Pak sahamvalas emg baik hati bs bilang "kasihan"..
Jd dirut GIAA aja pak gantiin si emir..
Dia orang nya tegaan,gak mikirin siapa yg jadi korban nya.




 

Sent From Far Far Away™

-----Original Message-----
From: [email protected]
Sender: [email protected]
Date: Sat, 12 Feb 2011 13:34:42 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [saham] Garuda's Affair

Iya kasian underwriternya


Sent with CuanWannabe v.88  Powered by Shortsell 

-----Original Message-----
From: "billie" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sat, 12 Feb 2011 13:20:03 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [saham] Garuda's Affair

Kalo semua investor dan trader punya pola pikir spt ini, ayo kita galakkan 
gerakan stop sell just hold.. Biar semua bisa kecipratan "pajero sport"


-----Original Message-----
From: sahamvalas <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sat, 12 Feb 2011 05:15:39 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [saham] Garuda's Affair

momod yg baik numpang copas lagi (uda telat sih)
 
 
 
Garuda's Affair 




Besok jumat, Garuda Indonesia (GIAA) akan listing perdana di BEI. Kalau berkaca 
pada fundamentalnya, maka sulit untuk mengharapkan GIAA bakal sukses di market, 
bahkan meski di hari perdagangan perdananya. Tapi, bagaimana kalau sahamnya 
sengaja dinaikkan?

Dalam meng-IPO-kan GIAA, Pemerintah mungkin harus mengakui bahwa mereka kurang 
sukses dalam membuat perencanaan IPO yang baik, tidak seperti 
perusahaan-perusahaan swasta yang sukses menjaring dana investor dengan IPO 
perusahaan mereka masing-masing. Tapi mungkin itu bukan juga berarti bahwa 
mereka tidak serius dalam IPO GIAA ini. Beberapa waktu terakhir, stasiun 
televisi MetroTV cukup sering menayangkan iklan tentang Garuda Indonesia. 
 
Beberapa media lainnya juga dipenuhi oleh iklan tentang Garuda, yang intinya 
menyebutkan bahwa GIAA itu bagus, perusahaannya profesional, bla bla bla.. 
Intinya, kita tentu tahu bahwa biaya iklan itu nggak murah. Kalau pemerintah 
(atau pihak lainnya yang berkepentingan) rajin menayangkan iklan GIAA, maka itu 
berarti mereka masih bekerja keras agar saham GIAA akhirnya diserap oleh 
investor publik.

Dan iklan-iklan tersebut mungkin memang perlu, sebab terdengar kabar bahwa 
sebagian saham GIAA yang dilepas ke publik nggak laku, sehingga harus diserap 
oleh para penjamin emisinya (underwriter-nya), yaitu Bahana Securities, 
Danareksa Sekuritas, dan Mandiri Sekuritas (Mansek). Nilai saham yang harus 
dibeli oleh para penjamin emisi ini diperkirakan mencapai Rp1.5 trilyun. Kalau 
penulis menjadi bos dari salah satu perusahaan sekuritas diatas, tentu penulis 
bakalan pusing berat. Dari mana saya bisa dapetin duit sebanyak itu? Kalaupun 
minjem ke bank, bank mana yang mau ngasih?

Nah, disinilah penulis kembali menemukan point menarik. Salah satu dari tiga 
penjamin emisi utama IPO GIAA adalah Mansek, yang merupakan anak usaha dari 
Bank Mandiri (BMRI). Bahana dan Danareksa mungkin bakal kesulitan nyari dana 
untuk membeli saham IPO GIAA yang senilai 1.5 trilyun tadi, tapi tidak dengan 
Mansek. Kenapa? Karena dia bisa pinjem duit sama induknya, yaitu BMRI. Lho, 
memangnya BMRI mau ngasih? Ya harus mau dong! BMRI kan dapet duit sekitar 1.4 
trilyun dari penjualan sahamnya di GIAA ketika IPO. Duit ini aja yang kemudian 
dipinjamkan ke Mansek buat beli saham GIAA.

Jadi nantinya urutan kejadiannya seperti ini: Awalnya Garuda minjem utang ke 
Bank Mandiri. Garuda kemudian ternyata gak bisa bayar, sehingga utangnya 
dikonversi menjadi saham dan utang Garuda dianggap lunas. Bank Mandiri kemudian 
menjual saham tersebut ketika Garuda IPO, dan dapet duit 1.4 trilyun. Sebagian 
dari duit itu kemudian dipinjamkan ke Mansek, untuk beli saham Garuda lagi. 
Jadi Mansek kemudian berhutang ke Bank Mandiri, dan Mansek jadi memiliki sekian 
persen saham Garuda.

Lalu bagaimana Mansek membayar utang tersebut? Ya dengan menjual saham GIAA 
yang dia pegang. Jual ke siapa? Investor publik. Gimana caranya biar publik mau 
beli? Ya dengan menggoreng sahamnya, menaik-naikkannya agar tampak menarik. 
Plus, banjiri media dengan berita-berita yang bisa menaikkan GIAA, misalnya 
Garuda mau akuisisi apa kek, dan seterusnya. Juga termasuk iklan-iklan di 
televisi. Asalkan Garuda sudah listing di BEI, maka hal-hal seperti itu mudah 
saja dikerjakan.

Berdasarkan kemungkinan tersebut, maka saham GIAA bisa saja naik pada hari-hari 
perdananya. Sebab gak cuma Mansek, Bahana dan Danareksa juga punya kepentingan 
untuk menjaga harga saham Garuda, setidaknya sampai mereka bisa menjual semua 
saham Garuda mereka ke publik. Khusus untuk Mansek, bisa jadi yang 
dipertaruhkan adalah uang milik Bank Mandiri, sehingga mau gak mau dia harus 
bisa menjual saham Garuda pada harga premium, atau Bank Mandiri akan kehilangan 
duitnya lagi.

Intinya, memang sangat sulit untuk memprediksi bagaimana kira-kira pergerakan 
saham GIAA di market besok. Apapun bisa terjadi. Saran penulis, just watch the 
game, and do NOT ever think to play with it! Unless you have big guts
 
http://teguhidx.blogspot.com/2011/02/garudas-affair.html


      

Kirim email ke