Mg Adven II : Bar 5:1-9; Flp 1:4-6.8-11; Luk 3:1-6
"Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu" ,
"PerhatianÂ…perhatianÂ….umat dimohon tenang, karena acara akan segera
dimulai..!!!", demikian suara keras dari pengeras suara di lapangan rumput
untuk mengingatkan ribuan umat. Umat pun tidak tenang dan tetap gaduh
omong-omong sendiri. Hal senada dapat terjadi dalam berbagai pertemuan, dimana
protokol atau pembawa acara mengajak para hadirin tenang, tetapi hadirin tetap
gaduh, omong-omong terus. Sebaliknya di suatu tempat, lapangan rumput, dimana
ribuan umat hadir untuk perayaan ekaristi, yang semula gaduh, ramai,
omong-omong sendiri, begitu mendengar melalui pengeras suara "Dalam nama Bapa
dan Putera dan Roh Kudus", maka ribuan umat pun hening, tak bergeming. Tanda
salib yang diiringi dengan kata-kata "Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus"
merupakan awal doa bagi umat Katolik dan juga mengiringi pembaptisan ketika
pembaptis mencurahkan air di dahi terbaptis. Dengan dan melalui tanda salib
sungguh terjadi perubahan alias pertobatan, maka marilah di masa adven ini kita
renungkan seruan Yohanes Pembaptis, yang mengajak orang untuk bertobat dan
dibaptis.
"Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu" (Luk
3:3)
Bertobat berarti memperbahaui diri. Saat ini kita masih dalam masa Tahun Baru
Liturgy, masa Adven, dan sebentar lagi kita akan memasuki Tahun Baru 2010, maka
marilah kita mawas diri apakah terjadi pembaharuan dalam diri kita
masing-masing. Organ atau anggota tubuh kita kiranya diperbaharui terus
menerus, demikian pula aneka macam sarana dan assesori yang terkait dengan
tubuh kita, tetapi bagaimana dengan hati, jiwa dan akal budi? Pembaharuan yang
diharapkan adalah pembaharuan hati, jiwa, dan akal budi, yang sangat
berpengaruh dalam cara hidup dan cara bertindak kita, mengingat dan
memperhatikan bahwa aneka tantangan, hambatan dan masalah telah mengaburkan
atau melemahkan hati, jiwa dan akal budi kita.
Marilah pertama-tama kita sadari dan hayati bahwa bertambah usia dan pengalaman
berarti juga bertambah dosa dan kekurangan, yang membuat hati, jiwa dan akal
budi maupun tubuh kita kurang bersih. Pembaharuan dengan demikian berarti
pembersihan, yang mungkin menjadi masalah adalah apakah saya tahu persis apa
yang harus dibersihkan alias dosa dan kekurangan kita, tanpa bantuan orang
lain. Kita butuh bantuan orang lain agar dapat mengetahui dosa dan kekurangan
kita dengan tepat dan benar, sehingga pembersihan atau pembaharuan yang kita
lakukan sungguh berarti dan bermakna. Maka baiklah di masa Adven ini kita
saling bertemu, bercakap-cakap dan mawas diri bersama: masing-masing dengan
rendah hati siap sedia menerima masukan atau informasi dari yang lain,
lebih-lebih dalam hal dosa dan kekurangan.
"Berilah dirimu dibaptis", demikan sabda Yesus. Dibaptis berarti dibersihkan,
maka masing-masing dari kita hendaknya siap sedia untuk dibersihkan orang lain,
sebaliknya yang membersihkan hendaknya dijiwai kasih pengampunan, sehingga
tindakan pembersihan menyenangkan dan membahagiakan atau menyelamatkan.
Membersihkan dijiwai kasih pengampunan berarti sebelum bertindak ada pendekatan
dan percakapan bersama, karena gerakan pembersihan tanpa tanggapan positif dari
yang dibersihkan akan sia-sia, pemborosan waktu dan tenaga belaka. Siap sedia
dibersihkan berarti juga siap sedia untuk berkorban dan `sakit' sebagai langkah
pembaharuan hidup atau penyembuhan. Mengingat dan memperhatikan semakin tua
atau tambah usia dan pengalaman berarti juga semakin tambah dosa dan
kekurangan, maka kami berharap kepada mereka yang lebih tua dan lebih
berpengalaman dapat menjadi teladan dalam hal pembersihan diri atau pembaharuan
diri, misalnya: para orangtua, pendidik/guru, pejabat, atasan, senior, dst..
"Aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara
kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus" (Fil 1:6)
Siap sedia untuk dibersihkan maupun membersihkan hendaknya dihayati sebagai
anugerah Tuhan atau karya Tuhan, maka marilah kita imani bahwa "Ia, yang
memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada
akhirnya pada hari Kristus Yesus". Maka ketika sudah memulai pekerjaan baik
hendaknya setia terus menerus melakukannya. Setia berarti tidak mengurangi
sedikitpun atas perbuatan baik yang telah dilakukan, syukur bertambah atau
diperdalam dan disebarluaskan. Marilah kita imani atau hayati bahwa jika Tuhan
memulai pasti menyelesaikan, meskipun kita harus menghadapi aneka tantangan,
hambatan dan masalah, karena Tuhan maha segalanya.
Kita semua dipanggil untuk melakukan pekerjaan baik sampai pada hari Kristus
Yesus, artinya sampai kita dipanggil Tuhan atau meninggal dunia. "Semoga
kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam
pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak
bercacat menjelang hari Kristus" (Fil 1:9-10). Semakin tambah usia dan
pengalaman diharapkan semakin hidup mengasihi yang ditandai dengan melimpahnya
pengetahuan dan pengertian yang benar. Dalam hidup bersama saat ini kita
menghadapi aneka kepalsuan dan kebohongan, misalnya dalam hal hukum atau
aturan, makanan dan minuman, aneka macam sarana-prasarana maupun organ tubuh
manusia. Pemalsuan nilai juga terjadi di sekolah-sekolah dengan motivasi uang,
gengsi, prestasi dst.. Memang kita menghadapi apa-apa yang baik dan buruk, dan
kita dipanggil untuk memilih apa yang baik dan memperbaiki apa yang buruk, maka
baiklah kita renungkan juga apa yang dikatakan oleh Kitab Barukh di bawah ini.
.
"Allah memerintahkan, supaya diratakanlah segala gunung yang tinggi dan segenap
bukit abadi, dan supaya ditimbuslah sekalian jurang menjadi tanah yang rata"
(Bar 5:7). Yang dimaksudkan dengan gunung dan bukit di sini adalah apa saja
yang mengganggu atau menghalangi dalam perjalanan hidup, tugas dan panggilan,
entah berupa aturan, kebijakan, struktur, impian/harapan, dst.. , yang sering
membuat apa yang sederhana menjadi berbelit-belit, yang mudah dipersulit. Aneka
aturan, kebijakan, struktur atau strategi hendaknya memperlancar perjalanan
hidup, tugas dan panggilan, maka jika ada yang mempersendat atau bahkan menutup
jalan hendaknya segera diperbaiki atau `diratakan'. Pada saat ini sering masih
banyak terjadi birokrasi yang menghambat pelayanan, bukan memperlancar
pelayanan, sehingga birkrat minta dilayani bukan melayani. Sikap dan perilaku
dalam meratakan atau memperbaiki adalah melayani; bukankah yang disebut pelayan
pada umumnya memperlancar dan mempermudah, tidak pernah mempersulit dan
berbelit-belit? Semoga para petinggi, pejabat, birokrat atau atasan dapat
menjadi teladan sikap hidup dan perilaku melayani; dan marilah kita dukung
dambaan para pemimpin Gereja Katolik, Para Uskup dan Paus, yang senatiasa
menyatakan diri dalam doa Syukur Agung sebagai hamba yang hina dina, artinya
siap sedia melayani umat Allah. Dukungan yang diharapkan tentu saja tidak
cukup dengan doa-doa, tetapi juga dengan penghayatan, yaitu hidup dan bertindak
saling melayani.
"TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.
Pulihkanlah keadaan kami, ya TUHAN, seperti memulihkan batang air kering di
Tanah Negeb! Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai
dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur
benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya."(Mzm
126:3-6)
Jakarta, 6 Desember 2009