Pesta  Pemberkatan Gereja Basilik Lateran: Yeh 47:1-2.8-9.12; 1Kor 
3:9b-11.16-17; Yoh 2:13-22
"Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat 
berjualan." 
Beberapa dari anda kiranya masih ingat perihal `Kisah Penampakan Bunda Maria' 
di tempat-tempat peziarahan Bunda Maria di wilayah Keuskupan Agung Semarang, 
Jawa Tengah, yaitu di Sendang Sono dan Sendang Sriningsih, yang `dikomandani' 
oleh seseorang bernama Bapak Thomas, almarhum.. Pada masa itu setiap bulan 
kegiatan tersebut diselenggarakan, dan umat yang berpartisipasi atau hadir pun 
luar biasa banyaknya. Gerakan tersebut di satu sisi menggembirakan yaitu 
semakin banyak orang berdevosi kepada Bunda Maria, tetapi di sisi lain 
menggelisahkan juga, yaitu ada kecurigaan tertentu yang muncul dalam benak hati 
kami. Gejala yang mencurigakan kami antara lain: seluruh kolekte pada upacara 
tersebut `dibawa semuanya' oleh kelompok Bapak Thomas  dan tiada sedikit 
ditinggalkan untuk kepentingan tempat peziarahan terkait, peristiwa penampakan 
dapat direncanakan dan ditentukan waktunya, dst.. Dengan kata lain terjadi 
komersialisasi ibadat dan tempat ibadat, dimana sekelompok umat mencari 
keuntungan/uang sebesar-besarnya untuk memperkaya diri sendiri melalui kegiatan 
ibadat. Kami, yang berwenang, ambil kebijakan sebagaimana tertulis dalam Injil: 
"Jika gerakan mereka berasal dari Roh Kudus pasti akan jalan terus, tetapi jika 
tidak berasal dari Roh Kudus dalam waktu singkat pasti berhenti sendiri", serta 
dengan akal sehat mengusahakan pencerahan. Akhirnya dengan bantuan seorang 
paranormal yang baik dapat diketahui bahwa ada kemungkinan kegiatan tersebut 
didukung oleh beberapa paranormal yang tidak baik alias komersial. Dengan 
bantuan seorang paranormal yang baik itu akhirnya tercerahkan bahwa kegiatan 
tersebut bukan beralal dari Roh Kudus, melainkan dari manusia  yang 
materilistis, pada suatu saat gagallah usaha `penampakan Bunda Maria' tersebut 
dan seterusnya berhenti total. 

"Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat 
berjualan."(Yoh 2:16)      

"Tempat-tempat suci ialah tempat yang dikhususkan untuk ibadat ilahi atau 
pemakaman kaum beriman dengan pengudusan atau pemberkatan yang ditetapkan dalam 
buku-buku liturgi untuk itu" (KHK kan 1205). Mengacu pada aturan hukum ini apa 
yang disebut tempat suci antara lain: tempat ibadah (gereja, kapel dll), tempat 
peziarahan, dll. Tempat tinggal hemat saya sedikit banyak juga dapat 
dikategorikan `tempat suci', mengingat dan mempertimbangkan bahwa rumah telah 
diberkati untuk tempat tinggal. Di tempat-tempat suci dilarang `berjualan' atau 
berbisnis, dimana ada pribadi atau organisasi berusaha mencari keuntungan demi 
diri sendiri. Maka jika para pedagang atau penjual souvenir atau makanan 
hendaknya tidak di lingkungan tempat suci, tetapi berada di luar lingkungan, 
kecuali keuntungan diperuntukkan bagi karya amal atau sosial. 

Harta benda atau uang yang dipersembahkan  atau diterima selama ibadat dan di 
tempat ibadat menjadi milik Umat Allah atau Gereja dan demikian harus digunakan 
sesuai dengan aturan Gereja antara lain untuk "mengatur ibadat ilahi, memberi 
penghidupan yang layak kepada klerus serta pelayan-pelayan lainnya, 
melaksanakan karya-karya kerasulan suci serta karya amal-kasih, terutama 
terhadap mereka yang berkekurangan" (KHK kan 1254).  Dengan kata lain harta 
benda atau uang yang diterima selama beribadat dan tempat ibadat difungsikan 
untuk pelayanan umat, terutama terarah kepada mereka yang miskin dan 
berkekurangan, yang tentu saja mengandaikan pembinaan umat pada umumnya tak 
terabaikan. Para klerus beserta para pembantunya, entah dalam hidup sehari-hari 
maupun organisasi gerejawi, hendaknya memperoleh perhatian yang memadai 
sehingga mereka dapat menyelenggarakan pembinaan iman umat dengan baik dan 
memadai. Pada umumnya semakin beriman juga semakin sosial. 

Kami ingatkan juga sedikit banyak tempat tinggal kita juga tempat suci karena 
telah diberkati, maka hendaknya juga tidak ada sikap mental bisnis atau jualan 
di tempat tinggal atau rumah, dengan kata lain hendaknya di dalam keluarga juga 
terjadi kegiatan pembinaan iman anggota keluarga, entah dengan doa atau ibadat 
maupun cara hidup dan cara bertindak. Doa bersama setiap hari di dalam 
keluarga, entah doa pagi atau doa malam, akan sangat mendukung kehidupan iman 
anggota keluarga. Karena rumah bagaikan tempat ibadat, maka semua anggota 
keluarga bagaikan sedang beribadat, sarana-prasarana hidup  berkeluarga dirawat 
bagaikan merawat sarana-prasarana ibadat, dst..  Tempat kerja hendaknya juga 
disikapi bagaikan tempat ibadat, sehingga bekerja bagaikan sedang beribadat, 
rekan kerja bagaikan rekan ibadat, perawatan sarana-prasarana kerja bagaikan 
perawatan sarana-prasarana ibadat, sikap mental semua orang  bagaikan sikap 
mental sedang beribadat, dst.. 

"Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di 
dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan 
membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu" 
(1Kor 3:16-17)

Dalam rangka mengenangkan "Pemberkatan Gereja Basilik Lateran", gereja atau 
katedral resmi Paus, kita juga diingatkan bahwa sebagai umat Allah atau umat 
beriman juga menjadi bait Allah dan Roh Allah diam di dalam diri kita. Karena 
Roh Allah diam di dalam diri kita, maka dari diri kita memancarlah 
keutamaan-keutamaan seperti " kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, 
kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri."(Gal 5:22-23) 
atau sebagaimana diilustrasikan oleh nabi Yeheskiel bahwa diri kita bagaikan 
tanah subur dimana "tumbuh bermacam-macam pohon buah-buahan, yang daunnya tidak 
layu dan buahnya tidak habis-habis; tiap bulan ada lagi buahnya yang baru, 
sebab pohon-pohon itu mendapat air dari tempat kudus itu. Buahnya menjadi 
makanan dan daunnya menjadi obat."(Yeh 47:12) 
Cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun diharapkan berbuah 
keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan yang menyelamatkan dan 
membahagiakan. Dengan kehadiran dan sepak terjang kita, mereka yang sakit 
menjadi sembuh, yang lesu dan frustrasi menjadi bergairah, yang sedih menjadi 
gembira dan ceria, yang miskin diperkaya, yang egois menjadi sosial, yang bodoh 
menjadi cerdas, dst.. Dan tentu saja kita sendiri senantiasa dalam keadaan 
sehat wal'afiat, segar bugar baik secara jasmani maupun rohani, phisik maupun 
spiritual. Cara hidup dan cara bertindak kita membuat diri kita semakin 
dikasihi oleh Allah dan sesama manusia. 

Jika masing-masing dari kita sungguh menjadi `bait Allah', maka kebersamaan 
hidup layak disebut sebagai keluarga Allah, Allah hidup dan bekerja dalam 
kebersamaan hidup kita, dan tentu saja dalam dan melalui diri kita sebagai 
`bait Allah'. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak kita semua untuk 
menjaga dan merawat diri sendiri sebaik dan seoptimal mungkin sehingga layak 
sebagai `bait Allah'.  Cara untuk itu antara lain tidak melupakan hidup doa 
atau ibadat harian serta senantiasa berbuat baik kepada orang lain; semakin 
kita banyak berbuat  baik maka kita juga semakin baik, sebaliknya jika kita 
enggan atau malas berbuat baik maka kita juga akan menjadi pribadi kerdil, 
frustrasi, penakut dst.. Ketika kita terbiasa berbuat baik kepada orang lain, 
kita juga akan berkembang menjadi pribadi yang proaktif dan kreatif. Maka 
marilah kita saling mendoakan dan berbuat baik, dan dengan rendah hati saya 
mohon doa anda sekalian agar saya setia pada panggilan dan tugas pengutusan, 
menghayati panggilan Yesuit maupun imamat dengan meneladan Yesus yang datang 
untuk melayani bukan dilayani, yang menyelamatkan dan membahagiakan siapapun 
juga dan dimanapun juga. 

"Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam 
kesesakan sangat terbukti.Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi 
berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut"(Mzm 46:2-3)

Jakarta, 9 November 2009 

Note: tulisan sebelumnya dan yang lain, buka: www.ekaristi.org
ign.sumarya sj

Kirim email ke