"Ia melawat umatNya dan membawa kelepasan baginya"
(2Sam 7:1-5.8b-12.16; Luk 1:67-79)

"Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, katanya: 
"Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa 
kelepasan baginya, Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam 
keturunan Daud, hamba-Nya itu, -- seperti yang telah difirmankan-Nya sejak 
purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus -- untuk melepaskan kita dari 
musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, untuk 
menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan 
perjanjian-Nya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa 
leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita, supaya kita, terlepas dari tangan 
musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di 
hadapan-Nya seumur hidup kita. Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah 
Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk 
mempersiapkan jalan bagi-Nya, untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan 
keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka, oleh rahmat dan 
belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi 
dari tempat yang tinggi, untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan 
dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai 
sejahtera."(Luk 1:67-79), demikian kutipan Warta Gembira hari ini 
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini, saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       Setelah Yohanes lahir, maka sembuhlah Zakharia dari kebisuannya dan 
begitu dapat berbicara kembali iapun melambungkan pujian kepada Tuhan. Isi 
pujian tersebut antara lain "Allah melawati umatNya dan membawa kelepasan 
baginya…Ia melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang 
yang membenci kita". Kegembiraan yang dialami oleh Zakharia ini merupakan 
tanda-tanda akan segera terpenuhinya janji Allah  untuk menyelamatkan dunia 
dengan kelahiran Yesus, Penyelamat Dunia. Kiranya sebagian besar dari kita juga 
baru saja mengaku dosa,  menerima kasih pengampunan atau kelepasan atas 
dosa-dosa kita, maka selayaknya kita juga bersyukur seperti Zakharia atas 
rahmatNya. Baiklah setelah menerima kasih pengampunan atas dosa-dosa kita, 
kemudian kita hidup baru dan diharapkan juga dapat menjadi `sinar bagi mereka 
yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut', menjadi penuntun dan 
petunjuk jalan bagi orang lain menuju damai sejahera. Nanti malam kita 
bersama-sama merayakan Sang  Pembawa Damai Sejahtera sejati, Yesus, Allah yang 
menjadi manusia seperti kita kecuali dalam hal dosa. Dengan merayakan Natal 
atau kelahiran Penyelamat Dunia ini dari kita diharapkan tidak saling membenci 
melainkan senantiasa berdamai dengan siapapun dan apapun dalam hidup kita 
sehari-hari. Hidup berdamai merupakan wahana bagi siapapun untuk menuju kepada 
Allah alias bersembah-sujud kepada Allah. Marilah kita ampuni juga mereka yang 
telah membenci atau menyakiti kita.
•       "Aku telah menyertai engkau di segala tempat yang kaujalani dan telah 
melenyapkan segala musuhmu dari depanmu. Aku membuat besar namamu seperti nama 
orang-orang besar yang ada di bumi" (2Sam 7:9), demikian firman Tuhan kepada 
bangsa terpilih. Kita semua juga yang terpilih, maka marilah kita kenangkan 
penyertaan atau pendampingan Tuhan dalam perjalanan hidup kita sampai kini, 
sehingga kita dapat hidup seperti saat ini. Penyertaan atau pendampingan Tuhan 
secara konkret kita terima melalui mereka yang telah berbuat baik dan mengsihi 
kita, antara lain orangtua, kakak-adik, teman, guru/pendidik, pembimbing, 
dst.., maka baiklah kita bersyukur dan berterima kasih kepada mereka. Syukur 
dan terima kasih tersebut kiranya dapat kita wujudkan dengan berdamai dengan 
mereka serta menghaturkan sesuatu sebagai hadiah atau kado Natal. Ingat dan 
hayatilah bahwa kita dapat menjadi `besar' seperti saat ini karena penyertaan 
dan pendampingan mereka, yang telah mengasihi, mendidik dan membimbing kita 
dengan penuh pengorbanan dan perjuangan tanpa kenal lelah. Kita telah menerima 
`kasih' dari mereka secara melimpah ruah, maka selayaknya kita sungguh 
berterima kasih kepada mereka. Marilah kita saling berterima kasih dan memberi 
kenangan atau hadiah Natal, atau mungkin saling melawatim, entah secara 
langsung atau tidak langsung. Secara langsung berarti kita tatap muka dan 
bercakap-cakap, sedangkan tidak langsung mungkin dengan sarana komunikasi masa 
kini seperti SMS via HP atau kirim surat via email. Hari ini baiklah kita 
memboroskan waktu dan tenaga untuk mengenangkan mereka yang telah berbuat baik 
dan mengasihi kita.

"Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan 
kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk 
selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit. Engkau telah berkata: "Telah 
Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, 
hamba-Ku:Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun 
takhtamu turun-temurun" (Mzm 89:2-5).

Jakarta, 24 Desember 2009



Kirim email ke