Coba kalau hal beginian jgn ditanya ke perusahaannya langsung....tanya ke 
suppliernya dan yg berhubungan dengan perusahaan tersebut, bagaimana dengan 
perusahaan tersebut udah ketauan "belang"nya....lagian teman gw familinya org 
kerja di dalam sipd...pernah gw korek soal isi perusahaan tersebut, dia nanya 
ke familinya...cuman dijawab "invest di tempat lain masih banyak yang bagus"

Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: [email protected]
Sender: [email protected]
Date: Thu, 3 Nov 2011 07:32:12 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [saham] Lo Kheng Hong, Menjadi Kaya Sambil Tidur

Jgn anggap remeh SIPD :)

Memangnya bro ohant bisa blg ga nerapin GCG dr mana? Apa alasan bro ngomong 
begitu? :)



Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

-----Original Message-----
From: [email protected]
Sender: [email protected]
Date: Thu, 3 Nov 2011 07:21:49 
To: Saham<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [saham] Lo Kheng Hong, Menjadi Kaya Sambil Tidur

SIPD perusahaannya ga menerapkan GCG.....jadi selama managementnya masih itu2 
aja orgnya....jangan harap deh

Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: "heru" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 3 Nov 2011 07:19:26 
To: Saham<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [saham] Lo Kheng Hong, Menjadi Kaya Sambil Tidur

Ane udah hajar kanan SIPD, siapa tahu jadi next CPIN atau MBAI, tinggal tidur 
kayak LKH :))

* icip2 aja


Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: Fabianto Wangsamulya <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 2 Nov 2011 20:06:44 
To: [email protected]<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [saham] Lo Kheng Hong, Menjadi Kaya Sambil Tidur

Ada artikel bagus yang saya dapat dari teman mengenai salah satu investor di 
bursa saham yang kabarnya dijuluki juga Warren Buffett Indonesia.
Selamat membaca.


http://www.investor.co.id/wawancara/lo-kheng-hong-menjadi-kaya-sambil-tidur/23199#Scene_1
Sembari ongkang-ongkang kaki, 
lenggang kangkung, dan tidur pulas, Lo Kheng Hong bisa menjadi miliarder di 
pasar saham dan mengeduk gain hingga 150.000%. Itukah 
buah filosofi ‘menjadi kaya sambil tidur’?

Asetnya di pasar saham 
disebut-sebut bernilai triliunan rupiah. Ia mengoleksi sejumlah saham yang 
mampu 
mencetak keuntungan investasi (capital gain) hingga ratusan, ribuan, bahkan 
ratusan ribu persen. Tapi, jangan bayangkan pria berusia 52 tahun ini punya 
karakter dan penampilan glamour, agresif, dinamis, meledak- ledak, atau 
beradrenalin tinggi. 

Lo Kheng Hong adalah pribadi yang bersahaja, sabar, 
rendah hati, kalem, bahkan terkesan dingin. Boleh jadi, pembawaannya inilah 
yang 
menjadikan Kheng Hong sukses sebagai investor di pasar saham.

Yang pasti, 
Kheng Hong tak hanya lihai memilih saham-saham yang mampu menghasilkan gain 
besar. Ia juga mahir memosisikan diri di lantai bursa, baik saat pasar bearish 
maupun bullish. Tapi Kheng Hong bukan tipe investor yang sepanjang hari 
memelototi pergerakan harga saham atau setiap saat mencermati perkembangan isu, 
rumor, dan berita di lantai bursa, dengan kewaspadaan ekstra tinggi. Ia juga 
tidak melengkapi diri dengan handphone canggih, laptop terkini, notebook, iPad, 
atau perangkat paling mutakhir sejenisnya.

Kheng Hong memang lebih 
memosisikan diri sebagai investor jangka panjang ketimbang investor jangka 
pendek atau trader. Mungkin, itulah sebabnya, kalangan praktisi pasar saham 
menjulukinya sebagai ‘Warren Buffett Indonesia’.

“Investor di pasar saham 
kebanyakan ikut-ikutan dan tidak mengerti saham apa yang dibeli. Kebanyakan 
orang panik karena mereka tidak tahu apa yang mereka beli. Semakin cepat panik 
seorang investor, semakin menunjukkan bahwa ia tidak tahu apa-apa,” kata Lo 
Kheng Hong kepada wartawan Investor Daily Nurfiyasari dan Abdul Aziz serta 
pewarta foto Eko S Hilman di 
Jakarta, baru-baru ini.

Bagi ayah dua anak ini, lebih menguntungkan 
menjadi investor jangka panjang dibanding menjadi trader. “Kalau trading, 
dapatnya receh dan bisa bikin stres. Kalau pegang saham dalam jangka panjang, 
dapat uangnya besar,” ujar Kheng Hong. 

Kematangan, kecerdasan, 
ketenangan, dan kesabaran telah menjadikan Lo Kheng Hong sebagai pemain saham 
sejati. Berkat itu pula ia berhasil lolos dari krisis moneter 1997- 1998, 
bahkan 
kemudian menangguk keuntungan hingga 150.000%. ”Waktu krisis 2008, saya sempat 
jatuh. Malah sewaktu krisis 1997-1998, saya sempat jatuh hingga uang saya 
tinggal 15%. Tapi uang itu saya tukar ke saham. Akhirnya uang saya meningkat 
150.000% sampai saat ini,” tuturnya.

Yang unik, aset kekayaan Lo Kheng 
Hong hampir seluruhnya dalam bentuk saham sejumlah emiten di Bursa Efek 
Indonesia (BEI). Ia sama sekali tidak tergoda untuk mendiversifikasi 
investasinya ke instrumen lain, seperti emas, properti, atau kendaraan Bahkan, 
mantan kepala cabang Bank Ekonomi ini sama sekali tak tertarik untuk mendirikan 
perusahaan, termasuk perusahaan sekuritas.

“Saya hanya punya 15% dana 
cash untuk jaga-jaga supaya kalau terjadi krisis saya masih punya uang 
untukmembeli saham. Saya tidak bekerja, tidak punya perusahaan, tidak punya 
pelanggan seorang pun, tidak punya karyawan seorang pun, dan tak punya bos. 
Hanya punya seorang sopir dan dua pembantu,” papar Lo Kheng Hong yang sudah 22 
tahun bermain saham. 

Apa saja tips Lo Kheng Hong hingga ia mampu 
mengeduk keuntungan besar dari pasar saham? Bagaimana harus bersikap saat pasar 
mengalami bullish, bearish, atau crash? Berikut petikan lengkap wawancara 
dengan pria yang 
mengaku berasal dari keluarga tak mampu dan kelak berniat menyumbangkan 
kekayaannya kepada fakir miskin tersebut.

Kenapa Anda 
tertarik bermain saham?
Saya tertarik bermain saham karena 
saham dapat memberikan keuntungan yang besar dan tidak capek seperti di sektor 
riil.

Apa enaknya menjadi investor 
saham?
Pertama, seorang pemain saham dapat menjadi orang yang 
terkaya di dunia, seperti Warren Buffett. Banyak orang yang tidak tahu dan 
tidak 
percaya. Mereka hanya tahu banyak orang yang rugi, orang kaya jadi miskin 
karena 
bermain saham, bahkan ada yang bunuh diri karena saham. 

Kedua, seorang 
pemain saham punya banyak waktu, bebas, dan tidak dipusingkan oleh 
urus-mengurus 
karyawan, pelanggan, dan lain-lain. Di perusahaan, status investor saham adalah 
sleeping partner, sehingga waktu luangnya bisa diisi dengan hal-hal yang 
disukai. 

Ketiga, semua keuntungan perusahaan menjadi milik pemegang 
saham, padahal yang bekerja keras adalah direksi, komisaris, manajer, dan 
seluruh karyawan, tetapi mereka hanya menerima gaji dan bonus. Mereka tidak 
punya hak untuk mendapatkan bagian dari keuntungan perusahaan. Memiliki 
perusahaan yang untung besar seperti memiliki mesin pencetak uang. 

Sejak kapan Anda bermain saham?
Saya 
bermain saham sejak 1989, 22 tahun yang lalu. Saya dilahirkan dari keluarga 
yang 
berpenghasilan rendah. Orangtua hanya pegawai kecil. Saat tamat SMA, saya belum 
punya biaya untuk kuliah. Kemudian saya jadi pegawai tata usaha di bank, waktu 
itu saya disuruh-suruh untuk fotokopi dan lainnya. Kemudian saya bisa bekerja 
sambil kuliah. Saya pilih kampus yang murah sesuai kemampuan keuangan. Saat 
bekerja di bank itulah, saya mulai main saham. Saya sempat menjadi kepala 
cabang. Saya kemudian keluar dari bank dan fokus main saham. 

Anda saat ini punya saham apa 
saja?
Saya punya saham sekitar 30 emiten, antara lain di 
Multibreeder Adirama Indonesia Tbk (MBAI), dengan kepemilikan 8,29% lebih. 
Saham 
saya banyaknya bukan di LQ45. Kepemilikan saya di saham lain di bawah 5%. Saya 
tipe investor jangka panjang.

Kalau trading, dapatnya receh, kalau jangka 
panjang dapat uangnya besar. Saya pegang saham ini sudah enam tahun. Saya beli 
tahun 2005 seharga Rp 250 dan harganya sempat menyentuh Rp 31.500. Belum saya 
jual, padahal gain-nya sudah 12.600%.

Cara Anda memilih 
saham?
Saya lihat manajemen. Apakah menerapkan good corporate 
governance (GCG) atau tidak. Saya cari dari kompetitornya, biasanya mereka 
tahu. 
Saya cari tahu agar tidak beli kucing dalam karung, karena ini menyangkut harta 
saya. Jangan membeli sesuatu yang tidak kita tahu. Lihat manajemen, apakah 
pengelolanya jujur atau tidak. Jangan sampai pengelolanya suka ambil uang 
perusahaan, sehingga saya sebagai sleeping partner dirugikan. 

Istilahnya, yang menjadi pertimbangan pertama adalah manajemen, kedua 
manajemen, ketiga manajemen, baru yang lain. Kemudian lihat sektor usahanya, 
bagus atau tidak. Ada sektor yang kurang menarik, misalnya sepatu, tekstil, dan 
garmen. Tetapi ada juga yang menarik, seperti kelapa sawit dan pakan 
ayam.

Orang banyak makan ayam karena ayam merupakan sumber protein 
termurah dan dampak negatifnya terhadap kesehatan lebih rendah dibanding yang 
lain. Perhatikan juga apakah emiten bersangkutan mengalami pertumbuhan atau 
tidak. 

Kriteria pertumbuhan, konkretnya seperti 
apa?
Ada empat tipe perusahaan. Pertama, perusahaan yang rugi 
terus, ada yang kadang untung, dan kadang merugi. Kemudian, perusahaan yang 
untung besar terus, tapi stagnan. Ada juga perusahaan yang growing secara 
berkala, misalnya dari Rp 2 triliun, Rp 5 triliun, dan 
seterusnya. Ini perusahaan yang baik dan yang saya cari. Lihat kinerjanya lima 
tahun ke belakang. Lihat masa lalunya.

Bagaimana jika lima 
tahun pertama tumbuh, tetapi lima tahun berikutnya ternyata 
turun?
Biasanya kalau lima tahun ke belakang tumbuh, ke 
depannya akan mengalami hal yang sama. Kalau sudah lima tahun berturut-turut 
growing, tandanya itu super company. 

Setelah melihat fundamental emiten, apa 
lagi yang Anda perhatikan?
Harga. Saya lihat 
dariprice to earning ratio (PER)-nya. Jangan bilang saham 
A karena harganya Rp 250 dibilang murah, dan saham B yang harganya Rp 70.000 
dibilang mahal. Maksudnya, saham yang harganya Rp 70.000 bisa lebih murah 
dibanding saham yang harganya Rp 250. Kita lihat kemampuan emitennya dalam 
membukukan keuntungan.

Berapa PER yang ideal saat membeli 
suatu saham?
Saya pikir, yang reasonable untuk dibeli yaitu yang PER-nya di bawah lima kali, 
itu sangat 
menarik dan potensial. Tapi biasanya perusahaan yang sudah baik dan 
manajemennya 
bagus, PER-nya sudah di atas 10 kali. 

Soal timing, kapan saat yang 
paling tepat untuk masuk pasar?
Yang paling bagus membeli 
saham adalah saat sedang krisis seperti di Yunani, Eropa, dan AS. Ada pepatah 
lama yang tidak perlu dilupakan,buy on weakness. Dan, 
harusbe greedy when others are fearful dan sebaliknya, be fearful when others 
greedy.

Bukankah itu sulit 
diterapkan?
Saya banyak baca buku tentang Warren Buffett. 
Saya belajar dari orang yang sudah terbukti berhasil investasi di pasar saham. 
Dia sudah membuktikannya, bahkan menjadi salah satu orang terkaya di dunia. 
Nggak mungkin kan kalau saya belajar dari Bernard Madoff? Ha, ha, ha, 
ha...

Ternyata orang seperti Madoff, mantan bos bursa Nasdaq tapi tidak 
bisa mengelola uang nasabah. Ini menunjukkan bahwa dia hanya tahu semua 
peraturan di bursa saham, tetapi tidak mengetahui bagaimana cara menjadi kaya 
di 
pasar saham.

Berarti, kuncinya ada di 
mental?
Mental bisa bagus saat kita tahu apa yang kita 
beli. Kebanyakan orang panic karena mereka tidak tahu apa yang mereka beli. Ini 
pelajaran penting. Saya berikan ilustrasi. Waktu itu saya ke Harvard 
University, 
saya tanya biaya kuliah di sana berapa? Ternyata bisa sampai US$ 40.000, keluar 
dari sana semua jadi orang pintar. Dengan belajar seharga US$ 40.000, kita bisa 
menjadi orang pintar. 

Tapi di pasar saham, kita sudah habiskan puluhan 
miliar rupiah belum tentu jadi pintar, malah bisa tambah bingung, seperti 
Madoff 
yang sudah menghabiskan uang masyarakat sebesar US$ 60 miliar, apakah dia 
menjadi pintar? Bisa saja di penjara dia berpikir, kenapa saham yang dibeli 
turun dan yang dijual justru naik. 

Jadi, intinya pintar saja tidak 
cukup. Untuk menjadi investor yang kuat, kita harus mengetahui perusahaan satu 
per satu. Semua orang bisa seperti itu, asalkan mau baca. Bacalah laporan 
keuangan emiten satu per satu.

Jadi, Anda tipe investor 
fundamental?
Saya 100% fundamental karena lihat manajemennya 
atau pertumbuhan perusahaan. Kalau teknikal, hanya grafik, semuanya diabaikan. 
Saya yakin itu tidak benar. Tapi memang harus selektif. Dari 400-an saham yang 
ada di bursa domestik, cukup banyak yang fundamentalnya bagus. Terkadang, ada 
yang terjebak.

Anda tidak memantau pergerakan harga saham 
setiap saat?
Kenapa kita pusing? Karena kita beli saham yang 
tidak kita ketahui. Ada yang tidak bisa tidur karena PER sahamnya 100 kali atau 
200 kali. Lalu, kenapa kita tidak bisa tidur kalau PER-nya hanya lima 
kali?

Bukankah investor sering terbawa arus karena 
faktor nonfundamental?
Saya lihat investor di pasar modal 
kebanyakan ikut-ikutan. Saat market mengalami booming, semua masuk. Saat market 
buang-buang saham, mereka ikut-ikutan. Mayoritas hanya ikut-ikutan dan tidak 
mengerti apa yang dibeli. Jadi, belajarlah dari orang yang memang sudah 
berhasil 
dan ikuti langkahnya. Jangan percaya saat ada iklan yang bilang dapat untung 
besar saat indeks turun. Kalau bisa seperti itu, hebat sekali. Bahkan, orang 
sekelas Warren Buffett saja, saat pasar saham AS turun, dia juga mengalami 
kerugian.

Anda berinvestasi pada instrument selain 
saham?
Tidak, hanya saham. Hampir semua uang saya ada di 
pasar modal. Dana tunai saya hanya 15%, sisanya portofolio saham. Kenapa saya 
sisakan segitu? Itu untuk antisipasi kalau pasar modal kita jatuh, sehingga 
saya 
masih bisa beli saham lagi. 

Dari mana Anda membiayai 
kebutuhan hidup sehari-hari?
Saya bisa hidup dari dividen 
yang saya terima. Misalnya harga saham suatu emiten yang saya beli bulan lalu 
Rp 
610, sekarang harganya Rp 2.375, kemudian saya jual. Awalnya saya berniat 
menahannya untuk jangka panjang. Tapi kalau untungnya sudah sampai 300% dalam 
sebulan, saya lepas. Untuk emiten yang bagus sekali, tetap saya keep untuk 
jangka panjang. Kalau emitennya kurang meyakinkan dan naiknya signifikan, lebih 
baik saya lepas.

Saat krisis moneter 1997-1998 dan krisis 
finansial 2008, Anda mengalami kerugian juga?
Saya sempat 
mengalaminya juga. Waktu krisis 2008, saya sempat jatuh, tapi tetap be 
greedy when others are fearful. Malah sewaktu krisis 1997-1998, saya 
sempat jatuh hingga uang saya tinggal 15%. Tapi uang itu saya tukar ke saham, 
karena saya tahu pasar modal akan naik lagi. Dan, itu terbukti. Akhirnya uang 
saya meningkat 150.000%.

Bagaimana Anda menyikapi 
perkembangan harga saham saat ini, terutama yang terkait dengan krisis utang di 
Eropa dan krisis finansial di AS?
Saat IHSG terkoreksi, wajar 
saja kalau nilai portofolio saya ikut turun. Tetapi ketika turun, saya sama 
sekali tidak ikut-ikutan menjual, bahkan saya membeli dan menambah saham saya, 
karena saya yakin satu hari saham-saham saya akan naik kembali, bahkan dapat 
lebih tinggi dari sebelumnya.

Apa filosofi hidup 
Anda?
Filosofi hidup saya adalah bagaimana saya bisa 
menjadi kaya sambil tidur. Karena di perusahaan status saya adalah sleeping 
partner, saya tidur tetapi saham-saham perusahaan saya bekerja buat saya secara 
dahsyat. Getting rich while sleeping. Saya pakai waktu 
saya delapan jam untuk tidur, selebihnya saya pakai untuk bersenang-senang dan 
mengerjakan apa yang saya sukai.
 
---
Fabianto

Kirim email ke