----- Forwarded Message ----
From: Satrio Arismunandar <[email protected]>
To: news Trans TV <[email protected]>; kampus tiga 
<[email protected]>; jurnalisme <[email protected]>; AJI 
INDONESIA <[email protected]>; technomedia <[email protected]>; 
Forum Kompas <[email protected]>; warta-lingk 
<[email protected]>; pantau 
<[email protected]>; naratama naratama 
<[email protected]>; ppiindia <[email protected]>; HMI Kahmi 
Pro Network <[email protected]>; Pers Indonesia 
<[email protected]>; Anita Cemerlang 
<[email protected]>
Sent: Thursday, April 23, 2009 1:40:28 AM
Subject: [PersIndonesia] 10 Tips Menulis Surat Pembaca






Sepuluh Langkah Menulis Surat Pembaca Yang Menembus Media
Oleh : Budi Purnomo

Menulis Surat Pembaca itu gampang, kata seorang penulis yang memang namanya 
sering terpampang di berbagai rubrik Surat Pembaca media cetak. Tidak sedikit 
pula yang beranggapan bahwa menulis Surat pembaca itu sulit. Namun terlepas 
dari pro kontra tersebut, dibandingkan dengan karya tulis lainnya, menulis 
Surat Pembaca memang lebih gampang. Mudah-mudahan, Tips Sepuluh Langkah ini 
dapat menjadi obat bagi Anda yang masih merasa kesulitan menulis Surat Pembaca.

Langkah Pertama : Tentukan tema yang akan ditulis
Sebagaimana menulis artikel pada umumnya, menulis Surat Pembaca pun memerlukan 
tema yang jelas. Dengan tema yang jelas, diharapkan penulis akan konsentrasi 
dan fokus terhadap permasalahan yang berkaitan dengan tema. Entah itu 
memberikan solusi terbaik, menyampaikan pandangan pro dan kontra atau bahkan 
wacana alternative. Oleh karena itu pembuatan judul tetap harus memiligi daya 
tarik dan disesuaikan dengan isinya. Misalnya, kita akan menulis tentang 
lingkungan hidup, maka kita jangan ngelantur kemana-mana. Selain space tulisan 
yang terbatas, tulisan yang ngelantur sangat tidak produktif dan tidak enak 
dibaca.

Langkah Kedua : Tuangkan tulisan dengan bahasa yang jelas
Meskipun belum tentu merupakan suatu kesalahan, tetapi salah satu kelemahan 
para penulis adalah menonjolkan penulisan dengan menyisipkan bahasa-bahasa 
asing yang tidak perlu. Tujuannya (mungkin) agar terlihat intelek dan 
(terlihat) mengikuti perkembangan baru. Sebenarnya sih boleh-boleh saja. Tetapi 
untuk menulis Surat Pembaca tolong dipertimbangkan baik-baik. Bagaimana pun, 
menuangkan tulisan dengan bahasa yang lebih jelas dinilai lebih bagus. 
Penyebabnya, karena karakteristik penulisan Surat Pembaca yang harus singkat 
dan padat. 

Langkah Ketiga : Jangan menulis terlalu panjang.
Kalau kita jeli meneliti tulisan-tulisan Surat Pembaca yang ada di media cetak, 
baik itu suratkabar, tabloid, maupun majalah, paling panjang hanya memuat 3 s/d 
5 paragraph/alenea. Rumus seperti ini sebaiknya jangan Anda tabrak. Mengapa ? 
tulisan yang panjang dan lebar hanya akan menambah pekerjaan redaksi yang sudah 
bertumpuk pekerjaan. Kalau Anda menjadi redaksinya pun, tentu akan lebih senang 
memilih tulisan atau artikel yang pas, sesuai dengan harapan, dan tidak 
berpanjang lebar.

Langkah Keempat : Baca lagi, edit lagi.
Setelah tulisan selesai dibuat, sebaiknya jangan langsung dikirim ke media 
cetak. Cobalah diendapkan sebentar saja, lalu Anda cek sekali lagi. Apakah 
masih ada salah huruf atau salah kata ? Bahkan mungkin ada kalimat-kalimat yang 
dirangkai dari satu kalimat ke kalimat lain yang tidak nyambung ? Pastikan, 
semua tulisan yang Anda buat sempurna menurut versi Anda sendiri. Bila perlu, 
konfirmasikan lagi kepada senior Anda, apakah tulisan Anda ini sudah oke atau 
kurang ? Kalau Anda akan membacanya lagi, kemudian Anda edit lagi karena Anda 
kurang puas, lakukanlah dengan penuh perjuangan, sampai Anda benar-benar nyaman 
dengan tulisan yang Anda buat sendiri.

Langkah Kelima : Buat surat pengantar
Akan lebih sopan kalau dalam mengirimkan Surat Pembaca kita juga diberikan 
pengantar yang isinya bahwa surat yang terlampir adalah surat pembaca. Contoh 
isi surat pengantar secara ringkas adalah sebagai berikut : Bersama ini kami 
kirimkan tulisan berjudul : “ (tuliskan judulnya) ” untuk dimuat di Rubrik 
Surat Pembaca media cetak yang Bapak/Ibu pimpin. Semoga Surat Pembaca kami ini 
dapat dipublikasikan di media cetak Bapak/Ibu. Atas bantuan yang diberikan, 
kami menyampaikan terima kasih. Jangan lupa cantumkan Nama, Alamat, serta Nomor 
Telp/HP Anda yang gampang dihubungi.

Langkah Keenam : Jangan lupa lampirkan identitas diri.
Kalau kita buka media cetak di halaman opini atau pun di bawah box susunan 
redaksi media massa, selalu dicantumkan informasi agar setiap pengirim Surat 
Pembaca melampirkan fotocopy identitas diri. Anda dituntut ketaatan untuk 
memenuhi ketentuan ini. Kalau KTP tidak ada, Anda bisa menggunakan Kartu SIM, 
Kartu Pelajar, atau kartu identitas yang lainnya. Yang penting, jangan 
melampirkan yang kartu identitas yang asli, cukup fotocopy-nya saja,

Langkah Ketujuh : Kirimkan kepada alamat redaksi media
Setelah semuanya siap, barulah Anda mengirimkan surat kepada redaksi yang 
mengasuh rubrik Surat Pembaca. Biasanya redaksi Surat Pembaca juga mengelola 
halaman Opini. Alamat Redaksi media cetak selalu dicantumkan di box susunan 
redaksi, masing-masing media. Untuk alamat redaksi yang lebih lengkap, 
Komunitas Penulis Surat Pembaca “JEJak” sudah menyediakannya secara gratis di 
http://infojejak. blogspot. com/2006/ 04/daftar- alamat-redaksi- media-cetak. 
html atau di http://alamatmedia. blogspot. com. Setelah itu, silahkan kirim 
tulisan Surat Pembaca Anda ke media cetak yang memiliki visi dan misi yang sama 
dengan contain atau materi Surat Pembaca yang Anda buat. Kalau Anda memiliki 
minat besar untuk menulis, biasanya dengan membaca media cetak (atau membaca 
Surat Pembaca yang dimuat di situ), Anda akan memiliki feeling bahwa 
tulisan-tulisan dengan visi dan misi tertentu maka potensi untuk dimuatnya 
sangat tinggi.

Langkah Kedelapan : Monitoring pemuatan Surat Pembaca
Setelah mengirimkan Surat Pembaca ke redaksi media cetak, Anda tinggal menunggu 
pemuatan atau penerbitannya di media cetak yang kita kirim. Jangan berharap 
redaksi akan memberitahu Anda untuk pemuatan, karena mereka pun memiliki waktu 
yang terbatas dan dikejar dead line. Kalau punya uang, lebih baik Anda membeli 
media cetak tersebut untuk memonitor apakah Surat Pembaca kita sudah dimuat 
atau belum. Tetapi, kalau keuangan Anda terbatas, pinjam sebentar di agen media 
cetak atau tukang koran untuk ngintip rubrik Surat Pembaca, juga bisa Anda 
lakukan.

Langkah Kesembilan : Coba lagi, dan jangan putus asa
Kalau tulisan Anda tidak dimuat, jangan berputus asa. Kesuksesan 
penulis-penulis hebat adalah karena tulisan-tulisannya pernah ditolak oleh 
penerbit. Anda coba lagi, baca lagi, belajar lagi dan kirim lagi. Pokoknya 
jangan ada istilah berputus asa, karena dengan demikian maka Anda pasti bisa.

Langkah Kesepuluh : Dokumentasikan Surat Pembaca Anda
Tulisan-tulisan Surat Pembaca yang telah dimuat di media massa, jangan dibuang. 
Buatlah dokumentasi yang rapi, suatu saat pasti akan berguna bagi karir dan 
kehidupan Anda. Memang benar, kegiatan menulis Surat pembaca bukan karena 
alasan uang, tidak ada honor dari penerbit apabila tulisan Anda dimuat di 
rubrik Surat Pembaca. Tetapi, kalau kita rutin menulis, maka kemampuan 
interlektualitas kita terasah.
Kalau tulisan Surat Pembaca sudah menumpuk, Anda bisa mendokumentasikanny a via 
blog pribadi,, dan kemudian ditawarkan kepada penerbit buku, siapa tahu ada 
yang berminat. Kalau jalannya mulus, Anda pun menjadi ngetop. Kata orang, 
ngetop adalah rejeki berupa benefit yang bisa mendatangkan profit. 
Mudah-mudahan, Anda termasuk keluarga besar penulis yang beruntung. Semoga!

Catatan:
Makalah ini pernah disampaikan dalam Workshop Kehumasan PDAM yang 
diselenggarakan oleh Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia 
(Perpamsi), Jakarta, 26-28 Juli 2006.

Sumber: Komunitas Penulis Surat Pembaca Jakarta
URL: http://infojejak. wordpress. com/2007/ 02/13/sepuluh- langkah-menulis- 
surat-pembaca- yang-menembus- media/

/





      

Kirim email ke