Teman2 mailist, mudahan2 berguna.
---------------------------- Original Message ----------------------------
Subject: [cerita] 50 tahun salah paham
From:    "vina catherine" <[email protected]>
Date:    Wed, January 21, 2009 10:08 pm
To:      [email protected]
--------------------------------------------------------------------------

Dikisahkan, disebuh gedung pertemuan yang amat megah, seorang pejabat senior
istana sedang menyelenggarakan pesta ulang tahun perkawinannya yang ke-50.
Peringatan kawin emas itu ramai didatangi oleh tamu-tamu penting seperti
para bangsawan, pejabat istana, pedagang besar serta seniman-seniman
terpandang dari seluruh pelosok negeri. Bahkan kerabat serta kolega dari
kerajaan-kerajaan tetangga juga hadir. Pesta ulang tahun perkawinan pun
berlangsung dengan megah dan sangat meriah.

Setelah berbagai macam hiburan ditampilkan, sampailah pada puncak acara,
yaitu jamuan makan malam yang sangat mewah. Sebelum menikmati kamuan
tersebut, seluruh hadirin mengikuti prosesi penyerahan hidangan istimewa
dari sang pejabat istana kepada istri tercinta. Hidangan itu tak lain adalah
sepotong ikan emas yang diletakkan di sebuah piring besar yang mahal. Ikan
emas itu dimasak langsung oleh koki kerajaan yang sangat terkenal.

"Hadirin sekalian, ikan emas ini bukanlah ikan yang mahal. Tetapi, inilah
ikan kegemaran kami berdua, sejak kami menikah dan masih belum punya
apa-apa, sampai kemudian di usia perkawinan kami yang ke-50 serta dengan
segala keberhasilan ini. Ikan emas ini tetap menjadi simbol kedekatan,
kemesraan, kehangatan, dan cinta kasih kami yang abadi," kata sang pejabat
senior dalam pidato singkatnya.

Lalu, tibalah detik-detik yang istimewa yang mana seluruh hadirin tampak
khidmat menyimak prosesi tersebut. Pejabat senior istana mengambil piring,
lalu memotong bagian kepala dan ekor ikan emas. Dengan senyum mesra dan
penuh kelembutan, ia berikan piring berisikan potongan kepala dan ekor ikan
emas tadi kepada isterinya. Ketika tangan sang isteri menerima piring itu,
serentak hadirin bertepuk tangan dengan meriah sekali. Untuk beberapa saat,
mereka tampak ikut terbawa oleh suasana romantis, penuh kebahagiaan, dan
mengharukan tersebut.

Namun suasana tiba-tiba jadi hening dan senyap. Samar-samar terdengar isak
tangis si isteri pejabat senior. Sesaat kemudian, isak tangis itu meledak
dan memecah kesunyian gedung pesta. Para tamu yang ikut tertawa bahagia
mendadak jadi diam menunggu apa gerangan yang bakal terjadi. Sang pejabat
tampak kikuk dan kebingungan. Lalu ia mendekati isterinya dan bertanya
"Mengapa engkau menangis, isteriku?"

Setelah tangisan reda, sang isteri menjelaskan "Suamiku…sudah 50 tahun usia
pernikahan kita. Selama itu, aku telah dengan melayani dalam duka dan suka
tanpa pernah mengeluh. Demi kasihku kepadamu, aku telah rela selalu makan
kepala dan ekor ikan emas selama 50 tahun ini. Tapi sungguh tak kusangka, di
hari istimewa ini engkau masih saja memberiku bagian yang sama. Ketahuilah
suamiku, itulah bagian yang paling tidak aku sukai." tutur sang isteri.

Pejabat senior terdiam dan terpana sesaat. Lalu dengan mata berkaca-kaca
pula, ia berkata kepada isterinya," Isteriku yang tercinta…50 tahun yang
lalu saat aku masih miskin, kau bersedia menjadi isteriku. Aku
sungguh-sungguh bahagia dan sangat mencintaimu. Sejak itu aku bersumpah pada
diriku sendiri, bahwa seumur hidup aku akan bekerja keras, membahagiakanmu,
membalas cinta kasih dan pengorbananmu."

Sambil mengusap air matanya, pejabat senior itu melanjutkan, "Demi Tuhan,
setiap makan ikan emas, bagian yang paling aku sukai adalah kepala dan
ekornya. Tapi sejak kita menikah, aku rela menyantap bagian tubuh ikan emas
itu. Semua kulakukan demi sumpahku untuk memberikan yang paling berharga
buatmu."

Sang pejabat terdiam sejenak, lalu ia melanjutkan lagi "Walaupun telah hidup
bersama selama 50 tahun dan selalu saling mencintai, ternyata kita tidak
cukup saling memahami. Maafkan saya, hingga detik ini belum tahu bagaimana
cara membuatmu bahagia." Akhirnya, sang pejabat memeluk isterinya dengan
erat. Tamu-tamu terhormat pun tersentuh hatinya melihat keharuan tadi dan
mereka kemudian bersulang untuk menghormati kedua pasangan tersebut.

Moral cerita diatas:

Bisa saja, sepasang suami - isteri saling mencintai dan hidup serumah selama
bertahun-tahun lamanya. Tetapi jika di antaranya tidak ada saling
keterbukaan dalam komunikasi, maka kemesraan mereka sesungguhnya rawan
dengan konflik. Kebiasaan memendam masalah itu cukup riskan karena seperti
menyimpan bom waktu dalam keluarga. Kalau perbedaan tetap disimpan sebagai
ganjalan dihati, tidak pernah dibiacarakan secara tulus dan terbuka, dan
ketidakpuasan terus bermunculan, maka konflik akan semakin tak tertahankan
dan akhirnya bisa meledak. Jika keadaan sudah seperti ini, tentulah luka
yang ditimbulkan akan semakin dalam dan terasa lebih menyakitkan.

Kita haruslah selalu membangun pola komunikasi yang terbuka dengan dilandasi
kasih, kejujuran, kesetiaan, kepercayaan, pengertian dan kebiasaan berpikir
positif.

*Saat bertemu orang yang pernah salah-paham padamu, gunakan saat tersebut
untuk menjelaskannaya. Karena engkau mungkin hanya punya satu kesempatan itu
saja untuk menjelaskan. *

Oleh: Tidak Diketahui
Sumber : heartnsouls.com
Dikisahkan, disebuh gedung pertemuan yang amat megah, seorang pejabat senior istana sedang menyelenggarakan pesta ulang tahun perkawinannya yang ke-50. Peringatan kawin emas itu ramai didatangi oleh tamu-tamu penting seperti para bangsawan, pejabat istana, pedagang besar serta seniman-seniman terpandang dari seluruh pelosok negeri. Bahkan kerabat serta kolega dari kerajaan-kerajaan tetangga juga hadir. Pesta ulang tahun perkawinan pun berlangsung dengan megah dan sangat meriah.

Setelah berbagai macam hiburan ditampilkan, sampailah pada puncak acara, yaitu jamuan makan malam yang sangat mewah. Sebelum menikmati kamuan tersebut, seluruh hadirin mengikuti prosesi penyerahan hidangan istimewa dari sang pejabat istana kepada istri tercinta. Hidangan itu tak lain adalah sepotong ikan emas yang diletakkan di sebuah piring besar yang mahal. Ikan emas itu dimasak langsung oleh koki kerajaan yang sangat terkenal.

"Hadirin sekalian, ikan emas ini bukanlah ikan yang mahal. Tetapi, inilah ikan kegemaran kami berdua, sejak kami menikah dan masih belum punya apa-apa, sampai kemudian di usia perkawinan kami yang ke-50 serta dengan segala keberhasilan ini. Ikan emas ini tetap menjadi simbol kedekatan, kemesraan, kehangatan, dan cinta kasih kami yang abadi," kata sang pejabat senior dalam pidato singkatnya.

Lalu, tibalah detik-detik yang istimewa yang mana seluruh hadirin tampak khidmat menyimak prosesi tersebut. Pejabat senior istana mengambil piring, lalu memotong bagian kepala dan ekor ikan emas. Dengan senyum mesra dan penuh kelembutan, ia berikan piring berisikan potongan kepala dan ekor ikan emas tadi kepada isterinya. Ketika tangan sang isteri menerima piring itu, serentak hadirin bertepuk tangan dengan meriah sekali. Untuk beberapa saat, mereka tampak ikut terbawa oleh suasana romantis, penuh kebahagiaan, dan mengharukan tersebut.

Namun suasana tiba-tiba jadi hening dan senyap. Samar-samar terdengar isak tangis si isteri pejabat senior. Sesaat kemudian, isak tangis itu meledak dan memecah kesunyian gedung pesta. Para tamu yang ikut tertawa bahagia mendadak jadi diam menunggu apa gerangan yang bakal terjadi. Sang pejabat tampak kikuk dan kebingungan. Lalu ia mendekati isterinya dan bertanya "Mengapa engkau menangis, isteriku?"

Setelah tangisan reda, sang isteri menjelaskan "Suamiku…sudah 50 tahun usia pernikahan kita. Selama itu, aku telah dengan melayani dalam duka dan suka tanpa pernah mengeluh. Demi kasihku kepadamu, aku telah rela selalu makan kepala dan ekor ikan emas selama 50 tahun ini. Tapi sungguh tak kusangka, di hari istimewa ini engkau masih saja memberiku bagian yang sama. Ketahuilah suamiku, itulah bagian yang paling tidak aku sukai." tutur sang isteri.

Pejabat senior terdiam dan terpana sesaat. Lalu dengan mata berkaca-kaca pula, ia berkata kepada isterinya," Isteriku yang tercinta…50 tahun yang lalu saat aku masih miskin, kau bersedia menjadi isteriku. Aku sungguh-sungguh bahagia dan sangat mencintaimu. Sejak itu aku bersumpah pada diriku sendiri, bahwa seumur hidup aku akan bekerja keras, membahagiakanmu, membalas cinta kasih dan pengorbananmu."

Sambil mengusap air matanya, pejabat senior itu melanjutkan, "Demi Tuhan, setiap makan ikan emas, bagian yang paling aku sukai adalah kepala dan ekornya. Tapi sejak kita menikah, aku rela menyantap bagian tubuh ikan emas itu. Semua kulakukan demi sumpahku untuk memberikan yang paling berharga buatmu."

Sang pejabat terdiam sejenak, lalu ia melanjutkan lagi "Walaupun telah hidup bersama selama 50 tahun dan selalu saling mencintai, ternyata kita tidak cukup saling memahami. Maafkan saya, hingga detik ini belum tahu bagaimana cara membuatmu bahagia." Akhirnya, sang pejabat memeluk isterinya dengan erat. Tamu-tamu terhormat pun tersentuh hatinya melihat keharuan tadi dan mereka kemudian bersulang untuk menghormati kedua pasangan tersebut.

Moral cerita diatas:

Bisa saja, sepasang suami - isteri saling mencintai dan hidup serumah selama bertahun-tahun lamanya. Tetapi jika di antaranya tidak ada saling keterbukaan dalam komunikasi, maka kemesraan mereka sesungguhnya rawan dengan konflik. Kebiasaan memendam masalah itu cukup riskan karena seperti menyimpan bom waktu dalam keluarga. Kalau perbedaan tetap disimpan sebagai ganjalan dihati, tidak pernah dibiacarakan secara tulus dan terbuka, dan ketidakpuasan terus bermunculan, maka konflik akan semakin tak tertahankan dan akhirnya bisa meledak. Jika keadaan sudah seperti ini, tentulah luka yang ditimbulkan akan semakin dalam dan terasa lebih menyakitkan.

Kita haruslah selalu membangun pola komunikasi yang terbuka dengan dilandasi kasih, kejujuran, kesetiaan, kepercayaan, pengertian dan kebiasaan berpikir positif.

Saat bertemu orang yang pernah salah-paham padamu, gunakan saat tersebut untuk menjelaskannaya. Karena engkau mungkin hanya punya satu kesempatan itu saja untuk menjelaskan.

Oleh: Tidak Diketahui
Sumber : heartnsouls.com

Kirim email ke