Mg Adven IV: Mi.5:2-5c; Ibr 10:5-10; Luk 1:39-45
"Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu". 
Seorang ibu muda ketika dirinya mengetahui hamil pertama kali kiranya merupakan 
kebahagiaan tersendiri atau istimewa; ia kiranya segera memberitahukan kepada 
suami tercinta maupun sanak-saudara atau sahabat dekatnya. Begitulah kiranya 
yang terjadi dalam diri Maria dan Elisabet:  ketika Maria diberitahu oleh 
malaikat bahwa ia akan mengandung karena Roh Kudus serta Elisabet, saudarinya, 
dalam usia tuanya sedang mengandung lebih dahulu, maka bergegaslah Maria untuk 
mengunjungi Elisabet. Ia hendak berpartisipasi dalam kegembiraan Elisabet. "Di 
situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet.Dan ketika 
Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan 
Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: 
"Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. 
Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, 
ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak 
kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan 
kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana." (Luk 1:40-45) . Saling memberi salam, 
pujian dan syukur itulah yang terjadi dalam diri Maria dan Elisabet, yang 
keduanya penuh dengan Roh Kudus. 

"Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu" 
Buah rahim adalah `bayi' atau anak, sebagai buah saling mengasihi antar 
suami-isteri, laki-laki dan perempuan yang melakukan hubungan seksual. Bagi 
suami-isteri atau orangtua yang baik ketika tahu bahwa sang isteri mengandung 
pasti akan bersyukur dan berterima kasih serentak menghayati bahwa bayi/janin 
yang ada dalam kandungan adalah anugerah atau rahmat Tuhan. Sang isteri atau 
para ibu ketika tahu dirinya mengandung kiranya juga akan merasa diri yang 
terberkati oleh Tuhan. Maka ketika Elisabet menerima salam dari Maria, anak 
yang ada dalam kandungannya melonjak kegirangan dan Elisabet memuji Maria 
dengan berkata "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah 
buah rahimmu", karena Maria sedang mengandung Sang Penyelamat Dunia, yang 
dinantikan kedatangan atau kelariranNya oleh umat manusia seluruh dunia. 

Hari Raya Natal, kenangan akan kelahiran Yesus, Penyelamat Dunia, semakin 
mendekat. Sebagaimana kita ketika sedang menantikan kelahiran seorang anak 
pasti dijiwai oleh harapan, yang ditandai dengan gairah dan keceriaan dalam 
hidup, demikian hendaknya di hari-hari menjelang Natal ini kita diharapkan 
demikian adanya. Pada hari-hari ini kiranya dengan gairah dan ceria 
masing-masing dari kita mulai mengenangkan sanak-saudara, sahabat dan kenalan 
untuk kemudian diberi salam ataupun kemungkinan diajak merayakan Natal bersama. 
Kita dapat meneladan Maria yang bergegas mendatangi dan memberi salam atau 
meneladan Elisabet yang didatangi dan diberi salam serta kemudian memuji dan 
bersyukur kepada Tuhan.        

"Berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari 
Tuhan, akan terlaksana", demikian kutipan ungkapan syukur dan pujian Elisabet. 
Yang membuat bahagia adalah percaya bahwa sabda Tuhan akan terlaksana, itulah 
yang baik kita renungkan atau refleksikan. Dengan kata lain untuk mempersiapkan 
diri menyambut pesta Natal, marilah kita masing-masing mawas diri apakah kita 
sungguh siap sedia melaksanakan sabda atau perintah Tuhan. Di hari-hari 
menjelang Natal ini baiklah mereka yang mungkin sedang bermusuhan, tidak rukun 
atau dalam keadaan tegang dan saling mendiamkan satu sama lain, kami ajak untuk 
siap sedia berdamai  Siapa yang pertama kali merasa sadar untuk berdamai 
hendaknya secara proaktif segera melangkah berdamai dengan siapapun yang merasa 
menjadi musuh, meneladan Maria yang mendatangi dan memberi salam. Baik yang 
mendatangi atau didatangi kiranya akan menjadi bahagia. Sikap dan perilaku yang 
suka mendatangi untuk memberi salam atau berdamai kiranya juga merupakan 
partisipasi dalam karya Penyelamat Dunia, Ia mendatangi kita, turun dari sorga 
menjadi manusia seperti kita kecuali dalam hal dosa. 

"Korban dan persembahan, korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau 
kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya" -- meskipun dipersembahkan 
menurut hukum Taurat --.Dan kemudian kata-Nya: "Sungguh, Aku datang untuk 
melakukan kehendak-Mu." (Ibr 10:8-9)    

Yang utama dan pertama-tama harus kita lakukan adalah "datang untuk melakukan 
kehendakMu/ Tuhan", bukan korban dan persembahan sebagai diatur sesuai dengan 
aturan atau kebijakan. Di hari-hari ini mungkin banyak orang sibuk 
mempersiapkan diri untuk merayakan pesta Natal, entah secara liturgis maupun 
sosial. Pada umumnya cukup banyak orang/umat yang rela berkorban serta memberi 
persembahan, sumbangan/dana guna merayakan Natal bersama, dengan harapan pesta 
Natal sungguh meriah dan mengesan. Kami berharap semoga yang mengesan karena 
makan enak, minum-minum atau berpesta pora, tetapi karena kita semakin dapat 
melakukan kehendak Tuhan, yaitu hidup dalam damai sejahtera, bersahabat dan 
bersaudara dengan semua orang. Maka baiklah kita mawas diri apakah pengorbanan 
saya dengan datang dalam persiapan maupun pesta Natal merupakan perwujudan dari 
"Sungguh, aku datang untuk melakukan kehendakMu"

"Datang untuk melakukan kehendak Tuhan"  berarti bersikap dan berperilaku 
dengan rendah hati dimanapun dan kapanpun, meneladan Dia yang datang di dunia 
dengan "melepaskan" ke-Allah-an dan menjadi manusia seperti kita kecuali dalam 
hal dosa. Dalam merayakan Natal pada umumnya di bentuk panitia khusus, panitia 
perayaan Natal. Kami berharap semoga mereka yang menjadi anggota Panitia Natal 
bersikap dan bertindak rendah hati, tidak sombong. Secara konkret: dalam 
persiapan pesta Natal kiranya ada tugas dan pekerjaan berat dan kasar, seperti 
mengatur tempat, menjaga kebersihan dstÂ…, kami berharap mereka yang menjadi 
anggota Panitia berpartisipasi sungguh dalam kerja, bukan hanya dalam 
rapat-rapat atau omongan saja, kerja kasar dan berat. Sikap dan perilaku 
melayani hendaknya menjadi cara hidup dan cara bertindak semua anggota Panitia 
Natal. 

"Datang untuk melakukan kehendak Tuhan" kiranya baik kita renungkan juga dalam 
kehidupan kita masing-masing, dalam cara hidup dan cara bertindak kita 
masing-masing. Marilah `back to basic' , kembali ke semangat awal ketika kita 
mengawali hidup terpanggil, entah dipanggil menjadi imam, bruder, suster atau 
berkeluarga menjadi suami-isteri  maupun dipanggil untuk belajar atau bekerja 
alias diterima sebagai siswa/mahasiswa di sekolah tertentu atau tempat kerja 
tertentu. Hemat saya pada awal tersebut masing-masing dari kita pasti 
bersemangat melayani alias `datang untuk melakukan kehendak Tuhan', maka 
marilah kita kenangkan semangat yang indah, baik dan mulia tersebut, dan 
kemudian kita hayati untuk masa kini, mungkin wujud tindakan konkret berbeda 
tetapi semangat tetap sama. Marilah kita saling melayani dengan rendah hati, 
saling memberi salam, saling memuji dan bersyukur, sehingga damai sejahtera 
bagi semua bangsa segera menjadi nyata dalam kehidupan bersama kita. 

"Ya Allah semesta alam, kembalilah kiranya, pandanglah dari langit, dan 
lihatlah! Indahkanlah pohon anggur ini, batang yang ditanam oleh tangan 
kanan-Mu! Kiranya tangan-Mu melindungi orang yang di sebelah kanan-Mu, anak 
manusia yang telah Kauteguhkan bagi diri-Mu itu, maka kami tidak akan 
menyimpang dari pada-Mu. Biarkanlah kami hidup, maka kami akan menyerukan 
nama-Mu "
(Mzm 60:15-16.18-19)
"Selamat ulang tahun ke 75 dan bahagia Bapak Julius Kardinal Damaatmadja SJ"

Jakarta, 20 Desember 2009


Kirim email ke