----- Forwarded Message ----
From: Sylvia Lie <[email protected]>
To: Cekho <[email protected]>; David S. <[email protected]>; Budi-KEP 
<[email protected]>; Rintul <[email protected]>; Pan Pan 
<[email protected]>; Dewi <[email protected]>; Intan 
<[email protected]>; Shirley-TCP <[email protected]>; Pak Janu-TCP 
<[email protected]>; Ci Ko <[email protected]>; Rahmat 
<[email protected]>; Selvi <[email protected]>
Sent: Mon, November 23, 2009 9:23:02 AM
Subject: Mohon meluangkan waktu anda utk membaca kesaksian sahabat kita


Kesaksian Tjin Kiat Angga Sung


>Saya adalah seorang katholik semenjak bayi
>(Katholik Warisan) yang menjalani ibadah/perayaan ekaristi
>hanya sebagai kewajiban dan rutinitas semata,
>sampai berumah tanggapun tetap seperti itu.
>Ketika mulai punya anak dari ke1 sampai ke 4 badai ekonomi
>rumah tangga terjadi saya tidak mempunyai
>pekerjaan/usaha, pendapatan hanya dari istri.
>
>Ketika itu saya berteman dengan beberapa paranormal dan
>selalu bersama mereka sampai subuh baru pulang kerumah
>dan mengikuti cara sembayang mereka meskipun demikian
>setiap minggu ke gereja tetap saya jalankan.
>
>Ketika itu saya masih tidak menyadari perbuatan saya ini
>sampai suatu ketika saya di minta ayah saya mengantarkan
> dia
>ke gereja dan baru saya tahu itu adalah hari Rabu Abu awal
>dari pantang dan puasa masuk masa prapaskah.
>
>Dari kotbah romo yang berbahasa mandarin padahal saya
>hanya sedikit mengerti bahasa mandarin dan saya
>menangkap bahwa hari itu mulai masa prapaskah/ masa
>pertobatan untuk silih atas dosa kita dengan pantang atau
>puasa.
>Saat itu juga dari hati saya yang dalam mendorong saya
>berjanji untuk pantang daging selama masa prapaskah.
>
>Baru berjalan 3 minggu, saya yang masih datang
>ketempat paranormal itu, pada saat itu dia (paranormal)
>memanggil muridnya dan memaksanya membuka kartu
>saya/ melihat nasib saya, padahal selama saya kenal
>dengannya tidak pernah saya minta untuk diramal hanya
>ikut kegiatan sembayang dan mandi air kembang sebulan 2 X
>yang katanya untuk membersihkan diri.
>
>Ketika itu dia terkejut dan mengatakan saya ada memakai
>barang dukun dan ada yang menghendaki kematian
> saya
>karena sakit hati.
>Belakangan baru saya sadari pernah pergi ketempat cucu
>majapahit dan di beri cairan untuk mengepel lantai rumah
>yang katanya untuk usaha maju.
>
>Atas saran paranormal ini yang mengetahui saya seorang
>katholik, menyarankan untuk memanggil romo supaya rumah
>saya di berkati dan orang yang menghendaki kematian saya
>agar saya maafkan.
>Aneh bagi saya seorang paranormal bisa menyarankan seperti
>itu, bukankah didalam injil Yesus meminta kita untuk mengasihi
>dan mengampuni musuh-musuh kita.
>
>Apakah Tuhan menegur saya melaluinya supaya saya
>kembali sungguh hanya menyembah Dia?
>
>Setelah saya jalani apa yang disarankan terbukalah pikiran
>saya yang tadinya selalu hendak bunuh diripun hilang dan
>mantan bos saya pun menelpon saya agar kembali ke pabrik
>untuk memimpin.
>Semenjak itu ekonomi kami mulai membaik meskipun
>demikian untuk ke gereja mengikuti ekaristi tetap saya
> jalani
>dengan hampa,masih tidak mau sungguh hanya menyembah
>Dia saja.
>
>Sampai suatu ketika anak saya yang pertama berumur 7 tahun
>sakit kepala dan hasil scan mengatakan ada kanker
>ganas (Meduloblastoma) di dalam otaknya.
>Seperti kiamat saja saat itu rasanya dalam hati saya
>bertanya Tuhan apalagi ini?
>Saat itu saya sudah tidak dapat berpikir apa-apa lagi,
>istri saya menyarankan agar kita pergi ke puncak untuk
>ketemu romo Yohanes yang mempunyai karunia
>penyembuhan.
>
>Ketika kami ketemu romo Yohanes, dia mendoakan anak kami
>dan kami orang tuanya pun didoakan serta menyarankan
>untuk tetap mendoakan setiap malam dengan
>menumpangkan tangan dan operasi tetap harus
>dilaksanakan.
>Sepulang dari sana saya di telpon bos saya untuk
>menyiapkan paspor anak saya dan berangkat ke
>Singapura menjalani operasi disana biaya seluruhnya
>ditanggung olehnya.
>
>Operasi berjalan lancar dan menurut dokter 100%
> terangkat
>karena ini jenis yang sangat ganas dia menyarankan untuk tetap
>di terapi kombinasi.Itu semua kami jalani di Jakarta selama 1
>tahun dengan kemoterapi dan radiasi yang membuat tubuh
>anak saya kurus sekali.
>Semenjak anak saya sakit inilah saya mencari tahu apa yang
>Tuhan kehendaki, saya mulai banyak mengikuti retret di
>Lembah Karmel dari sana saya banyak mendapatkan
>pengajar-pengajaran akan iman katholik yang
>sesungguhnya.
>Selama ini saya yang tidak senang dengan karismatik (anti)
>mulai ikut didalam persekutuan dan merasakan iman saya
>tumbuh disana.
>
>Satu setengah tahun berlalu tiba-tiba anak saya
>mengatakan kepalanya sakit sampai mengeluarkan airmata
>dan saya bawa kembali kontrol kedokter.
>Dari hasil scan mengatakan kanker tumbuh dan menyebar
>sudah tidak mungkin untuk di operasi ataupun radiasi, saat itu
>saya bisa lebih tenang menghadapi kenyataan dan
>rencana Tuhan.
>Dokter hanya
> memberikan obat penahan sakit.
>
>Saat itulah cara berdoa saya mulai berubah yang tadinya
>mohon kesembuhan saya ganti dengan...
>“ya Tuhan kalau Engkau menghendaki anakku kembali
>padamu, janganlah Engkau berikan ia kesakitan” ....
>Karena saya sudah menyadari bahwa Tuhan telah memakai
>anakku untuk mempertobatkan aku dan kembali
>kepadaNya.
>Doaku ini dikabulkan Tuhan semenjak itu anakku tidak
>pernah mengatakan sakit pada kepalanya, padahal tidak
>pernah diberikan obat penahan sakit.
>
>Setengah tahun kemudian anakku melemah dan kami masukan
>ke RS Carolus karena saya lihat kondisi anakku sudah tidak
>sadar lagi dan dokter menyarankan untuk dimasukan keruang
>ICU tetapi kami tolak, saya mengajak istri saya untuk doa
>koronka (Kerahiman Illahi) dimana dalam catatan
>Suster Faustina Yesus mengatakan:
>“Bila koronka ini didaraskan dekat orang yang sedang
>menghadapi ajalnya, Aku akan berdiri antara Bapa dan
> orang
>itu bukan sebagai hakim yang adil melainkan sebagai
>Juru Selamat yang rahim” (BCH No 1541).
>
>Begitu selesai doa kami 1 menit kemudian nafas anakku
>berhenti dan kembali ke rumah Bapa untuk selamanya.
>Sungguh heran pada saat itu kami memohon romo paroki
>untuk membawakan misa penutupan peti/arwah tetapi tidak
>bisa karena jadwal yang padat, maka teman lingkungan
>membantu untuk cari di paroki lain dan akhirnya
>mendapatkan.
>
>Ketika selesai misa romo mengatakan dia bersedia
>untuk mendampingi dan menghantar sampai di krematorium
>dengan membatalkan seluruh jadwalnya selama 3 hari.
>Padahal kita tahu gereja katholik sangat kekurangan romo
>didalam pelayanan kepada umat tetapi dia mau membawakan
>misa arwah selama 3 hari untuk anakku bukankah ini
>rencana Tuhan yang luar biasa untuk kami .
>
>Sungguh luar biasa dan heranlah ALLAH kita yang
>menyelamatkan dan memanggil kita kembali dengan
> berbagai
>cara.
>Dia telah memanggilku kembali untuk sungguh dan sepenuh
>hati melayaniNya melalui anakku.
>Kini tugas anakku di dunia telah selesai dan berbahagia
>bersama Bapa di Surga.
>Amin
>
>Tuhan Yesus selalu mengetuk pintu hati kita,
>akankah kita membukakan untukNYA masuk dan bertahta
>didalam seluruh kehidupan kita. (Wahyu 3;20)
>--------------------
>
>
>[Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>------------------------------------
>
>
> 



      

Kirim email ke