> core inflation, and that interest-rate increases would attract damaging
>>> short-term<http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/10AAF037-83D2-4972-A561-8DFF73D22DE9/21042/GBI_IndonesiaInvestmentForumJakarta.pdf>capital
>>>  flows. Both are dubious. First, it is true that the core inflation
>>> rate (excluding food and energy) held steady in December at 4.3 per cent,
>>> while headline consumer price inflation – driven by food, which accounts for
>>> about a third of the 
>>> CPI<http://dds.bps.go.id/eng/brs_file/eng-inflasi-01dec10.pdf>basket – 
>>> continued to accelerate to 7 per cent, well outside the target zone
>>> of 4 to 6. But headline and core never decouple for long. Consumer surveys
>>> and rising 10-year bond yields suggest that inflation expectations are
>>> taking root. Second, rate rises need not attract inordinate amounts of hot
>>> money if capital 
>>> controls<http://www.ft.com/cms/s/0/f730a2b6-1c26-11e0-9b56-00144feab49a.html#axzz1Ab0kjIbh>are
>>>  effective, and everyone else is
>>> tightening<http://www.ft.com/cms/s/3/60a426c4-fd31-11df-b83c-00144feab49a.html#axzz1Ab0kjIbh>too.
>>>  (Financial Times).
>>>
>>>
>>>
>>>
>>
>
>
> 
>

Kirim email ke