Dear Pak Andreas serta rekan-rekan di milis ApiKatolik dan milis lainnya yang
saya ikuti.
(Mohon maaf sebelumnya, saya lampirkan terjemahan Magistero Gereja ini juga
kepada milis lainnya dengan maksud supaya member milis lainnya menjadi tahu dan
peduli).
Menanggapi surat bapak Andreas tentang Paus Pius XII, Yahudi dan Nazi, saya
menanggapi bahwa sebagai seorang Katolik yang taat kepada Paus dan Gereja dan
sebagai seorang pemerhati Gereja, saya yang tinggal di Italia dan sering
mendengarkan siaran Radio Maria Italia dan Radio Vatikan secara langsung, ingin
menyampaikan kepada kalian semua bahwa dugaan-dugaan dan berita-berita miring
terhadap Paus Pius XII semua tidak berdasarkan fakta. Di sini saya
menterjemahkan apa yang Radio Maria Italia pernah siarkan dalam program
Magistero Gereja yang mengungkapkan sebuah artikel yang ditulis oleh Dimitri
Cavalli berjudul: ORANG SAMARIA YANG BAIK: PENGHARGAAN BANGSA YAHUDI UNTUK PAUS
PIUS XII , yang mana artikel itu diambil dari arsip-arsip Inside the Vatican
(Catholic Magazine)tahun 2000 yaitu Komunikasi Urbi et Orbi bulan Oktober 2000
halaman 72-77.
Inside the Vatican telah memberikan banyak tempat dalam halaman-halamannya
untuk meliput debat-debat keras atas peranan Paus Pius XII pada masa perang dan
tuduhan terhadap dirinya yang "diam" saat berhadapan dengan penganiayaan Nazi
terhadap kaum Yahudi. Membaca karya Cavalli, sungguh mengejutkan mengetahui
betapa berbeda opini kaum Yahudi pada umumnya terhadap Paus Pius XII dalam
tahun-tahun peperangan dan setelahnya, daripada apa yang sering kita dengar
saat ini.
Baiklah, berikut adalah hasil yang dapat saya terjemahkan dari arsip Inside
the Vatican yang disiarkan di Radio Maria Italia.
ORANG SAMARIA YANG BAIK: PENGHARGAAN BANGSA YAHUDI UNTUK PAUS PIUS XII
Selama Perang Dunia II, banyak kaum Yahudi di dunia memiliki kesempatan
menilai tindakan Paus Pius XII. Mereka mendengar perkataannya dan mengikuti
setiap langkah-langkahnya. Bukannya melihat sebagai "Paus Hitler", kebanyakan
kaum Yahudi justru menilai bahwa pernyataan-pernyataan publik Paus Pius XII
secara langsung diarahkan menentang Nazi, dan bahwa ia dan pembantu-pembantunya
yang ada di wilayah kependudukan Nazi dan negara-negara Axis berusaha untuk
menyelamatkan nyawa orang-orang Yahudi. Pujian-pujian yang luar biasa banyaknya
yang pernah diterima oleh Paus Pius XII oleh kaum Yahudi menunjukkan bahwa
tuduhan-tuduhan bahwa ia adalah seorang partner Nazi dan bahwa ia tidak peduli
terhadap pembasmian kaum Yahudi merupakan hal yang tidak benar dan tidak adil
bagi mereka yang secara dekat mengikuti karirnya.
Semua tuduhan-tuduhan yang mengatakan Paus Pius XII waktu itu Pro-Nazi sering
kali
didukung oleh keberadaannya di Jerman dari tahun 1917 s/d 1929 sebagai Papal
Nuncio (Duta Besar Vatikan) dan peran nya langsung sebagai Sekretaris Negara
dalam menegosiasikan Agreement antara Vatikan dengan Jerman tahun 1933.
Fakta-fakta ini umumnya diketahui saat Kardinal Eugenio Pacelli diangkat
sebagai Paus tanggal 2 Maret 1939. Bagaimana kaum Yahudi di seluruh dunia
menyikapi pemilihan atas dirinya? Apakah mereka khawatir akan ikatannya
sebelumnya dengan Jerman?
Tanggal 6 Maret 1939, editorial "Kepemimpinan untuk Perdamaian", surat kabar
Palestina di
Yerusalem berkata: "Pius XII telah menunjukkan bahwa ia hendak melanjutkan
karya
almarhum Paus Pius XI untuk Pembebasan dan Perdamaian....kami meingatkan
bahwa ia pasti telah memainkan sebuah peranan yang besar dalam perlawanan
Kepausan terhadap teori-teori yang merusak ras dan aspek-aspek tertentu dari
totalitarianisme..."
Dalam memuji pengangkatan Kardinal Pacelli, Surat kabar 'the Jewish
Chronicle' di London
tanggal 10 Maret mengutip sebuah pidato anti-Nazi yang ia sampaikan di
Lourdes pada bulan April 1935 dan pernyataan-pernyataan yang bermusuhan tentang
dirinya yang diterbitkan oleh media Nazi. "Menarik untuk mengingat....tanggal
22 Januari 1939, surat kabar 'the Voelkischer Beobachter' menerbitkan
gambar-gambar dari Kardinal Pacelli dan pejabat-pejabat Gereja lainnya dibawah
sebuah judul: "Perlawanan di Vatikan terhadap Fasisme dan Sosialisme Nasional",
seperti yang dikutip oleh the Jewish Chronicle.
Juga pada tanggal 10 Maret, 'the Canadian Jewish Chronicle' memohon kepada
Kolega Para
Kardinal supaya menolak usaha-usaha Nazi untuk mempengaruhi pemilihan dan
mencegah
Kardinal Pacelli menjadi Paus. "Rencana untuk mencuri 'Cincin Nelayan' telah
sampai di asap putih," kata editorial itu.
Banyak organisasi-organisasi Yahudi juga menyatakan antusiasi mereka atas
Paus yang baru. Menurut 'the Jewish Chronicle' di London (10 Maret), Vatikan
menerima ucapan-ucapan Selamat dari "Komunitas Yahudi-Anglikan, Konsili
Sinagoga Amerika, Kongres Yahudi Kanada dan Konsili Rabbi Polandia".
Keputusan Pius XII menunjuk Kardinal Luigi Maglione sebagai Sekretaris Negara
Vatikan yang baru juga membawa reaksi-reaksi positif. Tanggal 16 Maret 1939
'Zionist Review' di London mengatakan bahwa penunjukkan Kardinal itu
"menegaskan pandangan bahwa Paus yang baru bermaksud menjalankan sebuah
kebijakkan anti-Nazi dan anti-Fasis."
Tentu saja, pernyataan-pernyataan demikian yang dibuat oleh surat kabar dan
organisasi
Yahudi menunjukkan mereka menganggap Paus Pius XII yang baru diangkat adalah
seorang
teman dari demokrasi dan perdamaian, dan seorang musuh dari rasisme dan
totalitarianisme. Peranan Kardinal Pacelli dalam menegosiasikan perjanjian
dengan Nazi tidak menimbulkan kekhawatiran. Sebaliknya, banyak kaum Yahudi
mengutip pidato-pidato anti-Nazi nya, dan peranannya sebagai Sekretaris Negara,
yang membantu menerbitkan ensiklik anti-Nazi tahun 1937 'Mit brennender Sorge',
dan banyaknya protes-protes yang muncul atas penganiayaan terhadap Gereja
Katolik di Jerman.
Kurang dari dua bulan setelah PD II terjadi, tanggal 27 Oktober, Pius XII
mengeluarkan surat
ensiklik nya yang pertama, 'Summi Pontificatus'. Pada hari yang sama, Agen
berita Telegraf
Yahudi yang bermarkas di New York, yang sama dengan 'the Associated Press',
melaporkan bahwa, "Kutukan yang tak berkualifikasi yang ditimpakan kepada Paus
Pius XII atas teori-teori totalitarian, rasis dan materialistis pemerintah
dalam surat esnsikliknya 'Summi Pontificatus' menimbulkan kekacauan yang
mendalam...Meski telah diharapkan bahwa Paus akan menyerang ideologi-ideologi
yang bertentangan dengan Gereja Katolik, sedikit pengamat yang memperkirakan
betapa dokumen itu begitu lantang...."
Tanggal 26 Januari 1940, 'the Jewish Advocate' di Boston melaporkan, "Radio
Vatikan pada
minggu ini menayangkan sebuah pengaduan yang keras tentang kekejaman Jerman
lainnya di negara Polandia di bawah penjajahan Nazi, menyatakan bahwa mereka
menghina suara hati moral manusia." Mengasingkan Kardinal August Hlond dari
Gnezo and Poznan asal Polandia yang telah memberikan laporan-laporan lengkap
tentang penganiayaan Nazi terhadap Gereja di Polandia. Atas perintah Paus,
Radio Vatikan memberitakan laporan-laporan Kardinal tersebut.
Halaman utama dari kisah itu mengutip tayangan Radio Vatikan yang mengatakan,
"Orang-orang Yahudi dan Polandia dikumpulkan ke dalam kampung konsentrasi
terpisah,
dikunci dalam ruang kedap udara dan yang tidak layak untuk memenuhi jutaan
jiwa yang
ditempatkan di sana." Tayangan ini juga penting karena memberikan konfirmasi
tersendiri dari laporan-laporan media tentang kekejaman Nazi, yang mana
sebelumnya dihentikan sebagai propaganda sekutu.
Juga pada tanggal 26 Januari, 'the Canadian Jewish Chronicle' menerbitkan
sekilas berita
tentang Jacob Freedman, seorang penjahit di Boston. Tuan Freedman khawatir
akan nasib
saudara perempuan dan keponakannya di negara jajahan-Jerman Polandia. Ia
menulis ke
Menteri Negara dan Palang Merah, namun mereka tidak dapat memberikan
informasi apapun. Tuan Freedman kemudian mencari pertolongan Paus Pius XII.
Beberapa bulan kemudian, Kardinal Maglione menginformasikan Tuan Freedman
bahwa
keluarganya masih hidup dan dalam kondisi baik di Warsawa. "Saya tidak tahu
kata-kata yang tepat untuk menyatakan perasaan saya, bahwa mereka memberi
perhatian kepada kami sementara masih banyak hal di dunia yang pantas mereka
khawatirkan," kata Mr. Freedman. "Saya rasa itu adalah sesuatu yang amat baik
dan sangat menakjubkan." Menurut buku Pinchas Lapide tahun 1967, 'Three Popes
and the Jews', Kantor berita Vatikan telah membantu puluhan ribu kaum Yahudi
menemukan keberadaan keluarga-keluarga mereka yang hilang di Eropa.
Pada bulan Maret 1940, Undang-undang anti-Semit berlaku di Italia, dan banyak
warga Yahudi ditiadakan dari Pusat Pemerintahan, universitas-universitas dan
banyak profesi pekerjaan lainnya. Menanggapi hal itu, Pius XII menunjuk
beberapa pengajar Yahudi yang dipecat, termasuk Prof. Roberto Almagia, untuk
bekerja di Perpustakaan Vatikan. Tanggal 29 Maret, 'Kansas City Jewish
Chronicle mengatakan bahwa tindakan-tindakan Paus menunjukkan
"ketidaksetujuannya atas Undang-Undang anti-Semit yang bersifat pengecut."
Tanggal 29 April 1941, sekelompok pengungsi Yahudi di kamp konsentrasi Italia
berterimakasih kepada Pius XII setelah menerima kunjungan dari Uskup
Francesco
Borgognini-Duca, Duta Besar Vatikan untuk Italia. Para tahanan menulis bahwa
kunjungan Duta Besar memberikan kepada mereka "keberanian baru untuk bertahan
hidup," dan mereka menggambarkan Paus sebagai seorang "seseorang yang
dipuja-puja yang telah membela hak-hak semua orang yang dirundung duka dan tak
berdaya." (Actes, VIII, pp. 178-179).
Banyaknya pujian kepada Pius XII dimulai pada bulan Juli. "Tahap demi tahap
terungkapkan
bahwa kaum Yahudi telah dilindungi di dalam dinding-dinding Vatikan selama
penjajahan
Jerman di Roma," laporan 'Jewish News' di Detroit tanggal 7 Juli. Tanggal 14
Juli editorial di
Congress Weekly, jurnal resmi dari Kongres Yahudi Amerika, menambahkan bahwa
Vatikan
juga menyediakan para pengungsi Yahudi dengan makanan halal.
Tanggal 21 Juli, Vatikan menerima telegram dari the National Jewish Welfare
Board dan the
World Jewish Congress. the National Jewish Welfare Board menyampaikan ucapan
terima
kasihnya kepada Paus atas "pertolongan dan perlindungan yang diberikan kepada
banyaknya warga Yahudi Italia oleh Vatikan..." (Actes, X, pp. 358-359). The
World Jewish Congress juga mengakui "karya kemanusiaan noble" Vatikan kepada
warga Yahudi Hungaria (Actes, X, pp. 359).
Deportasi Yahudi Hungaria menakutkan bagi Sekutu dan negara-negara netral.
Komite Yahudi Amerika dan kelompok-kelompok Yahudi lainnya mengorganisir sebuah
rally di Madison Square Park di Manhattan tanggal 31 Juli untuk memobilisasikan
opini publik terhadap deportasi itu. Dalam pidatonya, Hakim Joseph Proskauer,
kepala Komite, menyampaikan, "Kami telah mendengar....betapa besar peranan Bapa
Suci dalam keselamatan para pengungsi di Italia, dan kami tahu dari
sumber-sumber yang terpercaya bahwa Paus yang agung ini telah mengulurkan
tangannya yang melindungi dan kuat untuk membantu himpitan dari Hungaria."
Dengan Roma yang bebas, Paus terus-menerus menyalami serdadu Sekutu. Selama
satu
pertemuan, ia memberkati seorang serdadu Yahudi berasal dari Palestina dalam
bahasa
Hebrew. Dalam Congress Weekly tanggal 20 Oktober 1944, Elias Gilner
mengemukakan arti yang besar dalam kejadian itu. Gilner menulis bahwa berkat
Paus itu "menjadi sebuah tindakan yang tak terlupakan, sebuah pesan kebaikan
yang mendalam, sebuah pernyataan dari semangat Kristiani yang tertinggi."
Gilner menambahkan bahwa Pius XII dengan berkatnya itu juga memulai sebuah
"tahap baru" dalam hubungan Katolik-Yahudi.
Pujian-pujian kepada Paus Pius XII dari kaum Yahudi terus berlangsung setelah
perang di Eropa berakhir. Tanggal 22 April 1945, Moshe Sharrett, calon Menteri
Luar Negeri dan Perdana Menteri Israel mengirimkan sebuah laporan atas
pertemuannya dengan Paus kepada Pemimpin dari Agen berita Yahudi. Sharrett
menulis bahwa "tugas pertama saya adalah berterimakasih kepadanya, dan melalui
dia, kepada Gereja Katolik, atas nama masyarakat Yahudi, untuk semua yang telah
mereka lakukan di berbagai negara untuk menyelamatkan warga Yahudi,
menyelamatkan anak-anak, dan masyarakat Yahudi pada umumnya." (Lapide, pp.
225-226).
Dalam sebuah artikel untuk Commentary (Nopember 1950), pengajar Perancis dan
yang
selamat dari Holocaust, Leon Poliakov mendiskusikan tindakan Vatikan selama
perang.
Poliakov mengatakan bahwa Vatikan selama Holocaust kembali kepada "tradisi
abad
pertengahan" dalam melindungi warga Yahudi dari penganiayaan negara. "Tidak
diragukan lagi bahwa perintah-perintah rahasia keluar dari Vatikan mendorong
gereja-gereja nasional untuk terlibat dalam menolong warga Yahudi dengan segala
cara yang memungkinkan," tulis Poliakov. Kenyataannya, menurut edisi ke 6, 8, 9
dan 10 dari Actes, perintah-perintah ini dikirim kepada banyak perwakilan
diplomatik Vatikan.
Paus Pius XII wafat pada tanggal 8 Oktober 1958. Banyak organisasi dan surat
kabar Yahudi di seluruh dunia menangisi kepergiannya, dan mengenang
usaha-usahanya selama masa perang untuk menyelamatkan warga Yahudi. Di PBB,
Golda Meir, Perdana Menteri Israel, berkata, "Saat kemartiran yang menakutkan
mendatangi warga kami dalam dekade teror Nazi, suara Paus diangkat untuk para
korban. Hidup kita dikayakan oleh sebuah suara yang berbicara dengan lantang
tentang kebenaran moral yang besar di atas keributan konflik sehari-hari." The
Zionist Record (Oktober 17) di Afrika Selatan menerbitkan pidato pujian Meir
bersamaan dengan penghargaan-penghargaan dari orgasnisasi-organisasi Yahudi
kepada almarhum Paus.
"Para pengikut dari segala bentuk kepercayaan dan partai-partai akan
mengingat bagaimana
Pius XII menghadapi tanggung-jawab dari tugasnya yang tinggi dengan
keberanian dan
devosi," kata the Jewish Chronicle di London tanggal 10 Oktober. "Sebelum,
selama dan
setelah Perang Dunia II, ia dengan tak henti menyampaikan pesan perdamaian.
Berhadapan
dengan kekejaman Nazisme, Fasisme dan Komunisme, ia terus-menerus manyatakan
nilai-nilai kebaikan dari kemanusiaan dan kasih."
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak surat kabar dan majalah-majalah Katolik
telah dengan tekun membela reputasi Paus Pius XII. Sejarawan Holocaust Sir
Martin Gilbert mengenali Vatikan sebagai salah satu pemerintah Eropa yang
melindungi Yahudi. Prof. William Rubinstein mengatakan dalam bukunya The Myth
of Rescue (1997), "tanggungjawab atas Holocaust terletak hanya dan seluruhnya
pada Adolf Hitler, SS dan kaki tangan mereka, dan tidak pada yang lainnya,"
mewakilkan sebuah perjalanan kembali kepada alasan.
Semakin banyak orang saat ini mengakui bahwa Paus Pius XII bertindak sebagai
orang Samaria yang baik selama Perang Dunia II. Saat Paus tidak dapat mencegah
awal sebuah peperangan, dengan segera ia membaktikan diri meringankan
penderitaan fisik dan rohani dari korban-korban tak berdosa yang tak terhitung
jumlahnya tanpa memandang ras atau iman mereka. Seperti yang dikatakan oleh
almarhum Pastor Robert Graham, S.J., "banyaknya penghargaan-penghargaan yang
diterima oleh Paus dari masyarakat Yahudi di seluruh dunia adalah sebuah saksi
baik atas usaha-usahanya dan karakternya. "
(diterjemahkan oleh Shirley Hadisandjaja, dan dimuat dalam
http://www.pondokrenungan.com)
***Kata akhir: Sedikit dari kita yang tidak mengetahui sejarah yang
sesungguhnya atau bahkan tidak peduli, namun, kebenaran tetap harus
disuarakan. Semoga dengan adanya Fakta-fakta sejarah di atas, hati dan pikiran
kita terbuka untuk menerima kebenaran dan nama Paus Pius XII semakin harum dan
suci, serta proses Kanonisasi nya berjalan lancar demi Kemuliaan Kristus.
Salam dan doa.
Shirley Hadisandjaja
Milano
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.