Ditto Santoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:        
st1\:*{behavior:url(#default#ieooui) }                 
   
   
    




  ORANG MUDA KRISTEN BELAJAR TENTANG PRINSIP-PRINSIP ISLAM DARI TANGAN 
  Posted by: "Hengky" [EMAIL PROTECTED]   andreas_gosyanto 
  Tue Feb 12, 2008 10:43 pm (PST) 
  Dear all,

Sebagai warga negara yang tinggal di negara yang mayoritas beragama lain dengan 
kita, memang sejak dari muda kita perlu membekali diri untuk memahami 
saudara-saudara kita yang berbeda iman tersebut.

Orang Muda Kristen sudah mencoba belajar Islam dari Wahid Institute. (baca 
artikelnya di bawah)

Orang Muda Katolik bagaimana? Boleh belajar dI STF Driyarkara dengan mengambil 
extension course Teologi yang pada semester ini mengambil tema: EKUMENE DAN 
DIALOG ANTAR AGAMA.

Kuliah hanya 1 semester saja dan hanya sekali seminggu 2 jam (18.00-20.00) di 
hari Kamis. Tidak ada ujian, hanya tugas akhir makalah bagi yang menginginkan 
sertifikat. Tidak berat, kan? Anggap saja ikut seminar mingguan selama 14 
minggu dengan hanya membayar Rp300.000,- untuk satu semester. Murah banget, 
kan? (Lengkapnya, lihat silabus di bawah, atau klik 
http://www.driyarkara.ac.id/ecteo.htm ) Kuliah mulai besok loh (14 Februari 
2008). Don't miss the 1st day lecture to get the whole picture of the theme.

GBU all,
Hengky

----------------------------------------------------------

ORANG MUDA KRISTEN BELAJAR TENTANG PRINSIP-PRINSIP ISLAM DARI TANGAN PERTAMA

JAKARTA (UCAN) -- Sebuah institut Islam sedang mengadakan kelas tentang Islam 
dan pluralisme untuk kaum muda Kristen.
The Wahid Institute, yang diprakarsai oleh mantan presiden Abdurrahman Wahid, 
bekerjasama dengan Crisis Center Gereja Kristen Indonesia (GKI) mengadakan 
kelas itu dalam empat pertemuan.
Sebanyak 30 orang muda Kristen, termasuk mahasiswa, penulis, wartawan, penyiar 
radio, dan aktivis sosial, menghadiri pertemuan pertama selama tiga jam tentang 
Islam dan Umat Agama lain, yang diadakan di aula dari institut yang terletak di 
Jakarta Pusat itu tanggal 18 Januari.
Pertemuan-pertemuan yang diadakan setiap Jumat malam itu akan berlangsung 
hingga 8 Februari dan akan diakhiri dengan program live-in selama tiga hari di 
sebuah pesantren di Yogyakarta.
Pertemuan berikutnya akan membicarakan Peta dan Gerakan Islam Kontemporer; 
Islam, Politik, dan Formalisasi Syariat-Syariat Islam; serta Islam dan Problem 
Keumatan.
Koordinator kelas itu, Moqsith Ghazali, pemikir muda Nahdhatul Ulama (NU) dan 
peneliti the WAHID Institute, mengatakan kepada UCA News, kurikulum kelas itu 
dibentuk lewat konsultasi dengan beberapa staf Sekolah Teologi Protestan, 
Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara yang dikelola Yesuit, serta beberapa pendeta.
Maksud di belakang program yang merupakan salah satu media untuk meningkatkan 
dialog antaragama itu, kata Doktor Bidang Tafsir dari Universitas Islam Negeri 
(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu, adalah untuk membantu orang non-Muslim 
yang mau belajar Islam dan pandangan Islam tentang pluralisme secara langsung 
dari tangan pertama.
Bahan-bahan yang dipublikasikan oleh institut, yang memiliki moto Seeding 
Plural and Peaceful Islam (Menyemai Islam yang Damai dan Plural), itu 
mengatakan bahwa institut itu bertujuan untuk mewujudkan prinsip-prinsip dan 
cita-cita intelektual Abdurrahman Wahid untuk membangun pemikiran Islam moderat 
yang mendorong terciptanya demokrasi, pluralisme agama-agama, multikulturalisme 
dan toleransi di kalangan kaum Muslim di Indonesia dan seluruh dunia. 
Wahid dan Maftuh Kholil adalah pembicara pada pertemuan 18 Januari. Wahid, yang 
lebih dikenal sebagai Gus Dur, mengetuai NU sebelum menjadi presiden tahun 1999 
hingga 2001. 
Kholil, seorang aktivis dialog antaragama, adalah ketua NU Kota Bandung, 
ibukota Propinsi Jawa Barat, tempat ia juga mengelola sebuah pesantren.
Sebetulnya ada pandangan pluralitas dalam Islam, kata Gus Dur kepada kaum muda 
Protestan itu. Ia mengutip dari Al Qur’an: “Bagi Kalian agama kalian, bagiku 
agamaku.” Ini, katanya, “adalah esensi pluralisme – orang boleh menganut agama 
yang berbeda-beda.”
Wahid mengakui ia sendiri mengalami kesulitan memahami Al Qur’an. “Maka kalian 
juga harus memeriksa Kitab Suci kalian dengan teliti. Tak bisa begitu saja,” 
katanya.
Kepada mantan presiden itu peserta menceritakan tentang serangan terhadap 
gereja-gereja oleh kelompok Islam tertentu dan meminta bantuannya.
Seorang peserta, Renata, meminta agar Gus Dur dan NU melindungi kegiatan agama 
Kristen dan membantu umat Kristiani mendapat ijin untuk membangun gereja. “Umat 
Kristen perlu dukungan umat Muslim,” kata wanita itu kepada Wahid, seraya 
berharap agar Gus Dur “membantu kami mengatasi berbagai masalah dalam 
menghadapi umat Muslim lain.”
Dalam ceramahnya, Kholil menjelaskan enam prinsip bermasyarakat Nabi Muhammad 
sebagai konsekuensi logis menghadapi masyarakat Madinah yang heterogen 
pluralistik: al-Musawa (kesetaraan) dan al-Ikha (persaudaraan) , al-Hurriyyah 
(kebebasan), al-Tadafu (saling melindungi), (al-Taawun) saling membantu, 
al-Ishlah (perdamaian) , dan al-Tasamuh (toleransi).
Ia mengatakan aksi pertama yang dilakukan nabi itu di Madinah adalah 
mendeklarasikan Shahifah Madinah (Piagam Madinah), “yang intinya komitmen 
bersama bahwa seluruh warga adalah berupa satu kesatuan masyarakat yang 
senantiasa bekerja-sama membangun dan mengatasi masalah-masalah sosial yang 
timbul di Madinah.”
Kholil bercerita bahwa tanggal 10 November, NU yang dipimpinnya di Bandung 
mengundang pemimpin agama Buddha, Hindu, Islam, Katolik, Konghucu, dan 
Protestan untuk bertemu di kantor NU di Jalan Sancang.
“Setelah berbicara, berbagi pengalaman, dan berdiskusi tentang situasi 
keagamaan di kota itu, kami, 17 pemimpin agama sepakat, menandatangani, dan 
mendeklarasikan komitmen bersama yang berisi lima poin.”
Deklarasi Sancang itu berbunyi: “Kami, umat beragama Kota Bandung, adalah 
bagian dari bangsa Indonesia yang senantiasa menjunjung tinggi kesatuan dan 
persatuan; menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan; selalu berjuang untuk 
tegaknya hukum dalam mewujudkan kesejahteraan, keadilan dan kerukunan hidup 
demi mencapai kebahagiaan bersama; selalu mengembangkan sikap toleransi, 
tenggang rasa dan saling menghormati; selalu bekerja sama untuk berperan dalam 
mengatasi masalah-masalah sosial dan lingkungan.”
Kholid mengatakan ia dan para anggota NU juga mengunjungi gereja Protestan dan 
katedral Bandung untuk membagikan bunga bagi umat Kristiani di Hari Raya Natal 
2006. Ia juga mengatakan ia mengalungkan bunga kepada para pemimpin agama 
Katolik dan Protestan pada kesempatan itu.
Menurut Kholil, ketua Pengurus Besar NU, KH Said Agiel Siradj, mengatakan dalam 
akhir sambutannya pada pertemuan 10 November itu: "Bagi NU yang mayoritas harus 
melindungi yang minoritas. Itu prinsip NU. NU siap menjadi tumbal keselamatan 
keutuhan Republik Indonesia."
Kursus yang sedang berjalan saat ini adalah Kelas Islam dan Pluralisme keempat. 
Program sebelumnya diberikan untuk para pendeta dan teolog Protestan.** *

----------------------------------------------------------

Bagi rekan2 yang tertarik untuk mengetahui lebih jauh mengenai Dialog Antar 
Agama, sangat disarankan mengikuti kuliah ekstension di bawah ini (hanya 
seminggu sekali dan tidak ada ujian) dengan dosen2 para pakar di bidangnya:

JADWAL KULIAH EXTENSION COURSE TEOLOGI
SEMESTER GENAP 2007/2008
“EKUMENE DAN DIALOG ANTAR AGAMA”

KOORDINATOR : Dr. B. Agus Rukiyanto
Waktu : Kamis, 18.00 - 20.00 wib
Periode : 14 Februari - 05 Juni 2008

No
Tanggal
Pokok Bahasan
Pengajar
1
14 Feb
INTRODUKSI: Mengembangkan Spiritualitas Dialog dalam Masyarakat Plural
Dr. B. Agus Rukiyanto
2
21 Feb
Perpecahan dalam Gereja: Tinjauan Historis
Dr. A. Eddy Kristiyanto
3
28 Feb
Gereja Katolik dan Gerakkan Ekumene
Prof. Dr. Martin Harun
4
06 Maret
Gereja Timur dan Gerakkan Ekumene
Gabriel Rehatta
5
13 Maret
Gereja Katolik dan Pentakostalisme
Dr. Deshi Ramadhani
6
20 Maret
LIBUR MAULUD NABI
-
7
27 Maret
Gereja Katolik dan Agama-agama Non-Kristen
Prof. Dr. B. S. Mardiatmadja
8
03 April
Ekumene dan Dialog Antaragama dari Sudut Pandang Protestan
Dr. Benyamin F. Intan
9
10 April
Diskursus dalam Teologi Barat mengenai Dialog Antaragama
Dr. A. Sunarko
10
17 April
Diskursus dalam Teologi Asia mengenai Dialog Antaragama
Dr. I. L. Madya Utama
11
24 April
Ekumene dan Dialog Antaragama dalam Islam di Indonesia
Budhy Munawar-Rachaman, M. Hum
12
01 Mei
LIBUR KENAIKAN ISA ALMASIH
-
13
08 Mei
Dialog Intern dalam Gereja Katolik
Drs. Th. S. Sarjumunarsa, MPS
14
15 Mei
Dialog Antaragama di Indonesia: Pengalaman Praktis
Trisno S. Satanto
15
22 Mei
Perjuangan Keadilan: Pemersatu Umat Beriman di Indonesia
Dr. P. C. Aman
16
29 Mei
RANGKUMAN: Menuju Teologi Agama-agama
Dr. B. Agus Rukiyanto
17
05 Juni
UJIAN
Dr. B. Agus Rukiyanto

Catatan: 
· Terbuka bagi peminat berijasah Sarjana Muda ke atas dan mahasiswa mulai 
semester VI atau yang sudah pernah kuliah
Menyerahkan 2 (dua) lembar pas photo 4x6 cm 
· Menyerahkan fotocopy ijasah terakhir atau surat keterangan masih kuliah 
· Kuliah diadakan setiap hari Kamis, pukul 18.00 - 20.00
Biaya Kuliah: Rp. 300.000,- 
Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi Sekretariat STF Driyarkara (021) 
4247129 


---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search. 


  No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.4/1275 - Release Date: 2/12/2008 3:20 
PM




Everytime you smile at someone, it is an action for love, 
a gift to that person, a beautiful thing.
(Mother Teresa)
 
DITTO SANTOSO
Email : [EMAIL PROTECTED] , [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] 
Mobile : 62 81 311 420 720
 



       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke