--- Pada Sen, 26/1/09, edi prabowo <[email protected]> menulis:
Dari: edi prabowo <[email protected]>
Topik: Fw: Malaikat Terhukum
Kepada: "Agnes" <[email protected]>, "aan" <[email protected]>, 
"arief priharsanta" <[email protected]>, "widodo" 
<[email protected]>, "willy" <[email protected]>, "hadi" 
<[email protected]>, "Dominicus" <[email protected]>, "Rommy Lee" 
<[email protected]>, "tika lesmana" <[email protected]>, "tika nazz" 
<[email protected]>, "fransicus tri" <[email protected]>, "Kartika" 
<[email protected]>, "Maria" <[email protected]>, "mary" 
<[email protected]>, "Budi Agustino" <[email protected]>, "stefanus ferry 
Liswandono" <[email protected]>, "cecep" <[email protected]>, 
"Huyanti" <[email protected]>, "velli faustina" <[email protected]>, 
"Achmad Faizal DKV" <[email protected]>, "Sibianto DKV" <[email protected]>
Tanggal: Senin, 26 Januari, 2009, 8:03 PM



--- Pada Rab, 7/11/07, Regional <[email protected]> menulis:
Dari: Regional <[email protected]>
Topik: Fw: Malaikat Terhukum
Kepada: "Tans Yanne" <[email protected]>, "'Selvy Darma'" 
<[email protected]>, "NoVa" <[email protected]>, "hendra" 
<[email protected]>, "Arif Priharsanta" 
<[email protected]>, "'...Nita...'" <[email protected]>
Cc: "'Selvy G-Mail Darma'" <[email protected]>, "florentinus wibisono" 
<[email protected]>, "'edi prabowo'" <[email protected]>, "Anis Cahya 
Bidari" <[email protected]>
Tanggal: Rabu, 7 November, 2007, 7:33 AM



 
 
#yiv437256329 _filtered #yiv1022151150 {margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;}
#yiv437256329 #yiv1022151150 P.MsoNormal {
FONT-SIZE:12pt;MARGIN:0in 0in 0pt;FONT-FAMILY:"Times New Roman";}
#yiv437256329 #yiv1022151150 LI.MsoNormal {
FONT-SIZE:12pt;MARGIN:0in 0in 0pt;FONT-FAMILY:"Times New Roman";}
#yiv437256329 #yiv1022151150 DIV.MsoNormal {
FONT-SIZE:12pt;MARGIN:0in 0in 0pt;FONT-FAMILY:"Times New Roman";}
#yiv437256329 #yiv1022151150 A:link {
COLOR:blue;TEXT-DECORATION:underline;}
#yiv437256329 #yiv1022151150 SPAN.MsoHyperlink {
COLOR:blue;TEXT-DECORATION:underline;}
#yiv437256329 #yiv1022151150 A:visited {
COLOR:purple;TEXT-DECORATION:underline;}
#yiv437256329 #yiv1022151150 SPAN.MsoHyperlinkFollowed {
COLOR:purple;TEXT-DECORATION:underline;}
#yiv437256329 #yiv1022151150 SPAN.emailstyle17 {
FONT-WEIGHT:normal;COLOR:windowtext;FONT-STYLE:normal;FONT-FAMILY:Arial;TEXT-DECORATION:none;}
#yiv437256329 #yiv1022151150 SPAN.EmailStyle18 {
COLOR:navy;FONT-FAMILY:Arial;}
#yiv437256329 #yiv1022151150 DIV.Section1 {
}

 
----- Original Message ----- 
From: Christian/Lingga 
To: Ester 
Cc: [email protected] ; Vince ; [email protected] ; Regional ; 
Sudiono ; [email protected] ; Yulita ; Wulan ; [email protected] 
Sent: Tuesday, November 06, 2007 4:32 PM
Subject: Malaikat Terhukum



Cinta Kasih di Hati 
Manusia
 
Jaman dahulu kala di Rusia hidup pasangan 
suami-istri Simon dan Matrena. Simon yang miskin ini adalah seorang pembuat 
sepatu. Meskipun hidupnya tidaklah berkecukupan, Simon adalah seorang yang 
mensyukuri hidupnya yang pas-pasan.
Masih banyak orang lain yang hidup lebih 
miskin daripada Simon.
Banyak orang-orang itu yang malah berhutang 
padanya. Kebanyakan berhutang ongkos pembuatan sepatu. Maklumlah, di Rusia 
sangat dingin sehingga kepemilikan sepatu dan mantel merupakan hal yang mutlak 
jika tidak mau mati kedinginan.
 
Suatu hari keluarga tersebut hendak membeli 
mantel baru karena mantel mereka sudah banyak yang berlubang-lubang. Uang 
simpanan mereka hanya 3 rubel (rubel = mata uang Rusia) padahal mantel baru 
yang 
paling murah harganya 5 rubel. Maka  Matrena meminta pada suaminya untuk 
menagih hutang orang-orang yang telah mereka buatkan sepatu. Maka Simon 
pun
berangkat pergi menagih hutang. Tapi tak 
satupun yang membayar. Dengan sedih Simon pulang. Ia batal membeli 
mantel.
 
Dalam perjalanan pulang, Simon melewati 
gereja, dan saat itu ia melihat sesosok manusia yang sangat putih bersandar di 
dinding luar gereja. Orangitu tak berpakaian dan kelihatan sekali ia sangat 
kedinginan.
Simon ketakutan, "Siapakah dia?  
Setankah? Ah, daripada terlibat macam-macam lebih baik aku pulang saja". Simon 
bergegas mempercepat langkahnya sambil sesekali mengawasi belakangnya, ia takut 
kalau orang itu tiba-tiba mengejarnya.
 
Namun ketika semakin jauh, suara hatinya 
berkata, "HAI SIMON, TAK MALUKAH KAU? KAU PUNYA MANTEL MESKIPUN SUDAH 
BERLUBANG-LUBANG, SEDANGKAN ORANG ITU TELANJANG. PANTASKAH ORANG MENINGGALKAN 
SESAMANYA BEGITU SAJA?"
 
Simon ragu, tapi akhirnya toh ia balik lagi 
ke tempat orang itu bersandar. Ketika sudah dekat, dilihatnya orang itu 
ternyata 
pria yang wajahnya sungguh tampan. Kulitnya bersih seperti kulit bangsawan. 
Badannya terlihat lemas dan tidak berdaya, namun sorot matanya menyiratkan rasa 
terima kasih yang amat sangat ketika Simon memakaikan mantel luarnya kepada 
orang itu dan memapahnya berdiri. Ia tidak bisa menjawab sepatah kata pun atas 
pertanyaan-pertanya an Simon, sehingga Simon memutuskan untuk membawanya 
pulang.
 
Sesampainya di rumah, Matrena marah sekali 
karena Simon tidak membawa mantel baru dan membawa seorang pria asing. "Simon, 
siapa ini? Mana mantel barunya? "
Simon mencoba menyabarkan Matrena, "Sabar, 
Matrena.... dengar dulu penjelasanku. Orang ini kutemukan di luar gereja, ia 
kedinginan, jadi kuajak sekalian pulang".
"Bohong!!  Aku tak percaya....sudahlah 
, pokoknya aku tak mau dengar ceritamu! Sudah tahu kita ini miskin kok masih 
sok 
suci menolong orang segala!! Usir saja dia!!"
"Astaga, Matrena! Jangan berkata begitu, 
seharusnya kita bersyukur karena kita masih bisa makan dan punya pakaian, 
sedangkan orang ini telanjang dan kelaparan. Tidakkah di hatimu ada sedikit 
belas kasih?
"Matrena menatap wajah pria asing itu, 
mendadak ia merasa iba.. Lalu disiapkannya makan malam sederhana berupa roti 
keras dan bir hangat. "Silakan makan, hanya sebeginilah makanan yang ada. Siapa 
namamu dan darimana asalmu?  Bagaimana ceritanya kau bisa telanjang di luar 
gereja?"
 
Tiba-tiba wajah pria asing itu bercahaya. 
Mukanya berseri dan ia tersenyum untuk pertama kalinya. "Namaku Mikhail, asalku 
dari jauh. Sayang sekali banyak yang tak dapat kuceritakan. Kelak akan tiba 
saatnya aku boleh menceritakan semua yang kalian ingin ketahui tentang aku. Aku 
akan sangat berterima kasih kalau kalian mau menerimaku bekerja di 
sini."
 
"Ah, Mikhail, usaha sepatuku ini cuma usaha 
kecil. Aku takkan sanggup menggajimu", demikian Simon 
menjawab.
Tak apa, Simon. Kalau kau belum sanggup 
menggajiku, aku tak keberatan kerja tanpa gaji asalkan aku mendapat makan dan 
tempat untuk tidur."
"Baiklah kalau kau memang mau begitu. Besok 
kau mulai bekerja".
Malamnya pasangan suami-istri itu tak dapat 
tidur. Mereka bertanya-tanya. "Simon tidakkah kita keliru menerima orang 
itu?  Bagaimana jika Mikhail itu ternyata buronan?" Matrena bertanya dengan 
gelisah pada Simon.
Simon menjawab, "Sudahlah Matrena. 
Percayalah pada pengaturan Tuhan. Biarlah ia tinggal di sini.Tingkah lakunya 
cukup baik. Kalau ternyata ia berperilaku tidak  baik, segera kuusir 
dia".
 
Esoknya Mikhail mulai bekerja membantu 
Simon membuat dan memperbaiki sepatu. Di bengkelnya, Simon mengajari Mikhail 
memintal benang dan membuat pola serta menjahit kulit untuk sepatu. Sungguh 
aneh, baru tiga hari belajar, Mikhail sudah bisa membuat sepatu lebih baik dan 
rapi daripada Simon.
 
Lama kelamaan bengkel sepatu Simon mulai 
terkenal karena sepatu buatan Mikhail yang bagus. Banyak pesanan mengalir dari 
desa-desa yang penduduknya kaya. Simon tidak lagi miskin. Keluarga itu sangat 
bersyukur karena mereka sadar, tanpa bantuan tangan terampil Mikhail, usaha 
mereka takkan semaju ini.
Namun mereka juga terus bertanya-tanya 
dalam hati, siapa sebenarnya Mikhail ini. Anehnya, selama Mikhail tinggal 
bersama mereka, baru sekali saja ia tersenyum, yaitu dulu saat Matrena memberi 
Mikhail makan. Namun meski tanpa senyum, muka Mikhail selalu berseri sehingga 
orang tak takut melihat wajahnya.
 
Suatu hari datanglah seorang kaya bersama 
pelayannya. Orang itu tinggi besar, galak dan terlihat kejam. "Hai Simon, Aku 
minta dibuatkan sepatu yang harus tahan setahun mengahadapi cuaca dingin. Kalau 
sepatu itu rusak sebelum setahun, kuseret kau ke muka hakim untuk dipenjarakan! 
! Ini, kubawakan kulit terbaik untuk bahan sepatu. Awas, hati-hati ini kulit 
yang sangat mahal!"
 
Di pojok ruangan, Mikhail yang sedari tadi 
duduk diam, tiba-tiba tersenyum. Mukanya bercahaya, persis seperti dulu ketika 
ia pertama kalinya tersenyum.
Sebenarnya Simon enggan berurusan dengan 
orang ini. Ia baru saja hendak menolak pesanan itu ketika Mikhail memberi 
isyarat agar ia menerima pesanan itu.
Simon berkata, "Mikhail, kau sajalah yang 
mengerjakan sepatu itu. Aku sudah mulai tua. Mataku agak kurang awas untuk 
mengerjakan sepatu semahal ini.
Hati-hati, ya. Aku tak mau salah satu atau 
malah kita berdua masuk penjara."
Ketika Mikhail selesai mengerjakan sepatu 
itu, bukan main terkejutnya Simon. "Astaga, Mikhail, kenapa kau buat sepatu 
anak-anak? Bukankah yang memesan itu orangnya tinggi besar?  Celaka, kita 
bisa masuk penjara karena...."
Belum selesai Simon berkata, datang si 
pelayan orang kaya. "Majikanku sudah meninggal. Pesanan dibatalkan. Jika masih 
ada sisa kulit, istri majikanku minta dibuatkan sepatu anak-anak 
saja".
"Ini, sepatu anak-anak sudah kubuatkan. 
Silakan bayar ongkosnya pada Simon", Mikhail menyerahkan sepatu buatannya pada 
pelayan itu. Pelayan itu terkejut, tapi ia diam saja meskipun heran darimana 
Mikhail tahu tentang pesanan sepatu anak-anak itu.
 
Tahun demi tahun berlalu, Mikhail tetap 
tidak pernah tersenyum kecuali pada dua kali peristiwa tadi. Meskipun 
penasaran, 
Simon dan Matrena tak pernah berani menyinggung- nyinggung soal asal usul 
Mikhail karena takut ia akan meninggalkan mereka.
 
Suatu hari datanglah seorang ibu dengan dua 
orang anak kembar yang salah satu kakinya pincang! Ia minta dibuatkan sepatu 
untuk kedua anak itu. Simon heran sebab Mikhail tampak sangat gelisah. Mukanya 
muram, padahal biasanya tidak pernah begitu.
Saat mereka hendak pulang, Matrena bertanya 
pada ibu itu, "Mengapa salah satu dari si kembar ini kakinya 
pincang?"
Ibu itu menjelaskan, "Sebenarnya mereka 
bukan anak kandungku. Mereka kupungut ketika ibunya meninggal sewaktu 
melahirkan 
mereka. Padahal belum lama ayah mereka juga meninggal. Kasihan, semalaman ibu 
mereka yang sudah meninggal itu tergeletak dan menindih salah satu kaki anak 
ini 
Itu sebabnya ia pincang. Aku sendiri tak punya anak, jadi kurawat mereka 
seperti 
anakku sendiri."
 
"Tuhan Maha Baik, manusia dapat hidup tanpa 
ayah ibunya, tapi tentu saja manusia takkan dapat hidup tanpa Tuhannya", kata 
Matrena.  Mendengar itu, Mikhail kembali berseri-seri dan tersenyum untuk 
ketiga kalinya. Kali ini bukan wajahnya saja yang bercahaya, tapi seluruh 
tubuhnya. Sesudah tamu-tamu tersebut pulang, ia membungkuk di depan Simon dan 
Matrena sambil berkata, "Maafkan semua kesalahan yang pernah kuperbuat, apalagi 
telah membuat gelisah dengan tidak mau menceritakan asal usulku. Aku dihukum 
Tuhan, tapi hari ini Tuhan telah mengampuni aku. Sekarang aku mohon 
pamit."
 
Simon dan Matrena tentu saja heran dan 
terkejut, "Nanti dulu Mikhail, tolong jelaskan pada kami siapakah sebenarnya 
kau 
ini?"
 
Mikhail menjawab sambil terus tersenyum, 
"Sebenarnya aku adalah adalah satu malaikat Tuhan. Bertahun-tahun yang lalu 
Tuhan menugaskan aku menjemput nyawa ibu kedua anak tadi. Aku sempat menolak 
perintah Tuhan itu tapi kuambil juga nyawa ibu mereka. Aku menganggap Tuhan 
kejam.. Belum lama mereka ditinggal ayahnya, sekarang ibunya harus meninggalkan 
mereka juga.
Dalam perjalanan ke surga, Tuhan mengirim 
badai yang menghempaskanku ke bumi. Jiwa ibu bayi menghadap Tuhan sendiri. 
Tuhan 
berkata padaku, 'MIKHAIL, TURUNLAH KE BUMI DAN PELAJARI KETIGA KEBENARAN INI 
HINGGA KAU MENGERTI:
 
PERTAMA, APAKAH YANG HIDUP DALAM HATI 
MANUSIA?
KEDUA, APA YANG TAK DIIJINKAN PADA 
MANUSIA?
KETIGA, APA YANG PALING DIPERLUKAN 
MANUSIA?'
 
"Aku jatuh di halaman gereja, kedinginan 
dan kelaparan. Simon menemukan dan membawaku pulang. Waktu Matrena marah-marah 
dan hendak mengusir aku, kulihat maut dibelakangnya. Seandainya ia jadi 
mengusirku, ia pasti mati malam itu. Tapi Simon berkata, "Tidakkah di hatimu 
ada 
sedikit belas kasih?" Matrena jatuh iba dan memberi aku makan. Saat itulah aku 
tahu
kebenaran pertama: "YANG HIDUP DALAM HATI 
MANUSIA ADALAH BELAS KASIH"
 
"Kemudian ada orang kaya yang memesan 
sepatu yang tahan satu tahun sambil marah-marah. Aku melihat maut di 
belakangnya. Ia tidak tahu ajalnya sudah dekat. Aku tersenyum untuk kedua 
kalinya. Saat itulah aku tahu kebenaran kedua:
"MANUSIA TIDAK DIIJINKAN MENGETAHUI MASA 
DEPANNYA. MASA DEPAN MANUSIA ADA 
DI TANGAN TUHAN"
 
"Hari ini datang ibu angkat bersama kedua 
anak kembar tadi. Ibu kandung si kembar itulah yang diperintahkan Tuhan untuk 
kucabut nyawanya. Dan aku melihat si kembar  dirawat dengan baik oleh ibu 
lain. Aku tersenyum untuk ketiga kalinya dan kali ini tubuhku bercahaya. Aku 
tahu kebenaran yang ketiga: "MANUSIA DAPAT HIDUP TANPA AYAH DAN IBUNYA TAPI 
MANUSIA TIDAK AKAN DAPAT HIDUP TANPA TUHANNYA."
 
Simon, Matrena, terima kasih atas kebaikan 
kalian berdua. Aku telah mengetahui ketiga kebenaran itu, Tuhan telah 
mengampuniku. Semoga kasih Tuhan senantiasa menyertai kalian sepanjang hidup." 
Mikhail kembali ke surga. (Kristamedia)

        Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat.
Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang!


      Nikmati chatting lebih sering di blog dan situs web. Gunakan Wizard 
Pembuat Pingbox Online. http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

Kirim email ke