"Langit dan bumi akan berlalu tetapi perkataanKu tidak akan berlalu."
((Dan 7:2-14; Luk 21:29-33)

"Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: "Perhatikanlah pohon ara 
atau pohon apa saja.Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu 
tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu 
melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat.Aku 
berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum 
semuanya terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan 
berlalu."(Luk 21:29-33), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       Kitab Suci ditulis dan mulai digunakan ratusan atau ribuan tahun yang 
lalu, namun sampai kini masih tetap fungsional dan up to date. Mungkin Kitab 
Suci terbakar atau hanyut kena air bah/banjir, tetapi isi tetap hidup dalam 
diri manusia dan mungkin juga diturunkan atau diteruskan pada anak cucu atau 
keturunannya. "Langit dan bumu akan berlalu, tetapi perkataanKu tidak akan 
berlalu", demikian sabda Yesus. Di hari-hari terakhir tahun Liturgy ini kita 
memang diajak mawas diri: apakah aneka macam nasehat atau ajaran baik yang 
telah kita terima melalui orangtua, guru/pendidik, saudara atau sahabat, masih 
hidup serta menjiwai cara hidup dan cara  bertindak kita. Secara organisatoris 
kita diharapkan mawas diri: apakah spiritualitas/charisma atau visi pendiri 
organisasi atau paguyuban masih menjiwai cara hidup dan cara bertindak anggota, 
apakah para anggota semakin menghayati spiritualitas/charisma atau visi? 
Sebagai suami-isteri, apakah kita semakin saling mengasihi dan memberikan diri, 
sebagai pekerja apakah semakin terampil bekerja, sebagai pelajar apakah semakin 
terampil belajar. Bercermin pada sabda hari ini kami juga mengingatkan pada 
orangtua: hendaknya mewariskan kepada anak-anak nilai-nilai atau 
keutamaan-keutamaan hidup, bukan harta benda atau uang, antara  lain 
mengutamakan pendidikan anak-anak daripada kepentingan lainnya, mengutamakan 
`human investment daripada material investment'. Demikian juga kepada para 
penentu kebijakan hidup  bersama, lebih-lebih dalam hal tenaga dan dana, kami 
harapkan mengalokasikan tenaga dan dana yang memadai untuk pelayanan atau karya 
pendidikan. Selanjutnya karya pendidikan juga diperhatikan dengan baik agar 
tidak terjadi kemerosotan moral separti korupsi, manipulasi alias `menyontek'; 
utamakan pendidikan budi pekerti atau nilai dalam karya pendidikan atau di 
sekolah-sekolah. 
•       "Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai 
raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi 
kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan 
kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah" (Dan 7:14), demikian kutipan 
kata-kata Daniel dari penglihatannya. Apa yang dilihat oleh Daniel ini baik 
menjadi permenungan atau refleksi bagi para orangtua, pendidik./guru atau 
pemimpin.  Berikan kepada anak-anak, peserta didik atau anggota dan rakyat apa 
yang tidak mudah hancur atau lenyap, yaitu nilai-nilai kehidupan atau ciri-ciri 
yang menjadi sifat budi pekerti luhur, yaitu : " bekerja keras, berani memikul 
resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, 
berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, 
bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdik, cermat, 
dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, 
lugas, mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, 
menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, produktif, 
rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, 
rendah hati, sabar, setia, sikap adil, sikap hormat, sikap tertib, sopan 
santun, sportif, susila, tangguh, tegas, tekun, tetap janji, terbuka dan ulet " 
(Prof.Dr.Sedyawati: Pedoman Penananam Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka, 
Jakarta 1997). Tentu saja sebagai pemberi (orangtua, pendidik, pemimpin) telah 
menghayati nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan tersebut. Anak-anak sedini 
mungkin di dalam keluarga dididik dan dibinakan nilai-nilai atau 
keutamaan-keutamaan tersebut dengan teladan konkret dari orangtua atau 
bapak-ibu. Bagi kita semua: marilah kita mawas diri, apakah kita juga 
tumbuh-berkembang dalam penghayatan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan 
tesebut di atas.

"Biarlah bumi memuji Tuhan, nyanyikan dan meninggikan Dia selama-lamanya. 
Pujilah Tuhan, hai gunung-gemunung, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia 
selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai segala tumbuhan di bumi, nyanyikanlah dan 
tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai segenap mata air dan bukit, 
nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai lautan dan 
sungai, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai 
raksasa lautan dan segala apa yang bergerak di dalam air, nyanyikanlah dan 
tinggikanlah Dia selama-lamanya" (Dan 3:74-79)

Jakarta, 27 November 2009


Kirim email ke