"Berjagalah senantiasa sambil berdoa supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput 
dari semua yang akan terjadi itu"
(Dan 7:15-27; Luk 21:34-36)

"Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta 
kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba 
jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab ia akan menimpa semua penduduk 
bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh 
kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan 
berdiri di hadapan Anak Manusia." (Luk 21:34-36), demikian kutipan Warta 
Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       Hari ini adalah hari terakhir tahun Liturgy dan kepada kita diberi 
pesan atau nasehat "Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu 
beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu,". Apa yang akan 
terjadi kiranya kita tidak tahu, meskipun sedikit banyak dapat meramalkan. Di 
musim penghujan ini mungkin akan terjadi banjir bandang dan tanah longsor; kita 
di Indonesia juga masih dalam ancaman bencana alam gempa bumi yang 
sewaktu-waktu dapat terjadi, dan sewaktu-waktu atau setiap saat masing-masing 
dari kita dapat dipanggil Tuhan atau meninggal dunia. Maka mungkin yang baik 
bagi kita semua adalah berjaga-jaga sewaktu-waktu dipanggil Tuhan atau 
meninggal dunia alias mati. Bentuk berjaga-jaga yang baik tidak lain adalah 
senantiasa hidup baik dan berbudi pekerti luhur, yang memang perlu disertai 
atau didukung oleh hidup doa. Dengan kata lain setiap hari kita senantiasa 
bersama dan bersatu dengan Tuhan dalam situasi dan kondisi apapun, kapanpun dan 
dimanapun atau kita senantiasa menemukan Tuhan dalam segala sesuatu atau 
menghayati segala sesuatu dalam Tuhan. Apa yang akan terjadi memang 100% karena 
Tuhan dan 100% karena manusia, maka kita, manusia, akan terluput dari 
malapetaka jika sepenuhnya mempersembahkan diri kepada Tuhan. Sedikit perihal 
doa: ada orang berdoa dengan kalimat panjang dan bertele-tele serta suara 
keras, ada orang berdoa dengan gerakan tubuh dan mimik wajah sedemikian rupa 
sehingga nampak khusuk berdoa, dst.. Yang utama dalam doa adalah hati yang 
terarah sepenuhnya kepada Tuhan, kepada Yang Ilahi, sehingga hati sungguh 
dikuasai dan dijiwai oleh Tuhan. Maka berdoa dapat dilakukan kapan saja dan 
dimana saja, tidak terikat oleh ruang dan waktu. 
•       "Pemerintahan, kekuasaan dan kebesaran dari kerajaan-kerajaan di bawah 
semesta langit akan diberikan kepada orang-orang kudus, umat Yang Mahatinggi: 
pemerintahan mereka adalah pemerintahan yang kekal, dan segala kekuasaan akan 
mengabdi dan patuh kepada mereka"(Dan 7:27). Orang-orang kudus atau suci adalah 
orang-orang yang mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, Yang Ilahi, 
sehingga hati, jiwa, akal budi dan tubuh dikuasai dan dirajai oleh Tuhan, hidup 
dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Secara konrkret orang kudus pada 
umumnya dikasihi oleh Tuhan dan sesamanya dimanapun dan kapanpun, karena ia 
sendiri senantiasa juga mengasihi siapapun dan dimanapun. Yang utama dalam 
kehidupan adalah kasih: masing-masing dari kita ada dan diadakan dalam dan oleh 
kasih, dapat tumbuh-berkembang sampai seperti saat ini hanya karena kasih, maka 
siapapun yang disapa dan diperlakukan dalam dan dengan kasih pasti akan patuh 
atau takluk. Binatang buas pun ketika didekati dan diperlakukan dalam dan oleh 
kasih juga akan patuh dan takluk alias menjadi sahabat. Tanaman dapat tumbuh 
berkembang dengan baik dan menghasilkan buah juga karena kasih. Maka baiklah di 
akhir tahun Liturgy ini kita mawas diri: apakah kita semua tetap setia hidup 
saling mengasihi. "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia 
tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan 
dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan 
kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena 
kebenaran.  Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan 
segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu"(1Kor 12:4-7), demikian kata 
Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua. Marilah kita sikapi dan 
perlakukan aneka tatanan dan aturan hidup dalam dan oleh kasih, demi 
keselamatan dan kebahagiaan bersama atau umum. 
. 
"Pujilah Tuhan, hai anak-anak manusia, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia 
selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai Israel, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia 
selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai para imam Tuhan, nyanyikanlah dan 
tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai para hamba Tuhan, 
nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai roh dan 
jiwa orang-orang benar, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. 
Pujilah Tuhan, hai semua yang mursid dan rendah hati, nyanyikanlah dan 
tinggikanlah Dia selama-lamanya" (Dan 3:82-87)
Jakarta, 28 November 2009


Kirim email ke