Rekan rekan milis yang dikasihi Kristus
Berikut ini saya kirimkan sebuah berita menarik yang berhasil di liput oleh
Kantor Berita Katolik Asia (UCAN) dari daerah perbatasan Timor Leste tepatnya
di Atambua (NTT) mengenai karya-karya amal kasih yang diberikan oleh para
suster awam (ALMA, Asosiasi Lembaga Misionaris Awam) kepada anak anak cacat di
keuskupan Atambua.
Lewat tangat-tangan kasih pelayanan suster-suster awam (ALMA) dan dengan
segala keterbatasan yang ada, para suster ALMA dengan penuh perhatian dan kasih
sayang serta pengorbanan tak kenal lelah para suster ALMA merawat, mendidik,
membimbing dan membina anak-anak anak-anak cacat di daerah perbatasan dengan
Timor Leste.
Dalam berita ini terungkap bahwa, akibat kekurangan dan dan keterbatasan yang
dimiliki para suster ALMA dengan terpaksa harus meminjam beras kepada pengusaha
setempat agar dapat memberi makan anak-anak cacat di panti yang mereka bina.
Kurangnnya bantuan dari ALMA pusat dan Gereja serta pemerintah setempat
menyebabkan para suster kerap menghadapi berbagi kesulitan terlebih dalam hal
memberi makan pada anak-anak cacat binaan mereka. Oleh karena itu, Suster Dadas
selaku pimpinan ALMA di keuskupan Atambua sangat mengharapkan bantuan dari
gereja (umat awam) dan semua pihak untuk membantu mereka demi suksesnya karya
dan pelayanan mereka bagi anak-anak cacat di keuskupan tersebut.
Rekan-rekan milis, adakah diantara kalian yang tersentuh untuk memberikan
bantuan kepada sesama (anak-anak panti asuhan binaan para suster awam ALMA di
keuskupan Atambua).
Jika rekan-rekan berniat untuk membantu para Suster ALMA di Timor, silakan
kirimkan langsung Bantuan anda ke alamat:
SUSTERAN ALMA ATAMBUA
Jl. Ki Hajar Dewantara
Kab. Belu Atambua
Timor NTT
Telpon : 0389 - 22066
HP. Sr. Agnes ALMA: 0813 3494 1629,
Jika bantuan berupa uang dapat dikirimkan melalui:
BRI UNIT PASAR BARU ATAMBUA
No : 3496 - 01 - 021057 - 53 - 5
a.n : SR. WALDEGARDA DADAS
Demikian berita dari perbatasan Timor Leste. Selamat membaca.
Syalom
Vitalis
--------------------------------------------------------------------------------
INDONESIA - IS02572.540b 1 Juni 2007 64 baris (610 kata)
KEKURANGAN TIDAK MENGHAMBAT MISIONARIS AWAM UNTUK MERAWAT ORANG CACAT
ATAMBUA, NTT (UCAN) -- Enam anak cacat berusia 5 hingga 10 tahun sedang
bermain di sebuah kamar terapi di sebuah panti yang dikelola oleh Asosiasi
Lembaga Misionaris Awam (ALMA). Beberapa sedang berteriak, beberapa sedang
tertawa. Sementara lainnya sedang memeluk anggota ALMA.
"Inilah kehidupan kami bersama anak-anak cacat di sini," kata Suster
Elda Dadas kepada UCA News 26 Mei di kediaman ALMA di Atambua, ibukota
Kabupaten Belu.
Umat Katolik memanggil anggota perempuan ALMA dengan sebutan suster,
seperti mereka memanggil biarawati Katolik. Meski mereka tidak mengucapkan kaul
secara resmi seperti kaum religius atau mengenakan jubah, mereka membuat
komitmen yang sama yakni hidup selibat, hidup dalam kemiskinan, dan hidup dalam
ketaatan dalam memberikan pelayanan. ALMA juga memiliki anggota laki-laki,
namun tidak di panti yang terletak di Atambua tersebut.
Di dalam ruangan seluas 30 meter persegi itu terdapat sebuah televisi
14 inch yang terletak di atas lemari, sebuah meja kayu, dan sejumlah kursi. Di
dinding berwarna putih menggantung gambar Yesus, Bunda Maria, dan St.
Vincentius, serta sebuah foto Pastor Paulus Hendrikus Janssen CM, pendiri ALMA,
yang sedang menggendong seorang anak.
Kamar itu adalah salah satu dari tiga kamar terapi di panti ALMA di
Keuskupan Atambua. Panti yang dibangun tahun 1996 di atas lahan seluas 1,5
hektare milik keuskupan itu juga memiliki tujuh kamar tidur, sebuah ruang
makan, dan sebuah dapur. Halaman belakang adalah kebun untuk menanam sayur.
Lima suster ALMA merawat 19 orang cacat berusia 5-22 tahun. Sekali
dalam seminggu para misionaris perempuan itu juga mengunjungi 46 anak cacat
lain dari berbagai agama yang tinggal bersama keluarga mereka di desa-desa
sekitar. Para misionaris perempuan itu biasanya mengendarai ojek (alat
transportasi yang menggunakan sepeda motor).
Anak-anak yang menderita cacat serius, yang keluarganya tidak bisa
merawat sendiri, khususnya mereka yang buta, tuli atau tidak bisa berjalan,
dibawa ke panti ALMA.
Kami ingin mendidik mereka supaya di kemudian hari mereka bisa mandiri
dan berusaha sendiri, kata Suster Dadas.
Para misionaris itu memberi terapi bicara dan terapi belajar bagi
anak-anak muda tersebut dan mengajarkan kepada mereka tentang cara berdoa dan
bernyanyi serta cara menanam sayur-mayur dan cara mengerjakan pekerjaan rumah
tangga. Mereka juga melatih orang-orang buta untuk membaca dengan menggunakan
Braille.
Kami juga ingin menjadi ibu bagi mereka, supaya mereka juga merasa
memiliki orangtua di panti ini, kata Suster Dadas. Ia masuk ALMA tahun 1998
dan bergabung dengan panti itu lima bulan lalu setelah berkarya di Blitar,
Propinsi Jawa Timur.
Namun, pelayanan para suster itu tidak selalu berjalan dengan lancar.
Kalau sudah tidak ada uang, kami berhenti sesaat, kenang misionaris
itu. Seringkali kami meminjam dua karung beras dari seorang pengusaha
sebelum kami mendapat kiriman dana dari pusat.
Kantor pusat ALMA di Malang, Jawa Timur, mengirim sekitar 2 juta
rupiah setiap bulan ke panti di Atambua tersebut.
"Ini tidak cukup. Biasanya setiap bulan kami menghabiskan uang 2 juta
rupiah untuk membeli makanan dan minuman. Namun masih banyak yang harus kami
beli," jelas Suster Dadas. "Sangat jarang sekali ada bantuan dari Gereja dan
pemerintah." Di panti di Blitar, katanya, paroki dan pemerintah setempat
memberi sumbangan setiap bulan. "Tetapi di Belu ini, kami sangat jarang
mendapat bantuan."
Kekurangan sumber dana semacam ini tidak menghambat anggota ALMA untuk
melanjutkan misi mereka. "Memang ini sesuatu yang berat, namun kami sudah biasa
menjalankannya," tegas Suster Dadas. Namun, ia tetap mengharapkan bantuan dan
kerjasama dari Gereja dan pemerintah setempat.
Pastor Janssen mendirikan ALMA di Madiun, Jawa Timur, pada 27 September
1960. Anggota ALMA mengikuti spritualitas Vincentius. Mereka merawat anak-anak
cacat dan berkarya di bidang pendidikan, kerasulan keluarga dan awam, dan
evangelisasi, khususnya di daerah-daerah terpencil.
Saat ini ALMA memiliki 20 komunitas di Keuskupan Amboina, Keuskupan
Atambua, Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Larantuka,
Keuskupan Malang, Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Agung Semarang,
Keuskupan Sintang, Keuskupan Surabaya, dan Keuskupan Weetebula.
-END-
---------------------------------
The fish are biting.
Get more visitors on your site using Yahoo! Search Marketing.