Saya sangat setuju dengan sikap bapak Anton Chr dalam
menanggapi analogi Pak Anton W (pusing sama-sama
namanya anton sih), ini kalau tidak segera dijelaskan
maka akan mempunyai potensi spekulasi atas kelanjutan
cerita perjalanan dana PPG.Ibarat dana PPG itu seorang
anak....apakah sekarang hidup dlam perawatan yang
layak, sehingga masa depannya terjamin, atau apakah
serumah dengan orang yang tidak bijaksana jangan2
malah dipekerjakan kepada orang lain sehingga masa
depan tidak jelas, malah sangat membahayakan diri si
anak atau si anak entah pergi kemana ...???

Tapi saya masih percaya bahwa masih ada kepastian akan
disampaikannya hal soal Dana PPG oleh Para Pejabat DPP
tapi di depan Sidang Pleno DPP yang terhormat bukan
cuma sekedar kongko - kongko.

Ini penting lho karena menyangkut nama baik Gereja
Katolik tingkat terrendah yang sangat dekat dengan
akar rumputnya.Jangan merusak nama Gereja katolik
secara universal (wah ...melayang banget)

Sekali umat kecewa maka akan merusak segala bangunan
moralnya terhadap gereja katolik, mudah-mudahan umat
tidak sampai mengatakan gereja kita "Korup" dan
"mutunya sama dengan penjahat BLBI".jangan sampai ini
terjadi, sangat - sangat berbahaya, maka hal ini harus
dianggap serius, jangan cuma ditanggapi dengan kata
"biar aja orang itu ngoceh".

Mudah-mudahan ada kebijaksanaan sebentar
lagi.....Tuhan akan selalu memberikan kita yang
terbaik.


--- [EMAIL PROTECTED] wrote:

> 
> 
> ----- Teruskan pesan dari [EMAIL PROTECTED]
> -----
>      Tanggal: Thu, 06 Sep 2007 09:40:00 +0700
>      Dari: [EMAIL PROTECTED]
> Balas-Kepada:[EMAIL PROTECTED]
>   Perihal: Jas Merah (Jangan melupakan sejarah)
>        Kepada: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Terimakasih atas penjelasan Pak Anton  W yang sangat
> informatif.
> 
> Penjelasan tersebut banyak memberikan gambaran
> bagaimana beratnya
> upaya panitia PPG saat itu
> Untuk bisa ‘mengamankan” apa yang menjadi titipan
> umat stasi ketika
> mendapat tekanan kuat dari DPP St Thonas.
> Ini lebih mirip film-film pembajakan pesawat
> daripada upaya
> penyelematan dari Menara pengawas.
> Mungkin petugas menara pengawas diilhami dengan
> film-film tersebut,
> atau pihak menara menganggap pesawat
> yang dikuasai pihak pembajak sehingga tak perlu ada
> negosiasi untuk
> mendaratkan pesawat.
> 
> Melihat penjelasan tersebut tak ada kemungkinan
> pesawat dikuasai
> pembajak. Kesan yang didapat adalah mereka
> menginginkan muatan bisa aman dan digunakan seperti
> yang menjadi
> tujuan pemiliknya (umat Stasi).
> 
> Rupanya sampai 3 tahun kemudian harapan pilot dan
> crew tersebut
> menjadi sia-sia.
> Betapa banyak energi yang menjadi sia-sia, pemikiran
> dan
> pembicaraan-pembicaraan yang dilandasi
> saling percaya dan semangat kristiani dan bisa jadi
> melelahkan menjadi
> tak ada gunanya sama sekali.  Pembentukan PPG baru
> tak kunjung
> terwujud. Beban moral pilot dan crew terhadap umat
> Stasi semakin berat
> dengan berjalannya waktu. Hal ini tentu memunculkan
> suasana yang tidak
> sehat dalam
> upaya membangunan kebersamaan umat . Yang muncul
> adalah rasa
> kekecewean, ketidakpercayaan
> dan apatis terhadap hal tersebut.
> 
> Sebenarnya masalah ini bisa segera diatasi dengan
> kemauan DPP untuk
> menyelesaikannya.
> 
> Kenapa DPP tidak menjelaskan duduk perkaranya atas
> sikap DPP yang adem
> ayem ini?
> Kenapa DPP tidak melaksanakan kesepakatan yang telah
> terjadi ?
> Kenapa DPP tidak pernah secara terbuka menjelaskan
> tentang laporan
> keuangan dari dana PPG?
> Jangan hanya jawaban singkat : Tenang saja, uang
> masih ada! Ini
> jawaban untuk meninabobokan
> seorang bayi kecil. Tolong jelaskan dengan lebih
> baik, Dana ada
> dimana, berapa, dalam bentuk apa, dan atas nama
> siapa?
> ( maaf saya bukan orang keuangan, jadi bahasanya
> hanya dangkal semacam ini)
> 
> 
> Saya juga berpikir di satu sisi paroki menyisakan 
> hutang yang besar
> untuk membangun AULA
> sementara di sisi lain ada dana Stasi yang potensial
> tapi seolah baru
> bisa dimanfaatkan
> setelah selesainya hutang entah kapan, apa yang
> terjadi sebenarnya?
> 
> Maka sekali lagi, mohon penjelasan bagi yang merasa
> peduli akan hal ini.
> 
> 
> Salam damai selalu,
> Anton CT
> 
> 
> 
> ________________________________________
> From: Antonius Wirastadi
> [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Wednesday, September 05, 2007 12:05 PM
> To: [email protected]
> Cc: [EMAIL PROTECTED]; Gregorius Priono;
> Yohannes Murjanto;
> [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED]
> Subject: RE: jasmerah(jangan melupakan sejarah) +
> lampiran sejarah
> 
> Hello Bapak-Bapak sekalian,
> Salam sejahtera semuanya
> 
> Surat di bawah ini, merupakan panggilan bagi saya
> untuk berbagi
> pengetahuan sejarah supaya tidak simpang siur
> (layaknya Supersemar).
> 
> Perlu diketahui, bahwa pada waktu terjadinya
> "Penyerahan Dana PPG"
> bisa dianalogikan sebagai drama "Seorang Pilot
> dengan crewnya (Panitya
> PPG demisioner) dengan Menara Pengawas (DPP St.
> Thomas) yang akan
> mendaratkan pesawatnya (landing).
> 
> Sang Pilot beserta crew, sejatinya meminta
> pengarahan Menara Pengawas
> untuk mendaratkan pesawat dengan beban muatan (dana
> PPG - dalam bentuk
> bilyet giro dan buku tabungan) yang cukup besar.
> 
> Beban muatan tsb, sangat sensitif dan mudah menguap
> bila tidak
> dikelola dengan semestinya.
> 
> Sang Pilot dan crew, sangat paham akan muatan tsb;
> sehingga memberikan
> usulan kepada Menara Pengawas berupa;
> 1. pendaratan dilakukan di tempat terbuka dan
> disaksikan oleh banyak
> orang (permohonan rapat pleno)
> 2. setelah mendarat (masuk apron), ada petugas untuk
> "maintenance"
> pesawat (panitya PPG baru)
> 
> Usulan seperti itu, sudah sangat biasa dan layak dan
> sesuai prosedur
> penerbangan (serah terima jabatan).
> 
> Menara Pengawas menjawab : Bila mendarat, muatan
> (dana) diserahkan
> dulu ke Menara Pengawas, baru petugas "maintenance"
> pesawat dibentuk
> (Panitya PPG baru).
> 
> Terjadi konflik Sang Pilot dengan Menara Pengawas,
> sehingga terlontar
> kalimat dari Menara Pengawas " Tidak ada komunikasi
> lagi dengan Pilot
> dan crew yang demisioner" dan bahkan ada kalimat
> "Bila Pilot tidak
> menyerahkan muatan kepada Menara Pengawas, - muatan
> (tsb) akan
> dipublikasikan/dinyatakan hilang".
> 
> Sang Pilot dan crew, tunduk untuk mengikuti perintah
> (hierarki) Menara
> Pengawas - karena juga para penumpang (warga
> lingkungan Stasi BMR)
> tidak mendukung, walaupun awalnya mendukung (motif :
> politicking).
> 
> Pesawat mendarat, sang Pilot dan crew menerima surat
> kuasa dari Menara
> Pengawas (diwakilkan oleh Sekretaris DPP St Thomas)
> dan membuat berita
> acara serah terima muatan dan langsung diterima oleh
> petugas Menara
> Pengawas (sekretaris DPP St Thomas) sebagai pemegang
> mandat serta
> disaksikan oleh beberapa penumpang (wakil stasi
> BMR).
> 
> Sayangnya "Serah-terima diatas tidak dilakukan dalam
> forum resmi
> (rapat Pleno), akibat dari "Demisioner-nya Panitya
> PPG sehingga tidak
> perlu ada "Komunikasi lagi".
> 
> Info selanjutnya : keesokan hari setelah muatan
> berpindah tangan,
> muatan tersebut langsung dipindahkan ke cargo lain
> (rekening lain a/n
> ketua DPP St Thomas) dan saya menerima SMS dari
> mantan kepala Paroki
> St. Thomas (Romo Jimmy R) yang berisi : Terima kasih
> dana PPG (muatan)
> sudah diterima (dipindahkan).
> 
> Sehubungan dengan Lustrum II Stasi BMR kemarin,
> serta adanya
> 
=== message truncated ===



       
____________________________________________________________________________________
Got a little couch potato? 
Check out fun summer activities for kids.
http://search.yahoo.com/search?fr=oni_on_mail&p=summer+activities+for+kids&cs=bz
 

Kirim email ke