"Engkau tidak mengetahui saat bilamana Allah melawat engkau"
(1Mak 2:15-29; Luk 19:41-44)

"Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya, kata-Nya: 
"Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu 
untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab 
akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu 
mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan 
membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak 
akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena 
engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau."(Luk 19:41-44), 
demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       Orang yang begitu sibuk alias memboroskan waktu dan tenaganya untuk 
hal-hal materi, bisnis atau uang pada umumnya dengan mudah melupakan hidup doa, 
rohani atau spiritual sebagai bagian hidup beriman atau beragama. Gairah untuk 
memperoleh keuntungaan uang atau harta benda begitu menguasai dirinya, sehingga 
sering kurang peka akan tanda-tanda zaman atau gejala kehidupan, sebagaimana 
terjadi pada krisis moneter yang melanda dunia tahun lalu. Sabda Yesus hari ini 
mengingatkan kita semua pentingnya memberi waktu dan tenaga untuk hidup doa, 
rohani atau spiritual guna menyadari dan menghayati kehadiran dan karya Tuhan 
di dalam hidup sehari-hari. Salah satu cara untuk itu antara lain dengan 
mengadakan `pemeriksaan batin' setiap hari; ingat pemeriksaan batin adalah 
bagian dari doa harian, yaitu doa malam menjelang istirahat/tidur malam. 
Pemeriksaan batin bukan hanya untuk melihat dan mengakui dosa-dosa, tetapi 
lebih-lebih untuk melihat, merasakan, mengenangkan dan menghayati kehadiran dan 
karya Tuhan atau penyelenggaraan Tuhan dalam diri kita serta tanggapan kita, 
yang dalam bahasa lain disebut "spiritual discernment", yang berarti pembedaan 
roh. Dalam pemeriksaan  batin kita diharapkan dapat melihat karya roh baik dan 
roh jahat, yang mungkin kita rasakan dalam kecenderungan-kecenderungan. Kami 
percaya bahwa masing-masing dari kita lebih banyak apa yang baik daripada yang 
buruk atau jahat, maka jika kita sungguh dapat memeriksa batin kita 
masing-masing maka kita akan dapat melihat dan menikmati penyelenggaraan Tuhan 
dalam diri kita, Tuhan yang melawati kita. Mereka yang jarang atau tidak pernah 
mengadakan pemeriksaan batin kiranya pada suatu saat akan terkejut ketika 
terjadi musibah yang menimpa dirinya. 
•       "Kalaupun segala bangsa di lingkungan wilayah raja mematuhi seri 
baginda dan masing-masing murtad dari ibadah nenek moyangnya serta menyesuaikan 
diri dengan perintah-perintah seri baginda, namun aku serta anak-anak dan kaum 
kerabatku terus hendak hidup menurut perjanjian nenek moyang kami. Semoga Tuhan 
mencegah bahwa kami meninggalkan hukum Taurat serta peraturan-peraturan Tuhan. 
Titah raja itu tidak dapat kami taati dan kami tidak dapat menyimpang dari 
ibadah kami baik ke kanan maupun ke kiri!"(1Mak 2:19-22), demikian kata 
Matatias kepada sang raja. Apa yang dikatakan oleh Matatias ini baik menjadi 
permenungan kita, lebih-lebih kata-katanya "Semoga Tuhan mencegah bahwa kami 
meninggalkan hukum Taruat Tuhan serta peraturan-peraturan Tuhan". Ketika kita 
akan meninggalkan peraturan atau perintah Tuhan alias berbuat dosa atau jahat, 
sebenarnya penyegahan dari Tuhan terjadi, antara lain ada perasaan kurang atau 
tidak enak di hati atau kurang aman. Memang jika orang telah terbiasa berbuat 
jahat atau berdosa tidak akan peka lagi terhadap pencegahan Tuhan tersebut, 
tetapi bagi orang cukup baik dan berbudi pekerti luhur ketika akan melakukan 
apa yang tidak baik atau dosa pasti merasa diperingatkan atau dicegah oleh 
Tuhan. Bagi orang baik ketika ada desakan atau ajakan untuk berbuat jahat atau 
berdosa akan merasa `sesak hatinya'. Marilah dalam hidup sehari-hari kita 
melatih dan membiasakan diri terus menerus `taat pada perintah Tuhan' , yang 
bagi kita semua berarti taat pada aturan dan tatanan yang terkait dengan hidup, 
panggilan dan tugas pengutusan kita. Jika kita terbiasa taat dan setia pada 
aturan dan tatanan yang kelihatan, sebagaimana terpampang di tempat-tempat 
umum, jalanan, kantor, dst.., kiranya dengan mudah kita taat dan setia pada 
kehendak Tuhan atau bisikan-bisikan Roh Kudus. Ketaatan dan kesetiaan pada apa 
yang kelihatan di satu sisi merupakan bentuk perwujudan ketaatan dan kesetiaan 
pada kehendak Tuhan dan di sisi lain semakin membuat diri kita setia dan taat 
kepada kehendak Tuhan. 

"Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada 
Yang Mahatinggi! Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan 
engkau, dan engkau akan memuliakan Aku." (Mzm 50:14-15)   
Jakarta, 19 November 2009


Kirim email ke