Sekilas Mengenai CPO
Dari berbagai perkembangan dan kajian yang ada, terlihat bahwa ke depan
persaingan dalam usaha perkebunan kelapa sawit bukan saja terjadi antar sesama
negara produsen melainkan juga persaingan dengan jenis minyak nabati lainnya.
Hal ini jelas terlihat dari gambaran tentang pangsa konsumsi dan produksi
minyak
nabati yang ada pada tabel berikut :
Pangsa Produksi dan Konsumsi Minyak Nabati Dunia
Di bawah ini merupakan grafik perkembangan persentase
produksi dan konsumsi minyak nabati dunia :
Secara fisik, minyak kelapa sawit tergolong minyak yang tidak mengering (non
drying oil). Sedangkan minyak kacang kedelai tergolong dalam minyak yang
sifatnya mengering (drying oil). Jenis minyak mengering adalah minyak yang
mempunyai sifat dapat mengering apabila terkena oksidasi dan akan berubah
menjadi lapisan tebal, bersifat kental dan membentuk sejenis selaput jika
dibiarkan di udara terbuka.
Kadar minyak kedelai relatif lebih rendah. Namun, kadar proteinnya tinggi.
Hal ini menyebabkan kedelai lebih banyak digunakan sebagai sumber protein
daripada sebagai sumber minyak.
Ada beberapa faktor yang dapat menghambat produksi kelapa sawit. Salah satu
faktornya adalah hama. Serangan hama dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman
hingga berdampak pada penurunan tingkat produksi kelapa sawit. Hama dapat
menyerang kelapa sawit sejak tahap pra-pembibitan hingga tahap menghasilkan.
Pada tanaman yang dibudidayakan, penyakit tanaman juga merupakan faktor yang
dapat menyebabkan kegagalan produksi tanaman. Penyakit pada tanaman tahunan,
termasuk kelapa sawit, umumnya sulit dikendalikan, terutama penyakit yang
disebabkan oleh patogen tular tanah (soilborne disease). Namun, kelapa
sawit merupakan tanaman yang paling tahan hama dan penyakit dibandingkan dengan
tanaman penghasil minyak nabati lainnya.
Penyakit tanaman dapat terjadi apabila :
1. inangnya rentan (suseptibel)
2. organisme penyebab penyakit tanaman (patogen) yang virulen
3. lingkungan yang mendukung perkembangan penyakit
Faktor penghambat lain adalah gulma. Gulma merupakan tumbuhan pengganggu yang
memiliki dampak negatif terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman. Pengaruh
gulma tidak terlihat secara langsung, dan umumnya berjalan lambat. Gulma
perkebunan, termasuk perkebunan kelapa sawit, mampu menjadi kompetitor utama
dalam memperebutkan unsur hara, air, ruang tumbuh dan cahaya matahari. Beberapa
spesies gulma juga dapat memproduksi zat racun yang dapat menghambat
pertumbuhan
tanaman utama, dikenal dengan ‘alelopati’.
Untuk masalah dalam negeri, ketidakpastian hukum untuk pengembangan kelapa
sawit, infrastruktur, perpajakan dan bea keluar seringkali menjadi penghambat
proses produksi kelapa sawit. Isu perubahan iklim pun dapat mengganggu suasana
penanaman dan hasil panen produksi kelapa sawit.
Pemalsuan benih kelapa sawit pun kerap terjadi. Hal ini disebabkan karena
kebutuhan benih yang lebih besar dari jumlah yang dapat disediakan oleh
produsen
benih. Hal ini pun menjadi salah satu penghambat peningkatan produktivitas
kelapa sawit.
Berikut merupakan tabel negara pengekspor utama CPO dalam ribu ton :
Sedangkan tabel di bawah ini menunjukkan negara-negara pengimpor utama CPO
dalam satuan ribu ton :
Data yang diambil pada kedua tabel merupakan data pada tahun 2007.
Negara-negara pengekspor utama untuk CPO adalah Malaysia, Indonesia,
Thailand, Hongkong dan Singapura. Sementara, negara importir utamanya adalah
Cina.
Tumbuhan kelapa sawit memiliki kegunaan sebagai berikut:
1. Daging buah kelapa sawit menghasilkan minyak kelapa sawit mentah
yang dapat
diolah menjadi bahan baku minyak goreng. Minyak nabati dari sawit memiliki
kandungan karoten tinggi dan rendah kolestrol. Minyak sawit pun dapat diolah
menjadi bahan baku minyak alkohol, sabun, lilin, dan industri kosmetika.
2. Tempurung kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar dan
pembuatan
arang aktif.
3. Serat kuat dari tandan kosong kelapa sawit yang diurai halus dapat
dimanfaatkan sebagai isi jok sofa. Kelebihannya yaitu, sofa lebih empuk, lentur
dan masa pakainya lebih lama. Tandan kosong juga dapat digunakan sebagai sumber
pupuk organik yang memiliki kandungan unsur hara yang dibutuhkan tanaman.
4. Batang kelapa sawit yang sudah tua dapat dimanfaatkan sebagai bahan
perabot
rumah tangga seperti mebel, furniture atau papan artikel. Batang dan tandan
sawit juga dapat digunakan untuk pulp kertas dan papan serat. Sementara batang
dan pelepah sawit dapat dipakai untuk pakan ternak dengan pengolahan yang
benar.
Biofuel berasal dari kata Bio dan Fuel, yang dide?nisikan sebagai bahan bakar
yang sumbernya berasal dari proses-proses biologi (terbarui). Bahan bakar ini
dapat diambil dari tetumbuhan, hewan, ataupun sisa-sisa hasil pertanian. Saat
ini, kita dapat menemukan biofuel dalam bentuk padatan, cair dan gas yang
dihasilkan dari material organik baik langsung dari tanaman ataupun secara
tidak
langsung dari proses industrial (pabrik), komersial, domestik atau sisa-sisa
hasil pertanian. Banyak pakar menyebutnya sebagai Agrofuel (bahan bakar yang
berasal dari tetumbuhan), tapi dalam lembar informasi ini kita akan pakai
istilah biofuel.
Biofuel akan menghasilkan 2 jenis bahan bakar, yaitu biodiesel dan
bioethanol. Biodiesel merupakan biofuel yang dihasilkan dari tumbuh-tumbuhan
yang menghasilkan minyak seperti kelapa sawit, jarak, kedele/soya, bunga
matahari dan banyak lagi, sementara bioethanol dihasilkan dari tumbuhan yang
mengandung serat dan gula tinggi seperti jagung, tebu,singkong dll). Biodiesel
akan menggantikan solar, sementara bioethanol akan menggantikan bensin.
Biofuel menawarkan kemungkinan memproduksi energi tanpa meningkatkan kadar
karbon di atmos?r karena berbagai tanaman yang digunakan untuk memproduksi
biofuel mengurangi kadar karbondioksida di atmos?r, tidak seperti bahan bakar
fosil yang mengembalikan karbon yang tersimpan di bawah permukaan tanah selama
jutaan tahun ke udara. Dengan begitu biofuel lebih bersifat carbon neutral dan
sedikit meningkatkan konsentrasi gas-gas rumah kaca (GRK) diatmos?r (meski
timbul keraguan apakah keuntungan ini bisa dicapai di dalam prakteknya).
Penggunaan biofuel mengurangi pula ketergantungan pada minyak bumi serta
meningkatkan keamanan energi. Biofuel bagian dari konsep energi terbaharukan
diperkenalkan pada 1970-an sebagai bagian dari usaha mencoba bergerak melewati
pengembangan bahan bakar nuklir dan fosil. De?nisi paling umum adalah
sumber energi yang dapat dengan cepat diisi kembali oleh alam, proses
berkelanjutan. Di bawah de?nisi ini, bahan bakar nuklir dan fosil tidak
termasuk
ke dalamnya.
Salah satu produk biofeul adalah biodiesel merupakan biofuel yang paling umum
di Eropa. Di produksi dari minyak atau lemak menggunakan transesteri?kasi dan
merupakan cairan yang komposisinya mirip dengan dieselmineral. Biodiesel
merupakan calon tunggal yang paling dekat untuk menggantikan bahan bakar fosil
sebagai sumber energi transportasi utama dunia, karena ia merupakan bahan bakar
terbaharui yang dapat menggantikan dieselpetrol di mesin sekarang ini dan dapat
diangkut dan dijual dengan menggunakan infrastruktur sekarang ini. Penggunaan
dan produksi biodiesel meningkat dengan cepat, terutama di Eropa, Amerika
Serikat, dan Asia, meskipun dalam pasar masih sebagian kecil saja dari
penjualan
bahan bakar.
Pertumbuhan Sarana Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) membuat semakin
banyaknya penyediaan biodiesel kepada konsumen dan juga pertumbuhan kendaraan
yang menggunakan biodiesel sebagai bahan bakar. Biodiesel dapat digunakan di
setiap mesin diesel kalau dicampur dengan diesel mineral. Di beberapa negara
produsen memberikan garansi untuk penggunaan 100% biodiesel. Kebanyakan
produsen
kendaraan membatasi rekomendasi mereka untuk penggunaan biodiesel sebanyak 15%
yang dicampur dengan diesel mineral. Di kebanyakan negara Eropa, campuran
biodiesel 5% banyak digunakan luas dan tersedia di banyak stasiun bahan bakar.
Di AS,lebih dari 80% truk komersial dan bis kota beroperasimenggunakan diesel.
Oleh karena itu penggunaan biodiesel AS bertumbuh cepat dari sekitar 25 juta
galon per tahun pada 2004 menjadi 78 juta galon pada awal 2005. Pada akhir
2006,
produksi biodiesel diperkirakan meningkat empat kali lipat menjadi 1 milyar
galon.
Perkembangan produktivitas kelapa sawit di Indonesia pada tahun 2003-2009
akan diperlihatkan pada gambar di bawah ini :
Berikut tabel proyeksi produksi minyak sawit Indonesia tahun 2009-2012 (data
dibuat pada tahun 2010).
Indonesia merupakan negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar sejak tahun
2008. Perkebunan kelapa sawit di Indonesia banyak terdapat di pulau Sumatera,
Kalimantan, Jawa, Aceh dan Sulawesi. Berdasarkan provinsi, Riau merupakan
provinsi penghasil minyak sawit terbesar di Indonesia.
Produk Turunan Kelapa
Sawit merupakan manfaat yang didapat dari pengolahan lebih
lanjut dari kelapa sawit yaitu minyak dasar yang dihasilkannya dari kelapa
sawit
(Crude Palm Oil). Olahan lebih lanjutnya bisa berbentuk Refined Palm Oil maupun
produk turunan lainya. Produk-produk ini dibuat berdasarkan spesifikasi kelapa
sawit yang di panen yaitu berdasarkan standar mutu internasional meliputi ALB,
air, kotoran, logam besi, logam tembaga, peroksida, dan ukuran pemucatan.
Produk minyak kelapa sawit sebagai bahan makanan mempunyai dua aspek
kualitas. Aspek pertama berhubungan dengan kadar dan kualitas asam lemak,
kelembaban dan kadar kotoran. Aspek kedua berhubungan dengan rasa, aroma dan
kejernihan serta kemurnian produk.
Berdasarkan faktor-faktor mutu tersebut, maka didapat hasil pengolahan kelapa
sawit seperti :
- Crude Palm Oil
- Crude Palm
Stearin
- RBD Palm Oil
- RBD Olein
- RBD
Stearin
- Palm Kernel
- Palm Kernel Oil
-
Palm Kernel Fatty Acid
- Palm Kernel Expeller (PKE)
-
Palm Kernel Pellet
- Palm Kernel Shell Charcoal
- Palm
Cooking Oil
- Refined Palm Oil (RPO)
- Refined Bleached
Deodorised Olein (ROL)
- Refined Bleached Deodorised Stearin
(RPS)
Sesuai dengan spesifikasi kebutuhan produk, maka produk CPO dapat diturunkan
lagi menjadi :
1. Produk turunan CPO.
Produk turunan CPO selain minyak goreng kelapa
sawit, dapat dihasilkan margarine, shortening, Vanaspati (Vegetable ghee), Ice
creams, Bakery Fats, Instans Noodle, Sabun dan Detergent, Cocoa Butter
Extender,
Chocolate dan Coatings, Specialty Fats, Dry Soap Mixes, Sugar Confectionary,
Biskuit Cream Fats, Filled Milk, Lubrication, Textiles Oils dan Bio Diesel.
Khusus untuk biodiesel, permintaan akan produk ini pada beberapa tahun
mendatang
akan semakin meningkat, terutama dengan diterapkannya kebijaksanaan di beberapa
negara Eropa dan Jepang untuk menggunakan renewable energy.
2. Produk Turunan Minyak Inti Sawit.
Dari produk turunan minyak inti sawit
dapat dihasilkan Shortening, Cocoa Butter Substitute, Specialty Fats, Ice
Cream,
Coffee Whitener/Cream, Sugar Confectionary, Biscuit Cream Fats, Filled Mild,
Imitation Cream, Sabun, Detergent, Shampoo dan Kosmetik.
3. Produk Turunan Oleochemicals kelapa sawit.
Dari produk turunan minyak
kelapa sawit dalam bentuk oleochemical dapat dihasilkan Methyl Esters, Plastic,
Textile Processing, Metal Processing, Lubricants, Emulsifiers, Detergent,
Glicerine, Cosmetic, Explosives, Pharmaceutical Products dan Food Protective
Coatings.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran dan permintaan minyak sawit di
pasar domestik dan dunia :
1. Perubahan luas areal tanaman menghasilkan perusahaan perkebunan
besar negara
kurang responsif terhadap perubahan harga minyak sawit dibandingkan dengan
perkebunan besar swasta dan rakyat. Hal ini dapat terjadi karena kebijakan
pemerintah yang menetapkan pemasaran bersama minyak sawit sehingga perilaku
perusahaan perkebunan besar negara lebih ditentukan oleh aturan-aturan
pemerintah.
2. Perubahan produktivitas perkebunan besar negara, swasta, dan rakyat
di semua
wilayah Indonesia tidak responsif terhadap perubahan luas areal, sehingga
peningkatan produksi minyak sawit lebih dikarenakan peningkatan luas areal
tanaman kelapa sawit tanpa peningkatan produktivitas.
3. Harga minyak sawit domestik lebih responsif terhadap perubahan
jumlah
permintaan minyak sawit domestik daripada permintaan ekspor minyak sawit, maka
pengembangan industri hilir minyak sawit domestik (seperti industri minyak
goreng sawit, oleokimia, sabun, margarin, dan biodiesel) akan meningkatkan
jumlah permintaan minyak sawit sehingga dapat meningkatkan harga yang diterima
produsen minyak sawit domestik.
4. Permintaan negara-negara importir minyak sawit utama dunia (Cina dan
India)
tidak responsif terhadap perubahan harga minyak sawit di pasar dunia, sedangkan
impor minyak sawit Pakistan responsif terhadap perubahan harga minyak sawit di
pasar dunia. Permintaan impor minyak sawit Cina dan India lebih dipengaruhi
perubahan pendapatan dan jumlah penduduknya.
5. Penawaran negara-negara eksportir utama dunia (Indonesia dan
Malaysia) tidak
responsif terhadap perubahan harga ekspor minyak sawitnya. Penawaran ekspor
minyak sawit Indonesia dan Malaysia lebih dipengaruhi perubahan produksi minyak
sawit domestik.
6. Impor minyak sawit oleh Cina dan Pakistan relatif lebih responsif
terhadap
perubahan harga minyak kedele dunia (sebagai substitusi dari minyak sawit)
dibandingkan dengan India, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Cina,
Pakistan, dan India merupakan negara produsen minyak kedele, tetapi kebijakan
pembatasan impor pemerintah India mengenakan pajak impor minyak sawit yang
lebih
tinggi dibandingkan Cina dan Pakistan. Meskipun harga minyak kedele dunia
meningkat, permintaan impor minyak sawit oleh India hanya meningkat relatif
kecil.
disclaimer on
bei5000.com
Advance Fundamental Analysis Tool
Chart TA/FA
Chart Sektoral
Filter Fundamental Saham Saham
Kalkulasi Otomatis Harga Wajar Saham
LK Q3 2011
LK Q3 2010