Yup! tetap semangat.. :) --- On Thu, 11/3/11, Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> wrote:
From: Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> Subject: Re: [saham] Lo Kheng Hong, Menjadi Kaya Sambil Tidur To: [email protected] Date: Thursday, November 3, 2011, 11:44 AM Kalau jadi milyarder dari saham, saya rasa sudah banyak koq. Yang jadi triliuner seperti Pak Lo Kheng Hong, itu yang tampaknya sejauh ini masih belum banyak :) Kalau kita telaah lebih lanjut, Pak Lo Kheng Hong mencapai return 150.000% sejak mulai tahun 1997 alias kalau dihitung sampai 2011 adalah pencapaian selama hampir 25 tahun. Kalau saya hitung dengan hitungan compounding, maka rata2 per tahun kinerjanya Pak Lo Kheng Hong adalah sekitar 34% per tahun. Warren Buffett dari tahun 1959 dengan awal USD20 ribu menjadi USD60 milyar pada tahun 2009. Pencapaian selama 50 tahun tersebut kalau dirata2kan setara dengan kinerja 34,75% per tahun. Jadi, kalau kinerja anda bisa 35% per tahun atau lebih dan bisa stabil/konsisten, maka kinerja anda sebenarnya sudah di atas kinerja Lo Kheng Hong maupun Warren Buffett. Ini banyak yg kurang disadari oleh orang karena umumnya mereka hanya melihat angka akhir, dan lupa melihat berapa lama proses itu terjadi dan berapa besar modal awal yang mereka gunakan :) jabat erat, Irwan Ariston Napitupulu 2011/11/3 <[email protected]> Dr taun 2010 ke 2011 ini juga sy yakin banyak yg jadi miliarder dr IMAS dan MAPI :) Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphoneFrom: Budiono Kurniawan <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Thu, 3 Nov 2011 12:18:15 +0800 (SGT)To: [email protected]<[email protected]> ReplyTo: [email protected] Subject: Re: [saham] Lo Kheng Hong, Menjadi Kaya Sambil Tidur thn...depan ada yang new milyader dari trub / kark / bull From: Brnie713 <[email protected]> To: [email protected] Sent: Thursday, November 3, 2011 11:14 AM Subject: Re: [saham] Lo Kheng Hong, Menjadi Kaya Sambil Tidur Mustinya masih banyak LKH-LKH lainnya yang sukses di pasar modal,cuma lebih memilih untuk 'bersembunyi'. Btw pak LKH ini pegang saham 2nd liner seperti MBAI,AMAG emiten yang 5th lalu gak banyak yang tau ha3 On 11/3/11, [email protected] <[email protected]> wrote: > Sy yg ga tau atau memang pak Khong ini low profile ya bang Ian? > > Beliau buat buku or seminar or apa gitu ngga ya? > > Thanks > > > Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone > > -----Original Message----- > From: Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> > Sender: [email protected] > Date: Thu, 3 Nov 2011 10:34:07 > To: <[email protected]> > Reply-To: [email protected] > Subject: Re: [saham] Lo Kheng Hong, Menjadi Kaya Sambil Tidur > > Pak Lo Kheng Hong investor hebat. Patut diteladani apa yang dia lakukan > dalam hal investasi di bursa dan bagaimana caranya bisa berhasil. Artikel > di bawah sangat mencerahkan. Salut untuk Pak Lo Kheng Hong. > > jabat erat, > Irwan Ariston Napitupulu > > 2011/11/3 Fabianto Wangsamulya <[email protected]> > >> >> >> Ada artikel bagus yang saya dapat dari teman mengenai salah satu investor >> di bursa saham yang kabarnya dijuluki juga Warren Buffett Indonesia. >> Selamat membaca. >> >> >> <http://www.investor.co.id/wawancara/lo-kheng-hong-menjadi-kaya-sambil-tidur/23199#Scene_1> >> >> >> <http://www.investor.co.id/wawancara/lo-kheng-hong-menjadi-kaya-sambil-tidur/23199#Scene_1> >> >> http://www.investor.co.id/wawancara/lo-kheng-hong-menjadi-kaya-sambil-tidur/23199#Scene_1 >> Sembari ongkang-ongkang kaki, lenggang kangkung, dan tidur pulas, *Lo >> Kheng Hong* bisa menjadi miliarder di pasar saham dan mengeduk gain >> hingga 150.000%. Itukah buah filosofi ‘menjadi kaya sambil tidur’? >> >> Asetnya di pasar saham disebut-sebut bernilai triliunan rupiah. Ia >> mengoleksi sejumlah saham yang mampu mencetak keuntungan investasi >> (capital >> gain) hingga ratusan, ribuan, bahkan ratusan ribu persen. Tapi, jangan >> bayangkan pria berusia 52 tahun ini punya karakter dan penampilan >> glamour, >> agresif, dinamis, meledak- ledak, atau beradrenalin tinggi. >> >> Lo Kheng Hong adalah pribadi yang bersahaja, sabar, rendah hati, kalem, >> bahkan terkesan dingin. Boleh jadi, pembawaannya inilah yang menjadikan >> Kheng Hong sukses sebagai investor di pasar saham. >> >> Yang pasti, Kheng Hong tak hanya lihai memilih saham-saham yang mampu >> menghasilkan gain besar. Ia juga mahir memosisikan diri di lantai bursa, >> baik saat pasar bearish maupun bullish. Tapi Kheng Hong bukan tipe >> investor >> yang sepanjang hari memelototi pergerakan harga saham atau setiap saat >> mencermati perkembangan isu, rumor, dan berita di lantai bursa, dengan >> kewaspadaan ekstra tinggi. Ia juga tidak melengkapi diri dengan handphone >> canggih, laptop terkini, notebook, iPad, atau perangkat paling mutakhir >> sejenisnya. >> >> Kheng Hong memang lebih memosisikan diri sebagai investor jangka panjang >> ketimbang investor jangka pendek atau trader. Mungkin, itulah sebabnya, >> kalangan praktisi pasar saham menjulukinya sebagai ‘Warren Buffett >> Indonesia’. >> >> “Investor di pasar saham kebanyakan ikut-ikutan dan tidak mengerti saham >> apa yang dibeli. Kebanyakan orang panik karena mereka tidak tahu apa yang >> mereka beli. Semakin cepat panik seorang investor, semakin menunjukkan >> bahwa ia tidak tahu apa-apa,” kata Lo Kheng Hong kepada wartawan >> *Investor >> Daily* *Nurfiyasari *dan *Abdul Aziz *serta pewarta foto *Eko S Hilman*di >> Jakarta, baru-baru ini. >> >> Bagi ayah dua anak ini, lebih menguntungkan menjadi investor jangka >> panjang dibanding menjadi trader. “Kalau trading, dapatnya receh dan bisa >> bikin stres. Kalau pegang saham dalam jangka panjang, dapat uangnya >> besar,” >> ujar Kheng Hong. >> >> Kematangan, kecerdasan, ketenangan, dan kesabaran telah menjadikan Lo >> Kheng Hong sebagai pemain saham sejati. Berkat itu pula ia berhasil lolos >> dari krisis moneter 1997- 1998, bahkan kemudian menangguk keuntungan >> hingga >> 150.000%. ”Waktu krisis 2008, saya sempat jatuh. Malah sewaktu krisis >> 1997-1998, saya sempat jatuh hingga uang saya tinggal 15%. Tapi uang itu >> saya tukar ke saham. Akhirnya uang saya meningkat 150.000% sampai saat >> ini,” tuturnya. >> >> Yang unik, aset kekayaan Lo Kheng Hong hampir seluruhnya dalam bentuk >> saham sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Ia sama sekali tidak >> tergoda untuk mendiversifikasi investasinya ke instrumen lain, seperti >> emas, properti, atau kendaraan Bahkan, mantan kepala cabang Bank Ekonomi >> ini sama sekali tak tertarik untuk mendirikan perusahaan, termasuk >> perusahaan sekuritas. >> >> “Saya hanya punya 15% dana cash untuk jaga-jaga supaya kalau terjadi >> krisis saya masih punya uang untukmembeli saham. Saya tidak bekerja, >> tidak >> punya perusahaan, tidak punya pelanggan seorang pun, tidak punya karyawan >> seorang pun, dan tak punya bos. Hanya punya seorang sopir dan dua >> pembantu,” papar Lo Kheng Hong yang sudah 22 tahun bermain saham. >> >> Apa saja tips Lo Kheng Hong hingga ia mampu mengeduk keuntungan besar >> dari >> pasar saham? Bagaimana harus bersikap saat pasar mengalami *bullish*, * >> bearish*, atau *crash*? Berikut petikan lengkap wawancara dengan pria >> yang mengaku berasal dari keluarga tak mampu dan kelak berniat >> menyumbangkan kekayaannya kepada fakir miskin tersebut. >> >> K*enapa Anda tertarik bermain saham?* >> Saya tertarik bermain saham karena saham dapat memberikan keuntungan yang >> besar dan tidak capek seperti di sektor riil. >> >> *Apa enaknya menjadi investor saham?* >> Pertama, seorang pemain saham dapat menjadi orang yang terkaya di dunia, >> seperti Warren Buffett. Banyak orang yang tidak tahu dan tidak percaya. >> Mereka hanya tahu banyak orang yang rugi, orang kaya jadi miskin karena >> bermain saham, bahkan ada yang bunuh diri karena saham. >> >> Kedua, seorang pemain saham punya banyak waktu, bebas, dan tidak >> dipusingkan oleh urus-mengurus karyawan, pelanggan, dan lain-lain. Di >> perusahaan, status investor saham adalah sleeping partner, sehingga waktu >> luangnya bisa diisi dengan hal-hal yang disukai. >> >> Ketiga, semua keuntungan perusahaan menjadi milik pemegang saham, padahal >> yang bekerja keras adalah direksi, komisaris, manajer, dan seluruh >> karyawan, tetapi mereka hanya menerima gaji dan bonus. Mereka tidak punya >> hak untuk mendapatkan bagian dari keuntungan perusahaan. Memiliki >> perusahaan yang untung besar seperti memiliki mesin pencetak uang. >> >> *Sejak kapan Anda bermain saham?* >> Saya bermain saham sejak 1989, 22 tahun yang lalu. Saya dilahirkan dari >> keluarga yang berpenghasilan rendah. Orangtua hanya pegawai kecil. Saat >> tamat SMA, saya belum punya biaya untuk kuliah. Kemudian saya jadi >> pegawai >> tata usaha di bank, waktu itu saya disuruh-suruh untuk fotokopi dan >> lainnya. Kemudian saya bisa bekerja sambil kuliah. Saya pilih kampus yang >> murah sesuai kemampuan keuangan. Saat bekerja di bank itulah, saya mulai >> main saham. Saya sempat menjadi kepala cabang. Saya kemudian keluar dari >> bank dan fokus main saham. >> >> *Anda saat ini punya saham apa saja?* >> Saya punya saham sekitar 30 emiten, antara lain di Multibreeder Adirama >> Indonesia Tbk (MBAI), dengan kepemilikan 8,29% lebih. Saham saya >> banyaknya >> bukan di LQ45. Kepemilikan saya di saham lain di bawah 5%. Saya tipe >> investor jangka panjang. >> >> Kalau trading, dapatnya receh, kalau jangka panjang dapat uangnya besar. >> Saya pegang saham ini sudah enam tahun. Saya beli tahun 2005 seharga Rp >> 250 >> dan harganya sempat menyentuh Rp 31.500. Belum saya jual, padahal >> gain-nya >> sudah 12.600%. >> >> *Cara Anda memilih saham?* >> Saya lihat manajemen. Apakah menerapkan good corporate governance (GCG) >> atau tidak. Saya cari dari kompetitornya, biasanya mereka tahu. Saya cari >> tahu agar tidak beli kucing dalam karung, karena ini menyangkut harta >> saya. >> Jangan membeli sesuatu yang tidak kita tahu. Lihat manajemen, apakah >> pengelolanya jujur atau tidak. Jangan sampai pengelolanya suka ambil uang >> perusahaan, sehingga saya sebagai sleeping partner dirugikan. >> >> Istilahnya, yang menjadi pertimbangan pertama adalah manajemen, kedua >> manajemen, ketiga manajemen, baru yang lain. Kemudian lihat sektor >> usahanya, bagus atau tidak. Ada sektor yang kurang menarik, misalnya >> sepatu, tekstil, dan garmen. Tetapi ada juga yang menarik, seperti kelapa >> sawit dan pakan ayam. >> >> Orang banyak makan ayam karena ayam merupakan sumber protein termurah dan >> dampak negatifnya terhadap kesehatan lebih rendah dibanding yang lain. >> Perhatikan juga apakah emiten bersangkutan mengalami pertumbuhan atau >> tidak. >> >> *Kriteria pertumbuhan, konkretnya seperti apa?* >> Ada empat tipe perusahaan. Pertama, perusahaan yang rugi terus, ada yang >> kadang untung, dan kadang merugi. Kemudian, perusahaan yang untung besar >> terus, tapi stagnan. Ada juga perusahaan yang *growing *secara berkala, >> misalnya dari Rp 2 triliun, Rp 5 triliun, dan seterusnya. Ini perusahaan >> yang baik dan yang saya cari. Lihat kinerjanya lima tahun ke belakang. >> Lihat masa lalunya. >> >> *Bagaimana jika lima tahun pertama tumbuh, tetapi lima tahun berikutnya >> ternyata turun?* >> Biasanya kalau lima tahun ke belakang tumbuh, ke depannya akan mengalami >> hal yang sama. Kalau sudah lima tahun berturut-turut *growing*, tandanya >> itu *super company. * >> * >> Setelah melihat fundamental emiten, apa lagi yang Anda perhatikan?* >> Harga. Saya lihat dari* price to earning ratio* (PER)-nya. Jangan bilang >> saham A karena harganya Rp 250 dibilang murah, dan saham B yang harganya >> Rp >> 70.000 dibilang mahal. Maksudnya, saham yang harganya Rp 70.000 bisa >> lebih >> murah dibanding saham yang harganya Rp 250. Kita lihat kemampuan >> emitennya >> dalam membukukan keuntungan. >> >> *Berapa PER yang ideal saat membeli suatu saham?* >> Saya pikir, yang *reasonable *untuk dibeli yaitu yang PER-nya di bawah >> lima kali, itu sangat menarik dan potensial. Tapi biasanya perusahaan >> yang >> sudah baik dan manajemennya bagus, PER-nya sudah di atas 10 kali. >> * >> Soal timing, kapan saat yang paling tepat untuk masuk pasar?* >> Yang paling bagus membeli saham adalah saat sedang krisis seperti di >> Yunani, Eropa, dan AS. Ada pepatah lama yang tidak perlu dilupakan,* buy >> on weakness.* Dan, harus* be greedy when others are fearful* dan >> sebaliknya, *be fearful when others greedy.* >> >> *Bukankah itu sulit diterapkan?* >> Saya banyak baca buku tentang Warren Buffett. Saya belajar dari orang >> yang >> sudah terbukti berhasil investasi di pasar saham. Dia sudah >> membuktikannya, >> bahkan menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Nggak mungkin kan kalau >> saya belajar dari Bernard Madoff? Ha, ha, ha, ha... >> >> Ternyata orang seperti Madoff, mantan bos bursa Nasdaq tapi tidak bisa >> mengelola uang nasabah. Ini menunjukkan bahwa dia hanya tahu semua >> peraturan di bursa saham, tetapi tidak mengetahui bagaimana cara menjadi >> kaya di pasar saham. >> * >> Berarti, kuncinya ada di mental?* >> Mental bisa bagus saat kita tahu apa yang kita beli. Kebanyakan orang >> panic karena mereka tidak tahu apa yang mereka beli. Ini pelajaran >> penting. >> Saya berikan ilustrasi. Waktu itu saya ke Harvard University, saya tanya >> biaya kuliah di sana berapa? Ternyata bisa sampai US$ 40.000, keluar dari >> sana semua jadi orang pintar. Dengan belajar seharga US$ 40.000, kita >> bisa >> menjadi orang pintar. >> >> Tapi di pasar saham, kita sudah habiskan puluhan miliar rupiah belum >> tentu >> jadi pintar, malah bisa tambah bingung, seperti Madoff yang sudah >> menghabiskan uang masyarakat sebesar US$ 60 miliar, apakah dia menjadi >> pintar? Bisa saja di penjara dia berpikir, kenapa saham yang dibeli turun >> dan yang dijual justru naik. >> >> Jadi, intinya pintar saja tidak cukup. Untuk menjadi investor yang kuat, >> kita harus mengetahui perusahaan satu per satu. Semua orang bisa seperti >> itu, asalkan mau baca. Bacalah laporan keuangan emiten satu per satu. >> >> *Jadi, Anda tipe investor fundamental?* >> Saya 100% fundamental karena lihat manajemennya atau pertumbuhan >> perusahaan. Kalau teknikal, hanya grafik, semuanya diabaikan. Saya yakin >> itu tidak benar. Tapi memang harus selektif. Dari 400-an saham yang ada >> di >> bursa domestik, cukup banyak yang fundamentalnya bagus. Terkadang, ada >> yang >> terjebak. >> >> *Anda tidak memantau pergerakan harga saham setiap saat?* >> Kenapa kita pusing? Karena kita beli saham yang tidak kita ketahui. Ada >> yang tidak bisa tidur karena PER sahamnya 100 kali atau 200 kali. Lalu, >> kenapa kita tidak bisa tidur kalau PER-nya hanya lima kali? >> * >> Bukankah investor sering terbawa arus karena faktor nonfundamental?* >> Saya lihat investor di pasar modal kebanyakan ikut-ikutan. Saat *market >> *mengalami >> *booming*, semua masuk. Saat *market* buang-buang saham, mereka >> ikut-ikutan. Mayoritas hanya ikut-ikutan dan tidak mengerti apa yang >> dibeli. Jadi, belajarlah dari orang yang memang sudah berhasil dan ikuti >> langkahnya. Jangan percaya saat ada iklan yang bilang dapat untung besar >> saat indeks turun. Kalau bisa seperti itu, hebat sekali. Bahkan, orang >> sekelas Warren Buffett saja, saat pasar saham AS turun, dia juga >> mengalami >> kerugian. >> >> *Anda berinvestasi pada instrument selain saham?* >> Tidak, hanya saham. Hampir semua uang saya ada di pasar modal. Dana tunai >> saya hanya 15%, sisanya portofolio saham. Kenapa saya sisakan segitu? Itu >> untuk antisipasi kalau pasar modal kita jatuh, sehingga saya masih bisa >> beli saham lagi. >> * >> Dari mana Anda membiayai kebutuhan hidup sehari-hari?* >> Saya bisa hidup dari dividen yang saya terima. Misalnya harga saham suatu >> emiten yang saya beli bulan lalu Rp 610, sekarang harganya Rp 2.375, >> kemudian saya jual. Awalnya saya berniat menahannya untuk jangka panjang. >> Tapi kalau untungnya sudah sampai 300% dalam sebulan, saya lepas. Untuk >> emiten yang bagus sekali, tetap saya keep untuk jangka panjang. Kalau >> emitennya kurang meyakinkan dan naiknya signifikan, lebih baik saya >> lepas. >> >> *Saat krisis moneter 1997-1998 dan krisis finansial 2008, Anda mengalami >> kerugian juga?* >> Saya sempat mengalaminya juga. Waktu krisis 2008, saya sempat jatuh, tapi >> tetap *be greedy when others are fearful*. Malah sewaktu krisis >> 1997-1998, saya sempat jatuh hingga uang saya tinggal 15%. Tapi uang itu >> saya tukar ke saham, karena saya tahu pasar modal akan naik lagi. Dan, >> itu >> terbukti. Akhirnya uang saya meningkat 150.000%. >> >> *Bagaimana Anda menyikapi perkembangan harga saham saat ini, terutama >> yang terkait dengan krisis utang di Eropa dan krisis finansial di AS?* >> Saat IHSG terkoreksi, wajar saja kalau nilai portofolio saya ikut turun. >> Tetapi ketika turun, saya sama sekali tidak ikut-ikutan menjual, bahkan >> saya membeli dan menambah saham saya, karena saya yakin satu hari >> saham-saham saya akan naik kembali, bahkan dapat lebih tinggi dari >> sebelumnya. >> * >> Apa filosofi hidup Anda?* >> Filosofi hidup saya adalah bagaimana saya bisa menjadi kaya sambil tidur. >> Karena di perusahaan status saya adalah sleeping partner, saya tidur >> tetapi >> saham-saham perusahaan saya bekerja buat saya secara dahsyat. *Getting >> rich while sleeping.* Saya pakai waktu saya delapan jam untuk tidur, >> selebihnya saya pakai untuk bersenang-senang dan mengerjakan apa yang >> saya >> sukai. >> >> --- >> Fabianto >> >> >> > > ------------------------------------ Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham. SEMUA POSTING DI MILIS INI TANGGUNG JAWAB PENGIRIM EMAIL DAN BUKAN ADMIN MILIS. SEMUA POSTING DI MILIS INI BUKAN UNTUK MENGAJAK MEMBELI ATAU MENJUAL EFEK. SETIAP KEPUTUSAN INVESTASI MENJADI TANGGUNG JAWAB PIHAK PEMILIK INVESTASI ATAU PEMILIK MODAL. [email protected] untuk berhenti dari milis saham [email protected] untuk bergabung ke milis saham Yahoo! Groups Links Individual Email | Traditional http://docs.yahoo.com/info/terms/
