"Setiap orang yang mempunyai kepadanya akan diberi"
(2Mak 7:1.20-31; Luk 19:11-28)

"Untuk mereka yang mendengarkan Dia di situ, Yesus melanjutkan perkataan-Nya 
dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka, 
bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan. Maka Ia berkata: "Ada seorang 
bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di 
situ dan setelah itu baru kembali. Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan 
memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang 
sampai aku datang kembali. Akan tetapi orang-orang sebangsanya membenci dia, 
lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini 
menjadi raja atas kami. Dan terjadilah, ketika ia kembali, setelah ia 
dinobatkan menjadi raja, ia menyuruh memanggil hamba-hambanya, yang telah 
diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka 
masing-masing…..Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya 
akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga 
apa yang ada padanya. Akan tetapi semua seteruku ini, yang tidak suka aku 
menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku." 
Dan setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan 
perjalanan-Nya ke Yerusalem."(Luk 19:11-15.26-28), demikian kutipan Warta 
Gembira hari ini.  
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       Mendekati Yerusalem berarti mendekati akhir tugas pengutusan atau 
penyempurnaan tugas pengutusan, yang bagi Yesus harus mempersembahkan diri 
dengan wafat di kayu salib. Memang menjelang berakhirnya suatu tugas pengutusan 
pada umumnya orang mengenangkan kembali apa yang telah dikerjakan alias membuat 
evaluasi. Hemat saya tidak hanya menjelang berakhirnya tugas pengutusan saja 
orang membuat evaluasi, tetapi setiap hari, yaitu akhir hari atau menjelang 
istirahat/tidur malam. Evaluasi lebih ditekankan pada apa yang telah kita 
kerjakan secara pribadi sesuai dengan tugas pengutusan atau pekerjaan kita. 
Kutipan Warta Gembira hari ini mengingatkan bahwa "Setiap orang yang mempunyai, 
kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan 
diambil, juga apa yang ada padanya". Yang dimaksudkan dengan "mempunyai' disini 
hemat saya adalah melaksanakan tugas pengutusan atau mewujudkan rahmat atau 
anugerah Tuhan dalam hidup sehari-hari. Misalnya saya diberi anugerah atau 
bakat `menulis atau mengarang': jika saya berusaha terrus menerus menulis atau 
mengarang berarti saya akan semakin terampil menulis dan mengarang, semakin 
lama semakin kaya akan tulisan dan karangan.  Maka dengan ini kami mengingatkan 
kita semua: rahmat atau karunia macam apa yang dianugerahkan Tuhan kepadaku? 
Bakat, keterampilan atau kecerdasan macam apa yang dianugerahkan kepadaku? Kami 
harapkan anugerah atau karunia,  bakat, keterampilan atau kecerdasan tersebut 
tidak `disimpan di almari es' , melainkan diteruskan kepada yang lain atau 
sesama dalam kegiatan atau kesibukan sehari-hari, atau dalam melaksanakan tugas 
pengutusan yang diserahkan kepada kita. Setiap hari kita mawas diri apakah kita 
telah meneruskan anugerah atau karunia Tuhan tersebut kepada saudara-saudari 
atau sesama kita dengan baik sebagaimana diharapkan. 
•       "Aku tidak tahu bagaimana kamu muncul dalam kandungku. Bukan akulah 
yang memberi kepadamu nafas dan hidup atau menyusun bagian-bagian pada badanmu 
masing-masing! Melainkan Pencipta alam semestalah yang membentuk kelahiran 
manusia dan merencanakan kejadian segala sesuatunya. Dengan belas kasihan-Nya 
Tuhan akan memberikan kembali roh dan hidup kepada kamu, justru oleh karena 
kamu kini memandang dirimu bukan apa-apa demi hukum-hukum-Nya."(2Mak 7:22-23), 
demikian kata seorang ibu kepada tujuh anaknya yang akan mati karena siksaan 
penguasa.  Kata-kata ibu ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi 
kita. Hidup adalah anugerah Tuhan, maka pada waktunya Tuhan juga akan 
mengambilnya lagi. Karena yang memberi nafas dan hidup atau menyusun 
bagian-bagian tubuh/badan kita adalah Tuhan, maka selayaknya kita hidup dan 
bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Memang hidup dan bertindak sesuai 
dengan kehendak Tuhan pada masa kini tidak akan terlepas dari aneka tantangan, 
hambatan, penderitaan, ancaman dan perjuangan, mengingat dan memperhatikan 
masih maraknya kemerosotan moral hampir di semua bidang kehidupan bersama. 
Meskipun harus menghadapi ancaman mati karena disiksa atau dibunuh, marilah 
kita tetap setia pada kehendak Tuhan alias berbudi pekerti luhur serta berbuat 
baik kepada siapapun dan dimanapun. Percaya dan imani belas kasihan Tuhan yang 
senantiasa menyertai dan mendampingi hamba-hambaNya yang setia kepadaNya, 
jangan takut, gentar atau mundur menghadapi tantangan, masalah, penderitaan 
yang lahir kerena kesetiaan pada kehendak Tuhan, karena hidup berbudi pekerti 
luhur. 

"Aku berseru kepada-Mu, karena Engkau menjawab aku, ya Allah; sendengkanlah 
telinga-Mu kepadaku, dengarkanlah perkataanku. Tunjukkanlah kasih setia-Mu yang 
ajaib, ya Engkau, yang menyelamatkan orang-orang yang berlindung pada tangan 
kanan-Mu terhadap pemberontak"
(Mzm 17:6-7)
Jakarta, 18 November 2009 


Kirim email ke