"Merdu suaramu dan elok wajahmu!"
(Kid 2:8-14; Luk 1:39-45)

"Dengarlah! Kekasihku! Lihatlah, ia datang, melompat-lompat di atas 
gunung-gunung, meloncat-loncat di atas bukit-bukit. Kekasihku serupa kijang, 
atau anak rusa. Lihatlah, ia berdiri di balik dinding kita, sambil 
menengok-nengok melalui tingkap-tingkap dan melihat dari kisi-kisi. Kekasihku 
mulai berbicara kepadaku: "Bangunlah manisku, jelitaku, marilah! Karena 
lihatlah, musim dingin telah lewat, hujan telah berhenti dan sudah lalu. Di 
ladang telah nampak bunga-bunga, tibalah musim memangkas; bunyi tekukur 
terdengar di tanah kita. Pohon ara mulai berbuah, dan bunga pohon anggur 
semerbak baunya. Bangunlah, manisku, jelitaku, marilah! Merpatiku di 
celah-celah batu, di persembunyian lereng-lereng gunung, perlihatkanlah 
wajahmu, perdengarkanlah suaramu! Sebab merdu suaramu dan elok wajahmu!"(Kid 
2:8-14), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.  
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       "Perlihatkanlah wajahmu, perdengarkanlah suaramu!", kutipan ini baik 
menjadi permenungan atau refleksi kita. Beberapa dari anda yang terlibat dalam 
paduan suara atau lektor/lektris kiranya pada hari-hari ini sedang memantapkan 
latihan kor dalam rangka merayakan pesta Natal yang akan datang, sedangkan yang 
lain atau kita semua mungkin sedang sibuk mempersiapkan pakaian baru atau 
penampilan diri sebaik dan semenarik mungkin. "Merdu suaramu dan elok wajahmu", 
kata-kata demikian ini kiranya kita dambakan dari saudara-saudari kita dalam 
perayaan Natal yang akan datang. Kami berharap tidak hanya merdu dan elok 
secara phisik saja, melainkan dan terutama secara spiritual, dalam hati, jiwa 
dan akal budi. Maka marilah kita mawas diri: apakah hati, jiwa dan akal budi 
kita `merdu dan elok' artinya bersih, jernih serta menarik dan mempesona. 
"Merdu dan elok luar dalam, jasmani dan rohani' itulah yang menjadi dambaan 
atau kerinduan kita semua. Yang luar atau jasmani mungkin dengan mudah 
diperbaiki, tetapi yang dalam atau rohani, yaitu hati, jiwa dan akal budi 
kiranya tidak begitu mudah untuk diperbaiki. Maka dengan ini kami mengajak kita 
semua untuk saling bekerjasama dan membantu dalam rangka mengusahakan kemerduan 
dan keelokan hati, jiwa dan akal budi. Untuk itu ketika ada sesuatu yang 
kurang/tidak merdu dan elok dalam diri kita serta diberitahu dan diperbaiki 
orang lain, hendaknya dengan rendah hati kita terima. Sebaliknya hendaknya kita 
juga tidak takut mengingatkan dan memperbaiki `hati, jiwa dan akal budi' 
saudara-saudari kita, tentu saja dengan rendah hati, lemah lembut dan sabar.    
•       "Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?"(Luk 
1:43), demikian pertanyaan Elisabet ketika memperoleh kunjungan Maria. Mungkin 
kita dapat meneladan Maria yang mengunjungi Elisabet, dengan harapan mereka 
yang memperoleh kunjungan atau kedatangan kita juga akan bertanya: "Siapakah 
aku ini sampai engkau datang mengunjungi aku?", pertanyaan yang tidak lain 
adalah mempertanyakan jati dirinya sendiri. Bukankah setiap dari kita ketika 
memperoleh kunjungan dari saudara atau sahabat dengan tiba-tiba alias tanpa 
pemberitahuan lebih dahulu pada umumnya juga akan bertanya-tanya, entah vokal 
atau dalam hati: "Ada apa saya dikunjungi?". Setiap kunjungan atau perjumpaan 
memang pada umumnya akan terjadi proses penyadaran dan pembaharuan diri, maka 
marilah kita saling mengunjungi atau mendatangi, saling bertemu dan 
bercakap-cakap. Memang untuk itu orang harus memboroskan waktu dan tenaga, 
tetapi ingat dan sadarilah bahwa pemborosan waktu dan tenaga bagi yang terkasih 
merupakan cirikhas hidup saling mengasihi; tanpa ada pemborosan waktu dan 
tenaga cintakasih akan terasa kering dan hambar. Mereka yang berpengaruh dalam 
kehidupan bersama, misalnya para pemimpin atau atasan, kami harapkan sering 
mengunjungi atau mendatangi anak buah atau bawahan, sebagai tanda kasih dan 
perhatian, sebagai penghayatan iman kita akan Sang Penyelamat Dunia, Allah dari 
sorga turun ke dunia untuk menyelamatkan dunia seisinya. Kami berharap para 
pemimpin tidak duduk-duduk di kursi dalam ruangan AC sambil menunggu orang 
datang ( `pisowanan'), tetapi turba, turun ke bawah. Lihatlah realitas atau 
kenyataan konkret, jangan terlalu percaya kepada laporan tertulis atau omongan 
lisan yang manis dan sopan saja. 

"Bersyukurlah kepada TUHAN dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus 
sepuluh tali! Nyanyikanlah bagi-Nya nyanyian baru; petiklah kecapi baik-baik 
dengan sorak-sorai! Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN. Dialah penolong kita dan 
perisai kita! Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang 
kudus kita percaya." (Mzm 33:2-3.20-21) 
Jakarta, 21 Desember 2009



Kirim email ke