"Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."
(2Mak 6:18-31; Luk 19:1-10)

"Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada 
seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia 
berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena 
orang banyak, sebab badannya pendek. Maka berlarilah ia mendahului orang 
banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. 
Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, 
segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." Lalu Zakheus 
segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Tetapi semua orang yang 
melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang 
berdosa." Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah 
dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang 
kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." Kata Yesus 
kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang 
ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan 
yang hilang." (Luk 19:1-10), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St Elisabet dari 
Hungaria, biarawan, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai 
berikut:
•       Kesadaran dan penghayatan beriman identik dengan kesadaran dan 
penghayatan berdosa; semakin beriman berarti semakin menyadari dan menghayati 
diri sebagai yang berdosa yang dianugerahi rahmat Allah, sehingga yang 
bersangkutan semakin hidup penuh syukur dan terima kasih. Syukur dan terima 
kasih kemudian diwujudkan dalam cara hidup bagi orang lain, lebih-lebih bagi 
mereka yang miskin dan berkekurangan. Hidup beriman yang demikian itu merupakan 
tanggapan atau iman bahwa "Yesus datang untuk mencari dan menyelamatkan yang 
hilang". Kita di satu sisi dapat menyadari dan menghayati sebagai yang berdosa 
dan dicari, atau sisi lain meneladan Yesus yang mencari dan menyelamatkan yang 
hilang/berdosa; keduanya membutuhkan pengorbanan dan perjuangan. Pertama-tama 
kami mengajak dan mengingatkan mereka yang kaya akan harta benda atau uang 
untuk mawas diri: apakah kekayaan yang kita miliki atau kuasai saat ini tidak 
merupakan bagian dari perampasan atau perampokan hak orang-orang miskin. Hemat 
saya sedikit banyak kekayaan orang kaya tak pernah terlepas dari peran dan 
sumbangan dari mereka yang miskin dan berkekurangan. Sebagai contoh: pengusaha 
`mie kemasan' (Supermi, Indomie dll) atau rokok pasti kaya akan harta benda dan 
uang, maka ingatlah dan sadarilah bahwa konsumen `mie' atau `rokok' tersebut 
pada umumnya adalah mereka yang miskin dan berkekurangan; maka hendaknya 
meneladan Zakheus yang berkata dan bertindak: "Tuhan, setengah dari milikku 
akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari 
seseorang akan kukembalikan empat kali lipat" 
•       "Bagi Tuhan yang mempunyai pengetahuan yang kudus ternyatalah bahwa aku 
dapat meluputkan diri dari maut dan bahwa aku sekarang menanggung kesengsaraan 
hebat dalam tubuhku akibat deraan itu. Tetapi dalam jiwa aku menderita semuanya 
itu dengan suka hati karena takut akan Tuhan."(2Mak 6:30), demikian kata 
Eleazar setelah menerima pukulan bertubi-tubi dan hampir mati karena kesaksian 
imannya. Derita atau sengsara yang lahir karena kesetiaan pada iman dan 
panggilan merupakan jalan keselamatan, dimana antara lain orang semakin ingat 
dan sadar akan penyertaan atau pendampingan Tuhan terhadap dirinya yang sedang 
menderita atau sengsara. Penderitaan dan kesengsaraan yang dihayati dengan suka 
hati karena Tuhan, itulah yang baik kita renungkan atau refleksikan. Dalam hal 
ini kiranya kita diingatkan bahwa kita adalah murid-murid atau pengikut Yesus, 
yang sengsara dan wafat di kayu salib demi keselamatan seluruh dunia. "Jer 
basuki mowo beyo" = untuk memperoleh hidup mulia, damai sejahtera, orang harus 
berani berjuang, berkorban dan menderita, demikian nasihat orang Jawa, yang 
kiranya dekat dengan iman akan Yesus yang tergantung di kayu salib. Maka 
marilah jika kita setia pada panggilan dan tugas pengutusan dan karenanya harus 
menderita dan sengsara, hendaknya semuanya itu diterima dengan suka hati serta 
disyukuri. Suka hati dan syukur karena kita dianugerahi kesempatan untuk 
meneladan Yesus yang telah sengsara dan wafat di kayu salib demi keselamatan 
seluruh dunia seisinya. Apa yang dimaksudkan dengan `takut akan Tuhan' tidak 
berarti kita lalu menjauhkan diri dari Tuhan, melainkan berarti semakin 
mempersembahkan atau menyerahkan diri kepada Tuhan, dan hal itu menjadi nyata 
dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari. 

"Apabila aku berseru, jawablah aku, ya Allah, yang membenarkan aku. Di dalam 
kesesakan Engkau memberi kelegaan kepadaku. Kasihanilah aku dan dengarkanlah 
doaku!Hai orang-orang, berapa lama lagi kemuliaanku dinodai, berapa lama lagi 
kamu mencintai yang sia-sia dan mencari kebohongan? Ketahuilah, bahwa TUHAN 
telah memilih bagi-Nya seorang yang dikasihi-Nya; TUHAN mendengarkan, apabila 
aku berseru kepada-Nya " (Mzm 4:2-4)

Jakarta, 17 November 2009


Kirim email ke