----- Teruskan pesan dari [EMAIL PROTECTED] -----
     Tanggal: Thu, 06 Sep 2007 09:40:00 +0700
     Dari: [EMAIL PROTECTED]
Balas-Kepada:[EMAIL PROTECTED]
  Perihal: Jas Merah (Jangan melupakan sejarah)
       Kepada: [EMAIL PROTECTED]

Terimakasih atas penjelasan Pak Anton  W yang sangat informatif.

Penjelasan tersebut banyak memberikan gambaran bagaimana beratnya
upaya panitia PPG saat itu
Untuk bisa ‘mengamankan” apa yang menjadi titipan umat stasi ketika
mendapat tekanan kuat dari DPP St Thonas.
Ini lebih mirip film-film pembajakan pesawat daripada upaya
penyelematan dari Menara pengawas.
Mungkin petugas menara pengawas diilhami dengan film-film tersebut,
atau pihak menara menganggap pesawat
yang dikuasai pihak pembajak sehingga tak perlu ada negosiasi untuk
mendaratkan pesawat.

Melihat penjelasan tersebut tak ada kemungkinan pesawat dikuasai
pembajak. Kesan yang didapat adalah mereka
menginginkan muatan bisa aman dan digunakan seperti yang menjadi
tujuan pemiliknya (umat Stasi).

Rupanya sampai 3 tahun kemudian harapan pilot dan crew tersebut
menjadi sia-sia.
Betapa banyak energi yang menjadi sia-sia, pemikiran dan
pembicaraan-pembicaraan yang dilandasi
saling percaya dan semangat kristiani dan bisa jadi melelahkan menjadi
tak ada gunanya sama sekali.  Pembentukan PPG baru tak kunjung
terwujud. Beban moral pilot dan crew terhadap umat Stasi semakin berat
dengan berjalannya waktu. Hal ini tentu memunculkan suasana yang tidak
sehat dalam
upaya membangunan kebersamaan umat . Yang muncul adalah rasa
kekecewean, ketidakpercayaan
dan apatis terhadap hal tersebut.

Sebenarnya masalah ini bisa segera diatasi dengan kemauan DPP untuk
menyelesaikannya.

Kenapa DPP tidak menjelaskan duduk perkaranya atas sikap DPP yang adem
ayem ini?
Kenapa DPP tidak melaksanakan kesepakatan yang telah terjadi ?
Kenapa DPP tidak pernah secara terbuka menjelaskan tentang laporan
keuangan dari dana PPG?
Jangan hanya jawaban singkat : Tenang saja, uang masih ada! Ini
jawaban untuk meninabobokan
seorang bayi kecil. Tolong jelaskan dengan lebih baik, Dana ada
dimana, berapa, dalam bentuk apa, dan atas nama siapa?
( maaf saya bukan orang keuangan, jadi bahasanya hanya dangkal semacam ini)


Saya juga berpikir di satu sisi paroki menyisakan  hutang yang besar
untuk membangun AULA
sementara di sisi lain ada dana Stasi yang potensial tapi seolah baru
bisa dimanfaatkan
setelah selesainya hutang entah kapan, apa yang terjadi sebenarnya?

Maka sekali lagi, mohon penjelasan bagi yang merasa peduli akan hal ini.


Salam damai selalu,
Anton CT



________________________________________
From: Antonius Wirastadi [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, September 05, 2007 12:05 PM
To: [email protected]
Cc: [EMAIL PROTECTED]; Gregorius Priono; Yohannes Murjanto;
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Subject: RE: jasmerah(jangan melupakan sejarah) + lampiran sejarah

Hello Bapak-Bapak sekalian,
Salam sejahtera semuanya

Surat di bawah ini, merupakan panggilan bagi saya untuk berbagi
pengetahuan sejarah supaya tidak simpang siur (layaknya Supersemar).

Perlu diketahui, bahwa pada waktu terjadinya "Penyerahan Dana PPG"
bisa dianalogikan sebagai drama "Seorang Pilot dengan crewnya (Panitya
PPG demisioner) dengan Menara Pengawas (DPP St. Thomas) yang akan
mendaratkan pesawatnya (landing).

Sang Pilot beserta crew, sejatinya meminta pengarahan Menara Pengawas
untuk mendaratkan pesawat dengan beban muatan (dana PPG - dalam bentuk
bilyet giro dan buku tabungan) yang cukup besar.

Beban muatan tsb, sangat sensitif dan mudah menguap bila tidak
dikelola dengan semestinya.

Sang Pilot dan crew, sangat paham akan muatan tsb; sehingga memberikan
usulan kepada Menara Pengawas berupa;
1. pendaratan dilakukan di tempat terbuka dan disaksikan oleh banyak
orang (permohonan rapat pleno)
2. setelah mendarat (masuk apron), ada petugas untuk "maintenance"
pesawat (panitya PPG baru)

Usulan seperti itu, sudah sangat biasa dan layak dan sesuai prosedur
penerbangan (serah terima jabatan).

Menara Pengawas menjawab : Bila mendarat, muatan (dana) diserahkan
dulu ke Menara Pengawas, baru petugas "maintenance" pesawat dibentuk
(Panitya PPG baru).

Terjadi konflik Sang Pilot dengan Menara Pengawas, sehingga terlontar
kalimat dari Menara Pengawas " Tidak ada komunikasi lagi dengan Pilot
dan crew yang demisioner" dan bahkan ada kalimat "Bila Pilot tidak
menyerahkan muatan kepada Menara Pengawas, - muatan (tsb) akan
dipublikasikan/dinyatakan hilang".

Sang Pilot dan crew, tunduk untuk mengikuti perintah (hierarki) Menara
Pengawas - karena juga para penumpang (warga lingkungan Stasi BMR)
tidak mendukung, walaupun awalnya mendukung (motif : politicking).

Pesawat mendarat, sang Pilot dan crew menerima surat kuasa dari Menara
Pengawas (diwakilkan oleh Sekretaris DPP St Thomas) dan membuat berita
acara serah terima muatan dan langsung diterima oleh petugas Menara
Pengawas (sekretaris DPP St Thomas) sebagai pemegang mandat serta
disaksikan oleh beberapa penumpang (wakil stasi BMR).

Sayangnya "Serah-terima diatas tidak dilakukan dalam forum resmi
(rapat Pleno), akibat dari "Demisioner-nya Panitya PPG sehingga tidak
perlu ada "Komunikasi lagi".

Info selanjutnya : keesokan hari setelah muatan berpindah tangan,
muatan tersebut langsung dipindahkan ke cargo lain (rekening lain a/n
ketua DPP St Thomas) dan saya menerima SMS dari mantan kepala Paroki
St. Thomas (Romo Jimmy R) yang berisi : Terima kasih dana PPG (muatan)
sudah diterima (dipindahkan).

Sehubungan dengan Lustrum II Stasi BMR kemarin, serta adanya
permintaan penuturan sejarah, saya sampaikan "BLACKBOX (terlampir)"
yang dimiliki, supaya menjadi transparan.

Mengenai dana yang disampaikan, silahkan dijumlahkan nominal
masing-masing bilyet deposito plus bunga pada saat itu (5,50%) dan
tabungan.

Demikian informasi.
Terima kasih atas perhatiannya.

Tuhan Memberkati.

Salam



Anton


----- Akhir pesan yang diteruskan -----


Kirim email ke